4

2862 Kata
Kembali ke saat ini. Saat dimana Mama Bianca mengintrogasi Bianca. “Siapa Rezvan Resgiantana?” tanya Sheila tak gentar dengan wajah memelas Bianca. Bianca menghela nafas panjang, kali ini Bianca sadar jika dirinya tidak akan menang melawan mamanya. Apalagi jika mamanya kini sudah dikuasai amarah akan berita tentang dirinya dan Dylan. “Dijawab pertanyaan Mama Bianca!" “Tunangan Bian ma.” “Bagus kamu mau mengakui itu saat ini. Tapi kenapa kamu main-main Bian dengan ini?” tanya Sheila menatap Bianca. “Enggak mama.” ujar Bianca. “Jadi kenapa harus ada berita tentang kamu dan Dylan?!” tanya Mama Sheila dengan perasaan kesal yang menggebu-gebu pada Putrinya itu. “Ma jangan marah-marah.” ujar Clarissa lembut mengingatkan Mama Sheila. “Kali ini gak bisa Rissa, mama gak tahan untuk gak marah-marah kalau udah kayak gini.” Ujar Mama Bianca dengan kesalnya. “Ma beritanya bakal turun nantinya.” Ujar Bianca menjelaskan. “Tapi akan selalu jadi bahan omongan Bianca! Ini yang mama gak suka sama dunia keartisan kamu! Terlalu banyak gimik dan sensasi!” cerca Mama Sheila berapi-api. “Mama..” “Kenapa harus kayak gini sih?! Dan juga kenapa harus Dylan? Dylan itu calon ipar kamu!” cerca Sheila. “Bukannya itu lebih bagus ma?” tanya Bianca tanpa rasa bersalah. “Bian.” Tegur Clarissa. “Bener kak, kan gak susah buat kesepakatan bersama. Dia akan jadi ipar Bian nantinya.” Ujar Bian polos tak mengerti situasinya saat ini. “Astaga Bian. Mama masih gak habis pikir sama kamu!” geram Mama Sheila. “Kenapa?” tanya Bianca polos. “Setelah konser kamu itu, mama mau kamu pensiun jadi artis!” perintah Mama Sheila dengan geramnya. “Gak mau mama!” tolak Bianca tegas. “Mama gak sanggup Bian kalau harus mendengar omongan orang tentang ini..” ujar Mama Sheila bertahan dengan kemauannya. “Gak perlu di dengar mama..” balas Bianca. “Mama bukan kamu! Yang bisa masa bodo sama omongan orang lain!” sahut Sheila tak sanggup menahan kekesalannya. “Kak Rezvan juga pasti masa bodo ma soal ini," ujar Bianca membela diri. “Bianca!” “Oke oke," ujar Bianca pasrah. “Sekarang mama tanya kamu deh, kamu mikir gak gimana omongan orang nantinya?! Kamu punya scandal sama calon adik ipar kamu sendiri!!”omel Mama Sheila tak ada akhir. “Hm, adik ipar ya. Dylan bahkan lebih tua dari Bian umurnya," sanggah Bianca sambil tersenyum kikuk membuat Mama Sheila kembali menatap tajam putri bungsunya itu. “Ma gak usah dipikirin omongan orang, anggap aja angin lalu. Yang penting itu mama tau gimana kejadian sebenarnya,” jawab Bianca mengabaikan tatapan tajam Mama Sheila padanya. “Mama tanya sekali lagi kau mikir gak gimana omongan orang nantinya?! Ketika kamu harus wawancara perihal pernikahan kamu dengan Rezvan?!" tanya Sheila lagi. Bianca diam, dia tidak tau apa jawaban yang pas untuk menenangkan Mamanya ataupun untuk menjawab keraguan hatinya saat ini. Meski dia tak merasa bersalah untuk hal ini saat ini namun tidak tau nanti saat dia berada di hadapan para wartawan. “Mungkin iya masalah ini udah turun, tapi orang akan mengulik lagi Bianca! Orang-orang akan kembali berkomentar tentang hal ini. Kamu mau nanti disebut piala bergilir?! Kamu mau dibilang murahan karna pacaran sama dua kakak beradik?!” ujar Mama Sheila berapi-api. “Ma," panggil Bianca. “Kamu gak tau apa yang akan orang katakan tentang kamu!! Kamu gak berhadap langsung dengan orang yang ngomongin kamu!! Tapi mama, papa, bang zayn, kak Rissa, kita gak bisa gak denger itu.” cerca Sheila mengeluarkan unek-uneknya. “Ma, itu cuman akan jadi gosip. Cuman isu aja ma, agensi aku dan Dylan gak akan ngasih jawaban apa-apa, semua akan jadi angin lalu.” terang Bianca. “Bagi kamu! Enggak bagi orang-orang di luar sana!” jawab Mama Sheila dengan emosi nya yang mengebu-gebu. Bianca kembali terdiam. Dia sudah benar-benar kalah argumen dengan Mama Sheila. Ucapan Mama Sheila sepenuhnya benar. “Ma udah ya na, nanti tensi mama naik kalau marah-marah.” ujar Clarissa berusaha menenangkan mertuanya. “Klarifikasi saat ini juga kalau kamu gak ada hubungan apapun!” perintah mama Sheila lagi. “Ma." “Sekalian kamu umumkan perihal pertunangan kamu dengan Rezvan,” ucap Mama Sheila masih dengan kekesalannya. “No mama!” tolak Bianca tegas. Sheila menatap Bianca menyelidik. “Kamu gak suka sama Dylan kan Bianca?!” tanya Mama Sheila dengan tatapan menyelidik. “Astaga enggak mama, kenapa jadi mikir ke situ coba?" jawab Bianca. “Jadi kenapa kamu sesusah itu untuk klarifikasi hubungan kamu sama Dylan?!” tanya Mama Bianca telak. “Oke oke. Bian minta kak Radit untuk klarifikasi hal ini.” Ujar Bianca mengalah pada Mama Sheila. “Sekarang!” “Iya mama. Chill, jangan marah-marah.” ujar Bianca berusaha menenangkan Mamanya. “Gimana mama gak marah coba kalau kayak gini!! Mama sama Papi kamu bisa memenuhi semua yang kamu mau, kenapa kamu harus jadi artis!” omel Mama Sheila untuk yang kesekian kalinya. “Ma, Bian gak mau ngomongin ini berkali-kali soal ini,” ujar Bianca serius. “Mama juga capek nyadarin kamu berkali-kali!!” “Oke ma. Tahan, jangan marah-marah. Tarik nafas buang, tarik nafas buang,” ujar Bianca sambil mempraktekkan pernafasan. “Gak usah mengalihkan pembicaraan, buruan kamu hubungin Radit sekarang!” perintah Mama Sheila lagi. “Astaga, iya mama galak banget sih.” ujar Bianca sambil mengambil ponsel miliknya dari dalam tas. Bianca langsung menghubungi Radit, manajernya. On the phone. “Halo Bian.” sapa Raditya di ujung telpon. Raditya adalah manajer Bianca sejak awal debut Bianca, Radit adalah orang yang mengurus segala urusan Bianca. Selain menjadi manager Bianca, Radit adalah teman Zayn, Abang Bianca dan juga teman dari Rezvan tunangan Bianca. “Hm kak.” “Kenapa Bian?” tanya Radit. “Ini kak, gua mau ngomong." “Ngomong apa? Ehh tapi bentar, gua lupa ngabarin Bian, jadwal lo udah di cancel untuk hari ini. Karna berita tentang hubungan lo dan Dylan itu.” Jelas Radit panjang lebar. “Nah itu kak,” ujar Bianca sambil menjentikkan tangannya. “Itu apa?” tanya Radit bingung. “Bian mau ngomong itu." “Tentang beritanya? Kenapa?” tanya Radit dengan nada bingung. “Tolong kasih statemen ke wartawan, kal---- “Lo gak mau bikin ini tambah heboh kan Bianca?!” ujar Radit memotong ucapan Bianca. “Haa? Bukan-bukan.” elak Bianca cepat. “Bianca!” Tegur Mamanya. Bianca menoleh sejenak pada mamanya. Tatapan mamanya kini jauh lebih tajam dari pada tatapan Rezvan calon suaminya. “Jadi kenapa?” tanya Radit. “Tolong kasih statement kalau kami berdua gak ada hubungan apapun. Hanya teman dan rekan kerja," ujar Bianca mantap. “Loh loh kenapa?” tanya Radit semakin bingung. “Biar gua gak pensiun kak.” ujar Bianca pelan sedikit berbisik. “Mama kamu marah?” tebak Radit tepat sasaran. “Yashh tepat sekali, seratus untuk anda." “Tapi kan keluarga dylan bukan main-main Bian. Siapa tau bisa lanjut jadi pacar Bian. Lagian Zayn juga temenan sama Rezvan kan.” Ujar Radit beruntun. “Masalahnya itu---- “Apa?” tanya Radit memotong ucapan Bianca. Bianca diam sejenak, memberitahu bahwa dia sudah dijodohkan dengan kakak dari laki-laki yang ada dalam pemberitaan dengannya. Itu adalah hal yang tidak akan dilakukan Bianca saat ini. Dia sudah bertekad untuk merahasiakan itu sampai berapa waktu. “Pokoknya kasih statement-nya sekarang juga kak. Please mohon banget.” ujar Bianca sambil melihat Mama Sheila dari ekor matanya. “Oke-oke. Don't worry." balas Rezvan. “Thanks kak..” ujar Bianca memelas. “No, gak perlu pakai thanks thanks segala. Kamu istirahat aja hari ini. Besok kakak kabarin lagi kalau ada jadwal.” Ujar Radit santai. “Oke." “Bye Bianca..” “Bye kak." ujar Bianca lalu menutup sambungan telpon dan meletakkan ponselnya ke kursi sambil menatap mamanya. “Udah ma, mama tunggu aja beritanya." ujar Bianca pelan. Sheila hanya diam. “Ma..” panggil Bianca. “Oke, jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi. Mama gak mau dengar kamu diberitakan dengan siapapun kecuali Rezvan.” ujar Mama Sheila. Bianca menghela nafas panjang. “Iya mama..” pasrah Bianca. “Kalau sampai mama dengar ini lagi, mama akan rilis tentang pertunangan kamu sendiri tanpa bertanya sama kamu lagi,” Ancam Mama Sheila dengan nada mantap. “Iya mama." “Yasudah sana kamu katanya mau pergi." “Gak jad--- Ucapan Bianca terputus saat ponselnya berdering. Tertera nama "CEO GALAK!" dilayarnya. Yap itu adalah Rezvan, tunangannya. “Siapa yang nelpon?” tanya Mama Sheila berusaha mengintip. Bianca menoleh pada Mama Sheila sambil bergumam panjang. “Itu telponnya diangkat.” Perintah Mama Sheila sambil menunjuk ponsel Bianca yang berdering. Dengan malas Bianca mengangkat telponnya. On the phone. “Hal---- “Lo di mana?” sambar Rezvan saat Bianca mengangkat telponnya. Rezvan bertanya dengan nada bicara seperti biasa, namun kali ini sedikit lebih dingin dari sebelumnya. “Di--- “Di mana Anka?” tanya Rezvan memotong ucapan Bianca lagi dengan nada berat dan dingin dari Rezvan membuat Bianca takut kini. Suara Rezvan terlalu berat dan mengintimidasi. “Di rumah bang Zayn.” Ujar Bianca lemas. “Tunggu di situ, jangan pergi kemana-mana.” Perintah Rezvan. “Haa? Iya.” Rezvan mematikan sambungan telponnya tanpa pamit terlebih dahulu padanya. Bianca hanya bisa mengendus kesal dan menerima dengan pasrah. “Siapa Bianca?” tanya Mama Sheila. “Rezv----- Um?? Ahh kak Rezvan ma..” ujar Bianca dengan wajah kaget. Sheila mengernyitkan dahinya melihat putri nya yang gelagapan. Memanggil Rezvan tanpa embel kak bukanlah masalah besar. Namun mengapa Bianca se-panik itu? “Beneran Rezvan kan?” tanya Mama Sheila memastikan. “Astaga mama. Iya ma, kak Rezvan.” “Hmm ya udah. Titip salam sama Rezvan nanti.” ujar Mama Sheila dengan nada lembut berbeda saat Mamanya itu marah padanya. “Mama mau kemana? Kenapa gak salam sendiri aja?" tanya Bianca bingung. “Pulang lah. Raffa lagi sekolah, buat apa mama di sini lama-lama," jawab Mama Sheila enteng. “Kalau tau Raffa sekolah ngapain mama ke sini?” ujar Bianca asal. “Menurut kamu mama bisa diam di rumah dengan keadaan berita seperti ini?!” tanya Mama Sheila sudah mulai akan mengomel lagi. “Chill mama chill. Jangan teriak-teriak.” ujar Bianca sambil cengengesan. “Nanti minta Rezvan ngantar kamu pulang..” perintah Mama Sheila. “Tap--- “Ssshh..” ujar Mama Sheila memotong gerakan komplain Bianca. “Iya ma iya," pasrah Bianca lagi. Clarissa yang sedari tadi melihat mertua dan adik iparnya bicara sekaligus adu mulut hanya bisa menggelengkan kepalanya. Setelah berpamitan dengan Clarissa, Sheila pun pulang. Tak lama dari keluarnya mama Bianca, teriakan nama Bianca kembali bergema. “Anka!” teriak Rezvan sambil berjalan masuk ke dalam rumah Zayn. Bianca menghela nafas panjang. Seandainya dia tau begini akhirnya dia akan menolak rencana yang dibuat pihak manajemen untuknya. “Keluar dari kandang macan, masuk kedalam kandang buaya..” sesal Bianca dengan nada pasrah. “Makanya jangan jadi artis.” Ujar Clarissa. Bianca hanya bisa mengendus kesal. “Anka.” Panggil Rezvan lagi. Bianca menoleh pada Rezvan yang sudah ada di depannya dengan malas. “Iya kak? Kenapa?” tanya Bianca dnegan nada malas. “Hai Van..” sapa Clarissa. “Ehh Sa hai.” balas Rezvan sambil menoleh pada Clarissa. “Mau ngomel atau mau ngapain?” tanya Clarissa to the point. Rezvan menaikkan alisnya. “Kalau mau ngomel, gua mau masuk kamar. Gua capek dengar omelan untuk calon istri lo ini. Gua udah hapal juga apa yang akan jadi bahan omelan lo.” Ujar Clarissa dengan nada santai. Rezvan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Rezvan bingung harus menjawab apa pada istri temannya dan juga kakak ipar calon istrinya ini. Sejujurnya dia ingin mengomeli Bianca habis-habisan namun dia merasa jika dia tak mungkin mengatakan hal itu secara gamblang. “Mau ngomel kayaknya, kalau begitu selamat mengomel bapak Rezvan. Gua tinggal ya, enjoy ngomelnya.” ujar Clarissa sambil berdiri dari duduknya. “Kak Rissa,” panggil Bianca dengan wajah memelas. “Bye Bian. Kalau gak sanggup lambaikan bendera putih ke cctv. Semoga aja Zayn liat dan bersedia buat membantu.” ujar Clarissa sambil tersenyum pada Bianca dengan tangan yang menunjuk cctv. Clarissa senyum singkat sebelum akhirnya beranjak pergi ke kamarnya. Bianca hanya bisa meratapi kepergian kakak iparnya itu. “Gak usah gitu muka lo.” Ujar Rezvan dingin. Bianca menoleh pada Rezvan. Tidak banyak yang berubah dari seorang Rezvan. Wajah tegasnya masih menunjukkan tatapan tajam. Namun bukankah dia memang selau begitu meski marah atau tidak? Seharusnya itu bukan hal yang menakutkan bukan? “Mau ngomel apa lo?!” tanya Bianca dengan nada kesal. Rezvan menaikkan alisnya. Bukankah dia yang seharusnya marah? Mengapa pelaku yang marah pada korbannya? “Gak usah nanya apa maksud gua buat berita itu. Itu bukan gua yang buat ya walaupun atas izin gua.” ujar Bianca dengan nada kesalnya. “Kenapa harus Dylan?” tanya Rezvan tak kalah kesal. “Karna dia adik lo kak. Gua sama dia satu projek film. Akan lebih mudah urusannya kalau saya Dylan.” Ujar Bianca dengan wajah tak berdosa. “Tapi gak harus dia Anka!” kesal Rezvan. “Jadi siapa?” tanya Bianca menambah kekesalan Rezvan. “Dan kenapa harus lo! Ada banyak artis di film itu, kenapa harus lo?" tanya Rezvan lagi. “Sumpah kak, gua malas banget buat berdebat kenapa harus gua bukan yang lain.” kesal Bianca. “Lo gak suka sama Dylan kan Anka?” tanya Rezvan dengan tatapan intens yang mengintimidasi Bianca. Bianca menoleh pada Rezvan dengan tatapan tidak percaya. “Serius kak? Lo nanya hal itu sama gua?” tanya Bianca membalas tatapan Rezvan tanpa rasa takut. “Iya atau enggak?! Jawab!” cerca Rezvan. “Wahhh," ucap Bianca takjub. “Bianca!” “Menurut lo gua akan sanggup tunangan sama lo disaat gua suka adik lo?” tanya Bianca kesal. “Siapa yang tau Anka. Lo bahkan sanggup untuk digosipin sama Dylan disaat Lo tunangan gua, abangnya.” Ujar Rezvan telak membuat Bianca terdiam. Bianca tersenyum miring mendengar ucapan Rezvan, tak salah yang diucapkan tunangannya itu. Namun dia hanya tidak percaya dengan pemikiran Rezvan. “Terserah lo mau mikir apa.” Pasrah Bianca. “Jawab Anka, iya atau enggak. Selagi pertunangan kita belum diumumkan ke publik. Lo bisa ganti jadi tunangan sama Dylan. Biar pemberitaan itu makin bagus," timpal Rezvan tegas. Bianca menatap manik Rezvan tajam. Tentu saja Rezvan tidak goyah, tatapan matanya jauh lebih tajam dari tatapan Bianca padanya. Namun belum sampai 5 detik bertatapan mata, Bianca sudah mengalihkan pandangannya sambil menghela nafas panjang. “Maaf,” ucap Bianca pelan sambil menundukkan kepalanya dalam. “Untuk?” tanya Rezvan dengan nada dingin. Bianca mendongakkan kepalanya dan menatap Rezvan polos tanpa menjawab untuk yang mana permintaan maaf yang diucapkannya. “Lo gak suka beneran sama Dylan kan?” tebak Rezvan dengan tatapan tajam dan nada dingin. Tatapan polos Bianca berubah seketika menjadi tatapan tajam. “Gua udah baik mau minta maaf! Malah dipancing buat marah lagi!” kesal Bianca. Rezvan menyatukan alisnya. “Gua gak suka sama Dylan! Puas lo?!” ujar Bianca sambil menatap tajam manik Rezvan. “Oohh." “Oohh?” tanya Bianca menatap tajam Rezvan. “Jadi lo minta maaf untuk apa?” tanya Rezvan mengabaikan kekesalan Bianca. Bianca menutup matanya sembari menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan. Bianca berusaha mengatur nafasnya agar amarah dan kekesalannya tidak semakin memuncak. "Namaste. Tenang Bian, sabar," ujar Bianca pada dirinya sendiri. “Anka." “Maaf karena gue udah bikin lo marah karna berita itu. Terserah lo mau marah apa enggak, gua gak perduli. Tapi maaf kalau lo harus terganggu karna masalah itu.” Ujar Bianca tulus. Rezvan merubah tatapannya pada Bianca dari tatapan tajam menjadi datar. “Gua juga udah minta manajer gua untuk buat statement kalau gua sama Dylan itu gak ada hubungan. Gua sama dia cuman teman dan rekan kerja.” Ujar Bianca memberi penjelasan. “Good.” Bianca bergumam pelan sambil menatap Rezvan, Rezvan menaikkan alisnya seakan bertanya apa dan kenapa pada Bianca yang bergumam. Bianca berdecak kesal melihat Rezvan, bahkan setelah menjelaskan ekspresinya tidak berubah. “Lo gak ke kantor kak? “ tanya Bianca mencoba mengabaikan perasaan kesal yang sudah memuncak di dalam dirinya. Rezvan melirik jam tangan nya singkat sebelum kembali menatap Bianca dan menjawab pertanyaan Bianca. “Ini gua mau pergi," jawab Rezvan dengan mata yang masih menatap jam. “Oohh. Hm kak--- keberatan gak kalau nanti sore lo ke sini jemput gua?” tanya Bianca dengan hati-hati. “Kenapa gua harus?” tanya Rezvan dengan alis yang terangkat sebelah. “Karna mama yang nyuruh! Lagi pula gua gak bisa pergi sendiri, karna berita ini.” Ujar Bianca memberi penjelasan. Rezvan menunjukkan smirk-nya. “Lo nikmati berita lo kalau gitu.” Ujar Rezvan dengan nada mengejek. “Kak!” “Gak bisa, gua sibuk.” ucap Rezvan tegas. “Nanti sore kak, habis jam kantor.” Ujar Bianca lagi. “Gua lembur hari ini.” “Ya udah sana lo pergi! Gak usah ke sini, gue batal minta tolong sama lo!” kesal Bianca. “Okay.” Ucap Rezvan santai sambil berdiri dari duduknya. Kemudian pergi setelah menatap kekesalan Bianca. “Dasar CEO nyebelin! Awas aja nanti!! Gua minta tolong sama Dylan!” teriak Bianca dengan sengaja agar laki-laki yang berstatus tunangannya itu mendengar meski dia tak perduli ucapan Bianca. To be continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN