Chapter 11

1147 Kata
Beberapa hari telah berlalu dan tidak sekali pun Yara pulang ke rumahnya. Dan Yara mendapati dirinya menaruh sedikit simpati pada Sam karena meski pun tiap kali dia berusaha menghubungi Yara dan terus mendapatkan reaksi dingin bahkan seringnya ia abaikan sepenuhnya, tidak sekali pun Sam mengadukan perilaku buruknya ini pada orang tua mereka. Jika tidak, pasti lah orang tuanya akan menghubunginya sambil meraung marah. Yara terduduk sambil bertopang dagu, memikirkan Sam sesaat dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya laki-laki itu pikirkan. Apakah ia benar-benar berpikir bisa memiliki kehidupan yang normal dengan Yara? Saat mengatakan kata pernikahan dalam pikirannya saja, membuat lidah Yara terasa ngilu. Ia tidak bisa atau lebih tepatnya belum bisa membayangkan kehidupan macam itu. Lagi pula ia masih terlalu muda untuk semua ini. Terlebih memangnya Sam pikir siapa dirinya? Apa karena kelebihan kasat mata yang ia miliki lantas membuatnya berpikir semua perempuan akan mudah jatuh padanya? Yara mendengus kesal. Teringat pada ucapan Zen hari itu, seketika kerutan di keningnya bertambah. Dengan segala jejak keonaran yang dibawanya, tak seorang pun yang memiliki pemikiran lurus bisa mengatakan jika seorang Samuel Sato tak pernah bermain perempuan. Meski Yara sendiri belum pernah melihatnya secara gamblang, tapi bukannya ia tidak memiliki kehidupannya sendiri sampai harus terus menaruh mata pada laki-laki yang dibencinya itu. Mendadak terdengar suara berisik dari luar disusul oleh kemunculan Zen dan Kira yang selalu diwarnai keributan. Yara menyeret perhatiannya kembali dan memandang tak ramah pada kedua temannya. "Apa yang kalian lakukan? Pindahan ke suatu tempat?" Tanya Yara sebal begitu melihat tas bawaan kedua temannya yang besar-besar. Hari ini mereka memang akan pergi ke resort yang Kira bicarakan beberapa waktu lalu. Namun mereka hanya akan menginap di sana selama dua hari satu malam. Yara sendiri hanya membawa sebuah ransel, ia jelas tidak mengerti pada tingkah kedua temannya ini. Kira mendecak seolah Yara adalah manusia paling membosankan di dunia, tapi sejurus kemudian ia memberikan tatapan mengerti yang seakan mengatakan, Yara adalah Yara, jadi apa yang bisa diharapkan? "Kau tahu, aku membawa beberapa baju renang sekaligus. Karena aku dikontrak untuk mempromosikan resort itu yang artinya juga aku membutuhkan peralatan make upku dan hal-hal lainnya," jelas Kira sambil memeriksa lagi barang bawaannya dengan kening berkerut. Seolah takut ia melupakan sesuatu barang lain yang seharusnya dibawa juga. Yara mendadak merasa bersyukur karena ia tidak memiliki pekerjaan seperti Yara. Secara teknis memang sangat menjanjikan karena hanya dengan mempromosikan atau menjadi brand ambassador ia mendapatkan bayaran yang tak bisa dibilang sedikit. Belum lagi bayarannya sebagai model dari banyak brand pakaian. Dan semua ini Kira dapatkan hanya bermodal pengikutnya di sosial media. Yah, bagaimana pun juga tidak akan seorang pun yang bisa menilai Kira jelek sejak pandangan pertama. Kecuali orang itu buta, memiliki selera buruk atau iri padanya. Tentu Yara juga masih sangat mengingat efek besar yang Kira timbulkan baginya. Zen adalah orang yang memotret karyanya pertama kali dan Kira lah yang mempromosikan foto-foto di akun sosial medianya. Dan Yara sangat tahu benar berapa banyak seharusnya ia berhutang pada kedua temannya itu yang tidak pernah sekali pun meminta imbalan. Mungkin karena sejak kecil mereka biasa hidup berbagi satu sama lain. Tak pernah perhitungan pada sesuatu yang besar. "Jadi bagaimana? Kau sudah siap? Ayo kita berangkat sekarang," Kira memandang Yara dengan tatapan curiga. Yara langsung mengerti. Karena di antara mereka justru dirinya lah yang paling aneh karena membawa bawaan yang terlalu sedikit. Yara sendiri nyaris melupakab fakta bahwa resort yang akan ia kunjungi hari ini bersebelahan langsung dengan laut. Dengan kata lain akan ada banyak kegiatan di air dan ia mmebutuhkan baju renang. "Aku akan membeli baju renang di jalan nanti." Nah, Kira sudah bersiap untuk mengomel, tapi ia segera menahan diri saat sebuah ide muncul dalam kepalanya. "Bagus, aku akan memilihkannya untukmu," ia tersenyum senang. Yara balas tersenyum nanar, akan lebih baik membiarkan Kira membantunya ketimbang mendapatkan omelan sepanjang jalan. Kemudian mereka beralih pada Zen yang sejak kedatangannya terlihat setengah melamun dan berpikir keras. Saat sadar dirinya tengah diperhatikan ia pun menyunggingkan seulas senyum yang selalu terlihat kekanak-kanakan dan berujar. "Menurut kalian bagaimana jika kita membawa lukisan Yara juga? Aku mendadak mendapat ide untuk melakukan pemotretan di laut. Lagi pula sebelumnya aku sudah pernah bilang padamu untuk menunjukkan diri sendiri kan? Ini pasti akan menyenangkan!" Zen berseru gembira di akhir kalimat, membuat Yara berharap dirinya bisa sakit saat itu juga dan membatalkan rencana untuk ikut bersama mereka. "Itu bagus!" Kira ikut bersorak dengan wajah cerah. "Jadi kau sudah memutuskan untuk menunjukkan dirimu juga? Kudengar belakangan banyak seniman yang melakukan hal yang sama. Ini pasti akan menarik banyak perhatian saat akhirnya penggemarmu tahu siapa dirimu yang sebenarnya." Yara nyengir masam. Justru karena hal itu akan menarik banyak perhatiannya membuat ia ingin memaku diri sendiri ke dalam tanah. Secara khusus tentu Kira dan Zen sangat tahu kecemasannya mengenai hal ini, tapi Yara juga mengerti bahwa Kira dan Zen selalu menganggap semua itu tak beralasan. Dan nampaknya mereka benar-benar telah mencapai batas kesabaran dan ingin mendorong Yara agar menjadi lebih percaya diri. Yara tahu pasti yang mereka lakukan ini untuk kebaikan dirinya, tetapi ia masih mencemaskan begitu banyak hal. Ia takut orang-orang akan meninggalkan komentar buruk di fotonya, mengatakan dengan jujur betapa jelek wajahnya, semua itu tak bisa Yara toleransi. Ia tidak akan sanggup menerima komentar kebencian semacam itu. "Oh, ayolah tak akan seburuk itu," Kira berusaha menghibur. "Sampai sekarang aku juga masih mendapatkan komentar buruk. Mereka hanya iri karena aku cantik, dan apa pun yang mereka katakan tak ada pengaruhnya untukku." Yara tersenyum kaku sekali lagi. Tentu saja yang Kira katakan benar adanya. Ia memang cantik dan semua komentar buruk yang ia terima paling hanya karena mereka iri. Tetapi hal yang berbeda berlaku untuk Yara. Dirinya memang jelek apa adanya, dan jika orang-orang meninggalkan komentar buruk itu karena memang begitu adanya. Tanpa ia sadari Zen sudah beralih ke sisi lain ruangan dan memilih lukisan yang akan ia bawa. Yara ingin kesal tapi langsung ingat bahwa orang itu adalah Zen. Memangnya apa yang bisa ia lakukan untuk mencegahnya? "Bukankah ini akan sulit untuk membawa-bawa lukisan di antara kita?" Yara mengajukan pertanyaan, setengah berharap Zen akan membatalkan niatnya. "Tenang saja aku membawa mobil sendiri, jadi kita meletakkan semua barang bawaan di garasi," jelas Zen masih terpaku pada lukisan. Mendengarnya kedua mata Kira langsung membelalak. "Kau membawa mobil sendiri tapi tidak memberitahuku?! Aku kesusahan naik bus ke sini membawa banyak barang! DAN APA-APAAN KEBODOHANMU INI? KAU MEMBAWA MOBIL TAPI TETAP MEMBAWA BARANG BAWAANMU NAIK KE SINI ALIH-ALIH MENINGGALKANNYA DI MOBILMU." Zen nyengir lebar mendengar omelan Yara. "Aku juga lupa, karena terlalu bersemangat memikirkan konsep pemotretan aku jadi tanpa sadar malah membawa seluruh bawaanku ke sini." Yara mendesah tanpa suara. Ia merasa kepalanya pusing namun senang di saat yang sama. Tak ada yang kurang dari dua temannya yang satu ini. Sekali pun dibilang ada yang kurang, maka mereka hanya kekurangan otak. Barangkali Yara juga bisa disebut sama dengan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN