Sesuai kesepakatan, pukul tujuh malam Irsyad menjemput Lea dan membawa gadis itu ke suatu tempat.
Lea kini sudah berada di jok motornya Irsyad. Kedua insan itu saling diam, yang terdengar hanya suara mesin kendaraan bermotor.
Motor Irsyad kini sudah berada di suatu tempat. Tempat makan pinggir jalan. Irsyad mengajak Lea makan di sana.
Irsyad mengajak Lea memasuki tempat makan tersebut dan Lea pun mengikutinya.
"Mau makan apa?" Irsyad bersuara yang membuat Lea kaget lantaran dirinya sedang melamun.
"Apa aja asal gak beracun." Lea menjawab asal yang membuat Irsyad tertawa.
Irsyad menyuruh Lea untuk duduk dan memesan makanan yang ingin mereka makan sebelumnya berkata, "Lo tunggu di sini dulu. Gue mau mesan."
Lea hanya mengangguk. Selama ia menunggu Irsyad ia memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa bosan.
Irsyad kini sudah kembali duduk di hadapan Lea. Sembari menunggu pesanan datang. Irsyad mencoba untuk mengajak Lea mengobrol.
"Lo pernah pacaran gak?" Irsyad berucap spontan sehingga membuat Lea yang sedang memainkan ponselnya menoleh ke arahnya.
"Nggak." Lea menjawab ketus.
"Pernah jatuh cinta?"
"Nggak."
Irsyad langsung diam. Bersamaan dengan itu pesanan datang dan mereka makan dengan keheningan.
Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka berdua sudah selesai makan.
"Lo mau langsung pulang?" tanya Irsyad dan Lea menggeleng. "Nanti aja pulangnya."
"Nggak mau kemana dulu gitu?" Irsyad kembali bertanya dan Lea menjawab. "Terserah lo."
Irsyad dan Lea kini sudah keluar dari warung makan tersebut. Lea kini sudah naik ke atas motor Irsyad dan Irsyad pun sudah mengendarai motornya.
Irsyad membawa Lea ke suatu tempat. Seperti sebuah bukit hijau. Disana mereka berdua dapat melihat luasnya langit.
"Lo suka sama pemandangannya?" Irsyad bertanya dan Lea mengangguk.
"Tenang ya di sini." Lea berujar dengan suara lembutnya.
"Lo suka sama tempat-tempat kaya gini?" tanya Irsyad dan lagi-lagi Lea mengangguk.
"Lo tau? Di langit itu ada banyak bintang. Tapi kadang satu di antara mereka gak mau muncul karena takut kalah bersinar walaupun sebenarnya dia yang paling bersinar," ujar Irsyad.
"Sama kaya lo. Kalau kebanyakan cewe-cewe berlomba-lomba buat nunjukin kalau dia yang paling cantik. Lo justru cuma diam. Cuek. Dingin. Nutup diri. Padahal diri lo yang paling cantik."
"Izinin gue buat masuk ke hati lo bisa?" Irsyad bertanya dengan nada tulus sehingga membuat Lea bingung harus menjawab apa.
"Lo ngomongin apaansi? Gue nggak tertarik berkomitmen sama cowo," ujar Lea sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Irsyad tertawa. Bagaimanapun menaklukan hati Lea adalah hal yang paling susah.
"Kalau misalnya gue coba gimana?" Irsyad menoleh kearah Lea. Sementara Lea masih diam saja ditempatnya.
"Nengok dong kalau diajak ngomong," ujar Irsyad.
"Iya." Lea menjawabnya dengan nada gugup.
Tidak. Lea gugup bukan karena ia jatuh cinta dengan Irsyad. Ia gugup karena bingung harus memberi respon seperti apa.
"Udah jam sepuluh nih. Lo gak mau pulang?" Irsyad mengeluarkan suara dan kini Lea menoleh kearahnya.
"Nanti aja," jawabnya.
"Bisa dibunuh Zidan gue bawa lo pulang malam-malam," ujar Irsyad yang membuat Lea terkekeh.
Apa tadi? Dibunuh Zidan? Mungkin Zidan akan berterimakasih dengan Irsyad karena sudah membawa Lea pergi dari rumah.
"Mungkin Zidan besok bakalan nraktir lo karena udah bawa gue pulang malam." Lea berujar diiringi dengan kekehan diakhirnya.
"Tapi gak baik juga perempuan pulang malam-malam," ujar Irsyad. "Ayo pulang."
Lea hanya menurut. Ia akhirnya mengikuti Irsyad menuju parkiran dan menaiki motor Irsyad untuk pulang.
Waktu tempuh dari tempat tadi menuju rumah Lea adalah tigapuluh menit. Kini motor sudah berhenti di depan pekarangan rumah Lea. Di depan pintu sudah terdapat Zidan yang terlihat sedang menunggu mereka berdua.
"Makasih, ya." Lea berucap sembari memberikan helm kepada Irsyad dan Irsyad hanya mengangguk sembari menerima helm tersebut.
Lea masuk ke dalam dan melewati Zidan begitu saja. Sementara Zidan kini menghampiri Irsyad dengan wajah dingin.
"Lo ajak adek gue kemana?" Zidan bertanya to the point.
"Gue ajak makan terus ke bukit hijau," jawab Irsyad santai. "Gue nggak bakal bawa adek lo ke tempat macam-macam. Tenang aja."
Irsyad menyalakan mesin sepeda motornya lalu meninggalkan rumah Lea sebelumnya berkata, "Gue cabut."
*****
Jam menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit dan Lea kini sedang berada di depan gerbang sembari memohon dibukakan pintu gerbang oleh pak satpam.
"Bapak pelit banget si jadi manusia. Coba kalau anak Bapak yang kaya gini? Gimana perasaan Bapak?" Lea mengeluarkan jurus andalannya, yaitu memberikan berbagai macam pertanyaan kepada sang satpam.
"Bukain aja Pak. Saya disuruh Pak Seto buat ngehukum murid yang terlambat."
Entah dari mana datangnya. Alfa kini sudah berada di belakang gerbang sekolah. Lea rasanya ingin meninju ekspresi wajah Alfa yang menurutnya benar-benar menyebalkan.
Sang satpam akhirnya membukakan gerbang tersebut karena perintah Alfa. Lea kini benar-benar kesal. Alfa past akan memberikan hukuman yang tidak-tidak padanya.
Setelah gerbang dibuka, Lea segera masuk kedalam sekolah dan melewati Alfa begitu saja. Seperti biasa, Alfa pasti membuntutinya sampai dirinya berhasil memberikan hukuman untuk Lea.
"Lo mau ngapain si?" Lea berucap geram.
"Ngasih lo hukuman lah." Alfa menjawab santai yang membuat Lea ingin meninju wajah ketua OSIS itu.
"Gue mau belajar. Hukuman lo itu ngehambat aktivitas belajar, tau nggak?" Lea bertanya dengan nada galak.
"Gue nggak peduli. Sini lo, ikut gue!" jawab Alfa sembari menarik lengan Lea dan membawanya menuju lapangan indor yang berada di sekolah tersebut.
"Angkat satu kaki lo dan pegang kedua telinga lo!" seru Alfa yang membuat Lea membulatkan matanya.
"Lo gila ya?" pekiknya.
"Mau di sini, apa di lapangan luar?" Alfa bertanya santai yang membuat Lea mendengus kesal ke arahnya.
Dengan berat hati akhirnya Lea menjalankan hukuman yang diberikan oleh Alfa sembari mengoceh dan mengumpati ketua OSIS yang menurutnya gila itu.
"Ganti warna rambut lo sebelum digunting asal sama Bu Beti," ujar Alfa dan Lea hanya memutar bola matanya malas.
Tak lama kemudian anak-anak kelas sebelas IPS 3 yang merupakan kelasnya Zidan dan Irsyad memasuki lapangan tersebut untuk menjalankan kegiatan olahraga. Lea tentu saja menjadi pusat perhatian dan hal itu yang membuatnya benci.
"Kenapa?" tanya pak Heru yang merupakan guru olahraga.
"Telat, Pak," jawab Alfa dan pak Heru hanya mengangguk dan kembali melanjutkan tugasnya.
"Masih lama nggak, Al?" tanya Lea yang kini sudah merasakan pegal disekujur tubuhnya.
"Lima menit lagi," jawab Alfa.
Lea sudah benar-benar ingin membunuh Alfa saat ini juga. Belum lagi dirinya kini menjadi pusat perhatian kaka kelasnya.
Bugh.
Sebuah bola volly tiba-tiba saja mengenai kepala Lea yang membuat gadis itu tersungkur ke lantai.
Dirinya kini sudah dikerubungi orang-orang, dan saat Lea mendongak ada dua tangan yang terulur kearahnya. Tangan Alfa dan juga Irsyad. Lea harus menerima uluran tangan siapa?