#KETIKA_ISTRIKU_TAK_LAGI_CEREWET
#8
"Untuk apa kamu ke rumahku?" tanya Nia dengan nada sinis.
Widya melirik koper yang ada di tangan Nia, kemudian berganti pandangan ke arahku.
"Bagus jika kamu mengaku kalah!" ucap Widya.
Widya hendak masuk ke dalam rumah, tapi dengan Nia menahan dengan bahu kanannya. Mereka berdua saling pandang. Tatapan tajam yah begitu mengerikan.
Ternyata dua orang wanita yang tengah kesal lebih menyeramkan dari pada pria yang tengah bertarung.
"Kalau kamu ingin pergi, pergilah!" usir Widya seraya melirik koper di tangan Nia.
"Tidak, jangan pergi!"
Jelas, aku mencegah Nia pergi karena bagaimanapun ia masih sah menjadi istriku. Aku sama sekali tidak ingin menggantikan posisi Nia dengan Widya.
Meski aku pernah bermimpi untuk menggantikan posisi Nia, tapi aku sama sekali tidak menginginkannya untuk saat ini.
"Bukankah kamu bosan dengan sifat ceretku Mas?" sentak Nia.
Matanya tajam menatapku. Tangis yang tadi sempat menyelimuti wajahnya kini berganti ketegangan.
"Cukup! Maafkan atas semua yang telah kulakukan, aku tak pernah menyangka jika kamu bisa mengetahui hubunganku dengan Widya. Apakah dia yang menyebabkan kamu menjadi pendiam dan bersikap dingin padaku?"
Aku terus berusaha mencari celah dan mencari cara untuk membuat Lia kembali padaku dan mempertimbangkan untuk tidak pergi dari rumah ini.
"Apa-apaan sih kamu Mas, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu itu bosen sama dia dan kamu nggak suka terus-terusan diatur sama wanita itu!"
Widya menumpahkan semua kata-kata yang pernah aku ucapkan alasan mengapa aku akhirnya mendua dengan Widya.
"Diam kamu!"
Untuk pertama kalinya aku membentak Widya hal yang tak pernah kulakukan bahkan ketika aku marah padanya. Namun, kali ini aku harus mempertahankan hubunganku dengan Nia.
"Aku ngaku salah nih ya, tapi aku mohon jangan pergi karena aku benar-benar tidak ingin kehilangan kamu," rayuku.
Kini giliran Widya yang menatapku dengan tatapan tajam seolah tak terima dengan apa yang aku ucapkan kepada istriku. Dulu aku memang berharap jika bisa bersanding selamanya dengan Widya. Namun, setelah aku sadar bahwa Nia Memang takkan pernah terganti.
"Apa maksud kamu Mas? kamu berani bentak aku!"
Alih-alih diam ia justru membuat drama yang membuatku muak. Sementara itu Nia justru hanya terdiam dan melihat Widya yang terus memohon padaku.
"Udahlah Wid, kita itu cuman selingkuhan dan aku sudah tidak ingin lagi menghianati istriku," tegasku.
Aku memalingkan pandangan dari Widya kemudian menatap wajah Nia, istriku.
"Nia aku bener-bener nyesel sudah melakukan semua ini tolong kamu berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua aku janji akan jauh lebih menghargai kamu."
Aku bahkan bersujud di bawah kaki Nia untuk menunjukkan bahwa aku benar-benar menyesal telah melakukan semua kesalahan itu.
Nia memundurkan kaki hingga aku tak bisa menyentuh kakinya.
"Aku atau kamu yang pergi dari rumah ini Mas? bawa wanita itu pergi dari sini karena aku muak lihat wajahnya," ketus Nia.
Ia benar-benar tak banyak bicara tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya seolah belati tajam yang menusuk hatiku.
"Denger ya Nia kamu itu udah enggak diharapkan sama Mas Roby!" teriak Widya.
Widya menatap ke arah Nia dengan tatapan yang sangat sinis ia seakan yakin bahwa aku akan memilihnya dan meninggalkan Nia demi bisa bersama dengannya.
"Ambilah Robbi jika kamu memang menginginkannya karena aku sama sekali tidak butuh pria munafik seperti dia!" sentak Nia.
Aku tertegun tak percaya dengan apa yang Nia ucapkan. Jadi selama ini ia menganggap aku adalah pria yang munafik?
"Kamu ini memang wanita yang tidak pantas untuk dipertahankan!" balas Widya.
Makin lama aku makin tidak tahan dengan ucapan mereka berdua. Apalagi kata-kata Nia yang sesungguhnya sangat melukai hatiku. Entah Sejak kapan Nia tahu bahwa aku memiliki selingkuhan dan mengapa ia justru tidak langsung mengatakannya padaku?
"Diam kamu!" sentakku pada Widya.
"Nia aku mohon maaf untuk semuanya aku benar-benar mohon jangan tinggalkan aku!" rintihku.
Aku terus berusaha memohon seraya bersujud di kaki Nia. Meski beberapa kali Widya berusaha menarik lenganku agar berdiri dan tidak memohon kepada istriku.
"Sudah masuk jangan mohon lagi ada aku yang akan selalu menerima kamu apa adanya!" sentak Widya.
Aku bangkit dan menarik tangan Widya untuk bisa keluar dari rumah ini setidaknya aku ingin Nia tenang terlebih dahulu dan tetap tinggal di rumah kami berdua.
"Aku akan bawa dia pergi, tapi aku pun akan kembali untuk menyelesaikan semuanya," pamitku.
Dengan cepat aku membawa Widya pergi dari rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalku bersama Nia.
Sepanjang perjalanan Widya terus menangis dan mengatakan bahwa ia sangat kecewa atas perkataanku di rumah tadi. Namun, aku justru tidak memikirkan Ia sedikitpun.
Pikiranku justru sibuk memikirkan Nia di rumah. Aku berharap dia akan baik-baik saja dan tidak melakukan hal-hal buruk yang bisa melukai dirinya.
Sampai di lobby apartemen tempat tinggal Widya aku segera menghentikan langkah.
"Tolong jangan ganggu hidupku lagi aku ingin memulai semua kembali dengan istriku!"
Widya menangis tersedu di depan lift sementara aku pergi meninggalkan Ia sendiri tanpa merasa bersalah atau pun merasa harus ada yang dipertanggungjawabkan dari hubungan kami berdua.
Kini aku hanya tinggal meminta maaf pada Nia dan aku harap dia bisa memaafkan aku karena hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini.