Chapter 9

1024 Kata
Sam menghela napas panjang setelah akhirnya bisa membebaskan diri dari pekerjaannya yang menumpuk. Dengan sebelah tangan ia melonggarkan dasi yang ia kenakan, bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan menyeberangi ruangan dengan langkah panjang-panjang. Ia memandang keluar dan menyapukan pandangan ke bawah. Jauh di bawah di mana kehidupan yang tak terjangkau berlangsung. Tempat di mana kehidupannya yang sebelumnya berada. Sam termenung sesaat. Tahu benar jika bukan karena ulah Ryo dirinya tidak akan pernah berada di atas sini. Sekali lagi Sam mendesah, namun helaan napasnya kali ini terdengar berat. Nyaris menunjukkan beban. Bukan hanya sekali dua kali ia cemas pada keadaan Ryo yang tidak ia ketahui. Namun sampai sekarang ia masih belum memiliki waktu luang untuk mencarinya. Dan jelas ia tidak bisa menyuruh orang lain untuk melakukannya. Tidak dengan kemungkinan seratus persen ayah mereka akan tahu dan murka lagi. Sam jelas tidak mencemaskan diri sendiri. Tetapi ia takut jika ayahnya kembali murka dan kembali mempersulit keadaan Ryo. Rasanya begitu banyak hal menekan dirinya di saat bersamaan. Ia merasa sangat lelah, namun di saat yang sama tidak memiliki seorang pun yang bisa ia jadikan teman bercerita. Ia tidak mungkin bercerita pada sang ibu. Karena bagaimana pun dia adalah manusia paling baik yang ia miliki dan Sam tidak mau membuatnya cemas. Keadaan sudah cukup sulit sekarang tanpa perlu menyeret orang lain untuk menanggung bebannya juga. Ah, benar. Sejak pertemuannya dengan Yara terakhir kali ia belum menghubungi gadis itu lagi. Sejujurnya di antara semua masalah yang ada, Yara adalah satu orang yang menempati terlalu banyak ruang di kepalanya tanpa ijin. Ia sendiri tidak memiliki kemampuan untuk mengusirnya. Karena semakin ia berusaha melupakan masalahnya dengan Yara sejenak, yang ada gadis itu malah benar-benar menguasai pikirannya dan itu sangat membuatnya frustasi. Nah, Sam benar-benar tidak mengerti dan terus berpikir keras mengenai sikapnya ke belakang. Apa yang salah dengan dirinya? Kenapa Yara sangat membencinya? Meski yang paling mungkin adalah Yara membenci perjodohan ini dan secara otomatis akan membenci siapa pun yang akan dijodohkan dengannya. Itu kemungkinan yang paling logis. Karena ia sendiri tak yakin pada begitu banyak hal. Beberapa kali ia berpikir mungkin kah Yara sebenarnya mengenal dirinya di masa lalu, dan mengingat jejak keonaran yang ia tinggalkan selama eksitensinya, siapa pun pasti akan dengan mudah membenci dirinya kan? Sam mengusap wajahnya frustasi. Untuk pertama kalinya ia menyesal sudah menjadi senakal itu di masa lalu. Tapi meski begitu ia tidak pernah mempermainkan perempuan mana pun. Yah, bagaimana bisa dibilang mempermainkan, jika menjalin hubungan secara khusus saja ia belum pernah. Sam selalu memegang teguh nasehat sang ibu untuk tidak pernah menyentuh perempuan. Jadi tidak ada kemungkinan sedikit pun Sam melanggar nasehat itu. Lantas benar kah Yara membenci dirinya hanya karena kenakalan-kenakalan yang telah ia perbuat? Atau jangan-jangan, Yara mengira Sam juga bermain perempuan? Bukan kah kebanyakan perempuan memang benci laki-laki semacam itu? Mendadak tubuh Sam menegang. Ia benar-benar ketakutan Yara benar-benar mengira dirinya serendah itu. Ia memikirkan rencana untuk memberitahu Yara bahwa dirinya tidak seperti itu, tapi langsung sadar jika Yara pasti tak akan mempercayainya. Jika kau sudah dikenal sebagai seorang pencuri lalu kau menjelaskan pada orang lain bahwa kau tidak pernah mencuri, memangnya akan ada yang percaya? Tentu saja tidak! Ah... seketika Sam merasa kekuatannya merosot. Ia menolak untuk membayangkan skenario di mana ia harus menghabiskan seumur hidup dengan kebencian Yara. Membayangkan bagaimana gadis itu menatapnya dengan jijik benar-benar melukai dirinya. Sam sungguh kebingungan sekarang. Selain semua itu, ia juga sering berpendapat bahwa ia merasa pernah melihat Yara sebelum ini. Tapi di mana? Dan apakah dirinya yakin? Kemudian tanpa bisa ia cegah ia teringat pada cinta pertamanya sewaktu di sekolah dasar, dan ia pun langsung bergidik ngeri. Ini sangat mengerikan, pikirnya. Sam memang belum pernah berhubungan pada siapa pun karena memegang teguh nasehat sang ibu. Tapi bukan berarti orientasi seksualnya jadi menyimpang. Ini mustahil, karena meski baru mengenalnya Sam tahu bahwa Yara adalah sosok yang spesial baginya. Sayangnya tetap saja ia tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang tak pernah ingin ia ingat atau cerita kan pada siapa pun. Dulu sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar. Sam sering sekali main di taman yang memisahkan sekolahnya dengan sekolah lain. Di sana lah ia selalu berpapasan dengan cinta pertamanya. Sejak awal Sam selalu mengira bahwa dia adalah perempuan, bukan sebaliknya. Karena meski memiliki rambut yang sama pendeknya dengan dirinya, dia memiliki wajah yang cantik dan senyuman yang manis. Mana mungkin pemilik wajah itu adalah laki-laki, Sam selalu berpikir demikian. Ditambah fakta bahwa dia selalu memakai rok membuat Sam yakin fakta itu tidak bisa dibantah lagi. Namun lambat laun setelah teman-temannya tahu. Mereka mulai meyakinkan Sam bahwa sosok yang disukainya itu adalah laki-laki. Masalahnya jika hanya satu dua orang yang mengatakan hal itu Sam tidak akan dengan mudah mempercayainya. Tapi seluruh teman-teman kelasnya mengatakan hal yang sama. Bahwa orang yang disukainya adalah anak laki-laki. Sikapnya juga persis seperti laki-laki dan mereka dengan kompak berkesimpulan jika anak itu hanya suka bermain-main menggunakan seragam anak perempuan. Sejauh yang Sam ingat, bahkan salah satu temannya pernah dihajar olehnya. Membuat pendapat semua orang makin kuat. Dengan begitu, dengan dihantam syok yang sangat besar Sam merasakan perasaan campur aduk yang luar biasa. Belum pernah ia merasakan sesuatu seperti itu. Ia tahu benar jika sang ayah sangat membenci hal semacam ini. Dan Sam juga yakin sang ibu akan memiliki pendapat yang sama. Karenanya setelah semua itu. Melawan perasaannya sendiri dan menekannya sampai terasa begitu menyakitkan, ia menemui orang itu dan mengatakan padanya bahwa ia tidak menyukainya. Sam masih sangat pada kejadian itu, ia juga ingat bahwa setelahnya ia menangis keras selama beberapa waktu. Cukup lama sampai membuat matanya membengkak dan memerah. Namun sekarang, setelah mengingat semua itu lagi. Sam menyesal atas tingkah kekanak-kanakannya. Di mana pun sosok itu berada sekarang, Sam berharap dia bahagia dan baik-baik saja. Dan Sam juga berharap sosok itu sudah memaafkan kekonyolan dirinya. Sam menyadarkan diri dari lamunan dan berjalan kembali ke meja kerjanya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di sebelah dokumen-dokumen yang menumpuk. Mempersiapkan diri selama beberapa saat sebelum akhirnya menelepon Yara. Setidaknya ia masih memiliki waktu beberapa jam untuk bersantai sedikit. Dengan waktu luang ini ia ingin mengajak Yara bertemu lagi. Untuk saat ini tak ada yang lebih ia inginkan dibanding memperbaiki hubungannya dengan Yara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN