“Eh, eh, stop!” Dellia menepuk pundak adiknya dengan tenaga yang cukup kuat sehingga adiknya yang sedang membawa motor itu segera menghentikan motornya di pinggir jalan dan menoleh denga wajah kesal pada kakak perempuannya yang malah menatap ke arah lain. Rio mendecakkan lidahnya kesal. “Ada apa, sih? Bahaya tahu. Untung jalanan lagi sepi.” Kembali ia mendecakkan lidahnya, merasa menyesal telah mematuhi perintah ibunya untuk mengantar kakak perempuannya itu ke supermarket yang jaraknya cukup dekat dan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki selama sepuluh menit. Lagipula selama ini Dellia selalu ke supermarket dengan berjalan kaki dan tidak pernah sekali pun meminta diantar olehnya, namun entah kenapa kakak perempuannya itu kali ini meminta bantuannya. Awalnya ia tentu saja menolak, na

