Adara dan Sangga sampai di apartemen pukul sepuluh malam. Sesampainya di apartemen Adara langsung berjalan ke ruang tengah dan merebahkan tubuhnya di sofa. Dia merasa benar-benar capek, bukan hanya karena bayinya yang sudah semakin membesar. Tapi karena semua pikiran yang ada di kepalanya. Sangga berjalan ke dapur dan menaruh dua bungkus makanan dan memasukkannya ke dalam kulkas. Sepulang dari puncak, Sangga menepi di warung sate dan mengajak Adara untuk makan. perempuan pun terlihat sangat tergiur dengan sate kambing yang tersaji di meja. Sangga memesan empat puluh tusuk sate untuk mereka berdua. Dan Adara melahapnya dengan nikmat, membuat Sangga harus menahan senyum karena melihat wajahnya yang sangat menggemaskan. “Setiap lo lagi makan, pasti itu pipi ngembung kayak bola,”

