Dengan perasaan tidak tenang, Dellia menghampiri ibunya yang sedang sibuk memasak untuk makan malam keluarga di dapur. Melihat ibunya yang sibuk mengiris tempe membuatnya berinisiatif untuk mengambil alih pekerjaan itu dengan maksud untuk membantu ibunya.
"Sini biar aku bantu, mah." Dellia merebut pisau kecil dalam genggaman ibunya yang sedang ia gunakan untuk mengiris tempe. Senyumnya merekah saat pandangannya bertemu dengan ibunya yang menatap curiga padanya.
"Tumben, biasanya juga mamah suruh bantu malah banyak alasan." Ibunya kemudian beralih pada sayur kangkung yang akan ia tumis nantinya.
"Sesekali tidak apa-apa 'kan. Lagipula Dellia lagi tidak ada tugas rumah malam ini."
"Mamah curiga ini pasti ada maunya ini. Cepat bilang sekarang."
Dellia memajukan bibirnya cemberut. "Ih, mamah kenapa suka curiga begitu, sih sama aku? Aku kan cuma berniat untuk membantu. Tidak ada alasan lain, mah."
"Ya sudah, cepat selesaikan, ibu mau goreng habis ini."
Dellia mengangguk dengan semangat. "Siap, bu bos."
Berkat bantuan dari Dellia yang meskipun hanya membantu pekerjaan yang mudah seperti mengiris tempe, mengiris bawang yang membuat matanya memerah menahan perih dengan air mata yang selalu setia mengalir di sudut matanya, sehingga diejek berlebihan oleh adiknya yang kebetulan datang ke dapur untuk mengambil air minum di dalam kulkas.
Akhirnya masakan mereka selesai juga. Dellia membantu menata makanan di atas meja beserta piring kosong yang akan mereka gunakan untuk makan, bahkan dengan senang hati mengajukan diri untuk memanggil ayah dan adiknya untuk makan bersama.
Suasana makan malam di dapur malam itu cukup meriah dengan guyonan ayahnya yang selalu garing namun cukup menghibur mereka semua. Dellia bahkan dengan senang hati berdiri untuk menambahkan nasi atau lauk ke dalam piring ibu dan ayahnya jika mereka ingin menambah makanan membuat kerutan di kening Rio berlipat-lipat.
"Aku juga mau tambah." Rio mendorong piringnya sedikit ke tengah agar lebih mudah digapai oleh tangan Dellia yang sedang menyendokkan nasi panas ke dalam piring ayahnya.
Dellia menoleh dengan wajah kesal. "Tambah sendiri," ketusnya yang membuat adiknya segera mengeluarkan protesnya.
"Mamah sama papah kamu bantu tambahin, tapi kenapa aku tidak? Dasar pilih kasih."
Tak menjawab, Dellia hanya menjulurkan lidahnya yang membuat adiknya semakin berang ingin kembali protes namun dihalangi oleh ayahnya yang tidak suka melihat ada pertengkaran di meja makan.
"Sudah, sudah, tidak usah bertengkar lagi apalagi di depan makanan, pamali. Sini biar papah yang tambahin." Ayahnya menyendokkan nasi beserta lauk ke dalam piring anak laki-lakinya yang segera menampilkan wajah menyebalkannya membuat Dellia tidak tahan untuk mencebikkan bibirnya kesal.
Setelah selesai makan dan membereskan meja dan tak lupa mencuci piring sendirian dengan diiringi kerutan di kening ibunya. Dellia kemudian menghampiri ayahnya yang sedang menikmati kopi pahit buatannya sambil menonton acara televisi bersama ibu dan adiknya. Ia berdiri di belakang sofa sambil tersenyum dan mulai memijit pelan bahu ayahnya.
"Kamu kenapa? Kerasukan setan?"
Dellia menatap adiknya dengan tatapan melotot. "Heh, jangan sembarangan kalau bicara. Ini 'kan memang kewajiban seorang anak kepada orang tuanya. Apalagi papah 'kan capek pulang kerja, jadi sudah seharusnya aku bantu pijitin papah biar capeknya berkurang." Pandangannya beralih pada ayahnya yang tampak menikmati pijitannya dan sesekali memberikan jempol padanya tanda setuju dengan ucapannya.
Ibunya yang sibuk dengan remot di tangannya untuk memindahkan channel mencari sinetron yang bagus untuk ditonton memandanginya dengan pandangan yang semakin curiga. "Kayaknya ada yang aneh sama nih anak. Dari tadi sikapnya ada yang mencurigakan."
Rio mengangguk dengan semangat menyetujui ucapan ibunya. "Iya, mah, benar. Sikapnya itu jelas sangat mencurigakan. Pasti ada maunya, tuh."
"Tidak, kok." Dellia menggeleng dengan tegas dengan tangan yang menyilang tanda kecurigaan mereka salah, meskipun sebenarnya itu adalah kebenarannya. "Aku cuma lagi rajin saja malam ini. Bukan karena ada apa-apa, kok." Ia kembali memijat bahu ayahnya yang semakin ketagihan karena keterampilan tangannya yang sudah ia latih selama bertahun-tahun setiap hari bersama ayahnya.
"Alah, alasan." Rio kembali menonton acara televisi kesukaan ibunya yang tentunya sama dengan kesukaan para ibu-ibu di luar sana yaitu sinetron, sebelum ia akhirnya mengingat sesuatu dan bergegas berlari masuk ke dalam kamarnya.
Dellia yang melihat adiknya berlari masuk ke dalam kamarnya merasa sedikit was-was, karena ia tahu apa yang akan dibawa oleh adik laki-lakinya itu. Saat melihat Rio keluar dengan secarik kertas di tangannya, jantung Dellia mulai berdebar-debar tidak karuan dan tentu saja membuatnya tidak fokus dengan kegiatan yang ia lakukan saat ini sehingga mendapat teguran dari ayahnya yang membuatnya kembali melakukan tugasnya dengan baik. Namun sesekali matanya melirik pada Rio yang sudah menunjukkan selebaran di tangannya pada ibunya yang membacanya dengan seksama.
"Ini, mah. Surat izin untuk melaksanakan kemah bersama Minggu depan."
Ibunya mengambil kertas dari tangan Rio dan membaca isinya dengan kacamata baca yang baru saja ia raih di meja yang memang selalu ia siapkan saat diperlukan seperti saat ini. "Cuma kelas satu yang ikut?" tanyanya yang mendapat gelengan kepala dari anak laki-lakinya itu.
"Tidak, anak kelas dua sama kelas tiga juga ikut. Hal ini dilakukan demi menghemat waktu katanya. Jadi semuanya sekalian digabung."
Mendengar jawaban Rio membuat ibunya menatap Dellia yang langsung membuang muka berpura-pura tidak mendengarkan apa pun pembicaraan mereka, ia sesekali bersiul demi mengurangi kegugupan yang saat ini menghampirinya. "Sekarang mamah tahu alasan sikap kakakmu itu."
Mendengar kalimat ibunya itu membuat Dellia segera menatap wajah ibunya dan masih berusaha untuk menyangkal dengan gelengan kepala. "Tidak, mah. Bukan karena itu, kok. Mamah jangan fitnah."
Ibunya membetulkan kacamatanya yang sedikit melorot dan kembali membaca surat di tangannya. "Ya sudah kalau memang tidak mau ikut," ujarnya yang segera membuat Dellia berfokus padanya.
"Dellia mau ikut!" serunya yang membuat ayah, ibu dan adiknya menatapnya dengan alis terangkat. Ia kelabakan dengan ucapannya sendiri yang tiba-tiba itu. "Dellia juga mau ikut, mah. Kalau Rio pergi, aku juga mau pergi. Soalnya tahun lalu 'kan aku tidak ikut. Boleh, ya, mah." Matanya ia buat berkaca-kaca dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat sehingga membuat adiknya geli melihatnya, namun ia tidak peduli yang penting baginya saat ini adalah mendapatkan izin dari ayah dan ibunya.
"Kalau mau pergi, ya pergi saja. Papah tidak melarang, lagipula ini 'kan juga kesempatan yang bagus untuk anak-anak semakin dekat dengan alam dan mengenali alam dengan lebih baik. Papah yakin mamah kamu juga pasti setuju, iya 'kan, mah?"
Ibunya mengangguk dengan tenang. "Benar, tanpa dibujuk pun mamah sama papah kamu pasti kasih izin. Kalau dulu 'kan keuangan memang lagi menipis dan tidak sanggup membayar biaya perjalanan kamu. Beda sama sekarang. Ya sudah mana surat kamu biar papah kamu tanda tangani sekalian."
"Iya, mah, sebentar aku ambil." Dellia dengan segera berlari memasuki kamarnya dan mengambil surat izin yang masih berada di dalam ranselnya. Tak lupa ia meraih sebuah pena di atas meja belajarnya dan berlari keluar menuju keluarganya berada. "Ini, pah." Ia menyerahkan suratnya kepada ayahnya setelah ayahnya itu menandatangani surat izin milik adiknya. Ia dengan senyum sumringah memperhatikan ayahnya yang membubuhkan tanda tangan di atas surat izin miliknya.
"Ini sudah selesai." Ayahnya menyerahkan suratnya padanya dan ia menerimanya dengan mata berbinar-binar. Akhirnya setelah perjuangannya dari sejam yang lalu kini terbayarkan sudah.
Ia baru saja akan beranjak menuju kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur sambil berbalas pesan dengan Putri dan Novita saat suara ayahnya menginterupsi langkahnya.
"Lho, mau kemana? Papah belum selesai dipijit, lho. Pinggang papah masih sakit ini."
"Iya, habis papah kamu, mamah juga mau dipijit. Mamah capek habis masak di dapur."
Mendengar ucapan dari ayah dan ibunya membuat Dellia rasanya ingin menangis saat itu juga. Kebahagiaannya perlahan-lahan luntur. Ia menoleh pada adiknya yang langsung membuang muka ke arah lain.
"Mah, pah, Rio ke kamar dulu mau mengerjakan tugas sekolah." Setelah mengucapkan kalimatnya, adik laki-lakinya itu langsung berlari masuk ke dalam kamarnya meninggalkannya yang pasrah menerima nasib malam ini.
*****