Dellia mengeringkan rambutnya yang basah dengan Hair dryer sambil duduk bercermin di meja riasnya. Matanya fokus menatap pantulan dirinya di cermin sambil memikirkan tentang percakapannya bersama Putri dan Novita di kantin tadi siang. Sebenarnya ia tak bisa berhenti memikirkan tentang sikap Raka yang jauh berbeda dengan yang ia kenal melalui ponsel.
Saat mereka berkirim pesan pemuda itu begitu ramah namun sangat berbeda saat mereka bertemu secara langsung. Awalnya ia tak begitu memikirkan tentang sikap pemuda tampan itu saat pertama kali bertemu, karena ia berpikir mungkin pemuda itu sengaja menjaga jarak agar tidak terjadi kehebohan di antara para siswi yang mengaguminya, namun saat bertemu untuk yang kedua kalinya ia berpikir sepertinya ada yang tidak beres. Seolah-olah bukannya menjaga jarak tapi memang karena pemuda tampan itu tidak mengenalinya dan bukan hanya mencoba menjaga jarak, bahkan Putri dan Novita saja mulai curiga dengan sikap pemuda itu.
Di saat sedang asyik melamun sambil mengeringkan rambut basahnya yang sudah mulai mengering, Dellia menyadari tetesan air jatuh mengenai kepalanya dan tentu saja membuat rambutnya yang sudah mulai mengering kini kembali basah. Ia ternesentak sambil berdiri dari duduknya, menatap pantulan adiknya di cermin yang sedang menjulurkan lidahnya mengejek dirinya.
Matanya melotot dan wajahnya mulai memerah menandakan kemarahannya yang memuncak. Jika saja ia adalah tokoh kartun mungkin saat ini ia sudah mengeluarkan asap dari kepalanya. Ia menoleh dan bersiap meneriakkan nama adiknya dengan suara yang lantang dan memekakkan telinga seluruh penghuni rumah.
“RIO, AWAS KAMU, YA!”
Rio yang disebut namanya berlari keluar kamar kakak perempuannya itu sambil tertawa, merasa senang atas keberhasilannya mengerjai perempuan yang usianya lebih tua setahun darinya. Saat berlari menghindari kejaran kakaknya yang sudah bersiap memberi hadiah pukulan padanya, ia hampir saja berpapasan dengan ibunya yang baru keluar dari kamarnya. Ibunya itu pasti ingin mencari sumber suara yang mengganggu waktu bersantainya.
“Rio, sudah ibu bilang jangan lari-lari di dalam rumah. Kamu hampir menabrak ibu ‘kan jadinya.”
Rio menoleh ke arah Dellia yang ikut menghentikan langkahnya karena melihat sosok ibunya, ia tidak mau menjadi korban omelan ibunya itu juga jika ketahuan berlari bersama adiknya. “Dellia, tuh, mah. Dia ngejar Rio, mau mukul Rio katanya.”
Dellia menyenggol lengannya. “Heh, panggil aku kakak. Tidak sopan sama yang lebih tua.”
Alih-alih memarahi Dellia, ibunya malah mengangguk setuju dengan pernyataan Dellia mengenai anak bungsunya yang tidak memanggil kakaknya dengan benar. “Kakak kamu benar, Rio. Kamu harus panggil yang lebih tua dengan sopan, bukan asal menyebut nama seperti itu. Cepat minta maaf sama kakak kamu.”
Mendengar perkataan ibunya membuat Rio yang awalnya tertawa senang karena berhasil menjahili kakak perempuannya kini berbalik murung. Wajahnya jelas menampakkan keberatan dengan perintah ibunya untuk meminta maaf pada kakaknya. Sedangkan Dellia yang mendapatkan pembelaan dari ibunya kini tersenyum penuh kemenangan, ia tidak menyangka Tuhan langsung membalas perbuatan tidak sopan adiknya terhadapnya saat ini juga.
Rio menatap Dellia dengan wajah yang dibuat semurung mungkin, bahkan ia memperlihatkan wajah ingin muntah di hadapan kakaknya saat ibunya tidak bisa melihatnya. Namun ekspresi wajahnya kembali normal dengan senyum yang dipaksakan saat ibunya menyuruhnya kembali untuk meminta maaf sambil memperhatikannya melakukan tindakan mulianya itu.
“Maafkan aku, kak. Aku yang salah.” Setelah menyelesaikan kalimatnya itu ia berencana untuk segera pergi dari sana karena tidak tahan mellihat wajah menyebalkan kakaknya yang sangat ingin ia hapus dari ingatannya saat ini juga, namun ibunya menahannya bahkan sebelum ia bergerak dari sana.
“Ibu bilang apa soal menghormati yang lebih tua?”
Mengerti dengan arti kalimat ibunya, Rio mencebikkan bibirnya sambil meraih tangan Dellia yang sudah terlebih dahulu mengangkat tangannya ke depan wajah adiknya. Dengan senyum yang dibuat semanis mungkin Rio mulai mencium punggung tangan kakak perempuannya itu dan mengulang kembali ucapan permintaan maafnya tadi. “Maafkan, Rio, ya, kak.”
Dellia memberikan senyum manis yang benar-benar mengocok perut adiknya. “Sama-sama, adikku sayang.” Tangan kanannya bergerak mengacak-acak rambut adiknya dengan gemas dan sesekali menariknya sehingga membuat adiknya memekik kesakitan tanpa suara, bahkan ia sempat mengancam Dellia dengan mata melotot penuh peringatan.
“Oh iya, ngomong-ngomong tadi yang teriak siapa?”
Alarm di kepala Dellia segera berbunyi menyuruhnya untuk berlari dari sana saat mendengar pertanyaan terakhir dari ibunya yang tentu saja menjadi ancaman untuk hidupnya yang damai, padahal baru saja ia mendapatkan kemenangannya dari adiknya yang nakal dan sekarang sepertinya takdir baik sedang berpihak pada adiknya. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi pelipisnya terlebih lagi saat ia melihat senyum iblis yang terpancar di wajah adiknya dan sebelum adiknya itu mengeluarkan suara ia segera berlari dari sana dengan kecepatan seribu bayangan memasuki kamarnya dan menguncinya. Berusaha mengabaikan teriakan membahana ibunya yang menyebutkan namanya.
“DELLIA! JANGAN LARI KAMU!”
*****
“Raka belum mengirim pesan lagi sama kamu, Dell?” Putri bertanya sambil berusaha menyesuaikan langkahnya dengan Dellia yang berjalan cepat dan sedikit tergesa-gesa menuju kelas mereka.
Dellia menoleh dengan wajah sedikit kesal. “Ya ampun, Put. Sekarang bukan saatnya untuk bertanya soal dia. Kamu tahu kita sebentar lagi akan terlambat jika tidak bisa masuk kelas limat menit lebih cepat dari Pak Harun. Kamu mau kita dihukum lagi seperti waktu itu?”
Putri menggeleng dengan wajah ngeri, membayangkan dirinya berdiri sambil mengangkat satu kakinya sambil merentangkan kedua tangannya dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya dengan sebuah buku tebal di atas kepalanya. Jika buku itu jatuh sedetik saja maka hukuman mereka akan diperpanjang. Pak Harun bukannya guru galak bahkan ia terkenal guru yang sangat baik, namun ia sangat tidak bisa mentolerir sikap tidak disiplin muridnya yang tidak bisa menghargai waktu dan datang terlambat.
“Tidak, terima kasih. Aku kapok.”
“Makanya, ayo cepat sebelum Pak Harun datang.”
Mereka bertiga bersama Novita yang sejak tadi hanya diam dan menjadi penyimak di antara mereka bertiga ikut berlari bersama menuju kelas yang sudah di depan mata. Tepat setelah mereka mendudukkan tubuh mereka di atas kursi, Pak Harun datang dengan ketua kelas yang membantu membawa lembaran kertasyang sepertinya untuk dibagikan kepada mereka.
Dellia menghembuskan napas lega karena berhasil melewati masa kritisnya hari ini. Ini semua akibat kejailan adiknya yang dengan sengaja menyembunyikan sepatu sekolahnya yang membuatnya terpaksa harus berkeliling rumah untuk mencari sepatunya dibantu ibunya karena Rio sudah berangkat sekolah lebih awal. Beruntung Putri dan Novita mau menunggunya dengan setia di depan rumah, meskipun mereka berdua juga terancam datang terlambat ke sekolah.
Setelah hampir setengah jam mencari, pada akhirnya Dellia menemukan sepatunya tergantung di atas pohon mangga di depan rumah. Novita yang menemukannya saat tak sengaja memandangi buah mangga milik keluarga Dellia yang terlihat segar di matanya dan berencana untuk memintanya sepulang sekolah nanti.
“Terima kasih.” Dellia menampilkan senyumannya saat Angga sang ketua kelas membagikan selembar kertas yang ternyata berupa surat izin untuk diberikan kepada orang tua. Ia membaca dengan seksama isi surat itu yang ternyata adalah rencana dari sekolah untuk melakukan acara kemah bersama untuk seluruh siswa dimulai dari kelas satu hingga kelas tiga.
Novita menyenggol lengan Dellia yang segera mengarahkan perhatian padanya. Ia tersenyum dengan mata berbinar, karena memang inilah momen yang ia tunggu-tunggu sejak sebulan yang lalu, acara kemah bersama yang memang diadakan setiap tahun demi meningkatkan keakraban para siswa di sekolah itu. “Akhirnya diadakan juga.”
Dellia mengangguk dengan wajah antusias yang sama, ia juga sudah tidak sabar menantikan kemah bersama ini. “Iya, Nov. Akhirnya. Semoga saja kali ini mamah setuju.” Wajahnya murung seketika mengingat tahun lalu ia tidak berkesempatan untuk ikut karena keuangan keluarganya yang sedang tidak baik. Sehingga ia hanya bisa mendengarkan keseruan acara itu dari Putri dan Novita.
“Aku yakin tahun ini pasti bisa, Dell. Berdoa saja.” Putri yang ternyata diam-diam menyimak pembicaraan mereka di bangku belakang memberi semangat pada Dellia yang tampak sedih. Ia tahu sahabatnya itu sangat senang dengan acara kemah seperti ini, namun belum sempat merasakannya tahun lalu.
“Iya, Dell. Kalau pun misalnya orang tua kamu tidak setuju, kamu bisa pinjam uang sama papah aku dulu. Papah pasti mau, kok. Tahun lalu saja dia mau meminjamkan uang tapi orang tuamu yang tidak setuju.”
Dellia terdiam sejenak mendengar ucapan Novita yang sedikitnya membuat hatinya lega namun khawatir di saat yang bersamaan. Karena ia tahu betul bagaimana karakter ibunya yang sangat tidak suka yang namanya meminjam uang baik kepada saudara sekali pun.
“Baiklah, kalian semua sudah dapat lembarannya ‘kan? Baca itu dan bawa ke rumah kalian. Ingat, pastikam untuk menunjukkannya pada orang tua kalian masing-masing dan jangan sampai ada yang memalsukan tandan tangan orang tua hanya karena ingin ikut namun tidak diizinkan oleh orang tua kalian, mengerti?”
“Mengerti, Pak.” Kompak seluruh siswa membalas ucapan Pak Harun begitu pun dengan Dellia yang menjawab dengan tidak semangat. Masih was-was jika ibunya kembali tidak mengizinkannya untuk ikut tahun ini.
“Baiklah, sekarang bapak akan lanjutkan pelajaran dari minggu lalu.”
*****