Episode 5 Pekerjaan Baru

1204 Kata
“Bapak mau istirahat di kamar?” tanya Aji pada ayah mertuanya saat membantunya berjalan masuk ke dalam rumah. Wajah Idham yang terlihat sayu dan lelah terlihat menganggukkan kepalanya. Aji dan Aruni membantu Idham masuk ke dalam kamar dan membaringkannya. “Bapak istirahat dulu ya,” ucap Aruni sambil menyelimuti ayahnya dengan selimut. Setelah memastikan Idham telah terbaring nyaman, Aruni dan Aji berjalan keluar dari dalam kamar. “Mas sudah makan siang? Aku siapkan makan siang ya,” ucap Aruni pada Aji. “Aku sudah makan siang dengan Dira sebelum ke rumah sakit tadi,” jawab Aji tanpa menoleh kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar mereka. Kedua netra Aruni terus mengikuti gerakan Aji sampai menghilang masuk ke dalam kamar. Aruni menghelakan napasnya dengan begitu berat. Dia harus bisa menahan semua rasa sakit itu demi ayahnya. Dia sudah sangat berterima kasih saat Aji mau menuruti permintaannya untuk kembali ke rumah demi ayahnya. Di dalam kamar, Aji menyandarkan tubuhnya di pintu yang baru saja ditutupnya. Kedua tangannya menangkup wajahnya dan mengusapnya dengan kasar. Ingin sekali rasanya dia memeluk Aruni setelah beberapa hari kemarin mereka sama sekali tidak bertemu. Dia sangat merindukan aroma tubuh yang begitu dicandunya dari wanita penguasa hatinya itu. Betapa sulitnya Aji menahan gejolak itu setiap kali mereka bersama. “Aruni terlihat lebih kurus. Apa dia sedang sakit?” gumam Aji. Aji berjalan menuju ke arah tempat tidur dan menghempaskan bobotnya ke atas tempat tidur itu. dulu tempat tidur itu adalah tempat yang paling dirindukannya setiap kali dia pulang. Tempat tidur itu menjadi saksi betapa bahagianya hidup mereka. Tempat tidur itu pula menjadi saksi bagaimana panas dan mesranya mereka setiap kali memadu kasih. Kini dia hanya bisa menatap setiap sisi tempat tidur itu dan berharap semua hal menyakitkan yang terjadi hanyalah sebuah mimpi buruk. Netra Aji menyapu setiap sudut ruangan itu. Semua masih sama. Aroma dan tata ruang yang begitu melekat dengan hati dan pikirannya. Hanya satu yang berbeda, pemilik ruangan itu kini tak lagi utuh. Tiba-tiba mata Aji terhenti pada satu objek yang ada di tas meja rias milik Aruni. Aji bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati objek itu. Tangannya meraih map yang tergeletak di atas meja rias dan membukanya. Map itu berisi berkas-berkas penting pernikahan dirinya dan Aruni. “Itu berkas untuk pengajuan gugatan perceraian kita. Rencananya hari ini aku akan memasukkannya ke pengadilan agama, tapi terpaksa harus aku urungkan karena bapak masuk ke rumah sakit,” ucap Aruni yang masuk ke dalam kamar. Aji yan terkejut spontan melihat ke arah Aruni beberapa saat kemudian mengalihkan tatapannya kembali dan mengembalikan berkas itu ke atas meja rias. “Bolehkah aku menundanya sampai bapak benar-benar pulih, Mas? Aku takut hal itu bocor ke telinga bapak jika aku memasukkan berkas perceraian itu sekarang.” Aruni masih tetap berdiri di dekat pintu masuk. “Terserah. Lakukan itu secepatnya setelah kesehatan bapak membaik,” jawab Aji singkat. Aruni segera menutup pintu kamar dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Diletakkannya tas yang dibawanya ke atas meja nakas. Sedangkan Aji mulai membuka lemari pakaiannya untuk mengambil pakaian gantinya. “Aku akan tidur di ruang kerjaku,” ucap Aji sambil memilih pakaian. Aruni berdiri terdiam melihat ke arah Aji. Dia tidak bisa membantah. Dialihkannya pandangannya sembari membuka jam tangan yang sedang dipakainya. Tiba-tiba jam weker digital yang ada di tas meja naka berbunyi. Aji dan Aruni serentak melihat ke arah jam weker itu. Mereka paham mengapa alarm jam weker itu berbunyi tepat di jam sepuluh pagi karena hal itu selalu terjadi setiap hari. Aruni mematikan alarm jam itu kemudian berjalan menuju ke meja riasnya. Dibukanya laci meja rias itu dan mengambil sebuah botol kecil dari dalamnya. Aruni menuangkan sebutir pil ke telapak tangannya dan mengambil air minum yang ada di atas meja nakas. “Untuk apa lagi kamu meminum vitamin penyubur itu? Toh kita akan segera bercerai sebentar lagi,” ucap Aji begitu melihat Aruni menelan sebuah pil yang tadi diambilnya dengan dibantu oleh segelas air minum. Aruni terdiam tanpa menjawab. Hampir tiga tahun Aruni rutin mengkonsumsi vitamin penyubur yang diberikan oleh kakak iparnya yang berprofesi sebagai dokter ahli kandungan itu. Tujuannya jelas agar rahimnya bisa segera terisi oleh calon anak mereka. Namun usaha itu masih belum menampakkan hasil hingga sekarang. Beberapa kali kakak iparnya itu mengganti vitamin penyubur yang dikonsumsi oleh Aruni demi sebuah titik terang kehamilan yang selalu didamba oleh mereka. “Tentu saja. Setelah bercerai dariku, kamu bebas mencari laki-laki lain untuk menikahimu. Atau kamu akan kembali pada mantan pacarmu itu?” Aji berdecih sambil menyunggingkan senyum sinisnya. “Ya, tentu saja kamu tidak ingin hal menyedihkan saat kamu hidup bersamaku terulang lagi dengannya kan?” lanjut Aji sambil menatap tajam Aruni. “Mas!” Aruni menatap Aji sendu. Hatinya begitu sakit mendengar perkataan Aji barusan. “Tidak apa. Itu kan hakmu, Aruni. Aku juga sudah memiliki Dira di sampingku. Aku sangat berharap Dira segera mengandung benih yang kami tanam dengan penuh cinta.” Aji segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar sambil membawa pakaian ganti yang tadi diambilnya. Dia mengurungkan niatnya untuk mandi di dalam kamar itu dan memilih membersihkan tubuhnya di kamar mandi ruang kerjanya. Aruni terhenyak begitu pintu kamar mereka ditutup oleh Aji dari luar. Tubuhnya meluruh ke atas tempat tidur. Butiran bening itu mengalir hangat di pipinya. Betapa sakit rasanya mendengar suaminya mengatakan keinginannya memiliki anak dari wanita lain. Padahal dalam hatinya tak pernah terbersit sekalipun untuk menggantikan posisi Aji dari dalam hatinya dengan pria manapun. Bunyi ponselnya menghentikan isak tangisnya yang tersedu. Aruni segera menghapus jejak air mata yang ada di pipinya dan bangkit berdiri dari atas tempat tidur mengambil tasnya yang ada di atas meja nakas. Aruni merogoh isi tasnya dan mencari ponselnya yang msih terus berbunyi. “Nita?” gumamnya begitu berhasil mendapatkan ponselnya dan membaca nama kontak yang ada di layar ponselnya. Aruni segera mengangkat panggilan telepon itu. “Ya, Nit?” “Kamu masih di rumah sakit, Run?” tanya Nita dari ujung telepon. “Sudah di rumah, Nit. Tadi pagi bapak sudah diperbolehkan pulang. Ada apa, Nit?” “Aku sudah mendapatkan pekerjaan untukmu, Run.” “Pekerjaan? Perkerjaan apa?” tanya Aruni. “Sebagai dosen dong. Kan sudah aku bilang kalau orang pintar seperti kamu harus kembali menjadi dosen.” “Dimana? Universitas apa?” tanya Aruni penasaran. “Pokoknya besok kamu bersiap saja. Aku yang akan mengantarkanmu ke sana. Aku jemput jam tujuh pagi ya. Jangan lupa siapin berkas lamaranmu juga ya. Tenang, itu hanya untuk formalitas pemberkasan. Kamu sudah pasti diterima kok.” “Bagaimana bisa seperti itu?” tanya Aruni bingung. “Pokoknya besok siap-siap aja aku jemput. Aji pasti akan menyesal sudah menyia-nyiakan kamu dan lebih memilih untuk tidak mempercayai kamu dalam skandal itu.” Aruni terdiam mendengar ucapan Nita. Bisa-bisanya sahabatnya itu mendapatkan pekerjaan sebagai dosen sebuah universitas dalam waktu semalam. “Jangan bengong, Run. Angkat kepalamu dan pakai mahkotamu, Princess!” seloroh Nita yang berusaha menghibur sahabatnya itu. Aruni tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Nita. “Sudah dulu ya, Run. Aku harus balik kerja. Bye, Run.” Nita menutup panggilan teleponnya. Aruni menghelakan napasnya dan meletakkan kembali ponselnya ke atas meja nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Aruni berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin mendinginkan kepalanya yang sedari tadi terasa begitu berat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN