“Baru juga sebentar kamu sudah mengeluh begitu, Gi.” Raka menyerahkan sebotol air mineral pada sepupunya yang saat ini sedang membaringkan badannya di lapangan basket tanpa memperdulikan pakaiannya akan kotor atau tidak. Peluh sudah membasahi tubuh pemuda itu dengan napas terengah-engah, bahkan ia terlihat sudah tidak sanggup untuk menggerakkan tubuhnya lagi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, tertawa kecil melihat tubuh lemah Egi yang ternyata sangat lemah di balik tubuh tinggi dan besar miliknya. “Kalau begini ceritanya kamu tidak bakalan bisa bermain basket dengan baik secepatnya.” Egi yang awalnya menutup kedua matanya kini membukanya, ia menatap Raka yang terduduk di sampingnya dengan sebotol mineral yang khusus ia bawakan untuknya. Ia meraih tangan sepupunya tersebut yang berusaha

