Sibuk?

1242 Kata
Tumben, selama seharian ini Naya tidak melihat batang hidung Jonathan. Laki-laki itu belum pulang atau memang sudah mulai bosan dengannya? Meski begitu, Naya bersyukur karena dia punya waktu untuk sendiri saat ini. Walaupun rasa bosan karena tidak bisa tidur terus mengganggunya. Hal yang hanya bisa dilakukannya adalah duduk di sofa bed sambil melihat-lihat seisi ruangan. Ingatannya berputar pada kejadian dua hari yang lalu saat dia bermasalah dengan dua pelayan yang membicarakan tentangnya. Naya pikir, dirinya akan dihukum oleh Jonathan karena bersikap angkuh dan mengancam para pelayan. Namun justru, tindakannya mendapatkan pujian dan karena itu pula, Jonathan memberi peringatan pada semua pelayan di sini untuk jangan membicarakan atau bersikap buruk padanya. Terdengar heroik? Mungkin ya, karena setelah itu Naya bisa tenang tanpa harus mendengar para pelayan yang menggosipkannya. Dia berterima kasih karena Jonathan mau peduli padanya. Laki-laki itu memiliki sisi baik, meski mungkin sisi buruknya jauh lebih banyak. Memang tidak ada seorang pun yang benar-benar sempurna. Naya menghela napas panjang dan bangkit dari duduknya untuk berjalan keluar. Mengambil cardigan guna menutupi dress tidurnya yang cukup terbuka. Udara lumayan dingin dan terasa menusuk tulangnya. Meski Naya sudah terbiasa seperti ini. Kakinya melangkah perlahan menuruni anak tangga. Rumah benar-benar sepi. Tampaknya Jonathan tidak akan pulang. Apakah ini kesempatan yang bagus untuk dia pergi? Matanya menoleh ke arah pintu utama. Satu-satunya jalan yang bisa dia gunakan untuk melarikan diri. Akan tetapi, dia tahu kalau anak buah laki-laki itu pasti ada di sana. Semua akan percuma kalau dia pergi lewat sana. Pada akhirnya, Naya akan tertangkap dan membuat Jonathan marah. Hal yang menakutkan adalah laki-laki itu berbuat kasar lagi, tapi apakah tidak ada jalan rahasia? Sekali lagi, Naya menghembuskan napas kasar dan memutuskan untuk menghiraukannya karena perutnya harus lebih dulu diisi. Dia masih takut jika berbuat salah dan ketahuan karena Jonathan bukan orang yang segan untuk melenyapkan seseorang. Sesampainya di dapur, Naya segera membuka laci meja untuk mencari mie instan dan menyiapkan panci untuk memasak. Peralatan di sini sangat lengkap dan bahan makanannya pun cukup banyak, tapi mungkin akan habis dalam beberapa hari. Sialnya, saat dia sedang sibuk memasak, sebuah tangan memeluknya erat dari belakang. Menyebabkan tubuh Naya harus bersentuhan dengan tubuh kekar di belakangnya. "Ah ...." "Kenapa belum tidur? Apa kau sedang berusaha menggodaku?" Hembusan napas panas terasa di lehernya dan membuat wajah Naya menjadi memerah. Kepalanya menoleh dan menatap iris mata hitam yang seolah menenggelamkannya. Laki-laki itu sudah tiba. Datang menghampirinya tanpa suara. Naya pikir Jonathan sedang pergi atau bersenang-senang bersama jalangnya yang lain. Namun sepertinya, dugaan dia salah. Jonathan datang dalam keadaan terlihat lelah. Jasnya sudah hilang entah ke mana, ditambah dasinya sudah berantakan dan lengan kemejanya sudah tergulung sampai sikut. Apa sesuatu telah terjadi? Sepertinya memang ada masalah. Namun semua itu bukan urusannya. Naya senang saat tahu kalau Jonathan pulang terlambat. "Aku lapar. Tolong menjauh." Sayangnya, Jonathan bukan orang yang akan patuh dengan permintaan Naya. Bibir laki-laki itu malah semakin gatal menandai leher mulus Naya hingga membuatnya menjadi merah. "Sial sekali, aku harus pulang terlambat dan membereskan cecunguk-cecunguk itu. Padahal aku sangat menantikan malam panas denganmu. Aku harap kau tidak merindukanku, Naya." Jonathan baru pulang saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Semua gara-gara karyawannya dan dia juga harus melihat casino miliknya jika terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka. Ada sebuah kecurigaan kalau memang seseorang tengah mempermainkan dia saat ini. Hanya saja, dia belum tahu siapa lawannya dan untuk tujuan apa mereka melakukannya? Hanya iri atau karena ada niat lain? "Tidak sama sekali." Wajah Naya memanas. Dia menelan ludahnya kasar. Tidak mungkin dia akan merindukan laki-laki ini. Naya malah berharap jika Jonathan tidak akan pernah pulang lagi. "Lepaskan atau air panas ini bisa melukai kita." Naya menggeliat tak nyaman. Berusaha menyingkirkan tangan laki-laki itu yang mulai menyusup ke dalam pakaiannya dan menyentuh perut. Sampai akhirnya Jonathan mundur ketika melirik panci berisi air terlihat mendidih dengan mie yang sudah ada di dalamnya. Tidak ingin air panas itu melukai mereka. "Aku juga mau. Buatkan satu untukku." "Apa?" "Kau mendengarnya, buatkan satu untukku," ucap Jonathan dengan penuh penekanan. Berpikir tentang makanan, Jonathan teringat kalau sejak tadi siang dirinya belum makan dan kini, niatnya yang ingin tidur justru harus dikesampingkan saat kebetulan melihat Naya memasak. "Kau bisa membuatnya sendiri." "Buatkan satu untukku atau kau yang akan menjadi santapanku malam ini," ancam Jonathan. Glek. Naya menelan ludahnya kasar. Dia tahu kalau kalimat yang terlontar dari mulut laki-laki itu bukanlah makna sebenarnya. "Baiklah, tapi berjanjilah untuk jangan menyentuhku." "Hanya malam ini." *** "Tante, tolong minta Nathan agar melanjutkan pertunangan kami kembali. Aku tidak suka dia dekat dengan wanita itu!" Sherly menyandarkan kepalanya di bahu Isabel. Menggenggam tangan wanita tua yang merupakan ibu dari Jonathan dengan erat. Harapannya hanya Isabel karena dia tahu kalau wanita tua itu sudah menyayanginya dan akan melakukan apa yang dia mau. "Tante tidak yakin, Sher. Anak itu sangat keras kepala. Nathan tidak akan mudah menurut," ujarnya sambil memijit pelipisnya bingung. Kemarin saja dia diusir oleh sang anak dan membuatnya harus melihat pemandangan yang tak senonoh. Dulu, Jonathan tidak sekeras kepala ini. Anaknya itu pasti akan menurut jika dia melarang. Hanya saja, Isabel merasa kalau sifat anaknya sudah mulai berubah semenjak dia menerima Vincent untuk menikahinya dan memboyong mereka tinggal bersama. Pria yang dulu merupakan majikannya sendiri yang menjadi suaminya dan meninggal beberapa minggu yang lalu. Hanya karena ini atau karena kedatangan wanita simpanan suaminya itu? Isabel tidak berharap sang putra akan tergila-gila pada Naya. Bagaimana pun, wanita itu hampir menjadi istri ketiga suaminya atau dengan kata lain madunya. Sialnya, putranya tidak mau mendengarkan apa yang dia katakan. "Ini pasti karena wanita itu! Dia telah mencuci otak Nathan! Aku khawatir kalau dibiarkan, dia akan semakin seenaknya." Isabel menatap Sherly dengan pandangan berpikir. Dia jarang atau mungkin hampir tidak pernah berbicara berdua dengan Naya. Namun pikirannya pun sama dengan Sherly. Isabel takut kalau kehadiran Naya akan meracuni pikiran anaknya. Asal-usul dan background keluarga Naya juga tidak diketahui. Hanya wanita biasa seperti dia atau hanya seorang wanita penghíbur? Meski Naya adalah seorang wanita penghibur sekali pun, harusnya latar belakang wanita itu sebelumnya ada. Akan tetapi, sangat sedikit informasi yang menjelaskan tentangnya. "Bagaimana jika kamu lupakan saja Nathan? Ada banyak laki-laki yang lebih baik dari anak Tante." "Apa? Kenapa Tante bicara seperti itu? Aku hanya mau Nathan!" Sherly spontan melepas genggaman tangannya dan menegakkan tubuhnya kembali. Nada suaranya terdengar naik. Dia datang ke rumah Isabel jelas untuk meminta bantuan wanita itu, tapi kenapa sekarang dirinya malah diperlakukan seperti ini? Bagaimana dengan keluarganya? Ayahnya pasti akan menghukumnya karena tidak berhasil mengubah pikiran Isabel. Hubungannya dengan Jonathan penting untuk kelangsungan hidup keluarganya. "Nathan sudah tidak mendengarkan Tante dan Tante tidak bisa berbuat banyak." Isabel juga bingung, jika dia tetap memaksa, maka hubungan dia dengan putranya pasti akan semakin merenggang. "Tapi Tante, wanita itu sangat berbahaya, kemarin Nathan juga mendatangiku sambil marah-marah. Dia menuduhku melukai Naya. Sepertinya, wanita itu sudah mengatakan hal buruk tentangku." Wajah Sherly berubah muram. Dia menjelaskan soal kedatangan Jonathan yang menuduhnya hendak mencelakakan Naya. Berusaha menghasut Isabel agar semakin membenci wanita itu dan pada akhirnya mau untuk menyingkirkan Naya dari jalannya mendapatkan Jonathan. "Benarkah? Apa Nathan bisa seperti itu?" "Aku curiga dengan Naya. Dia pasti mengatakan yang bukan-bukan tentangku. Aku ingin membalasnya, Tante. Aku ingin memisahkan mereka, kalau perlu menyingkirkan wanita itu sejauh mungkin." Isabel tak langsung menjawab. Dia hanya diam dan memikirkan perkataan Sherly. "Itu sangat sulit sepertinya. Nathan bisa marah jika kita menyentuh wanitanya." "Tante tenang saja, aku punya rencana." Senyum culas tercetak di bibir tipisnya. Dia membayangkan rencana-rencana licik yang bisa membuat Naya menjauh dari Jonathan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN