Part 19

1059 Kata
Dellia masih asyik terdiam memandangi sosok pemuda misterius yang bersama Raka itu yang tendanya ternyata tidak jauh dari tenda miliknya, tak disangka pemuda itu juga menoleh padanya. Seketika pandangan mereka bertemu dan tanpa diduga pemuda itu malah tersenyum manis padanya. Hanya sesaat karena pemuda itu langsung mengalihkan pandangannya pada lawan bicaranya dan mereka mulai berjalan menjauh dari tenda. “Heh, kamu lagi melamun?” Tepukan keras Novita di punggungnya membuat Dellia tersentak dari lamunannya dan tak sengaja menjatuhkan kayu di tangannya dan mengenai kakinya. Ia meringis kesakitan memegangi kakinya yang hanya dibalut sandal jepit yang tak bisa melindungi kaki bagian atasnya dengan sempurna. Ia berjongkok sambil memegangi kakinya dengan erat untuk menahan sakit yang disalurkan dari kakinya ke otaknya. Novita menjatuhkan kayu bakar yang dibawanya. “Astaga, maaf, Dell. Aku tidak sengaja.” Ia ikut berjongkok di samping Dellia yang masih meringis tanpa suara, di sudut mata gadis itu sudah terdapat cairan asin yang menunjukkan bahwa rasa sakit yang ia rasakan bukan sekadar main-main dan saat melihat kakinya, Dellia dengan jelas bisa melihat cairan merah mulai keluar dari lukanya yang ternyata cukup parah. Baru ia sadari jika yang mengenai kakinya adalah ujung kayu yang runcing yang tentunya langsung merobek kulit kakinya dengan mudah, apalagi terjatuh dari ketinggian seperti itu. “Ini sakit banget, Nov.” Kedua mata Dellia mulai memerah dan dengan susah payah ia menahan agar tidak menangis saat ini, apalagi kepalanya mulai pusing melihat darahnya sendiri. Dari kecil ia memang tidak bisa melihat darah, saat melihat cairan kental berwarna merah itu maka ia akan pusing dan lebih parahnya lagi ia akan pingsan seketika. “Ya ampun, Dell. Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja.” Novita mulai panik dan saat melihat kehadiran Putri di sana ia mulai menangis. Ia tak tega melihat kondisi Dellia ditambah rasa bersalahnya pada sahabatnya itu. “Put, kaki Dellia luka dan darahnya banyak.” Ia mulai berbicara melantur dan seperti tak sadar. Putri berusaha menenangkannya dan melihat luka di kaki Dellia. Ia agak terkejut melihat darah yang mulai memenuhi kaki Dellia. Ia bahkan hampir berpikir salah satu jari kaki sahabatnya itu putus atau semacamnya. Ia menatap Dellia dengan tatapan horror. “Dell, kaki kamu ….” Ia tidak melanjutkan kata-katanya karena ia tidak sanggup dengan perasaan campur aduk. “Masih untuh, Put. Jari-jari kaki aku masih ada semuanya. Cuma ada luka robek di punggung kaki. Bantuin aku jalan ke tenda, dong.” Putri mengangguk dan bersiap untuk membantu Dellia berdiri sebelum suara serak dan berat menginterupsi mereka. Dellia menoleh dan mendapati kehadiran pemuda yang tadi ia lihat sedang berbicara dengan Raka saat ini berdiri di belakangnya. “Ada apa?” Pemuda itu memandangi kaki Dellia yang berdarah. Matanya seketika membulat kaget. “Kaki kamu kenapa?” “Kakinya tidak sengaja terkena kayu runcing, kak dan lukanya lumayan parah.” Putri memberanikan diri untuk menjawab saat melihat Dellia yang terdiam melihat sosok pemuda itu, bahkan ia tidak bisa berharap pada Novita yang masih merasa syok melihat keadaan Dellia yang ia anggap sebagai kesalahannya. “Biar aku bantu bawa dia ke tenda. Kamu tolong minta kotak P3K sama Pak Harun, ya.” Mendapat persetujuan dari Putri, pemuda itu segera mengangkat tubuh ringan Dellia dan membawanya ke tenda milik gadis itu. Orang-orang mulai memandangi mereka karena penasaran dan saat melihat kaki Dellia yang penuh darah mereka hanya bisa menutup mulut ngeri. Namun tak bisa disangkal bahwa masih ada beberapa siswa yang menatap keduanya sambil berbisik-bisik. Namun pemuda itu tidak peduli dengan pandangan orang-orang, ia hanya peduli dengan keadaan gadis dalam gendongannya saat ini. Novita mempersiapkan bantal yang mereka bawa untuk ditiduri oleh Dellia yang terluka kakinya. Sementara pemuda itu membaringkan tubuh Dellia yang sesekali meringis menahan sakit di kakinya. Tak lama setelah itu Putri datang bersama Pak Harun yang tampak khawatir. “Ini, kak.” Putri menyerahkan kotak berwarna kecil kepada kakak kelasnya tersebut dan juga menjawab pertanyaan dari Pak Harun dengan tenang agar gurunya itu tidak khawatir, lebih tepatnya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri yang mulai ikutan panik bersama Novita. Pemuda yang membawa Dellia segera mengambil kotak P3K yang diserahkan Putri padanya dan segera membersihkan luka Dellia sebelum mengobatinya. Kebetulan ia memang salah satu anggota yang bertanggung jawab untuk memberi perawatan bagi siswa atau siswi yang sakit selama masa kemah berlangsung begitupun dengan tahun lalu. Orang-orang mulai berkerumun di sekitar tenda Dellia, Putri dan Novita, merasa penasaran dengan apa yang terjadi. Bahkan Dellia bisa melihat ada Raka di sana, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya menahan malu. Rasa sakit di kakinya kini rasanya hilang tak bersisa akibat rasa malu yang ia rasakan saat ini. Ingin rasanya ia berlari dari sana dan bersembunyi dari pandangan orang-orang. Pak Harun segera bertindak dengan menyuruh mereka semua untuk menjauh dari sana. “Bubar, bubar, kembali ke tenda kalian masing-masing. Jangan berkerumun di sini. Di dalam ada yang lagi sakit, kalau kalian semuanya mengerumuninya seperti ini bisa-bisa sakitnya makin parah.” Raut wajah kekecewaan jelas tergambar di wajah para siswa yang diusir Pak Harun, mereka jelas tak ingin kehilangan momen saat ini. Padahal yang mereka lihat hanya Dellia yang sakit dan sedang diobati. Dellia sendiri tidak menyangka hal-hal seperti ini saja bisa mengundang kerumunan orang-orang. Pemuda yang tidak diketahui namanya itu membalut luka Dellia dengan kain kasa setelah mengoleskan salep luka. Tak lupa ia juga memberikan obat minum untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah infeksi pada kakinya. “Kamu harus minum tiga kali sehari per delapan jam, ya. Terus ini sebagai persiapan saja kalau misal nanti kamu demam. Tapi kalau tidak demam tidak usah diminum.” Pemuda itu dengan tenang menjelaskan obat apa saja yang harus dikonsumsi Dellia, menunjukkannya satu per satu dan tak lupa menuliskan takaran obatnya agar Dellia tidak keliru atau lupa. Dellia mendudukkan dirinya dengan susah payah dibantu oleh pemuda itu, ia mengambil obat yang diberikan padanya dengan sedikit rasa canggung di dadanya. Ia tak mengenali pemuda itu namun pemuda itu tampak seperti mereka saling kenal. Ia bahkan tak segan-segan membantu Dellia yang bukan siapa-siapa baginya, meskipun Dellia sendiri tahu bahwa ini adalah tugasnya. Namun ia tak mengabaikan fakta bahwa ia merasa ada sesuatu dengan pemuda itu, bukan sesuatu yang buruk namun sesuatu yang membuatnya berpikir bahwa mereka sebenarnya saling mengenali satu sama lain. Tapi ia tidak pernah mengalami amnesia sejak ia lahir ke dunia ini, jadi ia berpikir itu mungkin hanya perasaannya saja. “Terima kasih, kak,” ujarnya yang dibalas senyuman oleh pemuda itu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN