Hancur

898 Kata
#KETIKA_ISTRIKU_TAK_LAGI_CEREWET #9 Aku lajukan kendaraan lebih cepat dari biasanya karena aku ingin segera sampai di rumah dan cepat membicarakan semuanya. Sesampainya di rumah aku segera membuka pintu yang ternyata belum dikunci oleh Nia. Aku masuk perlahan, melangkahkan kaki dengan sangat hati-hati karena aku melihat Nia tengah duduk di ruang tamu seorang diri. Pandangannya kosong seolah ia tak memikirkan apapun atau mungkin ia terlalu lelah memikirkan semuanya. "Sayang ..." panggilku seraya berjalan mendekat ke arahnya. Nia mendongak dan menatapku dengan tatapan tajam. Ia sepertinya tengah menyiapkan sebuah pertanyaan dan kata-kata untuk menghakimiku. "Sayang, maaf ..." lirihku seraya menyentuh jemarinya. Nia mengibaskan tanganku begitu saja, sepertinya ia begitu membenciku karena terlihat jelas dari tatapan matanya. "Aku tidak akan pernah meminta kamu untuk memilih antara aku dan wanita itu, karena bagaimanapun aku tidak sudi untuk kembali padamu, terlalu berharga jika aku harus memperebutkan lelaki penghianat seperti kamu! silakan kamu pergi dengan wanita manapun yang kamu mau!" tegas Nia. Aku tertunduk malu karena memang semua kesalahan berasal dariku kini lidah ini terasa kaku tak bisa lagi membela diri untuk membenarkan apa yang telah aku lakukan. "Aku hanya khilaf ..." Hanya itu yang bisa aku ucapkan saat ini. Sungguh aku tak menyangka jika Nia bisa bersikap seperti saat ini. Ia yang selalu aku kenal sebagai wanita yang lemah lembut dan penurut kini seakan berontak dan tak perduli tentang siapa aku. "Khilaf!" Nia tersenyum sinis, kata-katanya begitu terdengar angkuh dan tegas. "Aku mencintai kamu sungguh-sungguh Mas, dan aku bela-belain jualan online karena aku pikir kamu lembur selama ini memang untuk masa depan kita. Aku rela makan makanan sisa kamu, karena aku pikir aku bisa bikin kamu jauh lebih perhatian sama aku tapi, nyatanya kamu lembur hanya untuk menghindar dari aku!" Nia berkali-kali memukul dadanya sendiri, ia berteriak seraya terisak. Aku yakin ada luka yang teramat dalam di hatinya. "Nyapu, ngepel, beresin rumah itu bukan kodrat wanita Mas, tapi rasa hormat aku sama kamu. Apa kamu pernah bantu aku beresin rumah? masak? engga Mas, padahal itu juga bisa kamu lakuin kan! kalau kamu anggap itu sudah sepantasnya di kerjakan istri, seharusnya kamu bisa ngasih nafkah yang juga seharusnya di berikan suami ke istri! aku bisa bantu kamu cari uang, kenapa kamu gak bisa bantuin aku di rumah?!" Air mata mengiringi ucapan Nia yang terlihat di penuhi dengan amarah. "Maaf ... maaf ..." Tak ada lagi yang dapat aku katakan kecuali kata maaf dan berusaha meyakinkan Nia bahwa aku bisa berubah. "Aku akan berusaha untuk lebih ngertiin kamu Sayang, tolong ... jangan begini," rintihku. Nia mengusap air mata yang terus menetes seraya tersenyum dingin padaku. Matanya melirikku kemudian memandang ke arah lain. "Perhatian yang aku berikan, kamu anggap hanya sekedar ocehan yang tak memiliki makna. Kamu anggap aku hanya sebuah radio rusak Mas!" bentak Nia. Ia nampak tak bisa lagi membendung segala lara di dalam hatinya. Aku sadar, selama ini aku memang salah mengartikan semua perhatian yang ia lakukan. Amarahnya bagaikan boom waktu yang telah tersimpan begitu lama hingga akhirnya meledak malam ini lalu memporak-porandakan hatinya dan juga hatiku. Aku salah telah menganggap perhatian Nia sebagai ocehan yang tak berarti. Karena pada akhirnya aku merindukan perhatian kecil itu. Aku tertunduk lesu, menyesali semua yang telah aku lakukan. Namun, semua penyesalanku mungkin sudah tak berguna saat ini. "Ceraikan aku Mas!" teriak Nia. Aku bersimpuh di kakinya, memohon seraya menangis agar ia mempertimbangkan kembali semua keputusannya. "Jangan Sayang, please! tolong, berikan aku kesempatan," mohonku. Tanpa menatapku, Nia bangkit dan melepaskan tangank yang sedari tadi masih berusaha menggenggam jemarinya. "Kamu yang telah menghadirkan dia di dalam rumah tangga kita, jadi kamu juga harus siap kehilangan aku!" tegasnya. Ya, aku mengingat sejenak bagaimana Nia dengan manja mengatakan bahwa ia tak akan pernah mengampuni dosa perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga jika kami menikah nanti. Tapi, apa yang aku lakukan. Aku justru melanggar semua itu. Namun, aku benar-benar belum siap kehilangan Nia. Hati yang dulu begitu gagah mengatakan aku ingin mengganti posisinya dengan Widya, kini meringsut begitu saja. "Please Sayang, aku mohon ... akan aku lakukan apapun yang kamu minta untuk bisa menebus semua kesalahanku." Aku masih saja berharap Nia masih mau memaafkan aku. Meski pada kenyataannya Nia sama sekali tak bergeming sedikitpun dengan permintaan maafku. "Biarkan aku pergi Mas, tolong jangan tahan langkahku, itulah permintaan dariku!" pamit Nia seraya menatap bola mataku. Matanya penuh genangan air mata, wajah yang dulu begitu membuatku selalu merindu. Hingga akhirnya aku merasa bosan dan bertingkah, kini aku sangat menyesali semuanya. Ia berjalan melewatiku, tetap melangkah meski aku berusaha menahan langkahnya dan terus memintanya kembali. Entah kemana Nia akan pergi di waktu yang sudah selarut ini. Sebenarnya aku khawatir, hanya saja ia melarangku untuk mengikutinya dan sepertinya ia benar-benar sudah sangat membenciku. Berkali-kali ponselku berdering menandakan ada beberapa panggilan yang setelah aku lirik ternyata panggilan dari Widya yang tak berhenti menghubungiku. Beberapa notifikasi pesan masuk dari Widya. Ia kembali mengancam ku untuk mengakhiri hidupnya, kali ini aku benar-benar bersikap tidak peduli dengan apa yang akan ia lakukan karena aku tidak mau ia terus bergantung padaku. Dan tiba-tiba ada satu pesan masuk dari adikku yang memberitahukan bahwa Nia menginap di rumah ibu. Baguslah, setidaknya aku tenang untuk malam ini karena Nia tidak harus tidur di luar. Besok mungkin aku akan kembali membicarakannya di depan kedua orang tuaku agar Nia yakin bahwa aku ingin memperbaiki diriku dengan sungguh-sungguh. Aku yakin kedua orang tuaku akan membantuku untuk kembali bersatu dengan Nia karena Nia adalah menantu kesayangan di keluargaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN