Akhirnya setelah menunggu selama beberapa hari, acara yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba juga, tentu saja itu adalah acara kemah bersama yang baru kali ini bisa ia rasakan kesenangannya.
Dellia tersenyum sambil menatap kopernya yang berisi beberapa pasang pakaian beserta kebutuhannya selama tiga hari ke depan di perkemahan. Tak lupa ia membawa beberapa cemilan di dalam ranselnya untuk ia nikmati bersama Putri dan Novita di atas bus nantinya.
Saat menarik kopernya ke luar dari kamar ia tak sengaja berpapasan dengan Rio yang juga melakukan hal yang sama. Adiknya itu sudah siap dengan kopernya dengan penampilan yang tak kalah rapinya dengan dirinya. Kala pandangan mereka bertemu, tak segan-segan mereka melemparkan tatapan maut satu sama lain. Sangat kentara sekali bahwa kedua kakak beradik itu begitu mirip dengan karakter kartun kucing dan tikus yang tak pernah akur jika bertemu satu sama lain.
"Apa lihat-lihat?" Dellia melotot dengan wajah garang sambil membuang muka dan berjalan menjauh dari sana. Ia menarik kopernya keluar dari rumah dan sengaja menyimpannya di sana sambil menunggu jemputan ayah Novita yang dengan senang hati akan mengantarkan mereka bertiga ke sekolah.
"Apa kamu yakin tidak ada barang yang ketinggalan?"
Saat Dellia sedang sibuk dengan ponselnya sambil menunggu jemputan ayah Novita di teras rumah, ibunya datang sambil menyerahkan beberapa lembar uang merah kepadanya. Ia menerimanya dengan mata berbinar. "Terima kasih, mah," serunya sambil memasukkan lembaran uang itu ke dalam dompet dan memasukkannya kembali ke ranselnya di tempat yang aman. "Aku sudah packing dari semalam, mah, dan tadi pagi sudah ku cek ulang juga. Tidak ada yang ketinggalan, jadi aman." Matanya melirik masuk ke dalam rumah di mana Rio malah asyik bermain ponsel di sofa. "Lebih baik mamah tanya Rio, deh, dia 'kan suka melupakan sesuatu."
Ibunya ikut melirik anak bungsunya yang tampak tidak sadar sedang dipandangi dan menjadi topik pembicaraan mereka. "Sudah mamah tanya, katanya aman. Tapi mungkin sebaiknya mamah cek sendiri. Ya sudah, mamah ke dalam dulu. Nanti kalau kamu butuh sesuatu bilang saja sama mamah."
"Iya, mah, siap."
Melihat ibunya yang sudah masuk ke dalam rumah dan membongkar koper adiknya, Dellia kembali menatap layar ponselnya menunggu kabar dari Novita. Belum lama ia menatap ponselnya, suara klakson dari arah depannya membuatnya segera mendongak. Ia lihat Novita sudah melambaikan tangannya dari kursi samping kemudi dan ayah Novita yang sudah turun dari mobil untuk membantunya mengangkat kopernya masuk ke dalam bagasi mobil.
"Terima kasih, om." Dellia menyerahkan kopernya pada ayah Novita dan kemudian melangkah masuk ke dalam rumah untuk pamit dengan ibunya dan ayahnya yang sibuk membaca koran di meja makan. "Mah, Dellia berangkat dulu." Dellia meraih tangan kanan ibunya dan menciumnya kemudian beralih pada ayahnya.
"Yoga sudah datang?" tanya ayahnya yang memang satu sekolah dengan ayah Novita waktu SMA dulu.
"Iya, pah, dia sudah ada di depan rumah."
Ayahnya beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah putrinya keluar dari rumah. Ia menyapa ayah Novita yang baru saja selesai menaruh koper Dellia di dalam bagasi mobilnya dan menutup pintu. "Sudah dari tadi, Yog?"
Yoga, ayah Novita segera membalas senyumnya dengan tak kalah lebarnya. "Baru saja. Ngomong-ngomong, Rio mana? Dia naik motor sendiri ke sekolah?"
Ayah Dellia menoleh masuk ke dalam rumah melihat putra bungsunya masih sibuk dengan ponselnya, tampaknya ia sedang bermain game. "Ada di dalam, dia katanya mau naik motor sendiri. Mau kuantar juga dia tidak mau."
"Lebih baik dia ikut saya saja daripada naik motor sendiri, bahaya. Apalagi dia bawa koper juga."
Mendengar nama adiknya disebut-sebut perasaan Dellia mulai tidak enak, ia tidak bisa membayangkan harus satu mobil dengan adiknya yang durhaka itu. Dalam hati ia berdoa agar Rio menolak ajakan ayah Novita. Matanya mengikuti langkah ayahnya yang berjalan memasuki rumah dan keluar bersama Rio kemudian. Perasaannya semakin tidak nyaman kala melihat senyum iblis adiknya saat bertatapan degannya.
"Om Yoga serius saya bisa ikut di mobil om?"
Yoga mengacak pelan rambut Rio dan tertawa kecil. "Boleh, dong. Daripada kamu bawa motor sendiri. Meskipun jarak antara rumah ke sekolah tidak terlalu jauh."
Rio tertawa. "Terima kasih, om." Senyumnya semakin lebar saat melihat ayahnya sudah memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil ayah Novita dengan bantuan sang pemilik mobil sendiri.
Dellia mencebikkan bibirnya melihat Rio yang sudah berjalan mendekati mobil. Ia dengan segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Putri yang mengerutkan kening melihat ekspresi wajahnya yang tidak senang. Padahal ini adalah hari bahagia yang ia tunggu-tunggu dari Minggu lalu.
"Kamu kenapa, Dell? Cemberut begitu."
"Tidak apa-apa, Put."
"Halo, kak Novita." Rio menyapa Novita yang duduk di samping kemudi yang langsung membalas sapaannya dengan ramah juga, kemudian ia membuka pintu mobil dan tatapannya langsung bertemu dengan Putri yang memberinya senyuman. Ia balas tersenyum dan menyapa Putri dengan sopan sama seperti Novita tadi, namun saat tatapannya beralih pada Dellia, senyum manisnya sirna seketika apalagi melihat kakak perempuannya itu yang duduk di pinggir dan tampak tidak ingin menggeser duduknya untuk memberinya sedikit tempat. "Minggir sedikit, Dell. Aku tidak kebagian tempat duduk ini."
Dellia seolah-olah menulikan telinganya dan tidak merespon adiknya, ia berpura-pura sibuk dengan ponselnya sambil tetap mengabaikan kehadiran adiknya di sampingnya yang seperti sudah siap menerkamnya kapan saja selayaknya singa yang sedang kelaparan. Namun ia tak memperdulikan itu dan tetap berpura-pura tidak melihat kehadiran adiknya di sana.
"Ya ampun, Dell, geser sedikit kenapa. Itu adik kamu mau duduk." Putri menarik tangan Dellia agar duduk lebih dekat dengannya sehingga Rio bisa naik dan duduk di mobil.
Novita yang duduk di depan menoleh karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi di kursi belakang. Ia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakan Dellia di depan adiknya. Ia dan Putri jelas tahu bagaimana hubungan Dellia dan adiknya yang tidak akur.
Rio tersenyum penuh kebahagiaan atas pembelaan Putri padanya dan segera duduk sebelum Dellia kembali menghalanginya, sementara Dellia semakin cemberut karena ulah Putri yang menggagalkan rencananya. Tidak lama setelah itu ayah Novita yang sudah selesai berbincang-bincang dengan ayahnya ikut masuk ke dalam mobil dan segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumahnya.
Di tengah-tengah rasa jengkelnya pada adiknya, ia tak bisa melupakan kenyataan bahwa hari ini adalah hari yang membahagiakan untuknya. Ia sudah tidak sabar melakukan perjalanan panjang menuju tempat perkemahan mereka yang pastinya akan sangat menyenangkan selama tiga hari. Apalagi akan ada Raka juga di sana. Entah kenapa memikirkan tentang pemuda tampan itu bisa membuatnya sedikit melupakan kehadiran Rio di sampingnya yang sejak tadi mengerutkan keningnya melihat tingkahnya yang tersenyum sendiri selayaknya orang yang tidak waras.
*****