Jonathan melempar laporan proyek yang diberikan oleh Mark. Dia menatap sang sekretaris yang mengabarkan berita buruk dengan serius. Proyek miliknya mengalami hambatan. Hal itu karena ada beberapa bawahan yang dengan sengaja mengganti bahan-bahan dari yang seharusnya. Sepertinya mereka mengira kalau dia tidak akan tahu, mengingat akhir-akhir ini dirinya disibukkan oleh berbagai macam masalah. Kematian ayahnya dan scandal yang sempat beredar.
"Sialan!" Jonathan menggebrak meja di depannya dengan keras. Wajah aristokratnya tampak merah padam karena kesal. Karyawan tak tahu diri. Apa semua hukuman yang dia perlihatkan sama sekali tidak berarti? Harus dengan cara apalagi Jonathan menghukum mereka? Apa uang lebih berharga dari pada Nyawa? Dia tidak mau dipusingkan dengan hal-hal seperti ini, tapi jika mereka berniat menghancurkan bisnisnya, dia tidak akan tinggal diam.
"Pecat dan bereskan mereka yang terlibat dengan semua ini," perintahnya dengan sangat arogan.
"Kau ingin aku menghabisi mereka?"
"Ya, lakukanlah, tapi jangan sampai ada yang tahu."
Sekretarisnya lantas menuruti perintah Jonathan dan berjalan keluar. Sekali perintah, dia langsung paham, jika Jonathan menginginkan nyawa orang-orang yang berkhianat dan tentu dia akan dengan senang melaksanakannya.
Mark adalah sekretaris sekaligus salah satu orang yang sangat Jonathan percaya. Tidak pernah mengkhianatinya sedikit pun. Tentu dia bisa menjamin karena Mark sudah bersumpah setia padanya. Apalagi mengingat hal yang sudah dia lakukan pada keluarga laki-laki itu. Jonathan melindungi keluarga Mark, terlebih mereka sudah saling mengenal jauh sebelum dia sukses seperti sekarang
Jonathan sangat menyukai sikap profesional Mark. Kadang, dia harus mengandalkan laki-laki itu ketika dia tidak masuk karena hal mendesak. Meski tentu saja, hal tersebut sangat jarang dilakukan. Jonathan hampir tidak pernah meninggalkan pekerjaannya, terkecuali masalah Naya yang terjadi beberapa hari terakhir membuat Jonathan harus mengandalkan Mark.
Tak hanya itu, Mark juga merupakan orang yang membantu Jonathan membangun Casino. Pekerjaan kotor yang dia kelola di balik kesuksesannya sekarang. Semua tumbuh dari hasil kerja kerasnya sendiri. Menipu, mencuri dan berjudi.
Jonathan yang dikenal saat ini adalah orang yang kotor di masa lalu. Hidupnya sangat susah, sebelum Vincent datang dan menjemput mereka, tapi jangan pernah sekalipun berpikir jika apa yang Jonathan dapatkan adalah pemberian dari ayah biadabnya.
Sampai saat ini, bahkan ketika dia mendapat sebagian harta kekayaan milik Vincent, Jonathan tak pernah sudi untuk memakainya, barang sepeser pun. Dia juga enggan kembali tinggal bersama mamanya di rumah utama. Jonathan lebih memilih hidup sendiri. Bebas dan tanpa aturan.
Di rumah, dia juga bisa mengoleksi jalang-jalangnya. Sebelum dia terpaksa buang karena ada Naya. Entah mengapa, kehadiran Naya, membuat Jonathan muak dengan jalang-jalangnya. Dia sulit bergàirah pada wanita selain Naya atau mungkin, entah karena dirinya sudah bosan? Yang pasti, Naya adalah wanita yang selalu membuatnya menginginkan lagi dan lagi. Ah, hanya dengan memikirkannya saja, dia jadi ingin segera pulang dan menyentuh wanita itu.
Jonathan selalu merasa, pikirannya bebas saat dia menyentuh Naya. Sepertinya, dia mulai tergila-gila.
Sambil berpikir, Jonathan menatap ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Haruskah dia menghubungi Naya? Suara Naya, sangat dia rindukan, meski nanti Jonathan juga akan pulang, tapi dia sungguh amat tidak sabar untuk melepas penat dan bertatap muka dengan wanitanya. Semua masalah ini kadang membuat kepalanya serasa ingin pecah. Dia butuh liburan, tapi tentu akan sulit dilakukan. Hanya Naya yang bisa membuat dia sedikit lebih tenang.
"Shít! Sihir apa yang kau pakai sampai aku tidak bisa berhenti memikirkanmu?"
Tangan Jonathan dengan cepat meraih ponsel miliknya dan menatapnya sejenak. Dia melihat wallpaper yang menunjukkan gambar Naya yang hanya mengenakan selimut berwarna merah, memperlihatkan sebagian paha mulusnya yang terbuka. Sangat seksi. Di balik selimut itu, ada keindahan yang selalu Jonathan rindukan. Kulit lembut seputih s**u.
Jari-jemari Jonathan dengan lihai membuka galeri foto. Memperlihatkan begitu banyaknya foto dan video Naya. Saat wanita itu tidur tanpa busana dan video ketika mereka berdua berhubungan. Semua itu, Jonathan rekam tanpa sepengetahuan Naya. Hal yang tidak pernah dilakukan Jonathan pada jalang-jalangnya dulu. Hanya Naya, hanya pada wanita itu, dia bisa bersikap seperti seorang maniak. Membuatnya sangat kecanduan.
***
"Bagaimana keadaan Naya? Apa dia baik-baik saja?" tanya seorang laki-laki bermata safir pada laki-laki yang kini tampak acuh memerhatikan sebuah pístol baru miliknya.
Keduanya duduk di sebuah kursi dan saling berhadapan. Di depannya tersaji beberapa makanan ringan dan gelas-gelas minuman. Orang yang ditanyai, tampak dengan sangat santai memakan camilan tersebut tanpa memedulikan ekspresi khawatir sekaligus penasaran dari temannya. Menyimpan pístol di meja sebelum kemudian menatap ke arah laki-laki di depannya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku sedang mencari cara untuk membawanya. Si gila itu benar-benar mengurung adikmu. Mereka sangat susah didekati. Lengket seperti lem. Adikmu mungkin digunakan setiap hari," jawabnya dengan enteng.
"Siàlan, aku harus menghajar si berengsek itu!" ucapnya dengan marah. Rahangnya mengeras. Tak bisa dibayangkan, jika adiknya diperlakukan tak manusiawi.
"Arsen, Arsen. Dasar bodoh! Kau pikir semudah itu? Kau tahu, ini seperti karma untukmu. Kau juga mengurung seorang wanita dan kini, adikmu juga harus dikurung."
Laki-laki yang dipanggil Arsen itu, mengeraskan rahangnya. Tampak kemarahan terlihat dalam sorot matanya meski kini, wajahnya harus tertutup topeng di sebelah kanannya. Dia menggebrak meja hingga membuat lawan bicaranya kaget.
"INI BEDA! AKU TIDAK PERNAH MENYENTUH RALINE! TAPI SI BERENGSEK ITU MENYENTUH ADIKKU! KAU PIKIR ITU SAMA, REY?"
"Ya, kalian sama-sama memiliki temperamen yang buruk," tukas Rey sambil memutar bola matanya malas. "Pergilah, nanti aku kabari lagi soal Naya. Kasihan kekasihmu, dia pasti sedang menunggu di rumah," tambahnya sambil tersenyum meledek.
Rey tahu ini gila, memancing emosi seseorang yang sedang marah, tentu akan berujung pada dirinya yang menjadi sasaran. Rey tahu tabiat keras Arsen seperti apa, tapi beruntungnya hal itu ternyata tidak terjadi. Arsen malah berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Rey. Namun sebelum itu, Arsen memberikan tatapan penuh peringatan.
"Aku tidak mau tahu, kau harus cepat membawanya," ucap Arsen sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
Sontak saja Rey dibuat keheranan. "Sen, kau tidak memukulku?"
Sayang, ucapannya sama sekali tidak dihiraukan oleh laki-laki itu. Arsen tetap berjalan pergi. "Sepertinya kau sudah tidak sabar mencobanya bersama Raline. Jangan lupa gunakan pengaman! Kalau tidak, wanita itu bisa hamil," teriak Rey dengan nada mengejek. Membuat umpatan kasar Arsen terdengar.
Sepeninggal Arsen, Rey langsung menyandarkan tubuhnya di sofa. Menghela napas panjang Senyum mengejeknya luntur dan menatap lurus ke arah Arsen menghilang. Pikirannya saat ini, benar-benar dipenuhi tanda tanya.
"Wanita adalah makhluk yang sangat menakutkan. Bagaimana bisa orang seperti Arsen berubah? Apa aku juga akan seperti itu?" gumamnya.
Ingatan Rey tiba-tiba berputar pada kejadian beberapa malam yang lalu. Pertemuan keduanya dengan Naya. Wanita seksí yang membuat matanya tak bisa teralihkan. Dia tidak pernah bisa melupakan wajah cantiknya dan juga ciumàn panas yang sempat mereka lakukan di toilet malam itu. Bola mata yang mirip seperti Arsen dan rambut hitam seperti arang.
Naya berubah seratus delapan puluh derajat dari pertemuan pertama mereka. Dia tidak pernah lupa, ketika wanita itu menusuk Arsen, padahal Arsen hanya berniat untuk menyelamatkannya saja. Benar-benar bodóh. Gara-gara tindakannya sendiri, kini wanita itu harus terjebak bersama Jonathan. Si iblis haus darah. Meski orang itu, tak beda jauh dengannya.
Sekarang, dia harus berusaha membebaskan Naya. Benar-benar sangat menyusahkan. Jika saja Naya bukan adik dari Arsen, Rey tidak akan pernah mau menyelamatkan wanita tak tahu terima kasih itu. Dia tidak sudi. Walau Naya sepertinya sangat cocok dijadikan teman tidur. Tubuh wanita itu sangat seksi dan dia ingin ikut merasakannya.
"Apa Si íblis itu tahu siapa yang berusaha mencelakai Naya?"
Rey mengetuk-ngetuk meja sambil berpikir keras. Menjadi simpanan laki-laki seperti Jonathan memang memiliki banyak risiko, salah satunya banyak yang memusuhi, berniat buruk dan bahkan mencelakai seperti apa yang pernah terjadi ketika malam di pesta itu.
Tanpa perlu dijelaskan, Rey sudah mengerti apa yang diinginkan oleh Sherly. Wanita itu ingin membuat Naya dilecehkan. Memerintahkan dua orang laki-laki yang disuruh untuk melakukan hal tak senonoh terhadap Naya. Rey mengetahui semuanya. Namun untungnya, dia bisa sangat tepat waktu melenyapkan dua laki-laki itu, tanpa menimbulkan perhatian banyak orang. Tidak ada seorang pun yang akan tahu, jika dua orang itu telah mati karena ulahnya.
Rey melakukannya dengan sangat sempurna.
"Sial! Aku jadi menginginkanmu, Naya," desah Rey frustrasi. Mengusap wajahnya dengan kasar. Ciumàn Naya masih membekas dalam benaknya dan sekarang, dengan cepatnya mampu membangkitkan biràhinya. Andai saja saat itu Rey bisa melakukannya dengan cepat.