Melihat beberapa bus yang memasuki pekarangan sekolah mereka membuat perasaan Dellia semakin berbunga-bunga. Karena ia tahu sebentar lagi mereka akan melakukan perjalanan panjang yang pastinya akan sangat menyenangkan.
Tahun ini pihak sekolah memang mengusulkan agar semua kelas mengikuti secara serentak, berbeda dengan tahun lalu yang dilakukan secara bertahap. Cuma ada beberapa kelas tiga yang memang diikutsertakan demi mengatur jalannya kemah bersama agar sesuai aturan.
Tahun ini, meskipun dilakukan serentak untuk kelas satu, dua dan tiga, namun tempat mereka dipisah-pisah agar tidak terlalu menimbulkan kerumunan dan dikhawatirkan akan terjadinya cekcok antar kelas. Beruntung kelas Dellia mendapatkan tempat yang sama dengan kelas Raka yang tentu saja membuat Putri dan Novita semakin kegirangan dibuatnya.
Para guru sudah bersiap mengatur keberangkatan dan membagi tiap kelas yang akan naik di bus yang sesuai. Dellia, Putri dan Novita segera menaiki bus berwarna biru dan memilih untuk duduk di kursi paling belakang, agar mereka tidak perlu terbagi lagi dan tentunya kursi paling belakang adalah tempat yang paling nyaman untuk ketiganya. Mereka bisa tidur, makan dan ngobrol dengan tenang tanpa khawatir mengganggu teman yang duduk di bangku belakang atau depannya.
"Akhirnya aku bisa naik bus ini juga." Dellia mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian dalam bus yang perlahan-lahan mulai dipenuhi oleh teman sekelas mereka.
"Jangan lebay, deh." Novita menoyor kepala Dellia dengan telunjuknya, lumayan pelan tapi sanggup membuat sahabatnya itu oleng ke samping. Namun sedetik kemudian ia tersenyum lebar. "Eh, tapi wajar, sih, kamu 'kan tahun lalu tidak ikut, ya."
"Benar." Putri menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan nyaman dan mulai melanjutkan kalimatnya. "Kamu tidak tahu betapa kesepiannya kami, Dell. Duduk saja kita dipisah, sepanjang perjalanan cuma diisi kebosanan gara-gara dapat teman duduk kelas tiga yang juteknya minta ampun."
"Benar, tuh, Dell. Beruntung tahun ini dapatnya teman sekelas sendiri, tidak digabung seperti tahun lalu. Mana dapatnya senior galak lagi. Padahal 'kan itu acaranya kita anak kelas satu. Mereka yang numpang malah mereka yang nyolot. Mentang-mentang senior." Novita memberikan ekspresi wajah yang serasa ingin muntah saat menceritakan pengalaman kemah bersama mereka tahun lalu yang mana acara mereka malah disabotase oleh beberapa anak kelas tiga yang juga ikut sebagai pengarah mendampingi guru.
Dellia duduk kembali ke kursinya saat melihat Pak Harun sudah memberi arahan pada mereka agar duduk manis karena sebentar lagi bus akan dijalankan. "Kalian yang lagi liburan berdua begitu saja bosan apalagi aku yang cuma tinggal di rumah tanpa melakukan apa pun. Cuma bisa memikirkan bagaimana kalian bersenang-senang di sana tanpa aku."
Putri menegakkan tubuhnya dan berpegangan pada Dellia saat bus perlahan mulai berjalan meninggalkan pekarangan sekolah. "Tapi, Dell, ada untungnya juga kamu tahun lalu tidak ikut."
Dellia menoleh dengan alis bertaut mendengar ucapan Putri. Ia sudah bersiap memberikan protes saat Putri kembali melanjutkan ucapannya.
"Jangan berpikiran negatif dulu, Dell, aku bilang begini karena kebaikanmu. Kamu pasti belum lupa 'kan kejadian pas orientasi siswa tahun lalu di mana kamu dapat hukuman membaca surat cinta untuk kak Raka?"
"Tumben kamu panggil dia kakak, biasanya cuma sebut nama." Dellia memberikan ekspresi anehnya melihat Putri yang tiba-tiba menyebut nama Raka yang memang kakak kelas mereka dengan sopan.
Putri meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya memberi isyarat agar Dellia tetap diam dan mendengarkan ucapannya dengan serius. "Diam dulu, Dell. Aku lagi serius ini. Tahun lalu waktu di perkemahan, kakak kelas yang cemburu sama kamu cariin kamu terus."
Novita yang baru saja sadar dengan pembahasan Putri dan Dellia menimpali dengan wajah antusias. "Oh iya, benar, Dell. Kamu tidak tahu saja bagaimana takutnya kami waktu para kakak kelas itu datang ke tenda kami cariin kamu."
Putri mendelik. "Kamu saja kali, Nov yang takut. Aku, sih biasa saja."
Novita menggaruk kepalanya yang mendadak buntu. "Lho, memangnya kamu tidak? Kupikir yang paling gemetaran waktu itu kamu. Sampai-sampai kamu tidak bisa tidur karena takut disamperin kakak kelas lagi."
Satu cubitan kecil namun menyakitkan mengenai lengan Novita yang terbalut kaos lengan panjang tipis. Gadis itu berteriak cukup kencang sehingga membuat beberapa kepala menoleh pada mereka yang duduk di kursi belakang, termasuk Pak Harun yang duduk di samping supir yang segera bertanya pada mereka.
"Ada apa di belakang?"
Putri kelabakan melambaikan tangannya dengan gerakan cepat, wajahnya sudah semerah tomat sekarang. Saat merasa malu seperti itu wajahnya memang selalu tampak merah, sangat kontras dengan kulitnya yang putih. "Tidak, Pak. Tidak ada apa-apa. Novita menjatuhkan barangnya, itu saja." Ia berpura-pura memungut permen yang sengaja ia jatuhkan agar Pak Harun percaya.
Pak Harun mengangguk percaya. "Ya sudah, kalau ada apa-apa bilang saja sama bapak." Kemudian Pak Harun kembali mengobrol dengan supir mobil melanjutkan pembicaraan mereka yang tampak serius.
Putri mengelus dadanya sambil menghembuskan napas lega. Namun kali ini ia yang mendapat cubitan di lengannya oleh Novita yang tidak terima. Ia meringis pelan sambil mengusap-usap lengannya yang memang tidak terbalut apa-apa karena mengenakan kaos lengan pendek. "Sakit, Nov," protesnya yang mendapat tatapan melotot dari lawan bicaranya.
"Aku juga sakit, Put. Nih, kamu lihat tangan aku jadi merah begini." Novita menunjukkan lengannya yang memerah akibat cubitan ganas dari Putri.
"Tapi lebih sakit aku, tahu. Kamu masih mending dihalangi baju, lah aku tidak. Cubitan kamu langung mengenai kulit."
Dellia yang duduk di antara kedua sahabatnya memutar matanya jengah. Ia sampai berpikir apakah kedua sahabatnya itu lupa dengan kehadirannya di sana dan malah sibuk bertengkar satu sama lain. Ia mengarahkan telapak tangannya ke depan wajah Putri dan Novita yang masih adu mulut dan tidak tahu akan selesai kapan. "Sudah cukup kalian berdua. Apa kalian tidak malu bertengkar seperti anak kecil begini?" Dellia menunjuk ke depan dengan dagunya yang segera diikuti oleh Putri dan Novita, tampak beberapa pasang mata yang melirik ke arah mereka dengan penasaran dan membuang muka saat ketahuan melirik.
Putri dan Novita terdiam, saling berpandangan dan kemudian tertawa bersama. Mereka tidak sadar sudah bersikap kekanak-kanakan seperti itu sejak tadi dan menjadi tontonan orang-orang. Beruntung Dellia menjadi penengah bagi mereka. Sementara Dellia menggelengkan kepalanya ikut tertawa bersama Putri dan Novita. Namun kemudian ia teringat sesuatu. "Tadi kalian bilang ada kakak kelas yang datang mencariku saat kemah bersama tahun lalu?"
Putri dan Novita kompak mengangguk bersama sebagai jawaban. "Iya, benar." Bahkan saat menjawab pun mereka mengatakannya bersamaan, sudah seperti kembar identik yang bisa telepati dan tak terpisahkan.
"Kalian tahu siapa orangnya?"
Putri dan Novita berpandangan, saling bertanya melalui pandangan mata yang membuat Dellia yang berada di tengah-tengah mereka berdua menunggu dengan sabar.
"Kalau tidak salah namanya kak Reni, Monica sama Dian, entahlah aku juga lupa-lupa ingat. Yang jelas kita sering ketemu sama mereka kalau ke kantin. Itu lho yang selalu duduk dekat meja kasir dan paling berisik."
Mendengar jawaban Putri membuat Dellia berpikir keras. Ia sibuk memikirkan siapa sosok yang disebutkan sahabatnya itu. Ia termasuk orang yang cuek dengan sekitar, tak begitu peduli dengan orang-orang yang sama kelaparannya dengan dirinya di kantin. Karena yang ia pikirkan hanya mengisi perutnya dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, bahkan kehadiran Raka saja tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari mangkuk baksonya yang lebih menggoda.
Ingatannya kemudian tertuju pada segerombolan perempuan yang selalu ia lewati jika ingin memesan makanan di meja kasir kantin, ia meskipun berusaha untuk tidak peduli namun juga tidak bisa mengabaikan pandangan lekat mereka semua yang selalu mengikuti langkahnya sampai ke mejanya. Ia tidak mungkin bisa mengabaikan tatapan kurang bersahabat mereka yang jelas-jelas ditujukan untuknya, namun beruntungnya mereka tak pernah melabraknya atau apa pun itu. Hanya melihatnya dari kejauhan dan membicarakannya sambil berbisik. Namun Dellia tidak perduli ia anggap itu pahala untuknya.
"Bagaimana? Kamu sudah tahu orangnya?" Novita bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi, ia sejak tadi memang selalu memperhatikan ekspresi wajah Dellia yang tampak berpikir keras sendirian.
"Sudah." Dellia mengangguk. "Aku lumayan sering dapat tatapan melotot dari mereka semua setiap ke kantin. Tapi yang bikin aku bingung itu, kenapa mereka harus capek-capek membenciku? Padahal 'kan sudah jelas kalau waktu itu cuma hukuman untukku. Bahkan panitia orientasi sendiri yang menunjuk harus menyatakan cinta sama siapa. Bukan salahku, dong, baca surat cinta sama Raka. Aku saja tidak kenal orangnya waktu itu."
"Sudah jelas kali, Dell. Mereka begitu karena mereka pecundang. Mereka tidak bisa menyatakan cinta sama Raka seperti yang kamu lakukan waktu itu."
"Itu hukuman, Put, bukan pernyataan cinta beneran," ralat Dellia yang tidak ingin orang salah sangka jika ada yang mendengar pembicaraan mereka bertiga. Bisa-bisa ia tidak bisa berangkat sekolah nantinya karena malu.
Putri mengangguk. "Iya maksudku hukuman. Tapi, meskipun itu cuma hukuman mereka tetap saja kesal sama kamu, Dell. Tahu sendiri 'kan kalau setelah kejadian itu banyak kakak kelas cowok yang suka godain kamu sama Raka. Mereka tentu cemburu lah, Dell. Karena bukan mereka yang berada di posisi kamu. Meskipun sebenarnya Raka cuek saja dan malah tidak kenal kamu sama sekali."
"Lucu, ya." Novita mengeluarkan permen lollipop dari mulutnya sehingga memudahkannya untuk berbicara dengan leluasa. "Bahkan setelah gosip heboh itu Raka tidak kenal sama kamu. Padahal kalau di sinetron, kamu sama Raka pasti sudah jadian sekarang."
"Itu sinetron, beda sama dunia nyata." Dellia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum tipis menanggapi ucapan Novita.
"Eh, tapi waktu Dellia sama Raka pertama kali saling berbalas pesan, Raka mengaku mengenal Dellia. Berarti selama ini dia berpura-pura cuek, dong."
Dellia mengambil cemilan kerupuk dari dalam tasnya dan memakannya tanpa menanggapi ucapan Putri yang sebenarnya cukup mengganggu pikirannya dalam beberapa hari ini. Saat bertemu mereka seperti saling tidak mengenali satu sama lain, namun saat berinteraksi melalui ponsel, Raka seperti orang yang berbeda untuknya.
"Minta dikit, dong." Putri merogoh bungkus cemilan yang dipegang Dellia dan sama-sama menikmati kerupuk rasa kentang tersebut. Mereka bertiga kemudian lebih memilih menikmati makanan yang mereka bawa sambil menikmati pemandangan yang tersuguhkan di jendela bus yang melaju di antara kendaraan lainnya.
*****