Aluna semakin menyelusup kan kepalanya ke paha besar Ray yang empuknya tidak seperti bantal, bahkan cenderung keras. Tapi, aluna suka karena keduanya bisa saling menyentuh sambil ngobrol dan makan cemilan ringan. Aluna yang berpikiran lurus dan polos, tentu berbanding terbalik dengan Ray yang sudah blingsatan tak karuan karena ulah sang kekasih hati. Ray adalah pria normal yang terlalu banyak menghabiskan waktunya sendiri, sehingga sensitivitas nya masih begitu tinggi. Di sentuh sedikit saja sudah mampu membuat seluruh saraf di tubuhnya bereaksi seperti terkena aliran listrik tegangan tinggi. Ray dengan sabar menahan diri untuk tidak menerkam Aluna yang berada dalam penguasaannya. Aluna kini tidur terlentang dengan muka menengadah ke arah Ray yang menunduk. Mata keduanya bersirobok,

