Chapter 6

1422 Kata
Yara tertegun di tempatnya berdiri saat melihat Kira dengan langkah berisik masuk sambil membawa sebuah bungkusan besar, butuh waktu beberapa saat sampai Yara menarik kesadarannya kembali dan melirik lukisan yang baru saja ia tutupi. Apa yang ia pikirkan? Ia bertanya pada diri sendiri. Berpikir bahwa Sam lah yang datang dan ia tidak ingin Sam sampai melihat lukisan ini? Konyol! Skenario t***l macam apa itu. Sambil mendesah keras-keras Kira meletakkan semua barang bawaannya di meja, menarik kursi dan duduk. "Astaga aku lelah sekali, kau pasti tidak akan percaya!" Ia berseru pada Yara yang masih membeku di samping lukisan. "Aku bertemu dengan dua orang sekaligus hari ini, kau tahu, mereka pemilik dari sebuah butik baru, mereka sama-sama ingin aku menjadi model mereka. Aku pusing sekali, kemari dan bantu aku memilih di antara keduanya," ia memberi isyarat dengan sebelah tangan agar Yara mendekat. Membuat Yara merasa sangat bodoh. Yara dengan gerakan malas melepas apron putih yang ia kenakan dan menjatuhkannya sembarangan. Ia sendiri baru sadar masih memakai benda itu selama ini. Kemudian ia menyeret kakinya lagi dan mengambil kursi di hadapan Kira. Kira tengah sibuk mengeluarkan beberapa katalog dan lain-lainnya, sesuatu yang Yara tidak mengerti. Selain itu seperti yang baru Yara sadari, Kira juga membawa banyak sekali makanan, pizza, ayam pedas, dessert, kentang goreng dan beberapa yang lain, membuat kening Yara mengernyit karena temannya yang satu ini selalu mengeluhkan sesuatu seperti bahwa dirinya harus menjalani diet demi karirnya, padahal pada kenyataannya sebanyak apa pun dia makan dia tidak bisa menjadi lebih gemuk. Membuat Yara terkadang ingin meninjunya saja. Jadi tanpa menunggu dipersilakan Yara meraih sekotak pizza dan membukanya, dan kemudian tak lupa mengambil segelas soda dingin yang menggoda, membasahi tenggorokannya yang ia sadari terasa begitu kering. Kira tidak mengacuhkannya dan masih sibuk membolak-balikkan halaman katalog. Baru lah setelah Yara setidaknya menghabiskan sepotong pizza dan dalam perjalanan menghabiskan sepotong ayam Kira mendorong katakog-katalog itu padanya, dengan halaman yang sudah ia pilih. "Ini, menurutmu mana yang lebih cocok untukku?" Tanyanya mendesak. "Masalahnya mereka ini cukup mirip dan keduanya sama-sama seleraku. Harus kukatakan juga gaun-gaun mereka cantik sekali," katanya lagi tanpa memberikan Yara kesempatan untuk menjawab. "Ayo cepat lah pilih." Yara mendecak dan memutar matanya. Dengan terpaksa meletakkan potongan ayamnya dan meraih kedua katalog yang terus didorong ke arahnya. Sejujurnya Yara sama sekali tidak mengerti tentang mode dan heran kenapa Kira selalu melibatkannya dalam hal ini. Jadi karena setidaknya sudah begitu sering menghadapi masalah yang sama, Yara berlagak memandang kedua katalog itu dengan raut wajah serius. Kira tipe orang yang tidak terlalu mementingkan bayaran dan lebih memilih sesuatu yang ia sukai untuk dilakukan. Jadi biasanya Yara hanya memberikan saran sesuatu yang cocok untuk Kira, sama sekali tidak penting jika Yara mengakuinya, tapi Kira bertindak seolah saran darinya adalah segalanya. Yara membayangkan gaun-gaun mana yang lebih cocok untuk Kira kenakan. Semuanya memang cantik seperti yang Kira katakan, dan bahkan menurut Yara semuanya akan cocok untuk Kira kenakan. Nah, ia jadi ikut bingung sekarang. Namun sebelum ia memaksakan sebuah jawaban mendadak terdengar suara pintu terbuka dan Zen masuk sambil menyapa dengan suara keras. Nampak senang dan puas akan sesuatu. Lalu pandangannya berubah makin senang saat melihat banyak makanan di meja. Untuk pertama kalinya Kira mengabaikan ransel merah Zen yang ia letakkan di sisi lain meja, membuat Yara seketika sadar bahwa temannya yang satu ini masih menatapnya dengan serius dan menunggu jawaban. Yara menjadi gugup seketika, untungnya saat itu Zen menyadari keheningan di antara mereka dan bertanya. "Apa yang sedang kalian lakukan?" dengan mulut penuh potongan pizza. "Ini," Yara mendorong semua katalog itu pada Zen, membuat alis laki-laki itu terangkat tinggi, tapi raut wajahnya langsung berubah begitu melihat isi katalog, ia menganggukkan kepala sekali, menelan seluruh makanannya dan entah kenapa terlihat seakan mengerti pada sesuatu. "Kau sudah berpikir untuk memilih gaun pernikahan dari sekarang?" Yara langsung merasa akan tersedak saat itu juga. "Bukan, dasar bodoh, aku sedang membantu Kira memilih." "Wah," Zen mendesah berlagak sedih. "Kenapa tiba-tiba semua temanku menikah, aku ditinggalkan sendirian seperti ini, sedih sekali." Kira mendengus tajam, tetapi menolak untuk mengatakan apa pun. "Aku serius sekarang, Kira memintaku untuk membantunya memilih brand mana yang akan ia pilih." Menghentikan tawanya sendiri, Zen kembali menundukkan kepala dan memeriksa katalog-katalog itu sekali lagi. Dan meski di raut wajahnya masih terlihat kilatan jahil tapi baik Yara mau pun Kira tahu bahwa temannya yang satu itu tengah serius sekarang. "Yang ini terkesan lebih berani," kata Zen setelah membalik beberapa halaman lain, yang seketika membuat Yara merasa bodoh karena tidak kepikiran untuk melihat halaman-halaman yang lain juga. "Aku sarankan kau pilih yang ini," Zen menunjuk satu katalog yang lain. "Ini terkesan lebih lembut, walau bertolak belakang dengan karaktermu sih," tentu bukan tanpa alasan, karena kenyataannya meski memiliki wajah yang cenderung cantik dan lembut karakter Kira justru bertolak belakang dari kelembutan wajahnya. Tapi meski mendengar kata-kata itu yang biasanya membuat Kira langsung bereaksi dengan marah, ia nampak serius memperhatikan katalog yang Zen pilih. Dengan cepat Yara melakukan hal yang sama. "Bagaimana menurutmu?" Tanyanya pada Yara, persis seperti yang Yara duga. "Itu bagus, kesannya lebih lembut," dan lebih tertutup, imbuh Yara dalam hati. Kira mengangguk-angguk dengan serius. "Baiklah, kalau begitu sudah ditentukan," kemudian ia menghela napas lega dengan keras dan menyingkirkan semua katalog dan hal-hal lainnya dari meja. Yara menyunggingkan senyum lega dan melanjutkan makannya juga. "Ini benar-benar melelahkan, tapi aku sangat menyukainya," kata Kira dengan senyum lebar sambil mengunyah sepotong pizza. "Ngomong-ngomong kenapa kau benar-benar datang?" Tanya Yara pada Zen. Seolah baru ingat pada tujuan kedatangannya, Zen seketika berhenti makan dan duduk dengan tegak. "Oh, ya benar, aku hampir lupa," ia dengan buru-buru menelan makanannya dan bangkit berdiri. "Di mana lukisan itu?" Yah, seolah ia tidak bisa melihatnya sendiri. Yara mengedikkan bahu dengan malas dan tanpa menunggu jawaban atau memandang Yara lagi Zen bangkit dan berjalan cepat menyeberangi ruangan. Ia menarik kain putih yang menutupi lukisan dengan sentakan keras dan bergumam senang begitu melihatnya. Kira mencondongkon tubuh ke samping untuk melihat juga dan senyumnya melebar. "Wah, itu bagus, tapi kenapa tiba-tiba melukis seseorang? Itu jarang sekali- JANGAN SENTUH ITU DENGAN TANGAN KOTORMU!" Ia berteriak seketika begitu melihat Zen mengulurkan sebelah tangan. Zen nyengir tanpa merasa bersalah dan berbalik kembali ke meja. "Kau benar, lebih baik aku menyelesaikan makanku dulu." Yara memutar matanya dan mengambil sekotak kentang goreng. "Oh, ya, aku baru ingat," kata Kira setelah mengomel panjang lebar. "Bagaimana pertemuanmu dengan Samuel siang ini?" Diam-diam Zen berhenti mengunyah dan melirik Yara sekilas, tapi demi menghindari masalah ia melanjutkan makannya tanpa mengatakan apa pun. Tanpa di duga Yara nyengir. "Tak ada masalah dengan itu." Kira menyipitkan mata curiga. Akhirnya setelah beberapa waktu dalam keheningan, Yara menarik napas, mengembuskannya perlahan dan menceritakan kembali seluruh cerita Sam padanya. Lagi pula Kira dan Zen adalah orang yang bisa dipercaya untuk menjaga rahasia. Kira berpikir dengan serius begitu Yara selesai bercerita. Di sisi lain Zen nampak tidak terlalu terkejut karena sudah mengetahui sebagian ceritanya. "Sudahlah, tak ada yang perlu dibicarakan lagi tentang itu. Ini hanya... semacam aku tinggal menjalaninya saja," ucap Yara menghentikan Kira untuk terus memikirkan ceritanya. Meski tidak langsung setuju tapi toh Kira mengalah juga dan mendesah lelah. "Masalah hidup memang rumit, rasanya aku butuh liburan-" mendadak ia terkesiap. Membuat Yara dan Zen nyaris tersedak karena terkejut. "Oh, bagaimana bisa aku lupa!" Ia memekik dengan antusias. "Ada sebuah resort yang ingin mengontrakku juga, ayo kita datang ke sana bersama-sama, sekalian liburan!" Mendengar itu kemarahan yang nyaris jatuh dari mulut Yara segera menguap. Hal yang sama nampaknya juga terjadi pada Zen. "Gila, itu bagus! Kapan tepatnya?" Zen bertanya dengan antusias. Kira tersenyum bangga, nyaris-nyaris terlihat memuakkan. "Seminggu lagi kurasa." Yara mengerang kecewa. "Itu lama sekali." Zen berpikir sejenak. "Itu bagus, aku akan meluangkan waktu." Kemudian Yara langsung teringat bahwa kedua temannya ini sama-sama memiliki pekerjaan yang lebih terikat pada waktu ketimbang dirinya dan tersenyum agak sedih. "Baiklah, karena sudah ditentukan kita harus benar-benar pergi," Kira berseru riang. Tapi kemudian ia seolah baru teringat pada sesuatu lagi dan menatap Yara. Anehnya Zen juga melakukan hal yang sama, membuat Yara kebingungan. "Eh, tidak," ucapnya cepat begitu sadar arti tatapan keduanya. "Sam tak ada hubungannya denganku, jangan libatkan dia dengan kehidupan pribadiku," meski kata-kata itu tak sepenuhnya tepat karena bagaimana pun di masa depan ia akan menikahi Sam, tapi toh Zen dan Kira hanya mengangguk setuju. Yara menghela napas tanpa suara dan mengalihkan pandangan pada lukisan barunya yang sekarang terbuka. Abaikan semua masalah itu, ia harus bisa lebih santai sedikit dan mulai aktif kembali pada pekerjaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN