Setelah kurang lebih satu jam perjalanan menaiki bus, akhirnya mereka tiba juga di tempat perkemahan mereka. Dellia yang pertama kali bangun dari tidurnya dan menyadari bus yang sudah hampir kosong. Ia juga tak menemukan keberadaan Pak Harun di sana yang membuatnya sadar bahwa bus sudah berhenti berjalan. Matanya menangkap beberapa temannya yang sudah berkumpul di dekat bus.
Merasa panik, ia segera membangunkan Putri dan Novita yang masih asyik menyelami mimpi di samping kiri dan kanannya dengan terburu-buru, takut mereka akan ketinggalan rombongan dan malah tersesat nantinya. Tentu saja ia tak ingin hal itu benar-benar terjadinya padanya dan kedua sahabatnya di saat ia sudah memiliki kesempatan untuk menikmati kemah bersama.
“Bangun, Put, Nov, kita sudah sampai. Kalian tidak mau ketinggalan rombongan ‘kan?”
Putri menggosok-gosok matanya sambil menguap lebar masih berusaha mengumpulkan nyawanya, pandangannya ia edarkan ke sekeliling bus yang kosong dengan mata setengah terpejam, sedangkan Novita meregangkan tubuhnya dengan mata yang masih terpejam dan sesekali menggaruk lehernya. Keduanya tampak linglung sesaat sebelum nyawa mereka akhirnya kembali terkumpul dengan sempurna dan merasa panik melihat kini hanya ada mereka bertiga yang masih berada di dalam bus.
“Astaga, kita ketinggalan.” Putri segera membereskan bungkus-bungkus cemilan mereka yang sudah kosong dan tak lupa memakai kembali sweater yang sempat ia lepaskan saat pertama kali memasuki bus yang terasa panas baginya. Ia sedikit kewalahan membersihkan s****h yang mereka ciptakan sendiri selama perjalanan.
Pak Harun yang menyadari masih ada beberapa siswa yang belum turun dari bus kembali menaiki kendaraan besar itu. Matanya langsung tertuju pada Dellia, Putri dan Novita yang masih sibuk membereskan barang-barang mereka. “Kalian bertiga kenapa masih di sini? Ayo cepat turun, teman-teman kalian sudah menunggu di bawah.” Pak Harun sudah bersiap akan turun saat matanya menangkap botol minuman yang masih duduk manis di kursi milik Novita. “Dan jangan lupa bersihkan s****h kalian,” tegasnya sebelum benar-benar turun dari bus.
“Iya, pak. Maaf.” Dellia meminta maaf mewakili kedua sahabatnya dengan senyuman, merasa bersalah sudah membuat teman-temannya yang lain menunggu dan Pak Harun yang capek-capek memanggil mereka.
Melihat Putri dan Novita yang sudah selesai membereskan barang bawaan mereka dan sudah memastikan sekali lagi tidak melupakan sesuatu, mereka bertiga akhirnya turun dari bus. Udara dingin dan sejuk langsung menyambut mereka saat mereka menginjakkan kaki ke tanah. Pemandangan hutan lindung yang bersih dan beberapa tenda perkemahan yang sudah dibuka menjadi pemandangan yang indah sekaligus menarik untuk mereka nikmati, ditambah beberapa bunga yang tumbuh liar bermekaran semakin menambah keindahannya.
Pak Harun menuntun mereka semua berjalan lebih jauh ke dalam hutan yang tentunya dituntun oleh staf di sana. Suara aliran air sungai yang tenang memanjakan telinga mereka dan udara yang semakin sejuk. Dellia memeluk tubuhnya sendiri merasakan hawa dingin yang mulai menembus kaos lengan panjangnya. Mereka berhenti di tanah lapang yang memang selalu menjadi tempat wisata perkemahan bagi turis yang datang.
Pak Harun menuntun mereka untuk segera memasang sendiri tenda yang sudah disiapkan di sana untuk melatih mereka. Beruntung mereka disuruh untuk memilih sendiri teman satu tenda mereka yang masing-masing tenda dihuni oleh tiga orang. Dellia, Putri dan Novita saling berpandangan dan tertawa bersama, beruntung mereka ada tiga orang jadi tidak perlu susah-susah untuk mencari teman lagi.
“Untung saja kamu ikut, Dell. Jadi kita tidak perlu repot-repot mencari teman lagi.” Putri mulai membuka tenda dan mulai memasangnya berdasarkan ingatannya tahun lalu.
“Benar banget. Tahun lalu kami harus rela berbagi tenda sama kakak kelas yang jutek habis. Bikin mood jelek dan tidak nafsu makan saja, dalam dua hari saja aku langsung kurus saat pulang ke rumah.”
“Memang dasar kamunya saja yang kurus, Nov. Kamu kapan, sih pernah gemuk? Perasaan badan kamu begitu-begitu saja.”
Dellia ikut membantu Putri yang kemudian diikuti oleh Novita, namun bukannya membuat pekerjaan menjadi lebih ringan dan mudah, mereka berdua malah mengacaukannya. Alhasil tenda yang sudah hampir setengah jadi akhirnya kembali runtuh dengan wajah kesal Putri yang ditujukan untuk kedua sahabatnya.
Dellia menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya dengan ekspresi wajah yang bersalah. “Maaf, Put.”
“Sudahlah, kalian diam saja dulu. Biar aku selesaikan sendiri dan sisanya kalian yang kerjakan.” Melihat anggukan mengerti kedua sahabatnya membuat Putri kembali melakukan pekerjaannya, matanya sesekali melirik pada beberapa teman sekelasnya yang sudah selesai mendirikan tenda mereka sendiri. Ia berusaha mengikuti langkah mereka dan akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Ia tersenyum melihat tenda mereka bertiga yang sudah berdiri dengan sempurna dan siap untuk dihuni.
“Kamu hebat, Put. Aku tidak menyangka kamu bisa melakukannya sendirian.” Dellia menepukkan kedua tangannya bangga dengan hasil kerja keras Putri yang tampak sangat sempurna di matanya. Ia tak henti-hentinya mengagumi kehebatan sahabatnya yang bisa melakukan sesuatu yang bahkan dalam bayangannya pun sulit untuk ia lakukan.
Putri melirik Novita yang terlihat cengengesan di samping tenda, ia tahu makna tatapan tajam yang dilayangkan sahabatnya itu padanya. “Semua itu berkat Novita yang tahun lalu bakatnya Cuma mengganggu dan tidak membantu apa-apa. Jadi mau tidak mau aku harus menyelesaikannya sendiri.”
Novita berpura-pura bersiul sambil menatap kea rah lain berusaha mengabaikan tatapan tajam Putri yang masih mengarah padanya. Sementara Dellia hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu/
“Sudah lah, sekarang sebaiknya kita masukkan tas ke dalam tenda dan mencari kayu bakar. Kalian dengar sendiri ‘kan arahan dari Pak Harun yang menyuruh kita untuk mandiri dan melakukan semuanya sendirian.” Dellia melepaskan ranselnya dan menarik kopernya masuk ke dalam tenda, ia menaruh koper kecil berwarna putih beserta ranselnya yan berwarna senada di pinggiran tenda guna membuat tenda mereka tampak luas dan tidak sempit untuk mereka tinggali bertiga.
Putri dan Novita mengikuti langkahnya sebelum kembali keluar dari tenda dan mengikuti langkah teman-teman mereka yang lain untuk mencari kayu bakar. Di samping tenda sudah ada tersedia beberapa bahan makanan mentah yang akan mereka olah sendiri beserta alat memasak yang siap untuk digunakan. Mereka memang dianjurkan untuk bisa melakukan semuanya sendirian di sana, itu juga termasuk pelatihan agar mereka bisa bertahan hidup di luar tanpa mengandalkan bantuan orang tua mereka.
Dellia mengambil sepotong kayu yang sebesar pergelangan tangannya untuk bahan kayu api bakar mereka. Ia baru saja menemukan dua potongan kayu kecil saat matanya menangkap tumpukan kayu yang dibawa oleh seorang pemuda yang berjalan mendekatinya. Ia memberi jalan pada pemuda itu yang ternyata adalah Raka dan tersenyum membalas senyuman yang dilemparkan pemuda itu padanya.
“Hai, lagi cari kayu bakar juga?”
Dellia sempat ragu apakah pertanyaan itu ditujukan untuknya atau bukan dan tidak langsung menjawabnya, namun saat melihat di sekitar hanya ada mereka berdua di sana, ia akhirnya memberanikan diri untuk membalas ucapan pemuda tampan itu. “Iya, kakak sudah dapat banyak.”
Raka melirik kayu bakar yang dibawanya. Ia tersenyum. “Oh ini semua berkat bantuan teman-teman yang lain.” Matanya kemudian memandangi seorang pemuda yang melambaikan tangan padanya. “Aku pergi dulu, ya,” ujarnya dan langsung berjalan menjauhi Dellia yang terdiam dengan jantung berdegup kencang.
Entah sejak kapan Dellia merasakan perasaan seperti itu saat berhadapan dengan Raka, namun baru kali ini ia menyadarinya. Ia tak menyangka ia bisa menjadi seperti Putri dan Novita yang selalu berdebar-debar saat melihat pemuda tampan itu. Namun, saat matanya menangkap sosok yang ditemani Raka berbicara senyumnya lenyap dan kini digantikan dengan ekspresi bertanya. Ia tidak salah mengingat bahwa pemuda itu adalah sosok yang berpapasan dengannya di koridor depan kelasnya beberapa minggu lalu. Orang yang ramah namun ia tak mengenalinya sama sekali. Satu hal yang bisa ia simpulkan bahwa pemuda