Yara sedang berbaring di sofa di sebelah jendela saat tiba-tiba ponselnya berdering. Tanpa menggerakan tubuhnya, dengan malas Yara melirik ke arah meja di mana ponselnya tergeletak di sebelah ransel. Ia mendesah keras-keras seolah lelah sekali sebelum akhirnya memutuskan untuk bangkit dan berjalan dengan langkah diseret menyeberangi ruangan. Beberapa noda cat nampak mengotori wajahnya dan lebih banyak lagi di kedua tangan dan di kemeja yang tengah ia kenakan. Meski semuanya sudah kering namun tetap saja membuat Yara terlihat begitu berantakan. Walau tak pernah ia permasalahkan sebelumnya karena memang sepert ini lah penampilannya setiap hari. Tetapi kali ini rasanya semua hal kecil bisa membuatnya merasa terganggu sampai ke tingkat paling menyebalkan.
Dengan sebelah tangan Yara meraih ponselnya, menatap nama Zen yang tertera di layar dan mengangguk singkat. Di ujung sana suara Zen seketika terdengar begitu ia menempelkan benda itu di telinga.
"Ya?" Ucap Yara dengan suara serak yang baru ia sadari, membuat Zen terpaksa mengulangi kata-katanya lagi. Yara mendesah tanpa suara sekali lagi karena tak ingat kapan terakhir ia minum. Bahkan seharian ini ia belum makan apa pun.
"Kenapa lama sekali menjawab teleponku? Apa ada sesuatu?"
Yara berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada meja, ia memejamkan mata dan dengan sebelah tangannya yang bebas memijit pelipisnya. "Tidak juga, aku hanya sedang melukis," ia membuka matanya sedikit, melirik lukisan yang baru beberapa waktu lalu ia selesaikan dan menggeleng-geleng tak senang.
"Oh, itu bagus," nada suara Zen berubah, serupa kau saat mendapati sesuatu yang kau sukai dan memang kenyataannya begitu, Zen sangat senang setiap kali Yara membuat karya-karya baru. Tapi seperti yang Yara pikirkan, Zen memiliki hal lain yang lebih penting untuk dibicarakan sekarang. "Jadi bagaimana pertemuanmu dengan Sam?" Ia bertanya dengan hati-hati dan dengan banyak usaha agar suaranya tak terdengar kaku.
Yara menghentikkan gerakannya dan memandang lukisan baru itu untuk beberapa saat, seolah menilai. "Biasa saja."
Yara tahu pasti bukan jawaban semacam itu yang Zen harapkan. Tapi masalahnya Yara juga memiliki harapan untuk tidak membicarakan pertemuan itu lagi. Karena ia jadi merasa... sangat, sangat menyedihkan.
Zen terdengar seakan tengah berusaha untuk menahan kata-katanya. Lalu setelah beberapa saat terdengar suara desahan dari tempatnya dan ia kembali bersuara dengan malas. "Yah, asal tak ada masalah yang serius saja."
Yara mengangguk meski tahu benar Zen tidak bisa melihatnya. Ia berpikir berkali-kali sebelum akhirnya menyerah dan membuka suara. "Ini benar seperti dugaanku sebelumnya."
Suara Zen terdengar menegang seketika. "Dugaan apa?" Ia bertanya dengan waspada.
"Posisi Sam sama sepertiku," saat ini Yara hanya berharap suaranya tidak terdengar bergetar, tidak terdengar seolah ia sedang menahan tangis.
Zen terkesiap. Tapi nampaknya memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun sampai Yara selesai bercerita.
"Kau tahu kan maksudku, seharusnya kakakku yang ada di posisi ini dan di lain sisi, seharusnya kakak Sam juga lah yang ada di posisinya."
Sekali lagi Zen terkesiap keras. Tapi alih-alih mengatakan sesuatu ia nampaknya terlalu terkejut sampai-sampai seluruh kata yang hendak ia ucapkan serasa tersangkut di tenggorokan.
Yara mendengarkan dengan sabar dan mendesah, tahu Zen pada akhirnya tidak bisa mengatakan apa pun. "Sam dengan jujur menceritakan semua itu padaku, tapi itu bukan masalah besar. Yah, bagaimana pun juga ini sudah terjadi. Aku tidak punya pilihan," kata Yara dengan getir.
"Jika itu bukan masalahnya lalu apa masalahnya?"
"Apa maksudmu?" Tanya Yara dengan kening mengernyit.
"Kau tahu, kau terdengar seolah kau sedang sedih sekali. Itu sebabnya aku bertanya padamu."
Yara terdiam beberapa saat. Ia baru akan menjawab dengan marah sampai kemudian menyadari bahwa Zen hanya mengkhawatirkannya, itu saja. Jadi menggantikan kata-kata yang akan ia ucapkan, ia mendesah cukup keras. Lagi pula Zen memang benar. Bagi Yara kenyataan itu tidak terlalu menjadi masalah sekarang. Tapi yang jadi masalah dan membuatnya begitu sedih adalah kenyataan bahwa Sam tidak mengingat dirinya, hanya saja Yara tidak mampu dan tidak akan mau mengakuinya.
"Ah, aku jadi berpikir untuk kabur dari rumah juga," desah Yara dengan gaya yang dilebih-lebihkan.
"Asal sebelumnya beritahu aku ke mana kau akan pergi, kalau perlu aku akan menyiapkan bantuan untuk pelarianmu."
Dan mereka pun tertawa.
Yara mengusap keningnya, menyingkirkan helaian rambut di sana dan tersenyum. "Meski bertunangan dengan Sam bukan hal yang seburuk itu sih," tentu saja, mana bisa sesuatu semacam ini disebut buruk jika orang yang dijodohkan denganmu adalah orang yang kau sukai. "Hanya saja, segalanya terlalu tiba-tiba untukku. Ditambah sebelumnya aku berpikir untuk tidak perlu menikah sama sekali, jadi kurasa perjodohan ini, aku bisa menganggapnya sebatas formalitas, tak ada masalah dari itu," Yara tahu bahwa ia hanya sedang menghibur diri sendiri, dan meski begitu ia tetap menyampaikan semuanya pada Zen.
Zen tertawa singkat yang kedengarannya sedikit agak dipaksakan. "Baiklah karena tidak ada masalah lagi aku bisa tenang sekarang."
Yara bergeming, setengah berharap ia bisa mengatakan dengan jujur pada seseorang bahwa ia saat ini merasa sangat sedih dan kecewa. Berharap bisa menangis dalam pelukan seseorang dan membagi kepedihan yang ia rasakan, yang ada dalam pikirannya sekarang hanya lah Kira dan Zen, tapi Yara tahu ia tak akan pernah bisa melakukan semua itu. Ia tidak ingin mengakui bahwa dirinya memang menyukai Samuel Sato, si b******k itu.
"Ngomong-ngomong aku sedang bertemu dengan klienku sekarang," Zen memberitahu.
Yara mengangguk. "Itu bagus."
"Setelah ini aku bisa datang untuk memotret lukisan barumu."
"Tak perlu terburu-buru, aku butuh tidur sekarang dan aku bukan makhluk yang tidak membutuhkan waktu tidur sepertimu."
Zen tertawa, tapi kemudian mengubah nada suaranya menjadi galak. "Apa-apaan, ini baru jam tujuh!"
Sambil tertawa kecil Yara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudahlah, urus dulu klienmu sekarang. Jaga etikamu juga, dasar bodoh."
Zen menjawab ya ya dengan enggan dan hubungan pun terputus.
Sekali lagi, masih dengan menyandarkan tubuh pada meja, ia memandang pada lukisan barunya. Sebuah lukisan dengan kesan yang suram namun juga sedih pada saat yang sama. Lukisan seorang gadis dengan gaun merah duduk di sebelah jendela besar dengan latar belakang langit malam dan daun maple. Biasanya Yara jarang sekali melukis seseorang secara khusus. Tetapi kali ini, meski wajah perempuan dalam lukisan itu tak terlihat tapi jelas bahwa dia adalah perempuan yang cantik. Ya, dia adalah Bisha, kakaknya. Yang Yara harapkan bahwa dirinya adalah Bisha, karena dengan sosok secantik itu pastinya tidak akan seorang pun yang akan dengan mudah melupakannya.
Yara menegakkan tubuh dan berjalan menyeberangi ruangan. Ia berhenti tepat di hadapan lukisan itu. Menatapnya dengan sedih. Berharap dirinya bisa berubah menjadi seseorang yang lebih cantik.
Terkadang ia merasa betapa tidak adilnya semua ini, kenapa Bisha bisa diciptakan secantik itu bersamaan dengan semua kesempurnaan yang ia miliki, sedangkan Yara diciptakan seperti ini. Namun dalam waktu singkat Yara menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia memang sedih karena dirinya tidak secantik Bisha. Tapi terlepas dari semua itu, Bisha adalah kakak terbaik yang ia miliki.
Mendadak terdengar suara berisik di depan pintu, Yara terkesiap dan dengan cepat menarik sebuah kain putih dari rak sebelah dan menutup lukisan barunya dengan itu.