Part 4

1288 Kata
“Kamu habis dapat musibah apa semalam sampai wajahmu bisa kusut begitu?” Putri memperhatikan wajah Dellia yang sejak menginjakkan kakinya masuk ke dalam kelas tampak murung dan cemberut tiada henti. Ia menghampiri sahabatnya itu sambil duduk di kursi yang tepat berada di depan meja Dellia yang tampak enggan membalas ucapannya. “Benar, Put, pagi-pagi itu muka sudah kusut saja. Benar-benar pemandangan yang sangat tidak enak untuk dilihat.” Novita menimpali sambil duduk tepat di bangku samping Dellia duduk. Mendengar ucapan kedua sahabatnya itu semakin membuat suasana hati Dellia semakin memburuk sehingga bibirnya yang memang sudah maju beberapa senti ke depan semakin maju dan tentu saja wajahya juga semakin kusut. Kedua sahabatnya sama sekali tidak membantunya yang sedang ditimpa masalah saat ini. Teringat kembali saat ia tak sengaja melempar wajah ibunya dengan bantal akibat salah sasaran demi memberi pelajaran pada sang adik yang memang selalu sukses membuatnya bertingkah layaknya gorilla mengamuk. Mereka berdua jika dipertemukan memang akan selalu berakhir dengan pertengkaran yang membuat ibunya jadi murka dan tentu saja yang akan disalahkan adalah dirinya dan bukan adiknya. Meskipun sebenarnya ia adalah korban keusilan adiknya yang taka da habisnya. Dellia menghela napas sambil menatap kedua sahabatnya dengan mata nelangsa. “Kalian berdua bukannya menghibur malah bikin mood-ku tambah buruk. Aku habis dapat musibah tahu, gara-gara si Rio macan itu aku harus berangkat sekolah tanpa uang jajan.” Bukannya bersimpati dengan ceritanya, Putri dan Novita malah tertawa keras karenanya. Mereka berdua malah menganggap musibah yang dialami Dellia adalah sebuah hiburan yang lucu. Novita bahkan sampai mengeluarkan air mata karena tertawa berlebihan. “Ketawa saja terus. Kalian berdua memang tak ada simpatinya sama sahabat sendiri yang lagi tertimpa masalah.” Dellia menyilangkan kedua tangannya sambil membuang muka, begitu malas untuk sekadar melihat wajah laknat kedua sahabatnya yang memang selalu menertawakan nasib sialnya. Novita menyeka sudut matanya yang berair di sela-sela tawanya yang tak bisa berhenti. “Bukan begitu, Dell. Kamu itu terlalu lebay tahu. Bukannya tidak dikasih uang jajan sudah jadi hal yang biasa bagi kamu? Hari Senin kemarin juga kamu tidak dikasih uang jajan, kan? Kenapa sekarang malah dilebih-lebihkan.” “Betul, tuh. Malah kamu sampai dihukum berdiri sambil hormat pada bendera setelah upacara gara-gara datang terlambat setelah bertengkar dengan adikmu. Waktu itu kamu biasa saja.” Putri menimpali sambil berjalan menuju kursinya yang berada di belakang kedua sahabatnya. “Tapi itu beda, Nov, Put. Hari ini Bu Tuti menyediakan roti bakar spesialnya yang langka dan tentu saja aku tidak ikhlas kalau tidak bisa memakannya. Padahal aku sudah mengidam-idamkannya sejak seminggu yang lalu.” “Yang sabar, ya, Dell.” Putri memberikan tatapan ibanya yang sangat bertolak belakang dengan bibirnya yang bergetar menahan senyum. Sementara Novita di depannya sudah tertawa tanpa suara. “Kalian tidak ada yang mau mentraktirku begitu?” Dellia menatap kedua sahabatnya dengan mata melotot, kedua sahabatnya itu benar-benar sahabat yang kurang ajar. Alih-alih menawarinya untuk ditraktir atau dipinjamkan uang, mereka berdua malah kembali menertawakannya. Melihat Putri dan Novita yang semakin mengeraskan tawa mereka berdua membuat Dellia bersiap memberi cubitan sayang kepada keduanya namun terhalang oleh kehadiran PaK Darto yang sudah memasuki kelas dengan beberapa buku tebal di pelukannya. “Awas saja kalian setelah jam istirahat.” Ancaman Dellia tentu saja tidak dihiraukan kedua sahabatnya yang kembali menertawakan dirinya dalam diam. ***** “Oh iya, bagaimana dengan Raka? Kamu masih saling berkirim pesan dengannya, kan?” Pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan Putri kepadanya membuat Dellia yang awalnya sudah bersiap menggigit ujung roti bakar yang ia idam-idamkan sejak seminggu yang lalu harus terhenti di tengah jalan. Mereka bertiga sedang di kantin sekarang yang tentu saja Novita yang memang berasal dari keluarga yang kaya raya dengan senang hati mentraktirnya makan, meskipun sempat membuatnya marah terlebih dahulu. “Aku belum sempat melihat ponselku sejak semalam. Aku terlalu capek setelah memijit ayahku yang tak kenal waktu jadi tidak sempat melihat ada pesan dari Raka yang masuk atau tidak.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, Dellia segera menikmati roti bakar idamannya dengan penuh penghayatan yang tentu saja terlihat berlebihan di mata kedua sahabatnya. “Kalau begitu dicek sekarang, dong, Dell. Bukannya lanjut makan dulu.” Novita mendesak dengan nada tidak sabaran, ia juga penasaran sama seperti Putri. Keduanya jika menyangkut sang pangeran hati dan soal menjahili Dellia memang sangat kompak dan seperti berbagi pikiran. “Tapi aku, kan lapar, Nov. Kamu tidak kasian sama sahabatmu yang sedang lapar ini?” “Ya sudah, sini ponselmu. Biar kami cek sendiri.” Mau tak mau Dellia mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku roknya dan menyerahkannya pada Putri yang sudah menengadahkan tangannya di depan wajahnya dengan tidak sabaran. Ia jadi merasa seperti seorang siswa yang sedang dirundung di sekolahnya oleh preman sekolah yang sok berkuasa. “Nih, awas kalian kalau buka pesanku yang lain,” ancamnya yang tentu saja diabaikan kedua sahabatnya yang sudah seperti kesetanan melihat ponselnya dan mencari-cari nama Raka di kotak pesan. “Kamu kayak punya rahasia saja.” Novita mencibir di sela-sela matanya yang melihat ke dalam ponselnya. “Tentu saja punya. Begini-begini aku juga punya privasi tahu.” “Iya, iya. Kami juga tidak akan bukan pesan lain, kok. Lagipula yang kami butuhkan cuma pesan dari Raka. Nah, ketemu.” Putri berseru saat mata elangnya menemukan pesan Raka di antara pesan spam yang diterima Dellia yang tentu saja sang pemilik ponsel begitu malas untuk menghapusnya. “Sepertinya belum dibalas.” Novita berujar kecewa dengan sorot mata yang redup, sangat berbeda dengan dirinya yang tadinya begitu bersemangat. Pesan terakhir Dellia hanya dibaca namun tidak dibalas, padahal rentang waktunya sudah cukup lama jika dilihat dari waktu terakhir kali Dellia mengirimkan pesan balasannya. “Tapi tunggu dulu, sejak kapan Raka bermain gitar?” Putri memberikan tatapan penasaran pada Dellia yang baru saja menghabiskan roti bakarnya, gadis itu tampak sangat menikmati makanannya sampai-sampai ia tak begitu memperhatikan raut kecewa kedua sahabatnya saat ini. Mendengar pertanyaan dari Putri membuat Novita ikut penasaran, ia baru sadar soal itu karena terlalu fokus menantikan pesan balasan dari Raka sehingga melupakan fakta bahwa pemuda itu ternyata bisa bermain gitar dari pecakapannya dengan Dellia. Dellia mengerutkan keningnya sambil berpikir, sejujurnya ia juga penasaran dengan fakta itu., sementara kedua sahabatnya sudah menunggu jawabannya dengan penuh ketegangana. Mereka bertiga sekarang sudah tampak seperti siswi teladan yang sedang berusaha memecahkan soal matematika yang rumit. “Aku juga tidak tahu. Aku bahkan ingin menanyakannya sama kalian berdua karena kalian lebih tahu dia daripada aku. Tapi melihat respon kalian berdua saat ini sepertinya kalian juga baru tahu fakta ini.” “Tentu saja.” Putri menyerahkan ponsel Dellia pada pemiliknya. “Ini sebuah informasi yang baru, karena faktanya semua siswa di sekolah ini tahu kalau Raka sangat anti dengan benda bernama gitar itu. Bahkan ia bisa marah jika ada siswa yang tak sengaja memberikan gitar padanya karena lupa dengan traumanya.” “Betul, bagaimana mungkin seseorang yang begitu anti dengan gitar malah bisa bermain gitar dan memainkannya seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu yang buruk dengan benda itu. Lagipula mustahil bagi seseorang yang trauma terhadap suatu benda bisa berdamai dengan traumanya dalam kurun waktu yang sangat singkat.” Novita menatap kedua sahabatnya secara bergantian dengan raut wajah yang serius, seperti sedang bermain detektif dan sedang memecahkan kasus besar. “Kalian lihat sendiri, kan saat Raka memarahi anak kelas satu hari Senin lalu gara-gara memberikannya gitar.” “Betul.” Putri mengangguk setuju. “Aku tidak akan mungkin lupa dengan kejadian yang menghebohkan itu. Sampai-sampai guru pun harus turun tangan untuk mengatasinya.” Di lain sisi Dellia mendengarkan pembicaraan Putrid an Novit sambil memandangi layar ponselnya yang menampilkan pesannya yang centang biru namun tidak mendapatkan pesan balasan hingga saat ini, padahal ia begitu penasaran dengan sosok Raka yang sedikit berbeda dengan Raka yang ia kenal di sekolah. Diam-diam ia berharap agar Raka segera membalas pesannya demi mengurangi sedikit rasa penasarannya. *****        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN