Episode 6 Kampus yang sama

1332 Kata
Aji berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian yang rapi. Hari ini dia kembali masuk mengajar setelah cuti sakit kemarin. Aji berjalan menuju ke mobilnya dan memasukkan perlengkapan yang diperlukannya untuk mengajar ke dalam mobilnya itu. setelah itu dia kembali masuk ke dalam rumah menuju ke ruangan makan. “Pagi, Pak,” sapa Aji begitu melihat ayah mertuanya telah duduk di ruangan makan, “Bagaimana tidur bapak semalam? Ada sesak atau pusing, Pak?” tanya Aji sambil duduk di dekat ayah mertuanya. “Gak ada. Bapak tidur nyenyak sekali tadi malam, sampai-sampai bapak gak tahu kalau kamu dan Aruni bergantian masuk ke dalam kamar mengecek keadaan bapak,” jawab Idham pada menantunya itu. “Bapak tahu dari mana ada orang yang masuk ke dalam kamar bapak kalau bapak tidur dengan nyenyak?” tanya Aji sambil tersenyum geli. “Bik Ida yang bilang tadi pagi. katanya dia beberapa kali keluar dari dalam kamar dan melihat kalian berdua bergantian masuk ke dalam kamar bapak.” “Nanti kalau bapak merasa gak enak badan, langsung telepon Runi ya, Pak. Jangan ditahan sendiri. atau kasih tahu Bik Ida aja, nanti biar Bik Ida yang memberitahu Runi,” ucap Aruni yang berjalan dari arah dapur menuju ke meja makan sambil membawa semangkuk sop di tangannya, diikuti oleh Bik Ida yang juga membawa makanan di tangannya. Kedua mata Aji tak berhenti menatap Aruni yang kini telah duduk berhadapan dengannya. Netra hitamnya terus mengikuti gerakan Aruni yang sedang sibuk menyendokkan makanan ke piring ayah mertuanya dan juga piringnya. “Kenapa Aruni berpakaian sangat rapi pagi ini? Mau kemana dia?” batin Aji yang masih terpaku melihat ke arah Aruni. Kecantikan istrinya itu tak pernah pudar di matanya. Aji seakan bernostalgia ke beberapa tahun yang lalu saat mereka masih berstatus sepasang kekasih. Aura Aruni semakin berkelas dengan pakaian formal nan rapi seperti itu. “Bapak senang mendengar Aruni akhirnya kembali mengajar sebagai dosen. Terima kasih ya, Ji, kamu sudah mengijinkan Aruni kembali bekerja,” ucap Idham tersenyum pada Aji. Aji mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Idham. Ingin rasanya dia langsung menanyakan hal itu pada Aruni tapi niat itu diurungkannya. Ayah mertuanya pasti merasa aneh jika tahu seorang suami sama sekali tidak mengetahui kalau istrinya kembali bekerja. “Mas Aji juga senang waktu tahu kalau Aruni akan mulai bekerja kembali sebagai dosen mulai hari ini, Pak.” Aruni menatap tegas Aji, seakan memberi kode agar Aji tidak berkomentar apapun di hadapan ayahnya. “Tapi bapak masih penasaran di Universitas mana Aruni akan bekerja? Aruni tadi bilang masih rahasia,” ucap Idham. “Aruni sepertinya ingin memberi kejutan, Pak.” Aji membalas tatapan Aruni. Idham, ayah Aruni adalah pensiunan dosen dari sebuah universitas bergengsi yang juga merupakan almamater tempat Aruni dan Aji menyelesaikan studi sarjana dan pasca sarjana mereka. Dan ayah Aji adalah seorang rektor yang juga menyandang status guru besar di universitas itu. Aruni dan Aji pertama kali bertemu saat acara besar tempat orangtua mereka bekerja. Kedekatan mereka semakin intens sejak mereka sama-sama menimba ilmu di universitas itu dan akhirnya saling jatuh cinta. Kedua orangtua mereka begitu senang dan merestui hubungan mereka hingga ke jenjang pernikahan. Sayangnya ayahnya Aji menghembuskan napas terakhirnya sebulan setelah pernikahan mereka karena serangan jantung mendadak. Hal itu juga yang membuat mereka begitu khawatir dengan kesehatan ayahnya Aruni kemarin. Setelah selesai menyantap sarapan mereka, Aruni dan Aji berjalan menuju ke ruang depan untuk bersiap pergi. “Mau aku antar?” tanya Aji begitu selesai memakai sepatunya. Sebenarnya itu bukan sekedar basa basi belaka. Dia memang benar-benar ingin mengantarkan Aruni ke tempat kerjanya. Selain ingin memastikan Aruni tiba di tempat kerjanya dengan selamat dan Aji juga ingin tahu di universitas mana Aruni akan mengajar. “Tidak perlu. Aku pergi sendiri saja. Mas berangkat saja duluan,” jawab Aruni sambil memeriksa kembali isi tasnya. Bagaimana mungkin Aruni berangkat bersama dengan Aji sementara dia sendiri belum tahu dimana tempat kerjanya. Aji terdiam beberapa saat sambil menatap Aruni. Hatinya bergejolak. Entah bagaimana caranya agar dia tahu dimana tempat Aruni mengajar tanpa merendahkan egonya di hadapan Aruni. “Baiklah kalau begitu. Aku berangkat duluan.” Aji mengalihkan tatapannya saat wajah Aruni terangkat menatapnya. Aji berjalan menuju ke dalam mobilnya dan melajukannya meninggalkan halaman rumahnya dengan hati yang penuh dengan tanda tanya. Berselang lima menit kemudian, mobil Nita tiba di halaman rumah mereka. Aruni bergegas masuk ke dalam mobil Nita. “Berkas lamarannya udah kamu bawa belum, Run?” tanya Nita. “Udah, aman.” Aruni mempeerlihatkan amplop cokelat yang ada di dalam tasnya. “Oke. Kita berangkat.” Nita melajukan mobilnya pergi menuju ke kampus tempat Aruni akan mulai mengajar. “Universitas mana sih, Nit? Pakai rahasia segala. Semalaman aku susah tidur tahu karena penasaran,” ujar Aruni. “Ntar lagi kamu juga pasti tahu. Tapi janji jangan terkejut ya.” Nita mengerlingkan salah satu matanya ke arah Aruni kemudian kembali fokus pada kemudinya. “Hebat banget anak ini bisa mendapatkan lowongan pekerjaan dalam waktu semalam.” Nita terkekeh, “Lagian anak mantan dosen sekaligus menantu mantan rektor kayak kamu kok susah banget cari kampus buat ngajar.” “Bapak dan Papa mertuaku kan sudah lama pensiun, Nita. Palingan yang kenal juga dosen-dosen senior yang udah mau pensiun.” “Bener juga sih.” Nita menganggukkan kepalanya. Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil yang sedang dikendarai Nita masuk melewati gapura megah sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta. “Ini kan kampus tempat Mas Aji mengajar, Nit.” Wajah Aruni mulai menegang. “Iya. Benar.” Nita terus mengemudikan mobilnya sampai di parkiran kampus itu. “Jangan bilang aku kan mengajar di sini,” ucap Aruni sambil menatap ke arah Nita. “Tebakan kamu benar, Aruni. Mulai hari ini kamu dan Mas Aji akan menjadi rekan satu profesi di kampus ini.” Mulut Aruni membulat sempurna mendengar pernyataan Nita. “Kamu gak mau turun? Buruan. Aku juga mau ke kantor nih,” ucap Nita yang telah memarkirkan mobilnya. “Nanti kamu temui aja bagian personalia kampus dan berikan berkas lamaran kamu. Mereka sudah tahu kok kalau kamu akan menjadi dosen di kampus ini. Sebagai istri dosen yang mengajar di sini, kamu pasti tahu kan dimana bagian personalianya?” lanjut Nita. “Astaga, Nita.” “Selamat bekerja kembali, Ibu dosenku yang cantik.” Nita mengerlingkan salah satu matanya ke arah Aruni. “Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu.” “Semangat, Aruni!” Aruni tersenyum sekilas kemudian keluar dari dalam mobil Nita. Dengan langkah yang pelan, Aruni mulai berjalan menyusuri lorong menuju ke ruangan personalia. “Selamat pagi, Pak,” sapa Aruni setelah mengetuk pintu ruangan personalia beberapa kali. “Ibu Aruni,” sambut Dian, kepala bagian personalia yang bergegas menjabat tangan Aruni, “Saya sudah sejak tadi menunggu kedatangan Ibu Aruni. Saya kira tadi Pak Aji ikutan ngantar ke sini,” ucap Dian sambil melihat ke arah belakang Aruni. “Silahkan duduk, Bu.” Dian mempersilahkan Aruni untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya. Aruni segera duduk berhadapan dengan Dian. “Ini berkas lamaran saya, Bu Dian.” Aruni mengeluarkan amplop cokelat yang berisi lamaran kerjanya dan meletakkannya di atas meja tepat di depan Dian. “Saya sangat senang begitu mendengar Bu Aruni mau bergabung menjadi dosen pengajar di kampus ini. Saya sangat tahu kualitas mengajar Ibu Aruni. Terlebih lagi, ada Pak Aji yang sudah pasti akan selalu mendukung Ibu Aruni dalam mengajar,” ucap Dian tersenyum lebar. Aruni tersenyum mendengar ucapan Dian yang sebenarnya masih terasa bagai mimpi bagi Aruni saat ini. Dian mulai menjelaskan beberapa hal mengenai kampus mereka pada Aruni sebagai dosen baru di sana. Tiba-tiba pintu ruangan Dian yang sedang terbuka diketuk oleh seseorang. “Oh, Bu Dian sedang ada tamu. Nanti saja saya kembali lagi.” Aruni yang kebetulan duduk membelakangi pintu terhenyak. Dia sangat kenal dengan suara orang yang sedang berdiri di pintu ruangan itu. “Halah Pak Aji pinter banget bercandanya. Seperti gak kenal sama tamunya aja,” seloroh Dian. Aruni segera menoleh ke arah pintu. Seperti dugaannya, suaminya sedang berdiri di dekat pintu sambil melihat ke arahnya. “Aruni?” “Mas Aji?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN