Apa-apaan itu tadi? Tanya Yara pada dirinya sendiri. Ia kini sedang dalam perjalanan kembali ke studio. Sesaat ia dan Sam terlihat baik-baik saja dan bahkan seolah-olah hubungan mereka bisa membaik. Tetapi kemudian Yara teringat kembali pada kenyataan menyakitkan itu dan membuatnya merasa membenci Sam lagi.
Sial. Yara memukul keningnya dengan sebelah tangan. Apa yang salah dengan dirinya? Memangnya bisa menjalin hubungan yang baik dengan Sam semenyenangkan itu sampai ia berpikir membutuhkannya? Yara mendecak dan membanting setir. Pikirannya kacau, perasaannya juga bercampur aduk antara rasa bersalah dan benci. Terlebih fakta yang baru saja terungkap itu. Siapa tadi namanya? Ah ya, Ryo! Ryo Sato. Yara jadi penasaran seperti apa laki-laki itu. Kedengarannya seperti laki-laki b******k yang menghamili seseorang. Tetapi mendengar bahwa dia juga bertanggung jawab dan dari informasi yang sebelumnya Yara ketahui, dia rela kehilangan posisinya sebagai CEO demi mempertanggung jawabkan perbuatannya adalah hal yang bagus. Bahkan Yara merasa tak sungkan untuk memujinya. Nah, masalahnya sekarang kembali pada dirinya dan Samuel. Mereka akan segera bertunangan. Itu benar dan tidak bisa dihindari. Tadi Sam tak lagi terlihat seperti b******n yang pernah membuat harga dirinya terluka. Tetapi... tetapi tetap saja! Yara merasa tak bisa memaafkannya semudah itu.
Argh! Segalanya memusingkan.
Yara termenung sejenak. Sam benar-benar tidak mengingat dirinya, Yara tak mau mengakuinya tapi ia memang kecewa pada hal itu.
Akhirnya setelah beberapa lama dalam perjalanan Yara telah sampai kembali di studionya. Saat itu Kira dan Zen sudah tak ada di sana.
Yara mendesah muram. Ia juga tidak mengharapkan apa pun sih, karena mau bagaimana pun mereka semua memiliki kesibukkan masing-masing sekarang.
Berjalan dengan muram melintasi ruangan. Yara terdiam beberapa saat setelah meletakkan ransel yang ia kenakan di meja. Rasanya sangat tidak menyenangkan terus memikirkan hal ini. Meski tahu bahwa dirinya akan kecewa jika Sam benar-benar tidak mengingat dirinya, tetapi Yara tak pernah berpikir jika rasa kecewanya akan sebesar ini.
Yara bersandar pada meja dan mendesah sekali lagi. Dari jendela yang terbuka di seberang, angin bertiup pelan menerbangkan gorden tipis transparan di sudut. Memandang keluar balkon itu Yara merasa kekosongan seakan menampar dirinya. Memangnya apa yang ia harapkan dari Sam? Yara bertanya sendiri.
Bukan kah yang tersisa di antara mereka hanya kenangan buruk itu? Fakta bahwa Sam secara terang-terangan mengatakan ketidaksukaannya pada Yara. Lantas jika pun Sam mengingatnya bukan kah sama artinya dengan mengingatkan Sam pada kebenciannya sendiri terhadap Yara?
Yara menggeram marah, menekan pelipisnya dengan sebelah tangan dan bangkit. Ia melangkahkan kaki dengan kasar menyeberangi ruangan. Membuka pintu kaca geser yang terhubung dengan balkon, kemudian berbalik lagi untuk mengambil sebuah easel stand di sudut, meletakkannya di tengah ruangan tepat di atas kain putih dengan banyak noda cat dan memiringkannya sedikit ke arah balkon. Selanjutnya ia mengambil kanvas lukis dan meletakkannya di atas easel itu. Sejak masalah perjodohan ini muncul, tepatnya sejak Bisha melarikan diri dari rumah dan dirinya didapuk menjadi penggantinya, Yara memutuskan untuk hiatus dari pekerjaannya. Yah, bisa dibilang dirinya ini adalah seorang artist, seorang seniman yang menjual lukisan di platform internasional. Dan sejujurnya, meski tampak remeh, hal itu sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena justru dari penghasilannya itu ia bisa membeli studio ini dan melakukan banyak hal lain.
Terlebih dengan bantuan dari Zen yang notabenenya adalah seorang fotografer, ia secara tak langsung membantu mempromosikan semua karya Yara. Kemampuannya dalam bidang fotografi jelas tak bisa dianggap remeh lagi. Karena dengan semua hasil foto dari Zen Yara jadi berhasil mendapatkan banyak perhatian di sosial media. Dan hal terbaiknya adalah, Yara tak perlu menunjukkan wajahnya sendiri dalam hal ini. Ia hanya perlu menyelesaikan lukisan, membiarkan Zen memotretnya lalu mengunggah hasilnya di sosial media. Kedengarannya sangat mudah bukan.
Pada awalnya Yara yang memang sejak kecil selalu tertarik dengan seni mendapat dukungan -atau lebih tepatnya paksaan sih- dari Kira dan Zen untuk memamerkan hasil karyanya sekali. Yara yang tak pernah memiliki keberanian untuk sekedar membuat sebuah posthingan pun di sosial media jelas merasa tertekan. Tetapi toh Zen tetap dengan senangnya memotret karya-karyanya dan mengunggah semuanya sekaligus ke akun sosial medianya sendiri. Kira juga melakukan hal yang sama, bedanya ia tidak terlalu pandai dalam memotret jadi ia mengambil semua hasil foto Zen untuk ia unggah. Yang paling mengejutkan adalah hasil dari semua itu, banyak orang yang memuji karya-karya Yara. Membuat Yara bertanya-tanya pada awalnya, mereka semua mengungkapkan pujian-pujian itu karena mengira semua itu adalah milik Kira dan Zen kan? Belum tentu mereka akan melakukan hal yang sama jika ia yang melakukannya sendiri kan? Tapi terlepas dari rasa rendah dirinya itu, Yara akui ia merasa sangat senang.
Lalu, lagi-lagi, Zen dan Kira memaksanya untuk mengaktifkan kembali akun sosial medianya yang telah lama mati. Yah, agak menyedihkan jika mengingat hal itu. Karena seumur hidup Yara belum pernah benar-benar aktif dalam dunia online. Tapi kemampuan Zen dalam fotografi benar-benar membantu, dan pada saat itu Kira bisa dibilang yang paling banyak memikili pengikut di antara mereka juga sangat gencar mempromosikan karya-karya Yara. Dan seolah meledak begitu saja, dalam waktu setahun Yara berhasil membeli studionya sendiri. Mengingat semua itu, Yara merasa senang. Meski tentu saja selama waktu itu ia menjadi sangat sibuk dengan begitu banyaknya pesanan.
Tanpa sadar Yara menyunggingkan seulas senyum saat ia tengah menyiapkan beberapa cat dan kuas. Oke, sudah cukup lama ia hiatus. Kapan tepatnya ia akan kembali, Yara sendiri belum yakin. Dan banyak pengikutnya juga yang sudah mempertanyakan update darinya.
Yara menggeleng-gelengkan kepala. Mengambil sebuah palet bersih dari rak dan mengambil sebuah gelas plastik dari rak lain, mengisinya dengan air dan meletakannya di atas meja.
Satu hal dari segala hal yang telah ia lalui selama ini. Fakta bahwa Sam lah yang membuat Yara berada di tempatnya sekarang, secara tak langsung. Karena kesedihan yang ia rasakan selalu tertuang dalam gores-gores cat. Yara baru saja akan menyapukan sapuan pertamanya pada kanvas saat mendadak teringat ucapan Zen pagi tadi. Ya, terkadang Yara juga menyadari. Bagaimana bisa ia selalu memikirkan dan membicarakan seseorang selama hidupnya tanpa memiliki perasaan khusus pada orang itu.
Yara terdiam beberapa saat. Ah, rasa kecewa ini bukannya tanpa alasan. Itu karena meski pun pertama kali mereka berdua bicara secara langsung Sam justru mengatakan kebenciannya, tetapi Yara masih berharap Sam mengingat dirinya dan dapat melihat bahwa ia telah menjadi seseorang yang lebih baik. Secara penampilan. Tetapi kemudian Yara juga menyadari, memangnya apa yang berbeda dari dirinya sejak bertahun-tahun yang lalu itu? Ia hanya memanjangkan rambutnya, itu saja. Selain itu tak ada yang berubah dalam dirinya. Ia masih dirinya yang jelek.
Yara mengerjap, tetapi kemudian ia melanjutkan kegiatannya dengan raut wajah sedih.