“Dah, sampai ketemu besok.”
Dellia membuka pagar rumahnya setelah berpamitan dengan Putri dan Novita yang rumahnya memang berada di blok yang sama, kedua sahabat sejak kecilnya itu masih harus berjalan beberapa meter lagi untuk tiba di rumah mereka yang memang berdekatan.
Kebetulan jarak antara rumah dan sekolah mereka memang lumayan dekat, jadi mereka bertiga tentu saja lebih memilih untuk jalan kaki saat berangkat sekolah meskipun sebenarnya sudah ada bus yang sudah disediakan sekolah untuk mengantar jemput siswa-siswi yang jarak rumahnya jauh dari sekolah.
Melihat pintu rumahnya yang tertutup rapat dan tampak lebih sepi dari biasanya membuat Dellia sedikit bertanya-tanya dalam hatinya, karena biasanya pintu rumahnya akan terbuka lebar pada jam-jam pulang sekolah begini ulah adiknya Rio dan tentu saja suasana di dalam rumah akan ramai dengan Rio yang sedang bermain video game di ruang tamu tak menghiraukan omelan ibunya yang merasa terganggu karena ingin menonton sinetron kesukaannya.
Tak seperti dirinya, adiknya Rio memang sudah diberi kebebasan untuk mengendarai motor ke sekolah, meskipun itu cuma motor bekas ayahnya yang biasanya ia pakai untuk ke kantor. Beruntung karena dapat promosi dan naik jabatan jadi ayahnya bisa membeli motor baru lagi, jadi motor lamanya ia berikan pada Rio anak bungsunya untuk dipakai.
Dellia tentu saja cemburu pada awalnya, meskipun itu hanya motor bekas ayahnya namun ia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa irinya pada adik laki-lakinya yang lebih beruntung bisa mememiliki wewenang penuh terhadap kendaraan roda dua itu yang tentu saja akan lebih memudahkannya jika ingin pergi ke sekolah atau ke mana saja. Namun setelah melihat nasib adiknya yang malah menjadi ojek pribadi ibunya malah membuatnya senang bukan kepalang, ia bahkan tak segan-segan mengejek adik laki-lakinya itu yang awalnya sangat membanggakan motor yang diberikan padanya malah berbalik menyesal karena tidak bisa mengabaikan perintah ibunya.
Ia berusaha memutar gagang pintu dan berusaha mendorongnya namun ternyata pintu berwarna cokelat itu tak bisa didorong karena terkunci. Ia menepuk keningnya baru tersadar bahwa rumahnya tengah kosong saat ini. Ia lupa kalau ternyata ibunya sedang ke rumah teman untuk membayar arisan dan tentu saja Rio yang mengantarnya ke sana sepulang sekolah.
Dengan segera ia membuka ranselnya dan mengeluarkan ponsel pintar berwarna putih miliknya. Segera jemari lentiknya menekan-nekan layar ponsel untuk mengirim pesan pada ibunya dan berharap ibunya segera membalasnya dengan cepat.
[Mah, kunci rumah mana?]
Pesan terkirim dan ia menunggu dengan tenang di depan pintu sambil sesekali mengintip di jendela samping pintu, berharap sebuah keajaiban terjadi dan ternyata rumahnya tidak sedang kosong saat ini. Namun tentu saja harapannya itu sia-sia, karena rumahnya benar-benar kosong, ayahnya baru akan pulang pada sore hari dan ibunya jika sudah menyangkut arisan bisa lupa waktu dan mungkin akan pulang lebih lama dari ayahnya.
Ponsel dalam genggamannya berbunyi dan ia segera membukanya saat melihat nama ibunya yang muncul di layar.
[Ada di dalam pot.]
Dellia menatap belasan pot yang ada di pekarangan sempit rumahnya, keningnya mengkerut dengan berbagai pertanyaan di dalam kepalanya yang tentunya tak bisa ia temukan jawabannya.
[Pot yang mana?]
[Pot bunga depan rumah lah. Kamu pikir pot yang mana lagi?]
Dellia menggaruk kepalanya yang gatal sebelum kembali mengetik pesan balasan untuk pesan ibunya yang sama sekali tidak bisa membantunya saat ini.
[Maksud aku pot bunga yang mana, mah? Ada banyak pot bunga di depan rumah.]
[Ya bunga yang warnanya merah, sayang. Cari dulu baru tanya-tanya. Sudah ah, mamah lagi sibuk.]
Dellia menghitung kurang lebih ada sembilan buah pot bunga yang warna bunganya berwarna merah, rasanya ia ingin menangis saat ini juga karena tak bisa mendapatkan jawaban yang inginkan dari ibunya yang memang sangat tidak bisa diganggu jika ia sedang ada arisan bersama temannya.
Karena tidak bisa menghubungi ibunya lagi karena takut perempuan paruh baya itu mengamuk padanya saat pulang dari rumah temannya nanti, jadi ia memutuskan untuk mencari sendiri kunci rumah yang disembunyikan ibunya di dalam pot.
*****
Putri tertawa melihat penampilan menyedihkan Dellia yang berdiri di depan pintu rumahnya dan masih lengkap dengan seragam sekolahnya yang belum ia ganti sejak pulang sekolah satu jam yang lalu. “Kamu habis mulung di mana, Dell?” tanyanya di sela-sela tawanya yang tak bisa berhenti sambil mempersilakan sahabatnya itu masuk ke dalam rumah dan mengajaknya langsung masuk ke dalam kamarnya.
“Berhenti tertawa, Put.” Dellia mendelik tajam sambil meletakkan ranselnya di atas meja belajar Putri dan duduk bersandar pada ranjang. Ia begitu lelah setelah mencari-cari kunci rumahany di dalam pot bunga namun tidak bisa menemukannya, bahkan saat ia memutuskan untuk mencarinya di semua pot bunga yang ada di depan rumahnya pun ia tidak bisa menemukannya. Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mengungsi di rumah Putri untuk sementara waktu sambil menunggu ibu atau ayahnya pulang. Karena saat ia mencoba menghubungi ibunya ponsel ibunya sudah tidak bisa dihubungi sementara Rio tidak mengangkat teleponnya sekali pun. Ia sudah memikirkan pembalasan dendam yang cocok untuk adik kurang ajarnya itu yang selalu saja sukses membuat darahnya mendidih.
“Aku lagi s**l, Put.” Dellia mengambil minuman rasa jeruk yang diberikan Putri padanya, sembari mengucapkan terima kasih pada ibu Putri yang sudah membawakan cemilan untuk mereka berdua. Ini memang salah satu tujuannya untuk berkunjung ke rumah Putri, yaitu mencari makan karena perutnya memang sudah lapar untuk diisi sejak sepulang sekolah tadi.
“Kamu s**l kenapa lagi? Perasaan dari kemarin-kemarin kamu s**l terus, deh.”
“Mamah lagi pergi arisan diantar Rio dan aku tidak bisa menemukan kunci rumah yang disembunyikan mamah di dalam pot.”
“Sudah kamu cari di semua pot bunga yang ada?”
“Sudah, Put.” Dellia menyeruput minumannya dan meletakkan gelasnya di lantai berkarpet biru milik Putri kemudian mengambil biscuit rasa cokelat dari dalam toples, sementara Putri sudah hampir menghabiskan segelas minumannya di sampingnya. “Bahkan aku sudah mencari di atas pintu dan di bawah pot tapi kuncinya tidak ada. Kamu sendiri lihat kan bagaimana kacaunya penampilanku?”
Putri kembali tertawa mendengar cerita sahabatnya itu, benar- benar tidak ada rasa iba dalam pancaran matanya. “Aku bahkan hampir mengira kamu benar-benar pemulung saat pertama kali membuka pintu, Dell.” Putri mengunyah biskuitnya dengan cepat sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “Sudah kamu coba hubungi mamamu?”
Dellia mengangguk dengan sekeping biskuit utuh di dalam mulutnya, ia menelannya dengan segera sebelum kembali mengambil biskuit lainnya. “Tapi nomornya tidak aktif sedangkan Rio tidak mengangkat teleponku. Awas saja bocah itu nanti kalau ketemu.”
“Berhenti tertawa.” Dellia menunjukkan kepalan tangannya pada Putri yang kembali tertawa karena ceritanya yang menyedihkan sekaligus lucu di telinganya. Namun bukannya berhenti tertawa, sahabatnya yang memiliki paras yang cantik itu malah semakin mengeraskan tawanya. Sebelum tawanya terhenti akibat panggilan dari ibunya yang menyuruhnya untuk mengajak Dellia makan malam bersama mereka.
Dellia melihat ke luar jendela kamar Putri dan mendapati langit yang sudah berwarna jingga kemerahan. Ternyata ia sudah berada lama di sana dan tak sadar waktu sudah berlalu begitu cepat yang baginya belum cukup setengah jam berada di dalam kamar Putri.
*****