Tanpa sepengetahuan dari siapa pun, Adara pergi kepengadilan agama untuk membuat surat cerai. Lebih baik dia hancur sekarang, daripada dia berusaha bertahan, tapi dia tetap terluka secara perlahan. Adara meremas surat perceraiannya dan masuk ke dalam apartemen. Sangga terlihat panik karena Adara tidak ada di rumah saat ia bangun. Dia mengecek kamar Adara dan seluruh sudut apartemen. Tapi istrinya itu tidak ada. Hingga akhirnya pintu apartemen berbunyi dan Adara berjalan masuk ke dalam. “Dar, lo darimana aja?! Gue panik nyariin lo!” ucap Sangga. “Gue masih hidupkan?” saut Adara dengan santai. Dia berjalan ke dapur dan meminum segelas air putih. Jujur saja tubuhnya terasa gemetar. Dia ingin memberikan surat ini secepatnya, tapi ada rasa sesak di dadanya. Kalau saja

