Sudah seminggu berlalu sejak Bianca mengiyakan perjodohan yang dirancang kedua orangtuanya. Hari ini adalah hari pertemuan keluarga, demi menjaga kerahasiaan pertunangan Bianca seperti keinginan Bianca, acara pertemuan dan pertunangan ini dilakukan di hotel milik keluarga dan Bianca harus menginap di hotel tersebut sehari sebelum pertemuan itu.
“Kak Rissa.” Panggil Bianca.
“Iya?”
“Kak Rezvan datang gak hari ini?” tanya Bianca menatap Clarissa dengan wajah polosnya.
Clarissa membalas tatapan Bianca dengan kedua alis yang menyatukan. “Kenapa kamu nanya itu?” tanya Clarissa balik.
“Gak ada, mau tau aja. Siapa tau dia gak datang kan,” ujar Bianca asal.
“Gak mungkin lah dia gak datang," balas Clarissa.
“Kok gak mungkin?” tanya Bianca dengan dahi yang mengernyit bingung.
“Kamu aja yang nolak perjodohan ini aja datang masa dia yang nerima gak datang,” jawab Clarissa asal.
“Ahh, iya juga ya kak. Apalagi dia gak punya pacar, yang deket aja gak ada. Gak ada alasan sih untuk dia gak datang,” jawab Bianca asal dengan wajah polosnya.
Clarissa hanya menggedikkan bahunya.
“Terus kak siapa lagi yang datang?” tanya Bianca.
“Euum setau kakak datang semua, kecuali Dylan.”
Bianca menoleh cepat pada kakak iparnya itu.
“Kenapa Dylan gak datang?” tanya Bianca dengan wajah kagetnya.
“Ehh, kenapa kamu kaget dia gak datang?” tanya Clarissa membuat Bianca terdiam. “Kamu gak suka sama Dylan kan Bian?” tanya Clarissa lagi dengan mata menyelidik Bianca.
“Yang enggaklah kak!” jawab Bianca mantap.
“Syukurlah kalau gitu.” Ujar Clarissa lega.
“Tapi kenapa dia gak datang?” tanya Bianca masih penasaran alasan mengapa Dylan tidak ikut acara ini.
“Dari pada bahas itu mending kamu buruan kamu ganti baju sana, udah mau mulai ini.”
“Jawab dulu kakak kenapa dia gak ikut acara ini?” desak Bianca.
“Karna Dylan ada jadwal syuting Bianca Sharisse.”
Bianca menghela nafas lega, dia lega mendengar alasan tak bisa hadirnya Dylan. Setidaknya bukan karena lelaki itu menyukai dirinya.
“Kok kamu lega gitu pas tau alasannya?” tanya Clarissa dengan tatapan menyelidik.
“Enggak kok.”
Bianca berdiri dari duduknya dan pergi mengambil dress yang akan dikenakannya pada acara ini dan bersiap memakainya.
“Jangan aneh-aneh Bian.” ujar Clarissa memberi peringatan.
“Gak ada yang aneh-aneh kakak. Bian ganti baju dulu yaa," pamit Bianca masuk ke dalam kamar dan mengganti bajunya.
Suasana di kamar Bianca sangat sepi dan sunyi selama Bianca mengganti pakaiannya. Suasana kembali ribut saat Bianca berteriak memanggil Clarissa.
“Kak Rissa, sini bentar deh," panggil Bianca.
Bianca teriak dari kamarnya memanggil Clarissa, namun tidak ada jawaban. Karna tidak ada sautan, mau tidak mau Bianca keluar dari kamarnya untuk melihat Clarissa.
“Kak Ris----
“Rissa keluar.” Ujar suara bernada husky dari luar.
Bianca kaget bukan kepalang saat melihat orang yang ada di ruang tamu hotelnya. Orang itu adalah Rezvan Resgiantana, pria yang kini bertitle calon tunangannya.
“Kok kakak ada di sini?!” tanya Bianca dengan wajah kaget.
Rezvan diam tidak menjawab, tatapan mata tajamnya menatap Bianca. “Sudah siap?” tanya Rezvan dengan nada beratnya.
“Belum. Kakak belum jawab, kenapa kakak ada di sini?” tanya Bianca menatap Rezvan.
“Cepat siap-siapnya, semuanya udah nunggu.” Perintah Rezvan dingin.
“Kak.”
“Bianca Sharisse.” Tegur Rezvan dengan nada berat.
Bianca menghela nafas berat. “Kak Rissa kemana coba! Belum juga kelar udah main pergi aja! Mana gak bilang-bilang lagi kalau mau pergi!" dumel Bianca panjang lebar sambil berjalan ke kamarnya.
Rezvan hanya diam tak perduli akan omelan Bianca. Tak lama, Bianca keluar dari kamarnya.
“Kak Rezvan tolongin!” teriak Bianca tak berapa lama sembari menatap Rezvan dari ambang pintu.
Rezvan menoleh pada Bianca.
“Tutup mata!” perintah Bianca, Rezvan hanya menaikkan alisnya tanpa mengikuti perintah Bianca untuk menutup matanya.
“Tolong resleting dress-nya di tarik ke atas, tangan gue gak sampai," ujar Bianca memutar badannya.
Rezvan diam sambil berkedip beberapa kali. Di hadapannya terpampang punggung putih mulus Bianca. Tentu saja Rezvan tidak menutup matanya seperti yang Bianca harapkan. Seorang Rezvan tidak mungkin menuruti perintah orang lain.
“Kak Rezvan!!” tegur Bianca karna Rezvan tak juga mengaitkan resleting dress nya. Rezvan berdeham pelan sebelum akhirnya membantu Bianca menaikkan resleting dress-nya.
Bianca memutar badannya menghadap Rezvan. “Makasih.” Ucap Bianca pelan dan pergi sebelum Rezvan menjawab ucapannya.
Lagi pula Rezvan tidak akan menjawab ucapan Bianca. Setelah mengambil tas dan ponselnya, Bianca keluar lagi dari kamarnya.
“Pertemuannya di mana?” tanya Bianca menatap Rezvan.
“Udah siap?” tanya Rezvan tanpa menjawab pertanyaan Bianca.
“Menurut lo kak?”
Rezvan diam sambil menggedikkan bahunya.
“Buruan di mana tempat pertemuannya?” tanya Bianca lagi sembari mengambil kunci kamarnya dan beranjak ke pintu, begitu juga dengan Rezvan.
Mereka hanya diam tanpa bicara sepatah katapun saat menunggu lift terbuka. Bianca dan Rezvan masuk saat pintu lift terbuka.
“Lantai?” tanya Bianca berinisiatif untuk menekan tombol lift.
Rezvan tidak menjawab, namun tangannya menekan salah satu tombol angka tersebut. Setelahnya keduanya kembali diam.
“Anka.” Panggil Rezvan tiba-tiba.
Bianca bergumam pelan.
“Kenapa lo mau nerima perjodohan ini?” tanya Rezvan tanpa menoleh pada Bianca.
Bianca menoleh pada Rezvan.
“Bukannya seharusnya gua yang harus nanya ya kak? Lo orang pertama yang setuju. Gua yakin bang Zayn pasti udah cerita kalau gua nolak perjodohan ini," jelas Bianca.
“Karna itu gua nanya Anka. Kenapa lo akhirnya nerima perjodohan ini setelah nolak. Kenapa lo gak kekeh buat nolak perjodohan ini?” tanya Rezvan lagi.
Bianca mengedipkan matanya tidak percaya apa yang keluar dari mulut pria dingin itu.
“Dan pertanyaan gua kenapa lo nerima perjodohan ini. Kalau aja lo nolak, pasti gua gak harus jawab kak," ujar Bianca menatap tajam pria itu.
“Jawab Anka.” tegur Rezvan.
“Kenapa gak kakak duluan yang jawab, kan kakak lebih tua.” cerca Bianca tak mau mengalah pada Rezvan.
“Anka.”
“Bian, Bianca.”
Rezvan menatap Bianca sembari menaikkan kedua alisnya.
“Jangan bikin orang salah paham kalau kakak manggil gitu.” Terang Bianca ketus.
Rezvan hanya diam dengan mata yang tidak lepas dari Bianca. Keduanya kembali diam sampai pintu lift terbuka. Bianca keluar lebih dulu, namun langkahnya terhenti sebelum Rezvan beranjak keluar dari lift itu.
“Kenapa gua gak kekeh buat nolak? Karna gua gak punya kuasa lebih untuk menolak perjodohan ini. Sedangkan lo, harusnya lo bisa nolak perjodohan ini dari awal. Lo punya kuasa lebih untuk nolak perjodohan ini.” Ujar Bianca menjelaskan pada Rezvan.
Rezvan diam tidak berniat untuk menggubris ucapan Bianca, meski jawaban itu dia yang minta.
“Bianca.” panggil seseorang di saat Bianca dan Rezvan sedang bertatapan dalam keterdiaman mereka.
“Kak Aura.” Panggil Bianca lembut.
“Hai sayang.” balas Aura sambil menghampiri Bianca dan memeluknya. “Cantik banget sih kamu.” Puji Aura tulus.
“Enggak kak. Jauh cantikan kakak lah,” puji Bianca tak mau kalah.
“Enggak enggak. Cantikan kamu di atas kakak, semua orang pasti setuju itu.” ujar Aura lagi.
Aura Mahardika adalah Kakak sulung Rezvan, Aura adalah fans nomor 1 Bianca Sharisse sejak Bianca debut menjadi artis. Aura mengganti nama belakang Resgiantana nya menjadi Mahardika sejak dia menikah dengan Suaminya yang memiliki nama keluarga Mahardika.
Rezvan berdeham pelan karna merasa diabaikan oleh dua wanita yang sama-sama menyusahkan di mata Rezvan.
“Ehh Van, baru datang?” sapa Aura saat menoleh pada Rezvan.
“Kak gua di sini dari tadi.” Ujar Rezvan dengan mata yang menatap jengah Aura.
“Oh."
“Kakak datang sendiri?” tanya Bianca berusaha mengalihkan pandangan Aura padanya lagi.
“Enggak Bian, sama Damar..”
“Hmm gitu..”
“Kamu mau langsung keruang pertemuan kan?” tanya Aura pada Bianca.
“Iya kak..”
“Ya udah ayok bareng sama kakak.” Ajak Aura.
“Iya kak.” ujar Bianca tersenyum lebar sambil mengandeng tangan Aura.
Baru saja Bianca dan Aura hendak pergi, Rezvan menahan tangan Bianca. Bianca menoleh pada Rezvan sambil bergumam bingung.
“Gua belum selesai ngomongnya.” Ucap Rezvan dengan nada berat khas nya.
“Kalian lagi ngomong?” tanya Aura pada Bianca dan Rezvan.
“Enggak” ucap Bianca yang ikuti kata iya oleh Rezvan.
Aura menatap Rezvan dan Bianca bergantian sambil mengedipkan matanya. “Jadi kalian berdua lagi ngomong apa enggak?” tanya Aura memastikan.
“Enggak kok kak, ayok jalan kak," ajak Bianca berusaha mengabaikan Rezvan.
“Anka,” panggil Rezvan menginterupsi Bianca.
Bianca menghela nafas panjang.
“Bicara dulu dek..” ujar Aura lembut.
Aura melepaskan tangannya yang digandeng oleh Bianca pelan. Aura menoleh pada Rezvan yang tidak mengurangi ketajaman tatapannya pada Bianca.
“ Ngomong baik-baik lo Van!” peringat Aura pada Rezvan.
Rezvan diam tak menjawab peringatan kakaknya.
Aura menepuk pundak Bianca lembut. “Kakak duluan yaa Bian.” ujar Aura dengan nada lembut.
Setelah Aura pergi, Bianca menoleh pada Rezvan. “Kenapa lagi kak?” tanya Bianca.
“Kenapa lo nerima perjodohan ini?” tanya Rezvan lagi mengulang pertanyaannya sebelumnya.
“Kak."
“Apa alasan lo akhirnya mau nerima setelah lo menolak?” tanya Rezvan menghiraukan panggilan Bianca.
“Gua udah bilang kan kak. Gua gak punya kuasa lebih untuk membatalkan. Tapi bentar, kenapa lo ngotot banget nanya hal ini? Kenapa? Lo gak mau nerima perjodohan sama gua? Kalau gak mau kenapa lo harus terima?” tanya Bianca beruntun.
Rezvan masih pada posisinya, tak ada perubahan yang signifikan darinya. Dia masih berdiri kokoh dengan mata yang menatap dirinya tajam.
“Kalau lo gak mau lo bisa batalin ini kak, gua gak masalah kok,” ucap Bianca lagi karna Rezvan tak memberi sedikit respon pun padanya.
“Ayok kita ke ruang pertemuan.” Ajak Rezvan tanpa menjawab semua pertanyaan Bianca.
“Dijawab kak.”
“Cepat Anka.”
“Bianca bukan Anka.” Ujar Bianca memperjelas nama panggilannya.
Rezvan menggenggam lengan Bianca dan menariknya pelan, menghiraukan ucapan Bianca.
“Kak Rezvan!” pekik Bianca menggoyangkan tangannya yang digenggam oleh Rezvan.
Rezvan berhenti dan menatap Bianca. “Satu, nama lo Anka buat gua. Dua, gua gak bisa batalin ini. Tiga, jangan teriak kalau ngomong sama gua," ujar Rezvan tegas.
Bianca mengendus kesal, aura dingin Rezvan terlalu kuat dan mengintimidasi. Beruntung dia mempunyai sifat keras kepala yang tak suka kalah. Jadi dia bisa memantapkan diri menjawab ucapan Rezvan.
“Satu nam----
“Empat, jangan berisik dan ngomong sama gua kalau itu gak penting.” potong Rezvan tegas lalu Rezvan menarik lagi lengan Bianca lembut ke arah ruang pertemuan.
“Dasar CEO galak! Gimana kalau ada orang yang liat gua sama dia coba?! Walaupun ini hotel punya dia tetap aja kalau gosip udah ke luar mana bisa ditutupi!” batin Bianca ngedumel.
“Gak usah ngedumel dalam hati Anka.” ujar Rezvan seakan tau apa yang sedang dilakukan Bianca.
“Mulai banget sok taunya!! Ngeselin banget sih mama! .Kenapa harus sama kak Rezvan yang galak coba?!!” batin Bianca lagi.
Rezvan dan Bianca sudah berada di ruang pertemuan. Semua orang menyambutnya dengan senyuman, namun tidak dengan mereka berdua. Rezvan mempertahankan wajah tegas dan dinginnya, sedangkan Bianca memasang wajah datar.
“Udah selesai ngomongnya?” tanya Aura saat Bianca mengambil tempat tepat di sebelahnya.
“Kak Aura.” melas Bianca dengan bibir manyun.
Aura mengangkat bahunya singkat.
“Selamat datang hari-hari menyebalkan.” Ujar Bianca dalam hati.
“Pada ngomongin apa sih tadi?” tanya Zayn ikut nimbrung dalam obrolan.
“Gak ngomongin apa-apa..” ujar Bianca dengan muka datar.
“Van?”
“Gak ada ngomongin apapun Abang.” jawab bianca lagi.
“Abang tanya Rezvan bukan kamu Bian.” Ujar Zayn membuat Bianca berdecak pelan.
“Tapi kak Rezvan tuh gak akan jawab pertanyaan abang, palingan cuman smirk terus ngangkat bahunya.” Ujar Bianca dengan nada kesal.
Clarissa, Aura dan kedua orang tua mereka menahan tawanya mendengar omelan Bianca mengenai sifat Rezvan.
“Gak ngomongin hal yang penting.” jawab Rezvan tanpa beban.
“Itu dijawab," ujar Zayn menatap Bianca.
Bianca menoleh pada Rezvan tajam. “Dasar manusia nyebelin.” Batin Bianca.
“Sepertinya kalian berdua tidak perlu beradaptasi lagi.” Ujar Evan Resgiantana, Papa Rezvan.
“Iya mereka udah akrab.” Ujar Adelia Resgiantan, Mama Rezvan.
“Akrab? Big no tante! Anak Tante gak bisa diajak buat akrab,” dumel Bianca dalam hati.
“Sudah lama bersama, jadi gak perlu diragukan kedekatan mereka.” timpal Mama Sheila tak mau kalah.
“Apaan sih mama! Mana ada Bian dekat sama manusia galak ini?” batin Bianca menggerutu Mama Sheila yang ikut dalam obrolan tidak masuk akal itu.
“Kalian tidak masalah kan kalau pernikahannya 5 bulan lagi?” tanya Papa Arya yang tidak mau kalah dengan obrolan sebelumnya.
Mata Bianca membelalak lebar, menoleh pada papi nya dan menatap horror Papi nya. Lima bulan lagi? Dia tidak salah dengar bukan? Lima bulan? Tidak mungkin, itu tidak mungkin terjadi, Bianca memiliki jadwal konser saat itu.
“Rezvan gak masalah.” Ujar Rezvan tanpa beban.
Belum siap Bianca menyusul kata-kata penolakan, kini dirinya dibuat terkejut lagi akan jawaban Rezvan yang menyatakan tak masalah dengan rancangan orang tua mereka.
"Bianca gimana nak?” tanya Mama Adel.
“Hmm gini--- hmm-- bukannya Bian gak mau atau gak setuju. Cuman Bian ada jadwal konser 5 bulan lagi.” ujar Bianca dengan nada sedikit bersalah.
“Bagaimana kalau 3 bulan lagi?" tanya Mama Sheila.
“Mama, Bian promo film Ma,” ujar Bianca dengan nada memelas lagi.
Mama Bianca menghela nafas panjang.
“Jadi kapan kamu bisanya Bianca?” tanya Mama Sheila pasrah.
Meski cukup menyebalkan namun hal itu bukanlah salah Bianca, jadwal Bianca di dunia keartisannya sudah disusun jauh-jauh hari sebelum hari ini. Jadi Bianca tidak bisa disalahkan 100% karena hal ini.
“Bian gak tau.” jawab Bianca dengan wajah bersalah.
“Kita pilih waktu yang pas sebelum konser kamu gimana?” tanya Mama Sheila membuat penawaran.
“No, gak mau lah!!” batin Bianca ngeri mendengar ide mamanya. “Setelahnya?” tanya Bianca memberi penawaran.
“Berapa lama?” tanya Mama Sheila lagi.
“Sebulan?”
“Bianca.”
“Mama."
“6 bulan dari sekarang juga gak masalah kok.” Ujar Rezvan mengundang perhatian semua orang di ruangan tersebut. “Anka bisa menyelesaikan semua pekerjaan dan tanggung jawabnya terlebih dahulu. Begitu juga dengan Rezvan..” ujarnya lagi.
“Fix dia cari muka. Nyebelin banget!” kesal Bianca dalam hati.
“6 bulan dari sekarang? Kalau Papi gak masalah.” Ujar Papi Arya sambil menatap Bianca.
“Papa juga, Mama gimana?” tanya Papa Evan sambil menanyakan pada Mama Adel.
“Mama juga gak masalah, ini pernikahan mereka sudah sewajarnya mengikuti mau mereka.” jawab Mama Adel.
“Mama?” tanya Papi Arya.
“Okay 6 bulan lagi.” ujar Mama Sheila mengiyakan keputusan Rezvan.
“Setidaknya bisa lega bentar.” Batin Bianca sambil bernafas lega.
“Ada syarat dari Bianca gak buat pernikahan ini?” tanya Aura sambil tersenyum pada Bianca lembut.
Bianca menatap Aura sambil bergumam lalu menatap Rezvan sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
“Kamu ada persyaratan gak dek untuk nerima manusia es itu?” tanya Aura lagi.
“Kak Aura.” Tegur Rezvan.
“Ada..” ujar Bianca pelan membuat Rezvan sontak menoleh pada Bianca. “Sampai hari nya tiba. Bian gak mau hubungan ini di publish, Bian masih banyak kontrak. Bian gak mau berita ini jadi memperkeruh keadaan nantinya.”
“Rezvan?" tanya Aura.
“Cuman itu? Gak masalah.” Ujar Rezvan setuju akan persyaratan dari Bianca.
“Good.” Batin Bianca.
“Jadi ini sudah diputuskan kalian berdua akan menikah 6 bulan lagi.” Ujar aura memperjelas situasi.
“Nah sekarang kalian bisa pacaran mulai, biar hubungannya gak dingin nantinya.” ujar Clarissa sambil menatap Bianca.
“Nah bener.” setuju Aura atas pernyataan Clarissa.
“Lo jangan dingin apalagi cuek sama Bianca, Van.” Perintah Aura tegas pada Rezvan. Rezvan hanya diam sambil menatap kakak sulungnya itu. “Di jawab kalau ditanya.” kesal Aura.
“Iya kak, bawel banget lo!” kesal Rezvan.
Bianca hanya diam.
“Kamu jangan sibuk dengan keartisan kamu Bian, sering ngobrol dan ketemu sama Rezvan.” Ujar Mama Sheila memberi perintah pada Bianca.
“Iya mama iya..” pasrah Bianca.
Mama Sheila sebenarnya sangat tidak menyukai dunia keartisan yang dipilih oleh Bianca. Menurut Sheila, mereka masih sangat sanggup memenuhi kebutuhan Bianca tanpa Bianca harus bekerja menjadi artis. Namun Bianca sangat menyukai dunianya ini, menyanyi adalah dunianya. Modelling dan seni peran hanya selingan baginya..
To be continue..