Setibanya di sekolah, Dellia segera berlari menuju kelasnya di mana Putri, Novita dan Lia tengah berkumpul di depan kelas. Ketiganya tampak lega ketika melihatnya tiba tepat waktu sebelum acara upacara dilaksanakan. Ia hanya memberi kode untuk menunggu sebelum berlari masuk ke dalam kelas dan menyimpan tasnya di sana, kemudian kembali keluar kelas menemui Putri, Novita dan Lia yang masih setia menunggunya di sana. “Untungnya aku tidak terlambat,” serunya dengan terengah-engah. Ia benar-benar lelah berlari dari pintu gerbang melewati lapangan hanya untuk menuju kelasnya yang jaraknya memang cukup jauh. Ia sibuk mengipasi lehernya dengan tangan kanannya sambil matanya menatap lapangan ucapara yang perlahan-lahan mulai dipenuhi oleh siswa lainnya. “Kebiasaan burukmu itu apa tidak bisa dihil

