Ray tersenyum manis, tatapannya tidak beralih dari gadis cantik yang berhasil merubah dunianya. Ray kini bisa lebih menikmati hidup karena telah jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan seorang wanita. Bukannya menggebu-gebu ingin mengutarakan perasaannya, Ray justru menundanya karena ingin lebih memantaskan diri menjadi seorang pendamping yang sempurna bagi wanita sempurna yang berhasil mencuri hatinya. Ray yang terbiasa bersikap kaku, cuek dan bermulut pedas, lama kelamaan telah berhasil menghilangkan kebiasaan buruknya tersebut. Hubungannya dengan Aluna juga sudah mengalami kemajuan. Mereka semakin dekat dan tidak lagi saling melempar kata-k********r atau pedas. Tanpa terasa Aluna juga telah mengikuti dirinya dan sudah tidak lagi se bar-bar sebelumnya. "Sudah, duduk sini. Nggak us

