Part 2

1199 Kata
Dellia berlari dengan wajah panik menuju kelasnya. Keringat mulai mengalir di pelipisnya. Padahal ia hanya berlari dari gerbang melewati lapangan sekolah. Ia lupa menyetel alarm tadi malam sehingga bangun terlambat pagi ini. Padahal ia sudah berjanji pada Putri untuk berangkat sekolah pagi-pagi sekali. "Untung masih sempat," ujarnya lega saat melihat Novita sedang menyalin tugas Matematika milik Putri.  "Kau terlambat." Putri mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya pada Dellia yang baru tiba dan mulai sibuk mengeluarkan bukunya.  "Aku bangun kesiangan." Dellia hanya melirik Putri singkat sebelum beralih pada Novita yang masih asyik menulis. "Bagi, dong. Aku tidak punya banyak waktu." Tangannya bergerak menarik buku Putri mendekat dan mulai menyalin. Ia tak punya banyak waktu yang bisa ia habiskan dengan sia-sia. Meskipun merasa kesal karena diganggu, Novita tidak berkata apa-apa dan tetap lanjut menulis bersama Dellia. Ia ternyata juga bangun kesiangan sama seperti sahabatnya itu. Sementara Putri yang melihat kedua sahabatnya yang sedang menulis dengan panik itu hanya geleng-geleng kepala. Ini bukan yang pertama kalinya ia melihat mereka seperti itu. ***** "Jadi, kau sudah mengirimkan pesan pada Raka?" Dellia mengangguk dengan mulut penuh bakso. Saat ini mereka sedang di kantin mengisi perut. Beruntung ia dan Novita dapat menyelesaikan menyalin tugas Putri, sebelum Pak Danar datang dan menyuruh mereka untuk mengumpulkan tugas dengan segera.  Ia menelan makanan yang ada di dalam mulutnya sebelum menjawab pertanyaan tak sabar Putri. "Iya. Tapi belum ada jawaban sampai sekarang." "Mungkin itu nomor palsu yang tidak aktif." Novita menimpali sambil menyantap mie ayam favoritnya. Matanya tertuju pada mangkuk di depannya yang sudah kosong. "Gawat, mie ayamku sudah habis. Aku mau pesan semangkuk lagi. Tunggu aku, ya." Setelahnya ia berlari menuju meja kasir. Dellia dan Putri hanya memandangi kepergian Novita dalam diam sebelum kembali menyantap makanan mereka yang masih tersisa banyak. Mereka berdua tidak seperti Novita yang makan dengan cepat bahkan bisa menghabiskan dua porsi makanan sekaligus. Meksipun begitu, Novita termasuk yang paling kurus dan kecil di antara mereka bertiga.  Hal itu kadang membuat Dellia heran ke mana semua makanan itu pergi. Sementara dirinya hanya dengan minum air putih saja berat badannya bisa bertambah. Begitupun dengan Putri yang memiliki keluhan yang sama dengannya. "Bisa jadi apa yang dikatakan Novi benar. Lagipula, kau mendapatkan nomor telepon itu dari mana?" Putri tidak langsung menjawab. Ia tampak mengingat-ingat sesuatu terlebih dahulu sebelum membalas tatapan Dellia. "Dari sepupuku yang sekelas dengannya. Katanya dia dapat nomor itu dari Raka langsung." Dellia menyendokkan bakso terakhir ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan cepat. "Atau dia dapat pesannya tapi mengabaikannya? Untuk ukuran cowok populer seperti dia, itu hal yang wajar." Ia berhenti sejenak untuk menelan makanannya. "Lagipula aku yakin bukan aku satu-satunya yang mengirimkan pesan padanya. Atau bisa jadi sampai saat ini pesanku belum dia baca dan tenggelam di antara ribuan pesan lainnya." "Benar juga." Putri menyeruput minumannya dengan tatapan menerawang. "Baiklah, kalau memang seperti itu kita menyerah saja." "Menyerah untuk apa?" Novita datang dengan semangkuk mie ayam yang masih hangat. Matanya tertuju pada mangkuk Dellia dan Putri yang sudah kosong. "Kalian sudah selesai makan? Kenapa kalian tidak menungguku?"  Dellia memutar matanya. "Siapa suruh terlalu lama. Cepat selesaikan makananmu kalau tidak mau kami tinggal." "Iya, iya, sabar."  ***** Dellia menaruh ranselnya di atas meja belajarnya sebelum merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak memperdulikan seragam sekolahnya yang belum ia ganti. Padahal ibunya selalu mengingatkannya agar mengganti pakaiannya segera setelah ia pulang dari sekolah. Sekali lagi ia memeriksa pesan dan kembali tak menemukan pesan balasan yang ia tunggu. Sejujurnya ia tak pernah mengharapkan balasan dari pemuda itu. Bahkan sejak awal ia memang tidak pernah berpikir pemuda itu akan membalas pesannya. Namun, melihat Putri yang kecewa membuatnya terus kepikiran dan diam-diam berharap juga. Putri memang tidak memperlihatkannya tapi ia bisa merasakannya. Lagipula mereka sudah berteman sejak kecil jadi tidak sulit baginya untuk bisa membedakan wajah kecewa gadis itu.  Ia menghela napas panjang sebelum beranjak dari posisinya dan mengambil pakaian ganti di dalam lemari. Setelahnya ia mengambil handuk dan memasuki kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket setelah berkeringat dan butuh menyegarkan diri. Selang beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana training dan kaos oblong lengan panjang. Rambut panjang sepunggungnya yang basah ia keringkan dengan handuk. Sambil duduk di pinggir ranjang dan memeriksa ponselnya. Seketika matanya terbelalak saat mendapati sebuah pesan dari seseorang yang sejak tadi melayang-layang di dalam pikirannya. Degup jantungnya berpacu lebih cepat saat ibu jarinya menekan layar untuk membuka pesan. Padahal itu hanya pesan biasa, bukan pesan romantis yang ia tunggu dari kekasih hatinya. [Iya.] Dellia mengerutkan keningnya membaca pesan Raka yang singkat dan padat. Sepertinya pemuda itu tidak mengenal kata basa-basi. Ia bahkan tidak bertanya siapa dirinya dan untuk apa ia menghubunginya. Ia masih terdiam memandangi layar ponselnya yang menampilkan pesan Raka. Ia bingung antara membalas pesan itu atau tidak. Jika ia tidak membalasnya ia takut memberikan kesan tidak sopan. Terlebih lagi pemuda itu adalah kakak kelasnya. Namun, ia juga bingung ingin membalas apa. Masih sambil berpikir ia mulai mengetikkan sesuatu, namun berulang kali ia hapus karena ragu. Setelah berulangkali melakukan hal yang sama dari beberapa menit yang lalu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirimkan pertanyaan acak dan menekan tombol kirim sebelum ia berubah pikiran kembali. Meskipun pada akhirnya ia sesali juga. [Kamu sedang apa sekarang?] Sungguh rasanya Dellia ingin melempar ponselnya ke dinding saat ini. Dari banyaknya pertanyaan yang bisa ia ambil tapi ia malah memilih pertanyaan seperti itu. Seolah-olah mereka adalah orang yang dekat. Padahal Raka tahu ia hidup saja tidak. [Lagi istirahat habis bermain basket dengan teman-teman. Kamu?] Dellia tersenyum. Ternyata pemuda itu lebih asyik dari yang ia pikirkan. Padahal tadi ia sudah berpikiran buruk kalau pemuda itu akan mengabaikan pesannya atau membalas dengan kalimat dingin dan tidak bersahabat karena sudah bersikap sok dekat dengannya. [Lagi santai saja. Enaknya bisa main bersama teman-teman.]  [Mau gabung?] [Tidak mungkin. Lagipula aku tidak bisa bermain basket.] [Aku bisa ajari.] Dellia memperhatikan layar ponselnya sambil berpikir. Ia tidak menyangka Raka akan mengajaknya untuk bergabung bermain basket dengannya. Sedangkan sejak tadi pemuda itu tidak pernah bertanya apa pun soalnya. Bahkan ia yakin pemuda itu tidak tahu namanya. Ia mulai berpikir, apa pemuda itu memang selalu seramah ini pada para penggemarnya? [Bagaimana caranya? Kamu bahkan tidak kenal aku.] [Aku tahu. Kamu Dellia Anastasya, kan? Anak kelas X-2.] Ponsel Dellia hampir saja terjatuh ke lantai jika ia tidak menangkapnya dengan refleks. Matanya melotot memandangi layar ponselnya yang menampilkan pesan balasan Raka yang tidak ia sangka. Ia yakin ia tidak pernah menyebutkan nama dan kelasnya. Ia bahkan tidak pernah bertemu tatap muka dengan pemuda itu di sekolah karena ia selalu menghindarinya. [Bagaimana kamu bisa tahu?] [Kenapa? Apa itu rahasia?] Dellia tidak membalas pesan terakhir itu. Ia malah meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya dan meringkuk di balik selimutnya. Jantungnya berdegup dengan kencang dan butuh menenangkan diri. Ia benar-benar bingung bagaimana Raka bisa tahu identitasnya di saat ia berusaha merahasiakannya dari pemuda itu.  Ia memeluk lututnya dengan erat sambil berusaha menenangkan degup jantungnya, sebelum ibunya masuk ke dalam kamarnya dan menarik selimutnya dengan sekali hentakan. "Ya ampun, ibu panggil dari tadi malah asyik-asyik tidur. Sana angkat jemuran sebelum hujan." "Iya." Dellia mendudukkan dirinya dengan wajah cemberut. Ibunya datang di waktu yang benar-benar tidak tepat. Ia turun dari ranjang dan melangkah dengan malas mengikuti langkah Ibunya yang sudah menghilang di balik pintu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN