Episode 3 Sebuah Kesepakakatan

1188 Kata
Sudah tiga hari Aji tidak pulang ke rumah. Aruni berdiri mematung di depan jendela kamarnya sambil terus melihat ke arah luar. Berharap pria yang menikahinya tiga tahun yang lalu itu kembali. Aruni menghelakan napasnya. Melepaskan sisi tirai jendela yang tadi di sampirkan dengan tangannya. Aruni berjalan menuju ke meja riasnya. Berkas yang kemarin telah dikumpulkannya masih tersusun rapi di sana. Diletakkannya bobotnya diatas kursi dan kembali membuka berkas itu. “Pernikahan ini sudah berakhir. Tidak ada alasan bagiku untuk tetap bertahan. Mas Aji sudah benar-benar menemukan penggantiku. Tidak akan ada yang akan membelaku jika mereka tahu alasan dibalik semua ini,” gumam Aruni sambil menatap buku nikah yang ada di dalam map berwarna merah itu. Besok Aruni berencana akan memasukkan berkas gugatan perceraiannya dengan Aji ke pengadilan agama. Aruni telah menyerah. Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja nakas berdering. Dengan cepat Aruni bangkit dari tempat duduknya dan meraih ponselnya itu. matanya dengan cepat dan cekatan melihat layar ponselnya, memeriksa nama yang tampil di layar ponsel itu. “Nomor siapa ini?” batin Aruni. Keningnya mengernyit. Dia menyangka Aji akan menelponnya setelah beberapa hari ini sama sekali tidak mengabarinya apapun. Aruni segera mengangkat panggilan telepon itu. Mungkin saja itu adalah sebuah panggilan penting. “Halo,” ucap Aruni begitu mengangkat panggilan telepon itu. “Mbak Runi?” “Iya, saya sendiri. Ini dengan siapa?” “Ini Adi, Mbak.” “Loh Adi? Kamu nomor baru?” tanya Aruni pada adik semata wayangnya itu. “Iya, Mbak. Ponsel Adi hilang semalam. Jadi beli nomor baru. Adi mau kasih tahu kalau Bapak masuk rumah sakit, Mbak. Subuh tadi bapak pingsan.” “Bapak pingsan?” wajah Aruni menegang mendengar kabar yang baru saja dikatakan oleh adiknya, “Di rumah sakit mana, Di?” “Rumah Sakit Mitra Keluarga, Mbak. Ruang Akasia Nomor 2.” “Oke. Mbak ke sana sekarang,” jawabku cepat. Aruni bergegas bersiap dan berganti pakaian. Setelah memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas, Aruni segera turun ke bawah menemui Pak Sardi yang sedang mengelap mobil. “Kita ke Rumah sakit Mitra Keluarga sekarang ya, Pak,” ucap Aruni pada Sardi, supir pribadinya. “Baik, Non.” Dengan cepat Sardi meletakkan lap yang ada di tangannya ke atas meja sementara Aruni bergegas masuk ke dalam mobil. Sardi ikut masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobil itu meninggalkan halaman rumah menuju ke rumah sakit. Sekitar setengah jam kemudian, mereka tiba di halaman rumah sakit. Aruni bergegas menuju ke ruangan yang tadi diberikan oleh adiknya dibantu oleh petugas rumah sakit. Aruni membuka pintu ruangan rwat inap ayahnya dengan perlahan. Netranya langsung tertuju pada seorang pria lanjut usia tampak tergeletak lemah di atas tempat tidur. Adi yang melihat kedatangan kakaknya langsung berjalan mendekati Aruni. “Bapak sedang tidur, Mbak. Baru saja selesai makan dan diberi obat setengah jam yang lalu,” ucap Adi. “Kenapa bapak bisa begini, Di?”tanya Aruni. “Napas bapak tiba-tiba sesak tadi subuh, Mbak. Terus gak lama bapak jatuh pingsan. Kata dokter tadi bapak kena gejala serangan jantung akut,” jelas Adi. “Apa bapak sedang memikirkan sesuatu?” “Sepertinya gak ada sih, Mbak. Kata dokter tadi, jantung bapak mulai melemah, Mbak. Jadi bapak gak boleh terlalu banyak pikiran dan beraktivitas berat,” jelas Adi lagi. Aruni terdiam. Ditatapnya wajah tua dan pucat yang sedang terbaring di atas tempat tidur itu. Kenapa ayahnya harus terbaring lemah disaat hidupnya sedang hancur porak poranda seperti sekarang? “Mbak,” panggil Adi. Aruni tersadar dan spontan melihat ke arah Adi, “Ya?” “Adi dipromosikan ke Palembang dan harus berangkat besok. Bisa gak bapak tinggal di rumah, Mbak? Nanti Adi juga akan izin ke Mas Aji juga soal ini. Adi gak bisa bawa bapak soalnya, Mbak,” ucap Adi. Aruni meremang. Hidupnya semakin merumit. Bagaimana caranya dia membawa ayahnya pulang sementara dia dan Aji akan segera bercerai. Dia juga belum bisa menceritakan apa yang terjadi pada rumah tangganya sekarang. “Mbak?” panggil Adi lagi karena melihat Aruni yang terdiam membisu. “Gak apa-apa, Di. Biar Mbak yang mengurus bapak. Kamu fokus saja pada pekerjaanmu. Tidak perlu izin dengan Mas Aji. Nanti biar mbak yang ngomong sendiri.” “Syukurlah. Adi tenang sekarang Mbak.” Adi menyunggingkan senyum leganya. “Runi?” terdengar suara parau Idham, ayah Aruni yang terbangun dari tidurnya. Aruni dan Adi serentak bergerak mendekati Idham. “Iya, Pak. Ini Runi.” Aruni menggenggam tangan Ayahnya dengan lembut. “Kamu sudah datang? Aji mana?” tanya Idham sambil melihat ke sekitarnya, mencari seseorang yang tadi disebutnya. Aji adalah menantu kesayangannya sekaligus kebanggaannya. Sejak dulu Aji dan mertuanya itu begitu kompak dan saling perhatian. Mereka bukan seperti menantu dan mertua, melainkan anak dan orangtua kandung. “Mas Aji lagi mengajar, Pak,” jawab Aruni berbohong. Sungguh tidak mungkin dia mengatakan dimana keberadaan Aji sebenarnya saat ini. “Dia pasti sangat sibuk. Dia nanti akan ke sini kan setelah mengajar?” tanya Idham lagi. Raut kerinduan terpancar dari wajahnya. Idham selalu senang jika melihat semua anaknya berkumpul. Terlebih sejak ibunda Aruni meninggal, Idham selalu merasa kesepian. “Nanti Aruni telpon Mas Ajinya ya, Pak,” jawab Aruni berusaha menenangkan ayahnya. Aruni, Adi dan Idham berbincang ringan beberapa saat sebelum Idham kembali beristirahat. “Di, Mbak keluar sebentar ya,” ucap Aruni begitu memastikan ayahnya telah terlelap tidur. “Iya, Mbak.” Adi menganggukkan kepalanya. Aruni berjalan keluar dari dalam ruangan rawat inap ayahnya dan duduk di bangku panjang yang ada di depan ruangan itu. Aruni menghelakan napasnya dengan kasar kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Tangannya dengan lambat mencari kontak Aji yang adai di daftar panggilannya. “Apa Mas Aji bakal mau ke sini? Bagaimana kalau nanti Mas Aji malah mengatakan semua hal yang terjadi di rumah tangga kami pada Bapak dan Adi?” batin Aruni. Perasaannya galau. Tapi dia tidak punya pilihan lain selain mengatakan hal ini pada suaminya. Dengan perasaan gamang segera ditekannya menu dial yang ada di layar ponselnya dan menunggu suaminya mengangkat panggilan telepon itu. Butuh beberapa kali deringan sampai akhirnya Aji mengangkat panggilan telepon itu. “Ada apa? Tak bisakah kamu tidak mengganggu waktuku dengan Dira?” ucap Aji begitu mengangkat panggilan telepon dari Aruni. “Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud untuk mengganggu waktu kalian. Aku cuma mau kasih tahu kalau Bapak sekarang sedang di rawat di rumah sakit karena serangan jantung. Mas bisa ke sini?” Tidak ada jawaban dari ujung telepon. Aji terdiam membisu mendengar berita dari Aruni sementara Aruni dengan cemas menunggu jawaban dari Aji. Membayangkan wajah ayahnya yang sangat berharap bisa bertemu dengan Aji membuatnya khawatir akan menuai kecewa. “Di rumah sakit mana dan ruangan apa?” tanya Aji yang berhasil membuat wajah Aruni sedikit berbinar. “Rumah Sakit Mitra Keluarga. Ruang Akasia Nomor 2, Mas,” jawab Aruni dengan cepat. “Satu jam lagi aku ke sana,” ucap Aji yang kemudian menutup panggilan telepon itu. Aruni meghelakan napas lega. Setidaknya suaminya itu sudah mau datang menemui ayahnya. Aruni bergegas berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke lobi rumah sakit. Dia ingin menemui Aji terlebih dahulu sebelum mereka menemui ayahnya. Aruni harus membuat sebuah kesepakatan dengan Aji demi kesehatan ayahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN