Tujuh belas Agustus sebentar lagi akan tiba. Seluruh pengurus OSIS dan MPK kini sedang sibuk menata panggung dan mempersiapkan lomba-lomba yang akan diselenggarakan.
Selama itu pula, waktu kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Semua murid bebas melakukan aktivitas apapun yang penting tidak keluar dari lingkungan sekolah.
Hal itu tentu saja membuat Lea kesal. Pasalnya gadis itu benar-benar tidak menyukai jam kosong. Itu hanya membuang-buang waktu.
Lea ingin sekali pergi dari sekolah ini. Namun dirinya harus menahan keinginan itu semua karena seorang pria yang berdiri di hadapannya. Siapa lagi jika bukan sang ketos, Alfa.
Ia sedari tadi hanya bisa mendengus kesal. Pria itu meminta dirinya untuk menemaninya menata panggung. Hal itu tentu saja membuat Lea muak.
"Masih lama nggak, sih?" Lea mendengus kesal.
Alfa menjawab pertanyaan Lea dengan mata yang tetap fokus dengan apa yang ia kerjakan. "Sabar."
Ini sudah kesekian kalinya Alfa menjawab pertanyaannya dengan jawaban sabar.
Lea terus saja mengumpati Alfa di tempatnya. Ingin sekali rasanya ia melempar pria itu dengan sebuah batu.
Lea memutuskan untuk melihat sekeliling dari tempatnya. Banyak sekali murid yang sedang latihan. Mulai dari cheers, basket, sepak bola dan semacamnya.
Lea memperhatikan Salsa, orang yang sudah mengajak dirinya bertengkar di hari pertama masuk sekolah. Wanita itu terlihat sangat cantik menggunakan pakaian cheers.
Ia juga memperhatikan Zidan, Kakaknya, yang sedang berlatih basket bersama dengan teman-temannya.
"Yuk!" Alfa tiba-tiba saja bersuara dan menarik lengan Lea, sehingga membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Lo mau bikin gue jantungan ya?" omel Lea, sementara Alfa hanya menampilkan cengirannya.
"Gue mau ngajak lo keliling sekolah, ngelihat ekskul-ekskul yang ada di sekolah ini. Siapa tau lo berminat masuk ke salah satu ekskul itu," jelas Alfa.
"Dibilang, gue nggak mau ikut ekskul apapun." Lea berucap ketus.
Alfa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap bayi singa itu. Menurutnya, Lea sangat menggemaskan.
"Terus jadinya lo mau diam aja di sini?"
Lea menggeleng. "Gue, mau pulang."
"Masih satu jam lagi, sabar."
Lea lagi dan lagi mendengus kesal. Enak saja sedari tadi selalu menyuruh dirinya sabar.
"Oh, iya, semalam lo ngapain aja sama Irsyad?"
Pertanyaan tersebut membuat Lea bingung harus menjawab apa. Mana mungkin ia menceritakan tenang Irsyad yang menyatakan cinta padanya.
"Bukan urusan lo." Lea menjawab dengan ketus.
"Irsyad nembak, lo, ya?" Alfa bertanya dengan nada cemburu yang membuat Lea membulatkan matanya.
Bagaimana Alfa bisa tau?
"Gue semalam ke bukit hijau. Lo sama Irsyad ke sana juga, kan?" tanyanya dan Lea hanya diam.
"Gue kalah cepat ternyata." Alfa tertawa getir. "Gue terlalu pengecut untuk nyatain cinta ke lo."
Lea hanya diam. Semalam Irsyad yang membuatnya bingung, kenapa sekarang Alfa juga ikut membuatnya bingung?
"Lo sama Irsyad pasti udah jadian, kan?" Alfa kembali bersuara.
"OSIS sama anak basket jelas beda, Irsyad jelas lebih unggul dalam masalah penampilan dibanding gue." Alfa berusaha untuk tersenyum.
Tenggorokan Lea terasa tercekat. Ia ingin mengatakan yang sejujurnya pada Alfa, namun seolah-olah kotak suaranya habis sehingga ia tidak bisa berbicara.
"Lea!"
Lea menengok ke arah sumber suara dan mendapati Irsyad, yang kini sedang berjalan ke arahnya.
"Gue pamit." Alfa pergi begitu saja yang membuat Lea kini menatap ke arah kepergiannya.
Irsyad duduk di samping Lea dan bertanya. "Tumben, lo, duduk sama anak OSIS?"
"Diajak Alfa," jawabnya dan Irsyad mengangguk.
Irsyad kini sedang menggunakan kaos basketnya. Tidak ada bau keringat sama sekali meskipun seluruh tubuhnya dipenuhi oleh keringat.
"Lo dekat ya, sama Alfa?"
Lea menoleh ke arah Irsyad. "Enggak, dia nya aja suka banget ngasih hukuman ke gue."
Irsyad hanya tertawa. Harusnya ia sadar bahwa bukan hanya dirinya yang ingin menjadi kekasih Lea.
"Mau tanding basket?" tawar Irsyad, sembari mengangkat bola basket yang tadi ia bawa.
"Gak suka basket," jawab Lea yang membuat Irsyad mengangguk.
Meluluhkan gadis seperti Lea memang susah.
"Posisi Zidan di tim basket apa?" tanya Lea sembari menatap Irsyad.
"Harusnya yang jadi captainnya itu Zidan, tapi dia nggak mau, akhirnya ya dia cuma jadi tim inti," jawab Irsyad dan Lea pun mengangguk.
"Kenapa Zidan gak mau jadi captain basket?" Lea kembali bertanya.
Irsyad mengangkat kedua bahunya. "Gak tau. Di antara gue sama yang lainnya, Zidan yang paling pendiam."
Lea hanya mengangguk paham. Memang ia dapat melihat saat Zidan dan teman-temannya makan di kantin, Zidan lebih banyak diam.
"Gue mau ke kelas dulu ya. Lo mending ganti baju." Lea berujar dari tempat duduknya dan pergi menuju kelasnya meninggalkan Irsyad sendirian.
Lea kini sudah terduduk kembali di bangku kelasnya. Memasang kembali sepasang earphone di kedua telinganya dan menyetel musik dengan volume yang kencang.
Ia ingin segera pulang rasanya. Sudah sangat muak dengan suasana sekolah. Sudah muak dengan orang-orang caper yang berada di sekolah itu. Free Class adalah dua kata yang sangat Lea benci.
Baru saja memejamkan mata. Dirinya harus kembali terbangun karena seseorang yang menggoyangkan bahunya.
Lea mendengus kesal kemudian melepaskan salah satu earphone tersebut dari telinganya.
"Apaan, sih?" kesalnya.
"Lo dicari bang Zidan, di luar kelas," jawab Almi. Pria yang dulunya adalah sahabat kecilnya.
"Bilang aja gue gak ada di kelas!" seru Lea, lalu kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja.
"Tapi katanya penting, Le." Almi kembali menggoyang-goyangkan bahu Lea.
"Bisa diam nggak, lo?" Lea menatap Almi tajam.
Almi langsung diam. Ia memilih menjauh dari tempat duduk sahabat kecilnya itu.
Tiba-tiba saja ada yang menarik tangan Lea kasar sehingga membuat gadis itu terbangun.
"Apaan, sih? Lepas, gak!" omelnya seraya berusaha melepaskan cengkraman tangan Zidan.
Zidan tiba-tiba saja memasuki kelas Lea dan menarik paksa lengan gadis yang sedang tertidur itu.
Mereka berdua kini menjadi pusat perhatian banyak murid. Pasalnya tidak banyak yang mengetahui bahwa Lea adalah adik kandungnya Zidan.
Semua orang beranggapan kalau mereka berdua pacaran dan mereka kini sedang bertengkar.
Zidan membawa Lea menuju taman belakang sekolah. Gadis itu sedari tadi terus saja memberontak sembari melontarkan kata-k********r.
"Ngapain, sih, bawa gue ke sini?" Lea berucap kesal.
"Irsyad sama Alfa nembak lo?" Zidan bertanya dengan nada dingin.
Mengapa Zidan menanyakan hal itu padanya?
"Bukan urusan lo." Lea menjawab ketus.
"Lo lupa, kalau lo itu adik gue?" tanya Zidan yang membuat Lea tertawa sinis.
"Sejak kejadian setahun yang lalu, gue nggak pernah menganggap kalau gue punya keluarga. Termasuk punya abang kaya lo."
Lea melangkah pergi meninggalkan Zidan sendirian di taman itu. Free class memang benar-benar membuat dirinya stress. Mulai saat ini, Lea akan memasuki kegiatan free class ke dalam daftar yang ia benci.