Part 11

1254 Kata
“Aku pulang.” Dellia melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu di samping pintu. Meletakkannya asl-asalan karena rasa lelah yang sejak tadi sudah menghampirinya akibat jalan seharian sepuasnya bersama kedua sahabatnya. Mereka bertiga langsung menuju bioskop untuk menonton film yang memang sudah mereka bertiga nantikan sejak sebulan yang lalu setelah melihat kemenangan tim Raka yang memang sejak awal memang sudah sangat kuat bagi tim lawan. “Ya ampun, anak cewek jam segini baru pulang.” Dellia mencebikkan bibirnya mendengar ucapan adiknya yang sedang bersantai duduk di sofa sambil menonton televisi bersama ayahnya, sementara ibunya tidak terlihat di sana. “Bawel,” serunya membalas ucapan adik laki-lakinya itu sambil meletakkan kantong plastik yang memang sudah ia bawa sejak tadi. “Nih, ada martabak manis dan makanan lainnya.” Matanya bertemu dengan ayahnya yang sudah tidak sabar mencicipi makanan yang dibawa olehnya. “Mamah mana, pah?” Ayahnya menunjuk kamarnya dengan menggunakan dagunya sementara di dalam mulutnya sudah penuh dengan martabak keju yang memang menjadi kesukaannya. “Ada di dalam kamar lagi perawatan. Kamu tahu sendiri kebiasaan mamah kamu kalau malam sebelum tidur.” “Ya sudah aku panggil dulu.” Dellia menoleh pada adiknya yang melahap makanan yang ia bawa dengan tergesa-gesa sehingga rasanya ia bisa menghabiskan semua makanan sekali suap dan bisa menghabiskan semuanya sendirian.  “Makannya pelan-pelan, dong, Rio. Nanti mamah tidak kebagian.” Rio hanya melambaikan tangannya padanya tanpa suara mengusirnya dari sana dan Dellia hanya membalasnya dengan mata melotot sebelum beranjak menemui ibunya di dalam kamar. Saat memasuki kamar ayah dan ibunya, ia bisa melihat ibunya yang sedang sibuk mengoleskan masker di wajahnya yang bersih dari jerawat. Dellia terkadang iri pada ibunya itu yang memang terlihat lebih muda dari usianya dengan kulit yang bersih dan kencang hasil dari perawatan rutin yang ia lakukan sejak masih muda dulu. Sangat berbeda dengannya yang begitu malas melakukan perawatan kulit sehingga kulitnya kusam, beruntung tidak ada jerawat yang muncul. “Mah,” panggilnya yang membuat ibunya segera menoleh dengan cepat. Ibunya menyentuh dadanya dengan ekspresi wajah yang dibuat lebih dramatis. “Dellia, kamu bikin mamah kaget saja. Sejak kapan kamu di situ.” Ibunya kemudian memandangi penampilan anak gadis satu-satunya itu dari atas ke bawah dan menyadari sesuatu. “Ya ampun, kamu baru pulang?” Dellia tersenyum sambil menggaruk pipinya. “Baru datang, mah. Tapi Dellia bawa makanan, kok untuk mamah, papah dan Rio.” Cengirannya kembali terlihat setelah mengakhiri kalimatnya. “Dan juga, Dellia beli lipstik yang dulu mamah pengin beli tapi tidak kesampaian sampai sekarang.” Ia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan lisptik merah marun yang membuat mata ibunya berbinar cerah seketika. “Kebetulan tadi lagi ada promo, mah. Jadi sekalian saja aku beli. Mamah suka, kan?” Ibunya mengambil lisptik dari genggaman Dellia dengan kecepatan kilat, wajah marahnya yang tadi ia tunjukkan kini hilang tak bersisa. “Mamah suka sekali, Dellia. Terima kasih, ya, sayang.” Ia meraih wajah anaknya dan mencium pipinya, melupakan bahwa ia baru saja mengolesi masker ke wajahnya dan belum mengering sehingga maskernya itu malah menempel di wajah anaknya yang langsung protes karenanya. ***** Dellia merebahkan tubuhnya sambil memegangi ponselnya dan membuka pesan. Sudah hampir seminggu sejak Raka belum mengirim pesan padanya sama sekali. Ia ingin menyapanya duluan namun takut dianggap genit jadi akhirnya yang ia lakukan hanya menunggu tanpa kepastian. Ia akui ia memang tidak begitu tertarik dengan pemuda itu namun saat mereka saling berbalas pesan, entah kenapa rasanya hatinya begitu nyaman dengan obrolan tak berarti mereka. Merasa bosan, ia membuka galeri dan menemukan fotonya bersama Putri dan Novita saat menonton pertandingan Raka tadi siang. Ia memilih satu fotonya yang paling terbaik dan tentunya yang membuat dirinya terlihat lebih cantik, kemudian mengunggahnya di media sosialnya, membuat status tentang bagaimana perasaannya saat menonton pertandingan Raka yang katanya menyenangkan namun sejujurnya sangat membosankan baginya yang tentu saja tidak ia katakana secara gamblang di statusnya yang bisa mengundang singa betina mengamuk padanya. Tidak berselang lama setelah ia mengunggah fotonya itu di media sosial miliknya, Raka mengirim pesan padanya sambil melampirkan foto yang ia unggah. [Kamu ternyata nonton pertandingannya, ya.] Sudut bibir Dellia sedikit melengkung membaca pesan Raka yang masuk. Ia tidak menyangka satu unggahan foto bisa menarik perhatian pemuda tampan itu dan mengirim pesan padanya yang mana memang sudah ia tunggu sejak tadi. [Iya, dong. Meski harus berpanas-panasan di pinggir lapangan.] [Tapi, kenapa aku tidak melihat kamu, ya? Kamu berdiri di mana?] [Di depan lab komputer yang ada pohon besar di depannya.] [Pantas saja aku tidak lihat. Ngomong-ngomong, bagaimana pertandingannya menurutmu?] Dellia sedikit mengerutkan keningnya membaca pesan terakhir Raka, bagaiman mungkin pemuda itu tidak melihatnya di saat ia dan kedua sahabatnya berdiri paling depan. Lagipula selama pertandingan pemuda itu terkadang sesekali menoleh pada mereka hanya untuk menunjukkan senyum seingkatnya gara-gara teriakan Putri dan Novita yang mampu menarik perhatian seluruh orang yang ada di lapangan itu. Namun begitu ia tak ingin membahasnya dan membuat pemuda itu tidak nyaman nantinya. [Pertandingannya bagus.] [Hanya itu? Tidak ada komentar lain seperti aku berlari dengan cepat, slam dunk-ku keren atau  pertahananku yang kuat dan semacamnya?] [Dasar narsis. Bilang saja kalau mau dipuji.] Dellia bisa membayangkan pemuda itu sedang tertawa saat ini hanya dengan melihat emoticon tertawa yang ia kirim. [Hanya bercanda, kok. Aku lagi bosan, nih. Mau keluar tapi teman-teman lagi pada sibuk.] [Kenapa harus teman? Ajakin pacar, dong.] [Maunya, sih, begitu. Tapi sayangnya tidak punya.] Dellia rasanya sedikit tidak percaya jika seorang Raka yang dikejar-kejar banyak perempuan tidak memiliki seseorang yang istimewa di sisinya. Apalagi selama ini ia lihat ada gadis cantik yang selalu ia temani di sekolah. Mereka sekelas dan tak jarang mereka terlihat bersama baik itu di kantin atau di mana saja. Rumor bahkan sudah tersebar luas di antara siswa-siswi lainnya bahwa mereka berdua ada hubungan istimewa dan tidak ada satu pun di antara keduanya yang berusaha menyangkal rumor itu. Bahkan keduanya malah semakin dekat satu sama lain. Kalau Dellia tidak salah, gadis itu adalah anak kelas sebelah yang lumayan pintar, rangking satu di kelasnya dan juga wakil ketua kelas. Parasnya juga cantik dan banyak siswa yang menyukainya, namun kedekatannya dengan Raka membuat banyak siswa yang patah hati dan mundur secara perlahan. Mereka cukup sadar diri tidak mampu bersaing dengan pangeran sekolah yang tidak ada tandingannya dengan prestasi yang luar biasa. [Bukannya kamu punya?] [Siapa?] [Kenapa malah tanya aku, kan kamu yang lebih tahu. Masa iya pacar sendiri tidak tahu. Atau jangan-jangan pacar kamu lebih dari satu, ya. Ayo ngaku.] [Bukan begitu, justru aku tidak punya pacar makanya bertanya. Karena memang tidak ada cewek dengan status istimewa itu di sisiku. Lagipula kalau aku punya pacar mana mungkin aku berani berbalas pesan sama kamu. Bisa-bisa aku diamuk nantinya.] Dellia mengangguk tanpa sadar menyetujui isi pesan Raka, ia benar-benar tidak kepikiran jika benar Raka memiliki pacar maka mereka berdua tidak akan mungkin bisa berbalas pesan dengan leluasa seperti ini. [Iya juga, sih. Benar. Terus cewek yang selalu sama kamu itu siapa?] [Cewek yang selalu sama aku? Yang mana?] [Itu loh, cewek yang rambutnya bergelombang agak kecokelatan yang sering bareng kamu ke kantin. Kamu juga kelihatan sayang banget sama dia.] [Oh, itu. Dia memang sosok yang istimewa tapi tidak seistimewa kamu pikirkan. Pokoknya begitulah. Ohya, teman aku datang. Kita lanjutkan lain kali, ya.] Dellia merasa aneh, Raka seperti menyembunyikan sesuatu darinya mengenai gadis cantik itu dan terkesan buru-buru mengakhiri pembicaraan mereka. Padahal ia sendiri mengakui bahwa gadis itu istimewa baginya, namun tetap berusaha menyangkal jika itu adalah pacarnya. Tidak mau ambil pusing mengenai hal itu, Dellia kemudian memutuskan untuk tidur agar tidak bangun terlambat besok pagi dan melewati upacara seperti minggu lalu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN