“Pak,” panggil Aji begitu melihat kedua mata mertuanya itu terbuka perlahan.
Idham tersenyum begitu melihat wajah Aji di dekatnya. Matanya mengedar ke sekitarnya. Hatinya bertambah bahagia begitu melihat Aruni dan Adi pun juga ada di sana. Lengkap sudah semua orang yang dirindukannya.
“Kamu sudah datang, Ji? Kamu sangat sibuk tapi masih bisa menyempatkan datang ke sini, Ji,” ucap Idham.
“Tentu saja Aji datang ke sini, Pak. Begitu Aruni mengatakan kalau bapak di rawat di rumah sakit, Aji langsung datang ke sini,” jawab Aji sambil tersenyum.
Aruni menatap suami dan ayahnya bergantian. Tidak ada yang berubah dari mereka meski masalah diantara dia dan suaminya telah berada di ujung tanduk. Aji sangat pintar membawakan diri dengan berakting seolah tidak ada hal buruk yang terjadi di hadapan Ayah dan adik Aruni.
Setelah puas berbincang, Aji pamit pada mertuanya dengan alasan berpura kembali ke kampus untuk mengajar. Aruni mengantarkan Aji keluar dari ruangan rawat inap ayahnya.
“Terima kasih sudah mau datang, Mas,” ucap Aruni begitu tiba di depan pintu ruangan.
“Ini semua demi Bapak. Apapun yang terjadi pada kita berdua, aku akan tetap menganggap bapak sebagai orangtuaku”
Aruni tersenyum mendengar ucapan Aji yang terdengar begitu sejuk di hatinya.
“Mengenai kesepakatan yang tadi aku katakan-“
“Aku akan menurutinya sampai bapak benar-benar pulih.” Aji langsung memotong ucapan Aruni, “Aku pergi dulu.”
Aji berjalan pergi meninggalkan Aruni yang terus menatapnya hingga menghilang di ujung lorong. Aruni tersentak begitu mendengar suara pintu ruangan rawat inap ayahnya terbuka. Adi keluar dari dalam dengan menenteng tas milik Aruni.
“Ponsel Mbak berbunyi,” ucap Adi sambil memberikan tas Aruni yang ada di tangannya.
“Oh, makasih ya, Di.” Aruni mengambil tasnya dan dengan cepat mencari ponselnya dari dalam tas.
Nama ‘Nita’ muncul di layar ponselnya begitu Aruni berhasil mendapatkannya.
“Ya, Nit?” ucapnya begitu mengangkat panggilan telepon itu.
“Kamu dimana, Run? Aku di depan rumah kamu nih. Aku bawain roti isi kelapa langganan kita dulu. Aku bosan di kosan. Hari ini kan aku libur kerja. Ghibah bareng yuk,” ucap Nita, sahabat Aruni sejak SMP dengan bersemangat.
“Aku sedang di rumah sakit, Nit. Bapak kena serangan jantung.”
“Astaga, rumah sakit mana, Run? Ruangan apa?”
“Rumah Sakit Mitra Keluarga. Ruang Akasia Nomor 2.”
“Oke. Aku ke sana.”
Nita langsung menutup panggilan teleponnya. Sekitar dua puluh menit kemudian, dia tiba di ruangan rawat inap ayahnya Aruni.
“Sejak kapan Om di rawat, Run?” tanya Nita sambil melihat ke arah Idham yang masih terlelap dan meletakkan bungkusan roti yang dibawanya ke atas meja.
“Tadi subuh, Nit,” jawab Aruni, “Kita ke depan aja yuk. Ada yang mau aku ceritakan sama kamu.”
Nita menganggukkan kepalanya menyetujui ucapanku.
“Di, Mbak ke depan dulu ya,” ucap Aruni pada adiknya.
“Iya, Mbak.”
Aruni membawa Nita ke sebuah kafe yang ada di rumah sakit itu. Setelah memesan minuman, mereka duduk bersama di sudut ruangan kafe.
“Aku mau cerai, Nit,” ucap Aruni langsung pada inti.
Kopi gula aren yang baru diseruput Nita hampir saja tersembur keluar mendengar ucapan Aruni.
“Kamu serius, Run?” Kedua manik hitam Nita membulat. Gelas kopi yang ada di tangannya berhenti bergerak.
Aruni menganggukkan kepalanya.
“Karena foto-foto itu?” tanya Nita serius, “Kan kamu dan Mas Adam adalah korban dalam kejadian itu.”
“Mas Aji sudah memiliki istri siri. Aku tidak tahu apakah itu karena cintanya pada wanita itu atau dendam sakit hatinya padaku.
“Mas Aji sudah menalakmu?” tanya Nita lagi sambil meletakkan gelas kopi yang di pegangnya.
Aruni menggelengkan kepalanya, “Dia meminta aku untuk mengajukan gugatan cerainya.”
“Aneh.” Nita mengernyitkan keningnya.
“Aneh kenapa?”
“Kenapa Mas Aji gak melepaskanmu jika dia memang sudah memiliki wanita lain, sementara dia juga sedang menyimpan sakit hati kan dengan kamu, Run?” jelas Nita.
Aruni terdiam. Secara logika Nita memang benar. Kenapa Aji tidak langsung menalak Aruni yang sudah sangat dibencinya sementara dia sudah menemukan tambatan hatinya yang baru?
“Kamu harus kembali bekerja, Run,” ucap Nita lagi, membuyarkan lamunan Aruni.
“Kembali bekerja?” Aruni menatap Nita, “Pekerjaan apa yang bisa aku dapat setelah tiga tahun menganggur? Berbisnis?”
“Kembalilah mengajar seperti dulu. Ijazah magistermu itu dari universitas bergengsi, Run. Semua orang pasti mengakui kualitas kecerdasanmu. Apalagi track record cumlaude dan pengalaman kerja sebagai dosen yang dulu.” Nita menatap serius Aruni.
“Kalau kamu jadi bercerai dengan Mas Aji, tentu saja kamu memerlukan pekerjaan untuk melanjutkan hidup kan?” lanjut Nita.
“Kamu benar. Itu juga yang aku pikirkan sejak Mas Aji menyuruhku mengajukan gugatan perceraian.” Aruni mengalihkan tatapannya ke sisi lain kafe.
“Tapi tidak segampang itu, Nita. Lulusan magister terbaik pasti sudah sangat banyak yang lahir selama tiga tahun belakangan jika hanya mengandalkan hal itu. Universitas tempatku bekerja dulu juga pasti sudah menemukan penggantiku. Aku harus mulai lagi dari nol memasukkan lamaran demi lamaran ke semua universitas di Jakarta ini sampai aku menemukan peluang itu,” lanjut Aruni diikuti sebuah desahan lemas.
“Terkadang betapa tidak adilnya stereotipe yang berlaku di negara ini. Kenapa dengan mudahnya pihak laki-laki memutuskan impian seorang wanita dengan dalih sebuah ketaatan istri terhadap suami, sementara dengan kuasa yang sama, pihak laki-laki juga bisa dengan mudahnya meninggalkan sang istri tanpa pegangan hidup yang kuat. Padahal dia sendiri tidak ingin impian dan harga dirinya ditindas sepihak seperti itu.” Nita berdecih.
“Memangnya urusan keturunan hanya tanggung jawab sang istri?” oceh Nita lagi.
Aruni terdiam mendengar ucapan Nita. Dulu dia dan Aji sama-sama berprofesi sebagai dosen di Universitas yang berbeda. Tiga bulan setelah menikah, Ibunda Aji meminta Aruni untuk berhenti bekerja agar mereka bisa segera memiliki seorang anak yang sangat dinanti oleh keluarga besar Aji. Meski Aji tetap membebaskan Aruni untuk berkarir, tapi Aruni memilih untuk menuruti permintaan ibu mertuanya itu dan mengabdikan hidupnya sebagai ibu rumah tangga hingga saat ini.
“Maaf, Run. Aku tidak bermaksud menambah kesedihanmu. Aku belum bisa menerima perlakuan Mas Aji padamu.” Nita tersadar bahwa ucapannya telah membuat wajah Aruni semakin murung.
“Tidak apa, Nit.” Aruni berusaha menarik senyumnya. Dadanya terasa begitu sesak mendengar semua kenyataan yang dipertegas oleh Nita sejak tadi.
“Oh iya, aku tahu bagaimana caranya agar kamu bisa mendapatkan pekerjaanmu dengan cepat, Run!” wajah Nita seketika berbinar.
Aruni menatap Nita bingung, “Bagaimana caranya?”
“Aku tahu seseorang yang sangat bisa membantumu tapi jika aku memberitahu siapa orangnya saat ini pasti kamu langsung menolaknya.”
“Siapa?” Aruni mengernyitkan keningnya.
“Aku kan memastikannya terlebih dahulu. Setelah itu baru aku beritahu kamu, oke?” Nita tersenyum lebar ke arah Aruni.