"Jadi Selama ini Raka jomlo?"
Dellia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Putri yang begitu senang dengan fakta yang baru saja ia baca di ponsel putihnya. Setelah upacara berakhir dan sesampainya mereka bertiga di kelas, Dellia memang langsung menceritakan soal Raka yang mengomentari statusnya di media sosial dan mengobrol lebih banyak dari biasanya.
"Katanya, sih begitu."
"Terus, cewek yang selalu sama dia bagaimana? Apa jangan-jangan mereka baru saja putus? Jadi yang dulunya istimewa sekarang sudah tidak seistimewa itu." Novita mengambil alih ponsel milik Dellia dan membaca ulang pesan yang dikirim Raka. Membaca setiap kosakata yang diketik pemuda tampan itu dari awal hingga akhir karena rasa penasaran yang begitu tinggi.
Putri menopang dagunya sambil berpikir tentang ucapan Novita, sedikit ada kejanggalan yang terselip di kalimat Raka itu. Seperti menyembunyikan sesuatu, namun mereka tidak bisa menebaknya. "Kalau memang mereka sudah putus, mereka mungkin tidak akan sedekat itu sekarang. Kalian lihat sendiri 'kan bagaimana mereka berdua masih berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Raka bahkan marah kalau ada cowok yang mendekati cewek itu. Siapa sih namanya? Aku mendadak lupa."
Novita ikut berpikir sambil menatap langit-langit kelas mereka. Sedangkan Dellia hanya menyimak dan menanti jawaban dari mereka tanpa mau berpikir, karena memang ia tidak mengenal gadis cantik yang selalu bersama Raka di sekolah. Ia memang seringkali melihat dua orang dengan paras rupawan itu bersama-sama, namun ia begitu cuek untuk mengenali namanya.
Setelah beberapa saat berpikir, Novita menjentikkan jarinya dengan puas dan yakin dengan jawaban yang akan ia keluarkan. Tatapannya mengarah pada Putri dan Dellia yang masing-masing menatapnya dengan ekspresi yang berbeda, Putri dengan wajah penasarannya dan Dellia dengan wajah acuh tak acuh ya.
"Aku ingat, namanya Lia. Benar 'kan?"
Putri membulatkan matanya ikut antusias mendengar nama yang disebutkan oleh Novita. "Benar, Nov. Namanya Lia. Dia anak kelas sebelah yang memang terkenal di antara anak-anak cowok karena cantik dan pintar."
Putri menoleh pada Dellia yang tampak kurang berminat dengan pembicaraan mereka, hanya menyimak dalam diam menerima beberapa informasi dari kedua sahabatnya tanpa benar-benar peduli. "Kamu kenapa, Dell? Sakit?"
"Tidak." Dellia menggeleng pelan. "Aku hanya tidak sabar menunggu Bu Susan untuk datang dan mengajar."
"Tumben." Novita memberikan ekspresi curiga yang dibuat lebih dramatis. "Bukannya malah kebalikannya kamu lebih suka kalau Bu Susan tidak masuk agar tidak ada tugas Matematika lagi. Kalau Putri yang bilang, sih, aku tidak kaget."
Putri menepuk lengan Novita tanpa membuat temannya itu merasa sakit. "Jangan begitu, Nov. Siapa tahu Dellia sudah mulai menyukai Matematika. Kamu juga seharusnya menyusul Dellia. Matematika itu menyenangkan, tahu."
Novita memutar matanya. "Mulai lagi, deh." Sesekali ia menutup telinganya mendengar ceramah dari Putri yang berusaha membuat Dellia dan Novita bertaubat dan mulai menyukai Matematika, pelajaran yang sangat ia sukai itu. Saat membahas materi tentang Matematika, Putri bahkan bisa melupakan soal Raka sejenak dan memang itu yang diharapkan Dellia dengan membahas Bu Susan. Karena sejujurnya ia mulai bosan mendengar nama Raka terus-menerus disebut oleh kedua sahabatnya yang seperti sudah terhipnotis oleh pemuda tampan itu.
*****
Setelah kepergian Bu Susan dari kelas mereka, Dellia merapikan buku tulisnya ke dalam tas ranselnya dan mengeluarkan ponselnya. Sekadar melihat apakah ada pesan yang masuk entah itu dari siapa pun. Namun Putri yang duduk tepat di belakangnya mengintip di balik bahunya dengan senyum aneh.
"Ciee, lagi nungguin pesan dari Raka, ya?"
Pertanyaan tiba-tiba dari arah belakangnya membuat Dellia terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya. Ia menoleh dengan mata melotot melihat Putri yang malah sibuk merapikan mejanya dari buku dan pena sambil tetap mempertahankan senyumnya yang tampak sangat menyebalkan di mata Dellia saat ini.
"Ya ampun, Put. Bisa tidak, sih jangan bikin orang kaget seperti itu? Kalau aku jantungan bagaimana? Mau tanggung jawab?" Dellia menekankan setiap ucapannya dengan mata melotot berusaha mengintimidasinya sahabatnya itu, namun yang ada sahabatnya malah tertawa melihatnya karena wajahnya yang lucu
"Astaga, Dell. Aku kan cuma bercanda. Jangan serius begitu lah. Iya 'kan, Nov?" Putri masih mempertahankan senyumnya, namun kali ini senyum normal tidak seperti tadi.
Novita mengangguk membenarkan ucapan Putri. "Iya, Dell, santai. Jangan terlalu sering marah, dong. Nanti cepat tua, loh."
Dellia tidak mengatakan apa-apa melainkan hanya memajukan bibirnya menandakan dirinya masih marah, ia duduk sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan menatap lurus ke depan, menatap papan tulis yang masih terisi soal Matematika beserta jawabannya yang telah dikerjakan oleh Putri tadi. Sementara Putri dan Novita masih sibuk menggodanya yang membuatku mau tidak mau akhirnya luluh juga.
*****
"Bu, pesan satu bakso sama mie ayam dua, ya. Meja kami di dekat pintu." Dellia menunjuk meja yang ia maksud di mana Putri dan Novita sudah duduk manis di sana sambil memainkan ponselnya menunggunya selesai memesan makanan.
"Oh iya, dek. Tunggu sebentar, ya." Bu Ani segera menyiapkan pesanan Dellia dan kedua sahabatnya dengan cekatan dibantu oleh anak perempuannya.
Dellia mengangguk dan ingin beranjak dari sana namun langkahnya terhenti akibat seorang pemuda yang berdiri di belakangnya dan menghalangi jalannya. Dellia mendongak sekadar menatap wajah pemuda itu dan terdiam sebentar. Itu adalah Raka, pemuda tampan itu balas menatapnya dan tersenyum sambil melangkah ke arah samping. Sepertinya ia sadar bahwa tubuh tingginya menghalangi langkah Dellia.
"Maaf, silakan."
Dellia tersenyum. "Tidak apa-apa." Setelah mengucapkan itu Dellia segera pergi dari sana melihat Raka yang sudah sibuk dengan Bu Ani untuk memesan makanan. Pemuda itu jelas seperti tidak mengenalinya dan itu membuat hatinya sedikit sakit.
"Sudah pesan makanannya?" Novita mengalihkan perhatiannya dari ponsel miliknya ke arah Dellia yang baru saja tiba dan duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
Dellia mengeluarkan ponselnya dari saku roknya dan memainkannya. "Sudah, sementara dimasak sama Bu Ani. Ngomong-ngomong tadi aku berpapasan sama Raka di depan kasir."
Putri meletakkan ponselnya dan fokus menatap Dellia. Jika hal itu menyangkut Raka ia akan lupa segalanya. "Beneran?" Pandangannya kemudian ia arahkan pada meja kasir dan tidak menemukan Raka di sana, hanya ada beberapa siswa yang sedang memesan makanan. "Kok tidak ada?"
Dellia ikut memandangi meja kasir, alisnya bertaut karena tidak menemukan pemuda tampan itu di sana kemudian kembali menatap putri. Ia mengangkat kedua bahunya. "Mungkin dia sudah duduk di mejanya."
"Tapi dia tidak ada di mana-mana. Yang lainnya juga tidak ada yang heboh seperti biasanya." Putri mengedarkan pandangannya di sekitar kantin dan meneliti setiap wajah pemuda yang ada di sana namun tetap tidak bisa menemukan pangeran pujaannya.
"Ohya, dia bilang apa sama kamu?"
Dellia mengalihkannya pandangannya dari ponselnya yang menampilkan game ke arah Novita. "Bukan hal yang penting, dia menghalangi jalanku jadi dia meminta maaf. Hanya itu." Ia kembali memusatkan perhatiannya pada game yang sedang ia mainkan, mengabaikan tatapan aneh kedua sahabatnya yang menatapnya dengan alis bertaut.
"Kok bisa, sih, Dell?" tanya Putri merasa heran dengan sikap Raka yang seperti orang berbeda.
"Tidak tahu." Dellia menggeleng.
"Heran, deh sama sikap Raka yang jauh berbeda sama yang selalu berbalas pesan sama kamu, Dell." Novita tersenyum pada Susan, anak Bu Ani yang membawakan pesanan mereka. Ia membantu gadis itu menyusun makanan mereka di atas meja masing-masing di hadapan Dellia dan Putri. "Terima kasih, kak," ujarnya dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.
"Sama-sama." Sarah melangkah pergi dari sana dan mendekati meja lain yang tampaknya ingin menambah pesanan.
Novita kembali menatap Dellia yang mulai menyantap baksonya dengan tenang. "Kok bisa sikap Raka seperti itu, Dell?" Ia kembali mengulang pertanyaannya yang sebelumnya belum mendapat jawaban. Sebelum ikut menikmati mie ayam kesukaannya.
Dellia menelan makanannya. "Aku juga tidak tahu, Nov. Aku saja bingung sama sikapnya yang beda. Kupikir kalian lebih tahu tentang dia daripada aku."
Novita memandangi Putri dan sahabatnya itu langsung menggeleng tanda mengerti dengan arti pandangan Novita yang ditujukan padanya. "Aku juga tidak tahu, Nov. Mungkin itu memang sikapnya dia bersikap biasa saat bertemu langsung namun ramah saat berhubungan lewat ponsel."
"Tapi, anehnya sikapnya malah seolah-olah dia tidak kenal sama Dellia. Itu patut dicurigai. Apakah dia sesombong itu sampai-sampai harus tetap bersikap dingin dan cuek dengan orang yang sudah dekat sama dia?"
Dellia menyentuh punggung tangan Novita yang tampak masih belum menyentuh makanannya sama sekali. "Sudahlah, Nov. Kita pikirkan itu nanti. Makananmu mulai dingin."
"Iya, Nov. Jangan terlalu dipikirkan. Dellia saja santai kok."
Akhirnya Novita mengangguk dan menyantap makanannya, tidak menyadari ekspresi wajah Dellia yang tampak murung dan tidak bisa menikmati makanannya seperti biasa. Meski terlihat santai namun ia sebenarnya yang paling bingung dengan sikap Raka yang seolah-olah tidak mengenalinya dan tentu saja ia yang paling sakit hati mengenai hal itu.
*****