Permintaan Maaf

1414 Kata
Hari berlalu begitu cepat. Keesokan harinya Milea tampak lesu. Tidak biasanya dia malas berangkat bekerja. Padahal di luar cuaca sangat cerah. Seandainya hari ini dia tidak ada kelas mengajar, pasti dia akan izin tidak masuk saja. Apalagi alasannya kalau tidak kepala sekolah baru itu. Milea masih mengingat pertemuan kemarin, wajah Ega yang dulu masih baby face sekarang tampak lebih dewasa dan matang. Ketampanannya semakin terlihat, itu membuat dia khawatir tidak bisa bertahan dan luluh dengan cepat oleh pesonanya. Milea, memukul kepalanya pelan, bagaimana bisa dia lupa bahwa Ega sudah beristri. Bukankah hal itu yang menyebabkan mereka putus hubungan? Huh, oke! Dia akan berangkat sekarang dan dia akan hadapi dengan kepala tegak. Enak aja, Ega sudah move on, sementara dia belum. Nggak adil banget. "Selamat pagi Bu," sapa satpam penjaga pintu gerbang sekolah. "Pagi, Pak," jawab Milea ramah. Sesampainya di dalam ruang guru, Milea mendapat pemberitahuan bahwa sebelum istirahat pertama dia diminta menghadap kepala sekolah dan diharap membawa laporan terkini terkait jabatannya sebagai wakil kepala sekolah. Milea mengepalkan tangannya erat, giginya beradu dengan keras hingga menimbulkan bunyi gemeletuk. Pintar sekali dia memanfaatkan posisinya guna meraih keinginannya. Baiklah, ini kesempatannya untuk membuktikan kalau dia tidak lemah. Dia harus menunjukkan bahwa dia sudah move on dari mantannya itu. Satu jam sebelum jam istirahatnya, Milea segera menyambar tumpukan kertas yang sudah disiapkannya dari rumah. Dengan perlahan dia mengetuk pintu atasannya itu dan langsung mendapatkan jawaban untuk segera masuk ruangan. "Minta tolong pintunya dikunci sekalian. Saya tidak mau ada yang nyelonong masuk sementara kamu memberikan laporan. Biar cepat. Saya ada agenda lain saat jam istirahat nanti." Milea mencebik, sok bossy banget sih.Tapi mau nggak mau dia menuruti perintah mantannya itu. Sekarang beliau adalah atasannya. "Kenapa berdiri saja, duduk!" Mendapati Milea tidak segera menempati tempat duduk yang ada di depannya, Ega kembali memberinya perintah untuk duduk. "Ini laporan yang bapak minta, bisa saya langsung permisi, masih ada kelas setelah jam istirahat nanti, dan saya perlu persiapan." Mata Ega memicing dan dengan sabar mendengar penuturan sang mantan yang tidak lebih hanya alibi untuk menghindarinya. Setahun menjalin kasih, dia sudah hapal betul gestur tubuh Milea jika sedang menghindari sesuatu. "Saya tidak mau berulang-ulang memanggil kamu hanya untuk menanyakan laporan yang tidak saya mengerti, paham? Jadi duduk dengan tenang. Saya tahu kepintaran kamu sehingga tidak mungkin kamu memerlukan waktu persiapan hanya untuk mengisi kelas. Kamu bukan guru amatir yang baru mengajar seminggu." Telak! Milea tidak lagi bisa berkelit. Pantes aja Ega dijadikan kepala sekolah, pintar sekali dia membaca situasi. Sehingga Milea yang sudah menyiapkan kata-kata pembelaan seketika bungkam. Dengan enggan dia menduduki kursi yang disediakan. "Untuk sementara saya anggap saya sudah paham dengan isi laporan kamu. Hanya beberapa permasalahan yang dihadapi siswa kelas sembilan saya masih perlu waktu sedikit lagi untuk mencari solusinya." Ujar Ega tenang, setelah beberapa lama menekuri laporan dari Milea. "Tapi, sekarang ada masalah yang jauh lebih penting dari sekedar laporan kamu ini. Dan sekarang mari kita cari solusinya bareng-bareng." Ega menegakkan tubuhnya, dia berdehem untuk meredakan detak jantungnya yang menggila sejak kedatangan wakilnya yang semakin cantik ini. Terbiasa bersikap tenang cenderung dingin dan cuek. Tetapi, saat sedang berhadapan dengan gadis cantik yang sudah menguasai hatinya selama ini, tetap saja grogi. "Maaf, masalah apa ya Pak? Saya kira semua masalah tentang kesiswaan sudah saya report melalui laporan itu," tanya Lea terkejut sekaligus ingin tahu ada apa sebenarnya. Dia merasa tidak melewatkan satupun masalah yang sedang dihadapi berkenaan dengan kesiswaan. "Siapa bilang masalah kesiswaan. Ini masalah diantara kita." Deg!. Jantung Milea mulai berpacu tidak biasa. Tubuhnya mendadak lemas seperti jelly, tekad untuk menghadapi Ega dengan muka terangkat, mendadak sedikit goyah. "Maaf diantara kita sudah tidak ada masalah apapun sejak hari wisuda saya. Jadi, tidak ada yang perlu di bahas lagi saya kira." Ketegasan jawaban Milea tidak di sertai dengan kata hati yang sama. Memang, dia begitu sakit dan kecewa saat itu, tetapi jika mengingat perlakuan Ega selama mereka pacaran selalu baik, di hati kecilnya mengatakan pasti Ega menghadapi keadaan tertentu sehingga memutuskan sesuatu yang penting hanya melalui pesan. Sesakit apapun dia perasaan cinta masih mendominasi, hingga laki-laki yang mendekatinya selama ini seperti tak kasat mata. Tidak pernah dianggapnya. Tak ada yang menarik minatnya selain Ega. Selama ini dia hanya denial saja, malu mengakui jika dia masih menyimpan rasa cinta itu untuk sang mantan. "Maaf, aku minta maaf atas kejadian waktu kamu wisuda. Selain aku ingkar janji, aku sudah melukaimu dengan sangat dalam. Sekali lagi maaf. Walaupun sebagian informasi yang kamu dengar selama ini adalah nyata, tetapi sebagian besar informasi yang sebenarnya belum kamu dapatkan dari aku. Bukankah kamu tidak akan mempercayai sesuatu tentang aku jika tidak mendengar sendiri dari mulutku?" Lea tertegun dengan kenyataan itu. Ega masih mengingatnya dengan baik prinsip hidupnya. Dia bukan biang gosip dan tidak akan pernah mau termakan gosip. Jika tidak dari sumbernya langsung Lea tidak akan mempercayainya. Suara Ega yang lembut telah kembali. Diujung kalimatnya suaranya semakin lama semakin lemah dan terdengar serak. Lea tak tega, dia lemah kalau sudah berhadapan dengan Ega. Mereka saling tatap sekian lama, detak jantung keduanya bertalu-talu. Apakah iya Allah mempertemukan mereka lagi tanpa ada maksud? "Lea....kamu semakin dewasa dan cantik. Apakah aku terlalu tidak tahu diri jika berharap kamu memberi kesempatan sekali lagi kepadaku? Bolehkah aku berharap bisa mendapatkan maafmu?" Wajah Milea memanas dan langsung tertunduk mendengar pujian Ega. Selain perasaannya kepada Ega, ternyata telah banyak yang berubah. Meskipun dulu Ega begitu menyayangi dan memujanya, tetapi jarang sekali Ega memujinya cantik. Apakah dia begitu juga kepada wanita lain? Sementara Ega menatap wajah Milea semakin intens. Wajah yang setiap saat memenuhi isi kepalanya, kini nyata ada di hadapannya. Dengan berani Ega meraih tangan Milea yang berada di atas meja. Lea tersentak dan spontan melotot dengan kenekatan Ega. "Maaf.. maafkan aku." Ega menguatkan cengkeramannya pada tangan Lea dengan perasaan campur aduk. Bahagia, rindu sekaligus sedih. Dia kecewa terhadap dirinya sendiri yang tidak mau berjuang dengan sedikit saja meyakinkan Papanya jika dia mencintai perempuan lain. Sedangkan di sisi lain, Papanya berkeyakinan Ega tidak memiliki kekasih karena tidak pernah pulang membawa perempuan. Sedangkan Ega sendiri berencana mengenalkan Milea di hari setelah gadis itu di wisuda. Saat itu Ega hanya berniat akan melakukan apapun demi nyawa Papanya. Tetapi semua akhirnya berantakan karena pada akhirnya Ega tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia telah putus hubungan dan jauh dari Milea. Jiwa Ega terguncang hingga sang Papa meregang nyawa karena penyesalan. Niat hati ingin membahagiakan sang Papa dengan pernikahannya, tetapi tak urung, sang Papa akhirnya meninggal juga karena melihat dirinya kehilangan arah. Ega bertekad untuk mendapatkan Milea kembali karena dia merasa gagal menjaga Papanya agar tetap hidup dan sehat. "Sudah lama aku memaafkan kamu meskipun kamu tidak meminta maaf. Jangan terlalu percaya diri hingga berfikir aku akan sulit memaafkan kamu di masa lalu karena masih mengingatmu. Aku sudah melupakan semuanya sejak lama. Jadi jangan menganggap masih ada masalah diantara kita. Semua sudah selesai di hari wisudaku." Mendadak Milea pintar sekali berbohong. Kalimat panjang yang baru saja diutarakannya kebohongan. Ya, dia berbohong hanya karena tidak mau terlihat lemah. Dia sendiri heran tiba-tiba menjadi ahli berbohong. Sementara kenyataannya dia belum bisa move on hingga kini. Dia mendadak benci terhadap dirinya sendiri, kenapa susah sekali melupakan manusia di depannya ini. "Oh ya? Benarkah yang kamu katakan barusan? Berarti selama ini hanya aku yang rindu, hanya aku yang berharap kita bertemu kembali dan bersatu seperti dulu. Ternyata sesakit ini mendengar orang yang kita cintai tidak lagi mencintai kita. Tapi apapun itu aku hanya berharap kamu bahagia dengan atau tanpa aku. Do'aku selalu menyertaimu." Milea masih tertegun dengan hati remuk. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sakit yang dia rasakan dimasa lalu mencuat kembali. Ingin sekali dia berteriak bahwa dia juga rindu, dia juga masih cinta laki-laki rupawan di depannya ini. Sesak, Lea kesulitan bernafas tiba-tiba. Sebab di sisi hatinya yang lain, mendadak ada rasa bahagia di sana. Rindu yang ditahannya selama ini seakan meletup-letup minta di lepaskan. Rindu yang selama ini selalu diingkarinya. Saat ini, jika bukan karena rasa malu yang teramat sangat, ingin rasanya Milea melemparkan tubuhnya ke pelukan Ega dan memeluknya erat sehingga rindunya tersalurkan, agar tidak lagi berat di tanggung nya. Milea mencoba memberanikan diri menatap lawan bicaranya. Ia terkejut mendapati ada airmata disekitar mata yang memerah itu. Ega menangis! Semakin lama semakin terdengar isakan lirihnya. Bahunya terguncang dengan kepala semakin menunduk. Genggaman tangannya semakin menguat seolah tidak mau terlepas lagi. Apa yang membuatnya mengeluarkan airmata? Benarkah dia menyesal telah menyakitinya? Apakah Ega bahagia dengan pernikahannya atau justru sebaliknya? Aah! Apa pedulinya dengan laki-laki yang paling di bencinya ini. Mau mati kek, mau hidup kek, atau mau apa saja terserah!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN