Chapter 10

1230 Kata
Yara tengah menghabiskan sodanya yang tersisa saat ponselnya berdering. Sambil meletakkan kembali gelas plastik yang kosong itu ia meraih ponselnya di sisi lain meja. Keningnya berkerut tak senang saat membaca sebuah nama yang tertera di layar ponsel. Meski suasana hatinya sudah menjadi lebih baik, tapi kemunculan Sam benar-benar membuatnya sebal. Dengan gerakan kesal ia menempelkan ponselnya ke telinga. Dan suara Sam pun langsung terdengar. "Apa?" Ia bertanya dingin tanpa membalas sapaan Sam. Sam terdiam sesaat. Mungkin terkejut. Tetapi Yara tidak mau memedulikannya sama sekali. "Aku, aku ingin mengajakmu makan siang sekarang, apa kau ada waktu-" "Aku sibuk," sahut Yara cepat bahkan sebelum Sam benar-benar menyelesaikan kalimatnya. "Oh..." Kekecewaan terdengar dalam suara itu. "Kalau begitu mungkin lain kali. Bisakah kita membuat rencana untuk bertemu?" "Tidak." Sam terdiam beberapa saat lagi. Yara menyipitkan mata tak sabar. "Jika tak ada lagi yang ingin kau katakan, sudah ya," ia memutus hubungan tanpa menunggu jawaban. Dengan kasar menyurukkan ponselnya menjauh dari jangkauan dan mendengus kesal. Perasaannya rumit sekali. Dan Yara benci saat-saat seperti ini. Setelah mengambil jeda beberapa waktu dan mengusir segala hal yang tidak ia sukai dari kepalanya, Yara bangkit dan mulai bersiap untuk menyelesaikan lukisannya yang baru setengah jadi. Meski suasana hatinya tak cukup baik, toh Yara tahu tak ada hal lain lagi yang bisa ia lakukan. Ia tidak suka tidak menyelesaikan pekerjaannya secepat yang ia bisa. Dan hal itu hanya akan menambah beban pada dirinya. Lantas begitu membereskan bekas makannya dan memakai apron putih polos dari rak, Yara mulai menyibukkan diri dengan lukisannya lagi. Setidaknya jika begini, ia bisa melupakan segala kerumitan dalam benaknya untuk beberapa saat. Waktu berjalan cepat, dan Yara baru menyelesaikan lukisan itu saat Zen datang. Ia melepas apron yang ia kenakan dan melemparnya sembarangan. Sementara Zen yang melangkah masuk ternganga lebar dan tersenyum di saat yang sama. "Apa ini? Ini sangat bagus! Oh, astaga, kau produktif sekali ya. Sudah ada lukisan baru lagi dalam dua hari," ia berjalan bolak-bolik seolah ingin menyentuh lukisan itu, membuat Yara segera berujar. "Itu masih basah jadi jangan sentuh." Dengan berat hati Zen menarik kedua tangannya kembali. "Hmmm, baiklah kalau begitu, bisa kita lakukan sekarang kan?" "Mm," Yara mengangguk samar. Ia berbalik menuju sebuah cermin bulat yang tergantung di dinding, merapikan ikatan rambutnya dan berujar lagi. "Aku akan beli minum sebentar, lakukan semaumu." Zen mengibaskan sebelah tangan acuh, di saat seperti ini seluruh perhatiannya memang tercurah hanya pada satu hal dan tidak ada apa pun yang bisa mengganggunya. Setelah Yara kembali, Zen sudah membuat studio foto kecil. Kalau masalah ini Yara akui memang Zen adalah masternya. Ia menata beberapa benda di kedua sisi lukisan barunya yang pertama dan tidak akan membuatnya terlihat tidak indah. Sambil melangkah tanpa suara Yara mendudukkan diri di meja dekat konter dan memerhatikan dengan seksama. Zen juga tidak banyak bicara selain pada dirinya sendiri. Bergerak ke sana ke mari mencari angle yang sesuai dengan keinginannya. Mengganti-ganti properti. Mengurangi atau menambahkan. Mengatur kameranya. Mengatur pencahayaan. Semua itu ia lakukan sendiri dan tidak sedetik pun Zen terlihat lelah atau tak senang. Yara sendiri yakin jika ia harus melakukan semua itu maka ia pasti akan membuat segalanya menjadi kacau dan ia sendiri akan mengamuk karena kesal. Ia nyengir lebar atas pemikirannya sendiri. Kemudian meneguk habis bir dalem kaleng di genggamannya. Setelahnya ia beralih pada keripik kentang yang baru saja ia beli. Ia juga membeli beberapa makanan ringan lain untuk dibagi dengan Zen juga. Jika tidak temannya yang satu itu bisa merajuk. Ah, bagaimana bisa Yara baru ingat? Kenapa ia tidak belanja bahan makanan juga tadi? Padahal ia sudah memutuskan sebelumnya bahwa ia akan menginap di sini beberapa hari lagi. Yara merenung sejenak. Malam nanti akan lebih baik jika ia memakai futon dan selimut. Mau bagaimana pun tidur di sofa tidak terlalu menyenangkan karena ia harus menekuk kakinya sepanjang malam atau membiarkannya menggantung bebas dan membuatnya berpikiran macam-macam. Yah, Yara memang tidak pernah menyukai hantu atau semacamnya. Ia mendesah tanpa suara. Lalu beralih pada rumput laut pedas, salah satu makanan ringan favoritnya. Ia mengalihkan pandangan pada Zen lagi yang kini tengah sibuk pada kameranya. Yara bertanya-tanya kapan sebaiknya ia berhenti dari hiatusnya. Jika terlalu lama bisa saja ia kehilangan penggemar. Ah, Yara tak suka hal itu. Dalam bidang ini penggemar adalah hal terpenting yang harus ia jaga. Terlebih penggemarnya juga adalah alasan terbesar kenapa ia terus melukis sampai sekarang. Menyaksikan bagaimana orang-orang menikmati karyanya dalam bentuk lukisan asli atau pun art print membuat Yara merasa puas. Ditambah lagi, di mana ia bisa menopang hidupnya sendiri dengan pekerjaan yang tidak mengharuskan ia menunjukkan wajah? "Ngomong-ngomong lukisan yang baru ini apa masih lama sampai mengering?" Zen bertanya padanya, menunjuk lukisan yang belum lama Yara selesaikan yang kini berada di sisi lain ruangan, masih terpasang pada easelnya. "Tunggu saja, tak akan lama lagi," sahut Yara ditengah-tengah kegiatannya mengunyah. Zen mengangguk mengerti dan melangkah lebar-lebar ke arahnya. Ia menarik kursi di sebelah Yara dan meraih sekaleng bir. "Hmm, bir?" Yara mengangguk acuh. "Rumput laut?" Ia mengulurkan rumput lautnya pada Zen. "Tidak, aku tidak terlalu suka pedas. Kenapa hanya beli yang pedas sih?" Zen terlihat setengah merajuk sambil mengaduk-ngaduk plastik putih di meja yang berisi berbagai jenis makanan ringan. Kemudian akhirnya memilih sebuah kue coklat dan memakannya. "Kapan kau akan mengunggahnya?" Tanya Zen kemudian. Yara mengedikkan bahu. "Aku masih belum memutuskan, mungkin besok atau lusa." Zen mengulurkan kameranya ke tangan Yara dengan bersemangat. "Lihatlah, bagaimana menurutmu?" Meski reaksi Yara selalu sama. "Semuanya bagus," tapi Zen tetap akan menanyainya. Dan selalu puas mendengar jawaban itu. "Aku tahu," ia berkata dengan bangga. Yara mengangguk-angguk senang. Karena bagaimana pun Zen lah yang membuat feed sosial medianya menjadi cantik dan menarik perhatian. Tak bisa dibayangkan akan jadi sekacau apa jika Yara yang memotret karyanya sendiri. Bahkan rasa-rasanya hal itu nyaris membuatnya bergidik jijik. "Oh ya, apa kau sudah mempertimbangkan saranku?" Kening Yara berkerut. "Saran apa?" "Untuk menunjukkan dirimu di sosial media." Yara memutar bola matanya meski Zen belum menyelesaikan kalimatnya. Tapi Zen tidak mengacuhkannya dan melanjutkan dengan bersemangat. "Coba bayangkan bagaimana reaksi penggemarmu. Pasti mereka sudah sangat penasaran seperti apa kau sebenarnya selama ini. Lagipula banyak seniman di sosial media melakukan hal yang sama. Secara mendadak mereka membuka identitas diri mereka, menunjukkan wajahnya dan bum! Itu akan memicu keramaian." Yara nyengir sedih. "Kurasa mereka akan jijik begitu melihatku." Zen mendecak keras. Seolah sudah muak mendengar hal-hal semacam itu terus keluar dari mulut Yara. "Aku sudah memikirkan idenya tahu. Kau tinggal duduk manis saja dan aku akan mengatur segalanya." Yara berpikir sejenak. Memang hasil foto Zen tak ada yang jelek. Tapi apakah itu juga berhasil pada dirinya? Entahlah... "Akan kupikirkan kapan-kapan," sahut Yara akhirnya. Zen mendecak keras lagi. "Nanti kita harus mengambil foto bersama saat di resort, dengan begitu kau tidak akan meremehkan hasil karyaku lagi." Yara nyengir makin lebar. Ia tahu Zen tahu dirinya tidak pernah meremehkan laki-laki itu. Tapi bukan Zen namanya jika tidak bisa tidak terus berusaha untuk unjuk gigi. Padahal selama ini Yara sudah pusing setiap kali ia dan Kira mengunggah foto dirinya di sosial media mereka. Zen selesai menghabiskan makanan dan minumannya dan kini beranjak untuk mengatur lukisan yang lain lagi. Yara juga tidak memberikan protes apa pun karena lukisan itu sudah kering sepenuhnya. Tiba-tiba saja ia menghela napas lelah saat Zen mulai menata ulang studio foto kecilnya. Tahu bahwa tidak memiliki pilihan lain selain pasrah pada tingkah kedua temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN