Ch.9 — Masa SMP | Nakal Tapi Peduli

1805 Kata
Saat sekolah sudah bubar, aku dan Reza menunggu Irvan di depan kelasku. "Kemana, nih, Si Irvan? Tumben lama banget. Nggak kayak biasanya dia pulang telat." Reza sudah terlihat kesal menunggu. "Kayanya Kelas 3—B belum bubar, deh," kataku. "Ngapain dulu, ya?" Tidak lama setelah itu, Irvan dan teman—teman sekelasnya pun datang. Irvan melangkah menghampiri kami berdua. "Tumben lama banget lu? Abis ngapain?" tanyaku sedikit kesal. "Iya, nih. Kita 'kan harus jadi saksi Si Topa ketemuan sama cewek," sambung Reza. "Hehe... Sorry lama. Tadi ada urusan bentar di kelas. Tapi, kayaknya gue gak bisa ikut sama kalian, deh." Aku mengernyit dahi. "Lha? Kok gitu?! Kenapa?" "Iya, nih. Kita udah nungguin lu lama! Masa lu gak ikut!" "Gue mau ke rumah Si Tomy sama temen sekelas gue soalnya." "Ke rumah Si Tomy? Ngapain?" "Mau jenguk dia." "Banyak amat yang ngejenguk dia, sampe sekelas. Emang dia kenapa?" "Katanya dia ditemuin di pinggir jalan dalam keadaan babak belur." Aku cukup terkejut mendengarnya. "Hah? Kok bisa?" "Gue juga nggak tahu, sih. Tapi, kata temen sekelas gue, dia dikeroyok sama anak-anak dari sekolah sebelah." "What?! Kalau gitu, gue ikut sama lu ke sana, deh." "Serius lu? Terus ketemuannya gimana?" "Bodo amatlah! Gue gak terlalu peduli soal itu. Bukannya Si Putri juga ikut ke sana, ya? Kan dia sekelas sama Si Tomy." "Iya, sih. Tapi, 'kan kata lu Si Karin juga ngajak ketemuan. Terus dia gimana? Lu mau biarin dia nungguin elu?" "Gak apa-apa, lah. Santai aja. Orang gue nggak kenal sama dia. Gue juga gak tahu yang mana orangnya." "Ya udah kalau gitu. Lu gimana, Za? Mau ikut juga?" "Ikutlah." *** Sesampainya di rumah Si Tomy, Irvan dan teman—teman sekelasnya langsung masuk untuk melihat keadaanya, sedangkan aku dan Reza memilih menunggu di luar. Bukan apa—apa, kita berdua bukan teman sekelasnya. Malu rasanya jika harus berkumpul dengan mereka di dalam sana. Apalagi ada Wali Kelas 3—B yang juga ikut menjenguk Si Tomy. "Eh, Za, lu bawa rokok gak?" "Ada, nih." "Minta satu, dong! Punya gue habis, nih." Kami berdua pun menunggu mereka sambil menikmati sebatang rokok. Reza tiba-tiba menepuk lenganku. "Eh, Tuh! Tuh! Lihat, tuh!" Aku menoleh padanya. "Apaan?" "Bukannya itu cewek yang mau ketemuan sama lu, ya?" Aku pun menoleh ke arah yang dipandang oleh Reza. "Eh, iya, tuh. Beneran dia." "Udah samperin sana!" titah Reza. "Kagak, ah! Nanti aja." Aku membuang pandanganku dari perempuan itu. Reza kembali menepuk lenganku beberapa kali. "Apaan, sih, Za? Sakit, Pea!" "Coba lihat ke sana! Cewek itu ngeliatin lu mulu dari tadi." Aku pun kembali menoleh ke arah perempuan itu dan benar saja, Cewek Songong itu sedang melihat ke arahku. Menatapku dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Maksud dia apa, ya? Aku pun turun dari motorku. Melangkah menghampirinya sembari membalas tatapan mautnya. Dilihat—lihat, perempuan ini cantik juga. Cantik banget, malah. Gak heran, sih, kalau banyak yang ngejar—ngejar dia. Penggemar dia di sekolah juga bejibun, kebanyakan dari kalangan cowok—cowok alay. Muka Si Putri ini kalau dilihat—lihat mirip artis luar negeri. Namanya Alexandra Daddario. Mukanya bule banget. Tapi, kalau Si Putri versi lokalnya, sih. Aku berdiri di sebelahnya sambil terus menikmati rokokku yang belum habis. "Lu juga ikut ke sini ternyata," kataku berbasa-basi. "Iya. Kan gue teman sekelasnya," sahutnya. "Tapi, ngomong-ngomong, kata Si Irvan, lu mau ngajak gue ketemuan, bener nggak, sih?" "Iya, bener. Gue emang bilang gitu ke dia." "Emang lu mau ngapain ketemu sama gue?" "Gue mau ngomong sesuatu sama lu." "Tumben banget. Kesambet apa lu tiba-tiba pengen ngomong sama gue? Mau ngomong apaan emang?" "Nanti aja. Kalau sekarang waktunya gak pas. Terus situasinya juga—" "Lebay banget lu! Udah gak apa-apa! Sekarang aja! Gue jadi penasaran, nih!" "Gak. Gue gak mau bilang sekarang. Nanti aja." "Gue mau dengernya sekarang! Kalau nanti gue gak mau." Tiba—tiba Irvan menyusul keluar bersama beberapa teman lainnya. Aku pun langsung meninggalkan Si Putri dan berjalan menghampirinya. "Gimana, Van? Keadaan Si Tomy parah gak?" "Lumayan, sih. Mukanya lebam sama ada beberapa robekan di kulitnya. Tapi, kok aneh banget! Masa dia gak salah apa-apa, tiba-tiba ada yang ngeroyok." "Dia beneran dikeroyok?" "Iya. Yang waktu kemarin dia gak hadir tuh, dia dicegat dijalan terus digebukin sampe lemes sama babak belur." "Yang ngeroyoknya siapa?" "Tadi gue nanya ke si Tomy, katanya yang gebukin dia itu anak-anak dari SMA Yosan. Pas dia mau berangkat, dia ketemu sama mereka yang kebetulan lagi bolos sekolah." "SMA Yosan? Apa jangan—jangan gengnya Si Bima, ya?" "Bisa aja, sih. Dia sama gengnya 'kan punya dendam sama sekolah kita gara—gara lu ngabisin dia waktu itu." "Tapi, kenapa si Tomy yang digebukin? Kalau dendamnya sama gue, harusnya gue dong yang kena?" "Mungkin karena kebetulan mereka lihat seragam Si Tomy dari SMP Citra, makanya mereka mikir Si Tomy itu satu geng sama lu, kali." "Wah! Parah sih! Besok bolos, yuk? Kita cari anak-anak itu." "Ha? Serius lu mau bolos?" tanya Reza. "Iya. Serius gue." "Bentar, Top. Kalau kata gue jangan, deh. Maksud gue, jangan dibikin ribet. Biarin aja lah." "Gila aja lu yang kaya mereka dibiarin aja? Lua gak mikir apa? Temen sekelas lu digebukin sama mereka, Pea! Emang lu gak kasihan sama Si Tomy? Dia dibikin babak belur padahal gak salah apa—apa? Lu yakin gak mau balas dendam?" "Ya gue kasihan juga, sih." "Ya makanya! Lu gimana, Za? Mau ikut gak?" "Boleh juga. Udah lama gue gak baku hantam soalnya." "Nah, sip! Gue kayaknya tahu tempat anak—anak itu biasa ngumpul. Gue mau bikin perhitungan sama mereka biar gak berani ngusik anak-anak SMP Citra lagi." "Saran gue, sih, lu jangan nyari mereka apalagi sampe bolos." Si Putri tiba-tiba memberi saran. Aku menoleh padanya sembari mengernyit dahi. "Hah? Lu siapa ngatur-ngatur gue?" "Ya ... bukan ngatur, sih. Gue cuman ngasih saran aja. Ya itu terserah lu, sih." "Gue gak butuh saran dari lu!" Jujur, sebenarnya aku masih sangat kesal sama Cewek Songong ini. Dua kali aku ditampar olehnya tanpa sebab. Kapan ya gue bisa balas dia? *** Hari ini aku sengaja tidak berangkat ke sekolah karena ingin membuat perhitungan pada anak—anak yang sudah membuat si Tommy babak belur. Walaupun dia bukan teman sekelas—ku, entah kenapa aku jadi sangat geram saat mengetahui dia dikeroyok tanpa alasan oleh anak—anak itu. Jadi, pagi ini, Aku, Irfan, dan Reza meluncur menuju tempat di mana anak-anak itu biasa berkumpul. Dan benar saja seperti dugaanku, mereka semua ada di Tempat Angkringan di dekat alun—alun kota. Motor-motor mereka berjajar rapi di trotoar pinggir jalan. Aku menghentikan motorku cukup jauh dari Tempat Angkringan itu untuk mengamati mereka terlebih dahulu. "Eh, Top! Lu serius mau ngajak mereka berantem?" tanya Irvan terlihat ragu. "Serius lah! Emang kenapa? Lu takut?" "Ya bukan gitu. Lu gak lihat jumlah mereka? Itu ada berapa orang, Anjir?! Kita cuma tiga orang. Lu yakin kita bisa menang lawan mereka semua?" "Kalau gue, sih, nggak yakin," celetuk Reza. Ah! Dua orang ini emang suka ciut di awal kalau mau berantem. Tapi, mereka berdua lumayan jago, sih. "Udah! Lu berdua tenang aja. Yang lumayan jago berantemnya cuma Si Bima, yang lainnya cuma tikus—tikus gak berguna. Lu berdua pasti bisa ngalahin mereka semua." "Ya udah kalau gitu. Yok lah gaskeun! Gue udah pengen mukulin muka anak-anak itu." "Hahaha... Ya udah ayo gas!" Kami pun kembali melajukan motor kami dan berhenti di pinggir jalan. Tepat di depan Tempat Angkringan itu. Mereka melihat kedatangan kami. Anak-anak itu langsung bangkit dari duduknya dan menatap kami dengan tatapan terkejut. Beberapa dari mereka sudah mengetahui siapa aku. Beberapa kali juga aku terlibat masalah dengan mereka. Aku turun dari motor. Berdiri menghadap mereka sembari membusungkan d**a dan mengangkat sedikit kepalaku. Berlagak congkak. Aku tidak peduli dengan jumlah mereka. Aku menatap mereka semua satu per satu. "Yang kemarin ngeroyok anak SMP Citra, maju ke sini!" seruku dengan suara lantang, tapi belum maksimal. Mereka hanya diam dan saling menatap satu sama lain. BRAK!! Merasa kesal karena diabaikan, aku langsung menendang satu motor yang berada di dekatku. Motornya sampai terguling di trotoar. Ini motor mereka bukan, sih? Kalau bukan 'kan gawat juga. Nambah—nambah masalah aja. Tapi, sepertinya ini motor mereka, deh. Terlihat dari reaksi mereka yang terlihat sedikit kesal. "Lu semua pada budeg, hah?! Gue bilang yang kemarin ngeroyok anak SMP Citra, maju ke sini! Hadapin gue!" Aku kembali berteriak. Kali ini lebih lantang. "Berisik banget dari tadi. Ada apa, sih?" ucap seseorang dari balik kerumunan anak-anak itu. Ketua anak—anak ini akhirnya muncul juga. Dia Bima! Bima muncul dari belakang. Berjalan melewati anak—anak itu sembari membawa mangkuk yang entah apa isinya. Pantesan dari tadi dia gak kelihatan, lagi pesan makanan ternyata. Dia menatapku. "Oh ternyata kita kedatangan adik kelas, ya? Kalau gak salah lu dari SMP Citra, 'kan? Apa kabar, Bro? Udah lama nggak ketemu sama lu." "Bacot lu, Sialan! Lu 'kan, yang udah ngeroyok si Tomy kemarin?" "Tomy? Tomy mana? Gue nggak kenal." "Jangan pura—pura b**o lu! Gue tahu elu yang udah bikin dia babak belur." "Ah ... iya-iya gue ingat sekarang. Si Tomy itu anak culun kemarin yang gak bisa berantem sama sekali, ya? Gue kira dia jago berantem. Hahaha ... Gimana keadaannya sekarang? Dia baik-baik aja, 'kan?" "Ternyata bener, lu yang udah ngeroyok dia." "Hahaha ... Kalau iya emang kenapa? Lu mau gue bikin babak belur kayak dia?" katanya mengancamku. Wah! Bener—bener gila, nih, orang. Harus dikasih pelajaran ini, mah. Dia kira aku takut kali, ya. "Udah, deh, berhubung gue lagi mau makan, hari ini gue lepasin lu. Mending lu pulang sono. Sekolah yang bener. Masih bocah SMP udah bolos lu. Udah-udah, mending lu cabut sono!" "Ha? Lu ngelawak?" "Denger, ya! Pokoknya jangan ada yang berani macam-macam sama anak-anak Yosan. Terutama lu! Kalau lu gak mau gue hajar, mending lu pergi sekarang!" "Hah? Lu siapa, Bacot?! Bapak gue? Berani amat lu nyuruh-nyuruh gue pergi. Justru gue datang ke sini tuh mau ngasih pelajaran sama lu! Biar lu semua gak banyak tingkah dan gak berani macam-macam sama Anak SMP Citra." "Ha? Gue gak salah denger, nih? Hahaha...." "Sekarang lu semua maju sini! Hadapin gue! Mau satu-satu atau mau barengan, terserah! Gue gak peduli!" "Jadi lu bener-bener nantang gue, nih?" "Lha, ya iya! Lu kira gue ke sini mau silaturahmi?" "Kalau lu emang mau berantem sama gue, jangan di sini! Kita cari tempat lain." "Terserah gue mah. Mau di manapun, ayo! Mau di lapangan sekolah lu juga oke!" "Banyak tingkah amat lu, Bocah! Gue kasih pukulan baru tahu rasa lu." "Lah, lu gak inget? Lu pernah kalah berantem sama gue," kataku. "Itu dulu. Sekarang gue yang akan ngabisin lu!" balasnya. Sok-sokan banget, nih, orang! "Ya udah, ayo! Jangan bacot doang lu! Di mana tempatnya?" "Kalau gak salah, di deket sini ada bangunan kosong yang gak kepake. Kita ribut di sana." "Oke. Lu kira gue takut? Tapi, kalau lu kalah, jangan nangis ya. Hahaha..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN