Part 3

1163 Kata
"Putriiii." Dellia mendekati meja Putri dengan tatapan merana. "Raka membalas pesanku." Ekspresi wajah Putri yang awalnya suram, namun setelah mendengar ucapan Dellia, wajahnya berbinar seketika. "Serius?" Dellia mengangguk. Novita yang baru saja datang dan melihat mereka seperti terlibat dalam percakapan serius memberikan tatapan bertanya. "Apa? Informasi apa yang aku lewatkan?" tanyanya penuh desakan. "Raka sudah membalas pesan Dellia." Tatapan Novita tertuju pada Dellia yang masih memasang wajah murung dan sesekali menghela napas. "Serius? Tapi kenapa wajahmu seperti itu?" "Entahlah, wajahnya sudah sesuram itu sejak datang." Putri menggendikkan bahunya tak acuh. Dellia menghela napas sebentar sebelum mengambil ponselnya dari dalam tas dan  memperlihatkan pesan Raka pada Putri dan Novita. Kedua sahabatnya itu dengan antusias membaca pesan Raka sang idola. Kapan lagi mereka bisa mendapatkan kesempatan seperti itu. Namun, sedetik kemudian ekspresi wajah mereka berubah. "Raka tahu kalau itu kamu?" Putri bertanya dengan wajah terkejut.  Dellia kembali menghela napas. "Itu dia masalahnya. Padahal aku belum memperkenalkan diri." Novita mengernyitkan keningnya bingung. "Bukannya itu bagus? Jadi kau tidak perlu susah-susah untuk memperkenalkan diri lagi." "Padahal aku ingin merahasiakan identitasku." Dellia membenamkan wajahnya di antara kedua tangannya yang ia lipat di atas meja. Helaan napas panjang dan lelah masih terdengar di telinga Putri dan Novita yang masih bingung dengan tingkah sahabatnya itu. "Kenapa?" Putri menatap Dellia dengan wajah ingin tahu. Padahal jika ia yang berada di posisi Dellia, ia pasti sudah melompat-lompat kegirangan dan mungkin akan mengumumkannya ke semua orang yang ia temui. "Karena takut dilabrak para penggemar fanatiknya," jawab Dellia pada akhirnya, ia benar-benar sudah pasrah akan nasibnya nanti. Putri masih ingin menanyakan sesuatu, namun keributan di luar kelas membuat mereka bertiga mengalihkan perhatian ke arah pintu. Di sana ada Raka yang sedang kewalahan menghadapi para siswi yang berkerumun di sekitarnya. Pemuda tampan itu, hanya melihat dari kejauhan saja sosoknya sudah paling mencolok dan menarik perhatian kaum hawa. Dellia, Putri dan Novita hanya diam di tempat mereka. Mereka tak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya menonton dalam diam. Meskipun Putri dan Novita mengagumi pemuda tampan itu, namun mereka masih cukup waras untuk tidak merendahkan diri mereka di hadapan pemuda itu seperti yang dilakukan para pengagumnya yang lain.  Tanpa disangka-sangka, Raka melihat ke dalam kelas dan memberikan senyumannya saat menangkap sosok mereka yang duduk diam di dalam kelas. Putri dan Novita yang memang sejak dulu mengagumi pemuda itu memberikan respon yang heboh. Sedangkan Dellia hanya memutar matanya melihat itu. Tatapannya kemudian kembali tertuju pada Raka yang mulai berjalan menjauhi kelas mereka. ***** [Lagi sibuk?] Dellia membaca pesan yang masuk di dalam ponselnya sambil menggigit bibir bawahnya. Otaknya berputar memikirkan respon apa yang akan ia berikan pada pemuda itu yang ternyata setelah dibiarkan menggantung sehari yang lalu, namun ia tak menyerah dan kembali mengirim pesan. Setelah menggigit ujung kukunya tanpa sadar karena kegugupannya, akhirnya Dellia memutuskan untuk membalas pesan pemuda itu. Bagaimanapun juga, ia yang memulainya jadi tentu saja ia harus bertanggungjawab hingga akhir. Meskipun ini bukan sesuatu yang ia harapkan. [Tidak.] Balasan singkat itu ia kirim tanpa memikirkan apa pun, entah mau disebut tidak sopan atau cuek ia tidak perduli karena yang terpenting adalah ia tidak mengabaikan pesan pemuda itu. Sambil dalam hati ia berharap Raka tidak membalas pesannya kembali. Ia begitu malu untuk berinteraksi dengan pemuda itu saat ia tahu bahwa Raka ternyata mengenalinya. Sungguh ia merasa sangat bodoh dan konyol jika memikirkan hal itu. Niat hati untuk mengerjai malah seperti dikerjai balik. [Sudah makan?] [Sudah, baru saja.] Ada jeda beberapa menit sebelum pesan Raka kembali muncul di layar ponselnya. Padahal tadi ia sempat bersemangat memikirkan pemuda itu tidak akan membalas pesannya lagi. [Sama, dong.  Aku lagi suntuk di rumah sendirian. Mau keluar tapi hujan. Terpaksa cuma gitar yang menemani.] Dellia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke luar jendela kamarnya. Keningnya sedikit berkerut tidak menyadari rintik hujan yang mulai berjatuhan dan membasahi tanah yang mengeluarkan aroma yang khas. Aroma yang terkadang ia suka resapi sambil melamun memandangi pohon mangga yang berada tepat di samping kamarnya. Sungguh kegiatan yang sangat tidak berarti bagi ibunya namun sangat nikmat baginya. [Di sini juga sedang hujan, tapi cuma gerimis, sih. Ngomong-ngomong, aku baru tahu kamu bisa main gitar.] Dellia kembali mengingat saat Putri dan Novita yang bersemangat menceritakan tentang sosok Raka yang sempurna dan bisa segalanya, namun satu kekurangannya yaitu pemuda itu tidak bisa bermain gitar. Bahkan ia sangat anti dengan benda itu. Karena pernah mengalami kejadian buruk saat bermain dengan alat musik yang dipetik itu, senarnya tiba-tiba terputus dan hampir melukai matanya. Jadi sejak saat itu, Raka sangat menghindari gitar dan tidak mau memainkannya meski dipaksa sekali pun. [Karena aku memang jarang memainkannya di depan orang-orang. Terlebih lagi aku masih belum mahir dan masih dalam proses belajar.] [Kupikir kamu trauma dengan gitar.] [Kata siapa?] [Dari rumor yang beredar di sekolah.] Lama Dellia memandangi layar ponselnya dan pesan balasan dari Raka yang ia tunggu-tunggu tidak pernah muncul. Ia sempat berpikir mungkin ia bersikap tidak sopan dengan menanyakan hal pribadi pemuda itu yang mungkin ingin ia rahasiakan dari orang-orang namun ternyata beredar luas tanpa sepengetahuannya. Dengan perasaan tak tenang Dellia memutuskan meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.  Jarum pendek jam masih menunjuk angka tiga sementara suara rintik hujan di luar membuat suasananya menjadi sangat nyaman untuk memejamkan mata sejenak. Sambil berusaha melupakan pesannya yang masih belum ada balasan hingga ia terlelap dalam tidurnya. ***** "Kamu mau tidur sampai jam berapa?" Suara ibunya yang sedang mengomel sayup-sayup terdengar di telinganya. Dengan mata yang masih sangat berat dan mengantuk ia paksakan untuk terbuka. Dapat dilihatnya ibunya sedang berkacak pinggang di depan ranjangnya dengan mata melotot, sementara suasana kamarnya yang remang-remang membuatnya langsung menoleh pada jendela yang menampilkan cahaya jingga yang indah. Ia meringis menyadari dirinya sudah tertidur cukup lama sampai matahari terbenam. "Cepat bangun, bersihkan badanmu dan salat. Papa kamu lagi di luar capek dan pengin dipijit katanya." "Kan ada Rio, mah. Kenapa harus aku?" keluh Dellia sambil menyebut nama adiknya yang cuma berbeda satu tahun dengannya. Bibirnya cemberut membayangkan harus memijit ayahnya yang suka lupa waktu sehingga akhirnya yang membantu memijit malah berakhir butuh dipijit juga gara-gara kecapekan. "Adik kamu lagi ada tugas sekolah dan kebetulan kamu lagi tidak ada tugas 'kan. Sudah, cepat jangan lama-lama keburu Maghrib lewat." Tepat setelah ibunya mengakhiri kalimatnya, adiknya melewati kamarnya sambil menjulurkan lidahnya penuh kemenangan. Tentu saja Dellia yang melihat itu semakin kebakaran jenggot dibuatnya. Telunjuknya mengarah ke pintu sambil menatap ibunya yang menyalakan lampu di samping pintu.  "Rio nakal, mah!" Ibunya menatap ke luar kamar dan tidak menemukan siapa-siapa di sana, kemudian kembali ia menatap Putri semata wayangnya dengan penampilannya yang berantakan sehabis bangun tidur. "Tidak usah banyak alasan, cepat." Setelah ibunya keluar dari kamarnya, Dellia beranjak dari duduknya dengan perasaan campur aduk, terlebih lagi saat adiknya kembali muncul di ambang pintu sambil menampilkan wajah menjengkelkannya yang mampu membuat bantal di atas ranjang Dellia melayang menghantam wajah ibunya yang tiba-tiba lewat seperti sudah direncanakan. Wajah ibunya merah padam dan Dellia sudah mempersiapkan telinganya mendengar teriakan membahana yang sudah ia hapal di luar kepala.  "DELLIA, AWAS KAMU, YA!" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN