Chapter 14

1449 Kata
Biasanya saat sedang dalam suasana hati buruk Yara akan dengan sendirinya memasang raut wajah tak menyenangkan, yang membuatnya terlihat begitu dingin dan seperti nona muda kaya yang menjengkelkan. Hal ini lah yang membuat beberapa orang, tanpa Yara sadari, meliriknya dengan pandangan tak suka. Yara yang terlalu sibuk mengendalikan suasana hatinya yang berantakan sama sekali tidak memperhatikan hal lain lagi. Kini ia sedang berjalan sendirian dengan langkah cepat, membuatnya terlihat seperti sedang terburu-buru juga, di sebuah pusat perbelanjaan untuk makan. Saat ini Yara ingin makan steak, dan tempat yang menyediakan steak favoritnya ada di sini. Sangat bertentangan dengan suasana hatinya sendiri yang sebenarnya ingin menghindari keramaian. Oh, ya. Ia juga sudah ke tempat laundry sebelumnya. Jadi setelah makan ia bisa kembali ke sana lagi. Sampai di tempat yang ia tuju. Yara segera mendorong pintu kaca di hadapannya hingga terbuka. Memandang sekeliling sejenak untuk mencari meja kosong. Tetapi pandangannya terkunci pada seorang gadis yang duduk miring di sisi ruangan. Ia menunduk memandang buku menu sementara seorang pelayan laki-laki muda berdiri di sisinya, menunggu dengan wajah berseri-seri dan siap untuk mencatat pesanannya. Jika saja tidak ada orang lain di belakang dirinya yang mengingatkan Yara bahwa ia menghalangi jalan, mungkin Yara tak akan pernah sadar dari keterkejutannya sendiri. Ia dengan gugup menyingkir untuk memberi jalanan. Rupanya keributan kecil di depan pintu masuk membuat perhatian gadis cantik tadi juga teralih, karena saat Yara mendongak untuk kembali memandangnya, gadis itu juga tengah memandang Yara. Untuk beberapa saat mereka hanya saling berpandangan. Dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan siapa pun, bahkan oleh diri mereka sendiri. Yara baru saja memikirkan tentang kakaknya, dan melihat sosok itu kini tepat berada dalam jangkauan pandangannya terasa begitu aneh. Jadi Bisha masih berada di kota ini? Adalah pertanyaan satu-satunya yang mampu Yara pikirkan. "Yara, kemari," Bisha berujar pelan sembari melambaikan sebelah tangan sebagai isyarat. Susah payah Yara menarik pengendalian dirinya kembali dan menyeret kakinya menuju Bisha berada. "Nene, bagaimana bisa kau masih berada di sini?" Nene adalah panggilan yang telah Yara gunakan sejak kecil untuk Bisha. Bisha meraih sebelah tangan Yara dan menariknya untuk duduk. Kemudian ia mengatakan pesanannya pada pelayan yang telah menunggu dan mengisyaratkannya untuk segera pergi. "Tenang, Yara, jangan sampai menarik perhatian banyak orang," sesaat setelah mengatakannya ujung bibit Bisha berkedut aneh, seolah kata-kata itu menyakiti dirinya sendiri. Yara bungkam dengan patuh. Tapi segera menyadari kesedihan di wajah Bisha yang cantik. Setelah nyaris dua minggu terpisah, tak ada perubahan apa pun pada diri sang kakak, Yara sangat bersyukur karenanya. Bisha terlihat gelisah. Seolah sulit baginya untuk mengatakan apa pun yang ingin ia katakan. Yara mengernyit, barang kali sesuatu yang buruk terjadi. Baginya saat ini Bisha tidak seperti dirinya yang biasanya. "Yara," kata Bisha akhirnya sembari menghela napas berat. "Aku sungguh-sungguh minta maaf karena pergi tanpa memberitahumu lebih dulu," ia berujar dengan tulus dan kesungguhan hatinya. Membuat Yara merasa akan menangis. Ia tidak suka perasaan ini. Karena bagaimana pun dirinya lah yang egois karena tak pernah sekali pun menanyakan kebahagiaan Bisha, sementara kakaknya ini selalu menanyakan kebahagiannya Yara. "Tidak, meskipun sepertinya aku belum tahu keseluruhan alasan kenapa Nene pergi, tapi setidaknya sekarang aku bisa memahaminya sedikit," mengabaikan akibat yang Bisha sebabkan atas pelarian dirinya, yaitu Yara yang diharuskan menggantikan Bisha dalam perjodohan, Yara berujar dengan sungguh-sungguh. Baginya Bisha sama sekali tidak pantas disalahkan atas kesulitan yang ia dapatkan sekarang. Bisha menyunggingkan senyum kecil, senyuman yang terlihat sedih. "Jadi kenapa kau masih berada di kota ini?" Tanya Yara lagi dengan cepat. "Kupikir kau sudah pergi ke kota lain, karena dengan bertahan di sini sangat riskan kan." Bisha mengangguk samar. "Tadinya aku berencana untuk pergi ke Kyoto. Tapi kemudian aku berpikir, rasanya tidak menyenangkan pergi tanpa menceritakan apa pun padamu." Yara merasa tersentuk karena tak seperti yang sempat ia kira, ternyata Bisha memang memikirkan dirinya. Ia pun mengangguk untuk mendengarkan. Bisha melipat kedua tangannya di meja, dan dengan raut wajahnya yang kembali tenang ia memulai. "Tentu kau sangat tahu jika ayah dan ibu sangat mengandalkanku sejak kecil. Aku tidak ingin menjadi egois tapi, sejujurnya aku selalu merasa tertekan." Benar kan dugaan Yara, ia seketika merasa sangat bersalah. Betapa bodoh dirinya selama ini. Menjadi buta dan tuli pada Bisha dan hanya mementingkan kebebasannya sendiri. Kakak yang selalu ia anggap sempurna tetap lah manusia biasa yang memiliki kekurangan. Rasanya Yara sangat ingin mengutuk dirinya sendiri dengan keras. Bisha meneruskan. "Meski begitu aku memang tetap bisa menerima semuanya, ini bukan salah siapa-siapa hanya karena aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya." Yara mengernyit. Apakah Bisha mampu membaca pikirannya sekarang? Bisha tersenyum sesaat tapi senyuman itu hilang secepat datangnya. "Tapi untuk hal ini, mengenai perjodohan ini, aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Aku bisa saja menuruti semua permintaan ibu dan ayah, apa pun itu, tapi tidak untuk ini." Yara mengangguk untuk memberinya dukungan. "Jadi Yara kuharap kau memaafkan keegoisanku karena mendadak pergi begitu saja." Yara menggelengkan kepala dengan keras. "Tidak, Nene percayalah aku juga memiliki rencana yang sama denganmu sejak lama. Hanya saja sekarang kau sudah mendahuluiku," Yara nyengir lebar sambil menepuk permukaan meja, seperti yang biasa ia lakukan saat kalah dalam permainan. Bisha tertawa kecil. "Kau sungguh-sungguh berpikir begitu?" "Iya," sahut Yara tegas. "Lalu bagaimana keadaan ayah dan ibu? Apa mereka baik-baik saja?" Yara mengerjap dan mengalihkan pandangan saat menangkap kekhawatiran dalam raut wajah Bisha. Benar juga, Bisha tidak tahu mengenai dirinya yang dipaksa untuk menggantikan Bisha dalam perjodohan itu. Tetapi jika ia menceritakan hal ini pada Bisha, sudah jelas Bisha akan sangat mencemaskan dirinya. Dan meski sebelumnya Bisha mengatakan dengan tegas bahwa ia tidak bisa menerima perjodohan, namun Yara yakin Bisha akan langsung berlari pulang jika tahu hal ini. "Yara, apa ada sesuatu?" Yara memandang mata Bisha lagi dan seketika tahu ia tidak bisa berbohong. "Sebenarnya ini bukan masalah serius," kata Yara akhirnya. Bisha mengangguk dengan serius untuk mendengarkan. Membuat Yara seketika merasa gugup. "Ayah dan ibu baik-baik saja," ia berkata dengan jujur. Berharap Bisha tidak akan bertanya apa pun lagi. Bisha mengangguk lagi. "Lalu perjodohannya bagaimana? Apakah pihak keluarga Sato tidak marah? Mereka tidak sampai memusuhi ayah dan ibu, kan?" Yara tak bisa langsung menjawab. Ia berusaha mengatur kata-katanya di tengah kepanikannya sendiri. "Mmm, Nene, sejujurnya aku menggantikanmu untuk perjodohannya." "Apa?!" Bisha membelalak seketika Yara langsung meraih sebelah tangan sang kakak, menahannya untuk tetap di tempat. Ia berujar pada diri sendiri, benar kan dugaannya tadi. "Aku baik-baik saja! Aku serius. Dengar dulu, Nene." Meski kesulitan, Bisha tetap duduk di tempatnya dan mempertahankan ketenangannya. "Bahkan jika kuceritakan ini akan jadi sangat lucu," Yara mengulas senyum lebar. "Ryo Sato yang akan dijodohkan denganmu juga pergi dari rumah," Yara sengaja meringkasnya agar bisa menjelaskan dengan lebih cepat. Bisha mengernyit tapi tidak mengatakan apa-apa dan mendengarkan dengan patuh. "Jadi adiknya, Samuel Sato, juga dipaksa untuk menggantikan dia. Sama seperti aku yang menggantikan Nene. Tapi aku serius, itu bukan masalah besar sama sekali karena aku sudah mengenal Sam sejak dia masih ileran," Yara memalsukan tawanya dengan sangat alami. "Kau serius ini baik-baik saja?" Bisha bertanya dengan cemas. Yara mendenguskan napas berlagak lelah. "Apa aku terlihat seperti seseorang yang putus asa sekarang?" Tidak. Bisha tahu itu. Karenanya kecemasan diwajahnya mulai pudar digantikan sedikit kelegaan. "Tapi tetap saja, kau masih terlalu muda, dan.. dan-" "Nene, aku dan Sam seumuran. Dan karena hal itu aku dan dia bisa menjadi teman dekat lebih dulu. Lagi pula Sam anak yang baik. Dia bahkan selalu menghubungiku dengan sopan. Saat aku berulah pun ia tidak pernah mengadu pada ayah dan ibu. Oh ya, dia juga cukup tampan. Lumayan lah, tidak akan mudah untuk merasa bosan meski memandang wajahnya setiap hari." Bisha bergeming sesaat. "Nene," mendadak Yara mengubah nada suaranya menjadi serius. "Untuk saat ini kau tak perlu kembali. Pergi lah ke tempat di mana orang yang kau sukai itu berada." Seketika wajah Bisha memerah, dan dengan susah payah ia menahan mulutnya agar tidak tersenyum. "Yara, apa yang kau katakan? Itu tidak benar." Yara nyengir. "Baiklah, baiklah, aku tidak tahu apa-apa. Oke?" Ia memang belum pernah melihat Bisha memiliki hubungan khusus dengan seseorang. Tetapi melihat dari kesungguhannya menolak perjodohan juga membuat Yara mengerti bahwa dibalik setiap kata-kata Bisha juga seolah mengatakan, bahwa ada orang lain yang ia sukai lebih dulu. Yara tidak sebodoh itu untuk tidak memahami makna di balik setiap ucapan sang kakak. "Baiklah, serius sekarang," kata Bisha lagi. "Aku hanya ingin kau menikahi seseorang yang kau sukai, bukan karena paksaan siapa pun. Kau bisa mengatakan padaku Yara, jika kau memang tidak menyukai Sam. Aku akan pulang dan mengatakan pada ibu." Meski tahu apa pun yang akan Bisha lakukan akan berakhir sia-sia, tapi Yara tetap tersenyum dengan tulus. "Aku menyukainya." Bisha terdiam. "Aku menyukai, Sam." Dengan begitu, bahkan diri Yara sendiri tahu ia tidak berbohong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN