Dellia menutup kedua matanya dengan rapat, bersiap untuk menerima rasa sakit akibat sebuah bola yang menghantam wajahnya. Namun selang beberapa menit ia tak merasakan apa-apa dan hanya pekikan kehebohan orang-orang disekitarnya yang terdengar. Merasa penasaran ia membuka matanya dan tampak sebuah bola yang berada persis di depan wajahnya dengan tangan seseorang yang berhasil menahannya. Ia melirik pemilik tangan tersebut yang juga terlihat cukup panik sama seperti dirinya. “Kak Egi?” serunya sedikit terkejut, ia benar-benar tak menyangka bahwa pemuda itu akan berdiri di depannya saat ini dan menahan sebuah bola basket yang akan mengenai wajahnya. Ia menoleh pada Putri, Novita dan Lia yang hanya mematung dengan wajah terkejut ketiganya. Mereka bertiga jelas tak menyangka bahwa Egi akan ada

