5

3843 Kata
Personal chat, Dylan Resgiantana - Bianca Sharisse. Dylan Resgiantana : Bian. Dylan Resgiantana : Sibuk? Bianca Sharisse : Nope, why? Dylan Resgiantana : Enggak, gua mau nanya. Bianca Sharisse : Soal? Dylan Resgiantana : Rezvan. Dylan Resgiantana : Dia marahin lo gak? Bianca Sharisse : Sempet tadi. Dylan Resgiantana : Sorry, gua gak cek dulu sama siapa tomy bikin gosip. Bianca Sharisse : Santai. Dylan Resgiantana : Dia gak ngomong kasar kan sama lo? Bianca Sharisse : Untuk orang yang kayak dia itu termasuk gak kasar sih. Dylan Resgiantana : Dan untuk lo? Bianca Sharisse : Untuk gua, orang yang udah ngadapin dia lebih dari 10 tahun. Bianca Sharisse : Juga gak termasuk kasar kok, jadi lo santai aja. Dylan Resgiantana : Syukurlah kalau gitu.. Bianca Sharisse : Yoi.. Dylan hanya membaca pesan dari Bianca tanpa menjawabnya. Melihat itu, Bianca hanya melihat layar yang masih menunjukkan chat keduanya lalu menutup dan mengunci ponselnya. “Chat sama siapa lo!” tanya Rezvan tiba-tiba di depan telinga Bianca dengan nada dingin. Bianca kaget bukan main saat mendengar suara berat Rezvan tepat di depan telinganya. “Kak Rezvan!” pekik Bianca tak terima. Rezvan hanya menaikkan alisnya. “Bisa gak kalau datang permisi dulu! Kalau gua mati karna jantungan gimana? Senang lo gak jadi nikah sama gua!” tanya Bianca dengan nada menggebu-gebu. “Lebay lo.” Cerca Rezvan. Bianca mengendus kesal sambil mengalihkan pandangannya dari Rezvan tak lupa dia juga mengomel dalam hati. “Jawab pertanyaan gua.” Perintah Rezvan. “Apa?!” pekik Bianca. “Lo chat sama siapa?” tanya Rezvan sedikit sabar, menghadapi Bianca memang harus sabar, sabar dari kelambatannya dan emosiannya. “Dylan, adek lo!” Rahang Rezvan mengeras mendengar nama yang disebut Bianca, tatapan matanya menajam pada Bianca. Bianca sadar akan perubahan Rezvan, namun dia memilih untuk bersikap masa bodoh dari pada menggubris dan berujung dia yang emosi. “Mana hp lo!” tanya Rezvan sambil mengulurkan telapak tangannya di hadapan Bianca. “Buat apa?” tanya Bianca sambil mengernyit heran. “Gua mau liat!” “Dihh apaan!” “Anka.” panggil Rezvan dengan nada rendah. “Kak lo emang tunangan gua, tapi bukan berarti lo bisa seenaknya sama gue. Hp gua privasi gue, lo gak ada hak untuk liat apapun di hp gua," ujar Bianca sambil menatap tatapan tajam Rezvan yang ditujukan untuknya. Rezvan tak menjawab ucapan Bianca namun tangannya masih menadah meminta ponsel milik Bianca. “Lagian Dylan cuman nanya lo marahin gua apa enggak.” Ujar Bianca tak membuat tatapan tajam Rezvan tidak melunak untuknya. “Lo jawab apa?” tanya Rezvan lagi. “Iya.” “Anka.” tegur Rezvan dengan mata jengah. “Kan bener lo marahin gua tadi pagi.” Ujar Bianca membeberkan fakta, dia tak mau disalahkan. “Gak harus lo bilang ke orang juga Anka.” “Serah deh serah. Tapi bentar-bentar-- lo ngapain ada di sini?” tanya Bianca yang baru menyadari apa tujuan Rezvan berada di rumah Abangnya sore-sore begini. “Menurut lo?” “Apa? Gua gak tau.” Ujar Bianca jujur. Rezvan menatap Bianca layaknya harimau yang ingin menyantap makan malamnya. Sedangkan Bianca hanya mengedipkan matanya berkali-kali menunjukkan sisi kepolosannya yang membuat rezvan semakin geram padanya. “Ooh, katanya lo sibuk?! Lembur!!” ujar Bianca setelahnya menyindir Rezvan. “Pertanyaan bodoh," cerca Rezvan. “Kak!!” “Lo minta antar kan tadi pagi?” tanya Rezvan. “Iya.” jawab Bianca polos. “Ya udah!” “Tapi lo sibuk," sahut Bianca menatap Rezvan. “Emang.” “Terus kalau sibuk ngapain lo kesini? Kalau sibuk mah ya udah sana sibuk aja.” Ujar Bianca dengan wajah kesalnya. “Dan lo minta dianterin Dylan?” tanya Rezvan membuat Bianca terdiam. “Lo bela-belain datang ke sini karena itu?" tanya Bianca memperjelas. Rezvan diam menatap Bianca, dari tatapan itu Bianca sangat yakin jika Rezvan enggan untuk menjawab pertanyaannya. "Padahal kan gua cuma bercanda soal itu," ujar Bianca dengan wajah tanpa rasa bersalah membuat Rezvan berdelik tajam pada Bianca. “Gua gak gila kali kak minta dianter sama Dylan, gua tau dan sadar kalau gua sama Dylan lagi jadi pusat perhatian saat ini. Kalau gua pulang sama dia, sama aja gua membenarkan berita itu.” Ujar Bianca menjelaskan keadaannya pada Rezvan. Rezvan hanya diam tak memberi jawaban apapun atas penjelasan Bianca yang sejujurnya sangat menyebalkan untuk Rezvan. “CEO apaan lo kak, masa masalah kayak gitu aja gak tau,” ejek Bianca sambil menatap wajah ketat Rezvan. “Anka.” Tegur Rezvan dengan nada tertahan. “Ehh Van, kok di sini?” tanya Zayn yang baru masuk ke dalam rumah. Rezvan menoleh pada Zayn yang baru masuk dan menghampirinya. “Adik lo di sini makanya gua ke sini.” Ujar Rezvan santai. Zayn menolehkan pandangannya pada Bianca cepat dengan tatapan tajam. Baru saja mulut Zayn hendak terbuka, Bianca mengangkat tangannya dan berbicara. “Masalahnya udah kelar, orang yang ngomel juga udah cukup. Jadi tahan, gak usah ikutan ngomel juga, oke,” Ujar Bianca sambil menatap Zayn berharap. “Dasar artis aneh!” cerca Zayn sambil menatap Bianca tajam. “Aneh aneh juga adek Abang. Sedarah, jadi gak usah menghina deh.” Ujar Bianca mengingatkan hubungan kekeluargaan keduanya membuat Zayn tak mampu berkata-kata lagi. “Baru pulang lo?” tanya Rezvan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. “Haa? Iya, habis rapat sama client.” Ujar Zayn saat mengalihkan pandangannya dari Bianca. “Ohh..” “Papa!” teriak seorang bocah perempuan dari ujung tangga. “Hai anak cantik..” sapa Zayn dnegan senyum lebar. Raffa berlari ke arah Zayn. Maurice Raffa Zachary adalah putri sematawayang Zayn dan Clarissa, satu-satunya manusia yang mampu bersaing dengan Bianca di keluarga mereka. Satu-satunya manusia yang mampu menggeser Bianca dari kursi kasta tertinggi di keluarga mereka. “Papa baru pulang?” tanya Raffa saat Zayn menggendongnya. “Iya sayang, kamu udah mandi?” tanya Zayn dengan tatapan yang penuh kelembutan. Raffa mengangguk pelan dengan senyum yang tak kalah lebar. “Udah dong, masa papa gak tau! Laffa udah wangi tau.” ujar Raffa lucu. Laffa adalah panggilan yang disebutkan Raffa untuk dirinya sendiri. Raffa adalah satu dari sekian banyak manusia yang tidak bisa menyebut huruf R, dirinya selalu menggunakan huruf L untuk penyebutan yang memiliki unsur huruf R. Zayn terkekeh singkat kemudian mencium putri pertamanya itu. “Ehh iya udah wangi..” ujar Zayn memuji Raffa yang sedang senyam-senyum malu. “Kasih tau Raffa siapa yang mandiin.” ujar Bianca dengan nada bangganya. Raffa bergumam singkat, wajahnya menunjukkan ekspresi berfikir. “Emang siapa yang mandiin hm?” tanya Zayn tak sabar menunggu jawaban dari putrinya. “Laffa mandi cendili..” ujar Raffa dengan nada cadelnya yang lucu. “Dih bohong, Tyca yang mandiin kok.” ujar Bianca tak terima hasil kerjanya setengah jam yang lalu. “Beneran Tyca yang mandiin?” tanya Zayn dengan tatapan lembut pada Raffa. “Sttt jangan akui papa. Nanti Tyca seneng kalau di puji,” ujar Raffa sambil berbisik pada Zayn. Bianca hanya bisa mengendus kesal, seperti yang disebutkan hanya Raffa manusia yang berani melawannya. “Bagus Tyca sayang keponakan ya Raffa kalau enggak udah gak tau bentuk kamu gimana sekarang,” ujar Bianca dengan nada kesal. “Ehhh ada om ganteng..” ujar Raffa saat matanya tak sengaja bertemu pandang dengan Rezvan yang tengah jengah dengan posisinya. “Hai anak cantik.” sapa Rezvan sambil tersenyum pada Raffa. “Dihh centil banget.” Ujar Bianca. “Sttt Tyca nda boleh ili.” Ujar Raffa dengan wajah polos nan lucu. “Ajaran siapa kayak gitu Raffa?” tanya Bianca kesal. “Papa, Laffa mau sama om ganteng..” ujar Raffa mengabaikan pertanyaan Bianca. Zayn menurunkan Raffa dari gendongannya. Kemudian Raffa mendekat pada Rezvan. “Hai om ganteng.” Sapa Raffa tepat di depan Rezvan. Rezvan tersenyum tipis pada Raffa. “Hai juga anak cantik," balas Rezvan. Raffa menangkup wajahnya dengan tangannya sambil malu-malu. Bianca menatap horror keponakannya itu. “Abang, hati-hati..” ujar Bianca sambil menoleh pada Abangnya. Zayn bergumam bingung, hati-hati apa yang dimaksud adiknya itu. “Jagain tuh anak gadis bener-bener. Biar gak jadi cabe-cabean kalau udah gede.” Ujar Bianca sambil menatap Raffa dengan tatapan prihatin. “Cabe-cabean apa Tyca?” tanya Raffa sambil menatap Bianca polos. “Kayak Raffa sekarang, genit.” Ujar Bianca tanpa beban. “Bian.” tegur Zayn. “Papa?” panggil Raffa. “Enggak Raffa gak genit..” ujar Zayn lembut. “Om ganteng.” panggil Raffa menatap Rezvan. Rezvan bergumam lembut, sangat berbeda saat dia bergumam menjawab Bianca. “Laffa genit ya?" tanya Raffa. Rezvan yang bingung harus menjawab apa menoleh pada Bianca dan Zayn bergantian guna meminta pertolongan. Namun bukannya mendapat jawaban dia malah semakin bingung dibuat oleh 2 kakak beradik ini. Bianca menganggukkan kepalanya sedangkan Zayn menggelengkan kepalanya. “Om ganteng.” Panggil Raffa lagi. “Enggak kok..” jawab Rezvan. Bianca memutar matanya malas, Rezvan benar-benar pria tua yang tidak seru baginya kini. “Tapi om ganteng, genit itu apa?” tanya Raffa lagi. Rezvan menggaruk alisnya. “Tapi Raffa.” ucap Bianca menolong Rezvan dari kebingungan yang disebabkan oleh Raffa. “Tapi apa Tyca?” tanya Raffa sambil menoleh pada Bianca. “Om ganteng ini harus pergi nganter Tyca pulang.” Ujar Bianca dnegan nada yang sama dengan yang digunakan Raffa. Rezvan menoleh pada Bianca cepat, dia tidak salah dengar bukan jika wanita yang terlihat sangat ogah menikah dengannya itu memuji dia dan mengatakan jika dia ganteng? "Tyca mau pulang ke rumah Nena ya?” tanya Raffa menatap Bianca. "Iya, Nena nyuruh Tyca pulang.” “Kenapa harus sama om ganteng?" tanya Raffa tak melepas tatapannya dari Bianca. "Oh iya Tyca kan nda bisa bawa mobil sendiri kayak papa,” ujar Raffa polos tanpa sengaja mengejek Bianca. “Raffa.” Tegus Bianca kesal. “Kan Laffa bener Tyca, emang Tyca bisa bawa mobil kayak papa?” tanya Raffa tak mau disalahkan. “Terserah Raffa deh," ujar Bianca menghela nafas panjang. Dia harus pasrah akan kekalahannya lagi. “Tyca." “Iya?” “Boleh gak pulangnya nanti aja?" tanya Raffa. “Kenapa? Raffa masih kangen Tyca?” tanya Bianca sambil menatap Raffa lembut. “Bukan. Raffa mau main sama om ganteng dulu..” ujar Raffa jujur. “Pfftt..” Clarissa menahan tawanya sambil menutup mulutnya dengan tangannya. “Jangan ketawa kak Rissa..” kesal Bianca. “Anak cantik mau main apa?” tanya Rezvan pada Raffa mengabaikan Bianca yang sedang kesal. “Hm. Mama, Raffa boleh bawa om ganteng ke tempat main Raffa gak?” tanya Raffa sambil menatap harap Clarissa. Clarissa menatap Rezvan singkat. “Boleh Raffa, bawa aja.” ujar Bianca mengabaikan tatapan Zayn dan Clarissa. “Oke Tyca, ayok om ganteng ikut Raffa,” ajak Raffa dengan senyum sumringahnya. Raffa menarik Rezvan untuk berdiri dari duduknya. Mau tidak mau, Rezvan mengikuti kemauan Raffa. Bianca melihat kedua orang tersebut sembari melambaikan tangannya. “Heeh, mama nya itu kakak bukan kamu.” Ujar Clarissa tidak terima atas izin yang diberikan oleh Bianca. “Mama nya lama sih jawabnya.” “Gak mau ikut sama mereka Bian?” tanya Zayn setelahnya. “Enggak. Kalau aku ikut juga, gunanya iyain mau Raffa buat apa?” tanya Bianca dengan wajah polos tak berdosa. “Wahhh Raffa dijadiin alat." “Aji mumpung sesekali gak papa kak. Habis CEO galak itu bacot mulu dari tadi. Bian capek banget dengernya, pusing.” Adu Bianca dengan wajah memelas. “Bacot soal berita kamu?” tebak Zayn. “Hmm enggak, tapi itu jadi salah satu referensi marahnya," ujar Bianca mengingat hal yang membuat Rezvan mengomel tak habis-habis padanya. “Hobi bikin masalah sih!” “Ihh dibilangin jangan ngomel!” kesal Bianca mengingatkan. “Sekali lagi ada berita kayak gitu Abang bakal batalkan kontrak eksekutif kamu sama agensi.” Ujar Zayn mengancam Bianca. “Kok!” “Jangan ikut-ikutan bikin sensasi!” perintah Zayn tegas. “Iya iya!!” “Setelah nikah sama Rezvan gak ada jadi artis lagi!” ujar Zayn membuat Bianca menatapnya kesal. “Abang!” “Basic kamu penyanyi bukan akting gak jelas Bian, kalau itu konser dan nyanyi silahkan. Tapi kalau akting dan film no, say good bye sama dunia kamu itu.” Jelas Zayn dengan nada tegas. Bianca mengendus kesal. Selain Mama Sheila, Zayn juga sangat membenci profesi Bianca di dunia entertainment. Namun Zayn memiliki alasan yang berbeda, Zayn berharap jika Bianca bisa bergabung dengannya di perusahaan dan membantunya. “Abang rasa Rezvan bisa menyanggupi berapapun bulanan yang kamu minta nanti setelah menikah.” Ujar Zayn mengabaikan wajah kesal yang ditampakkan Bianca. “Abang, Bian gak harus ngulang ini berkali-kali kan?” tanya Bianca jengah. “Cukup jangan ulangi hal kayak gini lagi.” Ujar Zayn tegas tak mau dibantah dengan alasan apapun. Bianca menghela nafas panjang. “Iya oke. Cuman nyanyi gak yang lain.” pasrah Bianca. “Sana liat Raffa main apa sama Rezvan.” Perintah Zayn pada Bianca. “Kenapa gak Abang aja? Kan temen Abang!” “Calon suami kamu!” “Kak Rissa..” “Ya?” “Orang-orang pada banyak makan cabe ya hari ini?” tanya Bianca asal. “Hm?” gumam Clarissa dengan wajah bingung. “Mulutnya itu loh pada pedes pedes banget kayak mie sedap iklan Siwon!” ujar Bianca tak kalah asal dari sebelumnya. Clarissa hanya menggaruk alisnya pelan. Bingung harus menjawab apa ucapan Bianca itu. “Di sini gak asik! Mau gangguin Raffa ahh,” ujar Bianca sambil berdiri dari duduknya. “Jangan dibikin nangis Bian!” peringat Zayn. “Gak janji.” Ujar Bianca sebelum beranjak dari tempatnya keruang main Raffa. Di ruangan mainnya, Raffa sedang mendengarkan Rezvan bercerita. Keduanya terlihat sangat akur, sangat berbeda jika Bianca dan Raffa hanya berdua. Tanpa disengaja, ujung bibir Bianca tertarik keatas membentuk senyum. “Tyca?” panggil Raffa saat melihat Bianca di ambang pintu ruang bermainnya. Rezvan mengehentikan dongengnya dan menatap Bianca yang tengah memperhatikan dirinya dan Raffa dari ambang pintu. Bianca berdeham pelan sebelum masuk lebih dalam ruangan main Raffa. “Raffa ngapain?” tanya Bianca lembut. “Laffa lagi dibacain dongeng sama om ganteng. Tyca tenapa tecini?” tanya Raffa seakan tidak suka dengan kedatangan aunty nya. “Mau ngajak om ganteng pulang.” “Yahh Tyca!” desis Raffa kecewa. “Nanti kemalaman sayang. Kasihan om nya pulang nya malam.” ujar Bianca memberi penjelasan pada Raffa. “Tapi tan Laffa mau main sama om ganteng..” ujar Raffa pelan. “Nanti kalau libur panjang Tyca ajak main deh Raffa.” ujar Bianca memberi penawaran pada Raffa. Mata Raffa berbinar saat mendengar tawaran yang diberikan Bianca, berbanding terbalik dengan mata Rezvan yang dingin. “Sama om ganteng juga?” tanya Raffa semangat. “Hm?” gumam Bianca bingung. “Iya sama om juga.” Ujar Rezvan sambil menutup buku dongeng dan menatap Rafffa. Bianca menaikkan alisnya sambil memperhatikan dua manusia yang selalu siap untuk baku hantam dengannya. “Ya udah deh kalau gitu, tapi janji ya om ganteng.” ujar Raffa menyodorkan kelingking mungilnya kearah Rezvan. “Iya janji.. “ ujar Rezvan sambil mengaitkan kelingking mungil Raffa dengan kelingkingnya. “Bikin aja janji berdua, anggap nyamuk aja gua gapapa.” Kesal Bianca dalam hati. “Tyca..” panggil Raffa. “Iya Raffa..” “Nih bawa om gantengnya pulang, nanti talau libur panjang tecini lagi ya om ganteng," ujar Raffa membuat Bianca geram dengan bocah itu. “Iya anak cantik," jawab Rezvan. “Ayok kak.” Ajak Bianca dnegan nada kesal. “Tapi Tyca---- “Apalagi Raffa?” “Anterin Raffa ke papa dulu dong.” Ujar Raffa dengan wajah polos tak berdosa. “Ayok buruan," ajak Bianca cepat. Raffa berdiri dari duduknya sambil tersenyum lebar. Raffa berlari kearah Bianca dan menggenggam tangannya Bianca. “Ayok om ganteng juga..” ujar Raffa sambil menyodorkan satu tangannya yang masih menganggur. Rezvan menyambut tangan Raffa dan menggenggamnya. Ketiganya berjalan kearah ruang tamu dimana papa dan mama Raffa berada. Clarissa yang melihat ketiganya langsung menepuk lengan suaminya. Zayn mengernyit bingung dengan pemandangan yang ada di depannya. “Lo berdua latihan punya anak?” tanya Zayn saat melihat Bianca dan Rezvan yang saling menggenggam tangan mungil Raffa seperti keluarga kecil yang bahagia. Bianca dan Rezvan kompak memberikan tatapan tajam untuk Zayn. “Punya anak? hahahaha. Minta disembelih bapak anak satu ini kayaknya.” Tolak Bianca tak terima. “Anak lo yang buat kayak gini!” ujar Rezvan juga tak terima akan pernyataan Zayn. “Kompakan lagi gak terimanya gue liat.” Ujar Zayn semakin menggoda teman dan adik bungsunya. “Abang.” “Papa, Tyca cama om ganteng janji mau ngajak Raffa jalan-jalan.” ujar Raffa saat tiba dihadapan Zayn. “Tyca gak ada janji.” Ujar Bianca tak terima. “Tyca..” rengek Raffa. “Tadi janjinya bukan sama Tyca kok, gak ada tuh yang kelingking Tyca janji,” tambah Bianca tak perduli rengekan Raffa. “Papa Tyca jahat..” adu Raffa pada Zayn. “Bianca.” “Sumpah Bian gak ada janji.. Kak Rezvan tuh yang janjian sama Raffa.” ujar Bianca melempar kesalahan pada Rezvan. “Kalian berdua bukannya sepaket?” tanya Zayn membuat Bianca mendelik tajam padanya. "Dikata sendal apa sepaket berdua.” Kesal Bianca. “Kalau udah diomongin ke Raffa diturutin.” Ujar Zayn menghiraukan penolakan Bianca. “Dengerin kata papa Tyca.” ujar Raffa tegas. “Terlihat sekali anak bapak Zyan nya ya Raffa, suka memberi perintah." “Bianca.” tegur Zayn sekali lagi. “Iya nanti kapan-kapan!” ujar Bianca mengalah. “Kalau libur Tyca.” Ujar Raffa memastikan. ”Kalau libur panjang Raffa sayang," timpal Bianca. “Huuuhh tercerah Tyca deh!” Bianca tak menimpali ucapan Raffa, dia hanya menghela nafas panjang melihat keponakannya itu. Kalau kata mamanya Raffa itu sangat mirip dengannya saat kecil. Suka memerintah dan suka ngeyel kalau dibilangin sama orang tua. “Ya udah deh, Bian mau pulang ya kak, bang.” Pamit Bianca. “Kok pulang? Emang kamu bisa keluar?” “Disuruh mama pulang, sama kak Rezvan.” “Ohh, berarti gak harus nawarin makan malam kan?” tanya Zayn. “Dasar CEO pelit! Kak Rezvan buruan!” kesal Bianca mengajak Rezvan. Rezvan hanya diam sambil menaikkan alisnya. “Jangan ngajak debat, ada anak kecil di sini.” Ujar Bianca mengingatkan posisi Raffa yang menatap Rezvan penuh cinta. “Turutin Van, sebelum lo ditelan.” Ujar Zayn mendukung Bianca. “Abang!” “Ada anak kecil di sini, jangan ngomel-ngomel.” Bianca menghentakkan kakinya sambil berlalu keluar. “Tyca tayak anak kecil deh.” Ujar Raffa sambil menggelengkan kepalanya. “Anak kecil ngatain orang dewasa kayak anak kecil?” tanya Rezvan sambil menatap Raffa dnegan tatapan tak percaya. “Lo bakal liat lebih parah kalau tinggal di sini sehari aja.” Ujar Zayn membuat Rezvan semakin melongo. "Ya udah gua pulang ya.” Pamit Rezvan setelah menormalkan ekspresi wajahnya. “Hati-hati bawa adek gua!” perintah Zayn tegas. “Gua bawa nyawa gua juga btw.” “Alibi diterima..” Setelah hampir mengumpat dengan sempurna di hadapan Raffa, Rezvan beranjak pergi dan keluar menyusul Bianca. “Lama lo kak! Buka mobilnya buruan!” perintah Bianca dengan wajah kesal. “Anka.” “Apa?!” “Lo waktu kecil makan mesin?” “Haa?” tanya Bianca sambil menatap bingung Rezvan. “Gua heran, di saat salah pun bisa-bisanya lo masih ngegas!” ujar Rezvan datar. Bianca menatap Rezvan kaget. “Lo barusan ngapain kak?! Sumpah gua gak bohong lo aneh kalau ngomong kayak gitu!!” ujar Bianca jujur. Rezvan membuka pintu mobilnya. “Masuk lo!” perintah Rezvan dengan kesal. “Lo gak lagi malu kan ini kak?” tanya Bianca menggoda Rezvan. “Masuk Anka!” “Sumpah kak lo lagi malu ini?” “Gak masuk gua tinggal!” ancam Rezvan. Dengan cepat Bianca masuk ke dalam mobil Rezvan. Di dalam, Bianca mengeluarkan masker mulut yang sudah disiapkan sebelumnya. Bianca harus memakai masker bahkan topi untuk menutupi dirinya saat ini. Dia belum siap kalau harus ketahuan oleh paparazi sedang bersama Rezvan yang notabenenya adalah Abang Dylan. Abang dari pria yang tadi bahkan saat ini sedang digosipkan dengannya. “Kak lo punya topi gak?” tanya Bianca sambil menatap Rezvan. “Untuk?” “Dipake lah yakali buat gue cemilin!” “Lo liat aja di belakang.” Bianca menoleh kebelakang dan memperhatikan kursi belakang. “Kak, topinya diujung tangan gua gak nyampe.” Ujar Bianca dengan suara tertahan. “Usaha Anka.” “Gak bisa kak! Gak liat ini susah banget!” ujar Bianca berusaha menggapai topi. Rezvan menoleh pada Bianca yang sedang berusaha meraih topi. Rezvan menghela nafas panjang melihat tingkah Bianca. Dengan malas, Rezvan membantu Bianca mengambil topinya. Setelah mendapatkan topi itu Rezvan memberikannya pada Bianca. Namun sesuatu hal terjadi, wajah Bianca dan Rezvan berada sangat dekat, manik mata Rezvan mengunci manik mata Bianca. Keduanya saling diam seakan-akan keduanya sedang menyelami pikiran masing-masing melalui tatapan mata mereka. Tok..Tok..Tok. Jendela mobil Rezvan diketuk dari luar. Tautan mata keduanya terputus. Bianca berusaha menormalkan dirinya, agar tidak terlihat gugup. Sedangkan Rezvan berbicara pada orang yang mengetuk kaca mobilnya, dia adalah satpam yang menjaga kediaman Zayn dan Clarissa. “Kenapa harus tatapan coba! Namaste, tenang Bianca.” Batin Bianca mencoba bersikap normal. “Langsung pulang ke rumah lo?” tanya Rezvan dengan nada datar tanpa rasa gugup sama sekali. “Hm? Ahh iya langsung ke rumah, gua gak gila keluyuran sama lo.” Ujar Bianca santai. Rezvan berdecak sebal sambil menghidupkan mobilnya dan mulai menjalankannya, meninggalkan pekarangan rumah Zayn. Selama diperjalanan dari rumah Zayn sampai Rezvan memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu rumah orang tua Bianca keduanya hanya diam tanpa bersuara. “Salam sama mama lo.” Ujar Rezvan sambil menatap Bianca yang sedang bersiap untuk turun. Bianca menoleh pada Rezvan, “Lo gak masuk Kak?” tanya Bianca. “Enggak.” “Kenapa?” “Lo mau gua masuk?” tanya Rezvan masih dengan wajah datar. “Enggak.” “Ya udah.” “Terus gua bilang apa sama mama?” tanya Bianca setelahnya. Rezvan hanya menggedikkan bahunya singkat. “Kak, masuklah. Gua malas dengar mama ceramah lagi.” Pinta Bianca memelas. “Perduli apa gua?” acuh Rezvan sambil menatap lurus stir mobilnya. “Kak Rezvan!” “Tolong.” Ujar Rezvan singkat. “Haa?” tanya Bianca dengan wajah bingung. “Kalau minta sesuatu sama gua pakai kata tolong.” ujar Rezvan tegas. “Kak." “Buruan turun. Gua mau pulang." “Tolong.” Ujar Bianca mengalah. “Tolong apa?” tanya Rezvan. “Masuk bareng ke dalam bareng gua.” Ujar Bianca malas. Rezvan menatap Bianca dingin. “Tolong kak.” Ujar Bianca lagi. Rezvan hanya diam tak menggubris ucapan Bianca. “Kak Rezvan..” Rezvan mematikan mobilnya. “Buruan turun.” ujar Rezvan. “Hm?” gumam Bianca bingung. “Gak mau turun Anka?” tanya Rezvan sambil menatap Bianca yang masih menatap Bianca bingung. “Mau.” ujar Bianca sambil menganggukkan kepalanya. “Ya udah buruan turun..” ujar Rezvan lagi. “Kakak juga kan?” tanya Bianca memastikan. “Iya Anka.” Ujar Rezvan malas sambil membuka pintu mobilnya dan turun. Bianca tersenyum menang sambil ikut keluar bersama Rezvan Setelahnya keduanya turun dan masuk ke rumah bersama. To be continue..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN