Chapter 15

1245 Kata
Setelah selesai makan dan mengambil laundrynya, Yara mengantar Bisha ke tempat ia tinggal selama ini. Ia berjanji pada Bisha akan datang lagi nanti malam dan sebaliknya Bisha juga berjanji akan memasak untuknya. Alasan Yara buru-buru pergi adalah karena ia akan menemui Sam sekarang juga. Ia bahkan tidak kembali ke studionya lebih dulu untuk meletakkan cuciannya yang sekarang sudah kering dan bersih. Melainkan menuju ke arah lain menuju restoran tempat ia pernah bertemu dengan Sam. Ia merogoh ranselnya untuk mencari ponsel dan dengan segera menelepon laki-laki itu. Kening Yara berkerut karena Sam menjawab teleponnya dengan begitu cepat. Padahal ia sudah mempersiapkan diri jika Sam mengabaikannya seperti yang sudah ia lakukan pada Sam belakangan. "Sam!" Kata Yara, suaranya terdengar mendesak, membuat suara lain di ujung sana terdengar gugup. "Ayo bertemu sekarang!" Ini bukan permintaan, tapi Yara benar-benar memaksa. Sam nampaknya akan menanyakan sesuatu tapi menahan semua pertanyaannya dan menanyakan tempat untuk pertemuan mereka. Yara memberitahukan restoran itu dan segera hubungan terputus. Yara mengatur napas sejenak, kembali fokus pada jalanan tanpa menurunkan kecepatan mobilnya. Seiring waktu ia merasa jantungnya yang berdetak keras kian teratur. Ia menghela napas senang. Syukurlah, karena ia tidak boleh terlihat gugup atau terlalu bersemangat saat memberitahu Sam nantinya. Tetapi begitu ia telah sampai di restoran itu lebih dulu dan menunggu beberapa lama, begitu Sam sampai dan bahkan sebelum ia benar-benar mengatakan sesuatu, Yara sudah lebih dulu bangkit dari tempat duduknya dan berseru lantang. "Sam, ayo kita menikah!" Sam membeku seketika. Keheningan di antara mereka membuat Yara tersadar, barangkali ucapannya terlalu keras dan menarik perhatian orang lain. Lantas ia pun menurunkan volume suaranya dan berkata lagi. "Kemari," ia memberi isyarat dengan jari telunjuk agar Sam mendekatinya. Dengan patuh Sam melanjutkan langkah mendekat. Dan begitu sudah berada dalam jangkauannya, Yara menarik kerah kemeja Sam dengan keras, menghapus jarak di antara mereka sehingga kini keduanya dekat sekali. Meski Yara harus mendongak karena Sam setidaknya lima belas sentimeter lebih tinggi darinya, Yara tidak peduli. "Aku berubah pikiran. Aku setuju menikahimu. Jadi ayo kita menikah," cara Yara mengatakannya seperti seorang preman yang tengah membegal seseorang. Membuat orang-orang disekitar mereka bertanya-tanya apakah mereka sedang bertengkar? Tetapi melihat betapa tidak berdayanya Sam membuat mereka berasumsi bahwa hanya si perempuan yang sedang marah. Yara heran kenapa Sam diam saja. Padahal ia sudah mengeluarkan seluruh keseriusannya sekarang. Tetapi semakin diperhatikan, kenapa wajah Sam merah sekali? Apa sejak tadi memang begitu? "Sam?" Alis Yara terangkat heran. "Ya, aku bersedia!" Dari cara Sam balas memekik begitu membuat Yara tertawa dan melepas cengkeramannya. Kenapa suara Sam terdengar sangat konyol begitu? Ia menghentikkan tawanya dan memperhatikan Sam lagi dengan seksama. Diperhatikan begitu Sam terlihat makin gugup dan wajahnya sudah menyerupai tomat. Yara mengernyit dan mengambil selangkah maju. Secara otomatis Sam ikut melangkah mundur. Alis Yara terangkat makin tinggi. Apa-apaan reaksinya? Sam yang terkenal suka bermain permainan malah terlihat seperti ini? Rasanya mustahil.. Untuk menguji apakah dugaannya benar, Yara berjinjit dengan tiba-tiba hingga jarak wajah mereka begitu dekat. Kedua mata Sam seketika membelalak dan dengan segera ia merengut mundur seperti bayi yang ketakutan. Yara tertawa terbahak-bahak seketika. Gila. Benar-benar gila. "Kita memang akan menikah, tapi kita tidak bisa melakukan ini sekarang." Yara tertawa makin keras. Tapi mengingat di mana sekarang ia berada, ia segera mengendalikan diri dan duduk kembali. Sam masih terlihat kebingungan, bahkan ia keringat dingin nampak mengalir melewati pelipisnya, membuat Yara ingin tertawa lagi. Sebaliknya, Sam saat ini sedang merasa luar biasa bingung. Yara yang sudah mengabaikan dirinya dan selalu bersikap dingin, tiba-tiba menelepon dan mengajak bertemu. Tentu saja Sam sangat senang. Tetapi lagi-lagi mendapati sikap Yara yang mendadak mengajaknya menikah membuatnya kebingungan lagi. Dan saat Yara tertawa terbahak-bahak begitu, Sam bertanya-tanya dengan sedih apakah Yara hanya sedang mempermainkan dirinya? Yara bertopang dagu dengan sebelah tangan, masih menatapnya dengan intens. Astaga, hal ini benar-benar membuat Sam gugup setengah mati. Ia sangat bahagia Yara mengatakan mau menikah dengannya. Ia bahkan belum sempat menyampaikan kebahagiaan itu, tapi Yara sudah mempermainkannya. Yara mengulurkan sebelah tangannya yang bebas pada Sam. "Ayo bicara sambil berpegangan tangan," katanya. Sam bergeming memandang tangan yang terjulur padanya itu. "Kenapa? Apa berpegangan tangan termasuk ke dalam hal yang tidak boleh dilakukan sebelum menikah?" Sam merasakan wajahnya memerah lagi. Yara tertawa samar kemudian menarik tangannya kembali tepat saat Sam akan meraihnya. "Ngomong-ngomong aku sudah makan, tidak perlu memesan apa pun untukku," tadi Yara mengira Sam akan memanggil pelayan saat sebelah tangannya terangkat sedikit. Sam merasa sangat bodoh seketika. "Jadi, pastinya ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku kan?" Yara mengerjap santai. "Mm, sudah kukatakan." Alis Sam terjalin, antara bingung dan heran. Yara menyunggingkan seulas senyum, senyuman yang terlihat agak mengejek. "Kau terlihat tidak mempercayaiku. Tapi aku serius. Lagi pula kau sendiri bersikap seolah kita benar-benar terikat pada perjodohan ini. Atau kau sudah berubah pikiran?" "Tidak," sahut Sam cepat. "Aku tidak berubah pikiran. Dan ya, aku memang menganggap hubungan ini serius." Sesaat sebelah alis Yara terangkat seolah bertanya, hubungan apa? Memang kita punya hubungan? "Nah, kalau begitu, Sam. Karena aku menyukaimu, maka kau juga harus menyukaiku." Sam tidak tahu apakah Yara serius mengatakannya. Karena mau dilihat dari sudut mana pun, Yara terlihat lebih seperti seolah ia sedang bermain-main. "Aku sudah menyukaimu," mengabaikan wajahnya yang sudah semerah tomat, Sam mengatakannya dengan jujur. Tetapi reaksi Yara benar-benar mengecewakan. Gadis itu mendenguskan tawa lalu berujar. "Diamlah, kau bodoh." Mengikuti ucapannya Sam pun diam. Tapi setelah beberapa lama Yara tidak bicara apa pun lagi, ia tidak tahan untuk diam saja. "Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba mengatakan semua ini?" Sam berharap dirinya tidak terlihat menyedihkan meski sepertinya sia-sia. Yara tidak langsung menyahut. Ia memainkan kunci mobil di tangannya beberapa saat. "Aku pikir, akan jadi lebih baik jika kita memiliki hubungan yang baik," mengingat bahwa diri Yara sendiri yang mengacaukan hubungan mereka belakangan, membuat Yara benar-benar merasa lucu. Ia merasa seperti seorang badut yang mengenakan topeng, sangat munafik. Tapi Bisha mengatakan harapannya dengan tulus, bahwa ia ingin Yara menikahi seseorang yang disukainya bukan karena paksaan. Jadi karena itu lah Yara berada di sini sekarang. Ia sudah menyukai Sam, dan itu fakta. Tetapi ia juga perlu memperbaiki hubungan mereka, meski tidak tahu Sam akan bisa menyukai dirinya atau tidak. Setidaknya ia sudah mewujudkan harapan Bisha. Sam mengangguk lambat. "Baiklah, aku mengerti." Yara memperhatikan wajah Sam dan tahu pasti bahwa laki-laki itu masih kebingungan. Kemudian Yara teringat pada fakta kecil yang baru saja ia dapatkan, dan ia pun memajukan tubuhnya ke arah Sam. "Sam," katanya dengan suara lembut. "Ya?" Sam nampak terkejut dan gugup. "Jawab aku dengan jujur, pernah kah setidaknya bergandengan tangan dengan perempuan?" Melihat bagaimana reaksi Sam saat itu sudah cukup bagi Yara tanpa menunggu jawaban. Lantas ia pun tertawa lagi. "Astaga, kukira Samuel Sato itu tipe laki-laki b******k yang memainkan hati gadis mana pun," ia mengusap ujung matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa. Sam nampak syok begitu mendengarnya. "Aku tidak! Aku bersumpah aku tidak seperti itu! Aku memang nakal dan semacamnya, tapi aku bukan laki-laki b******k!" Melihat Sam mendadak menggebu-gebu begitu, Yara pun berhenti tertawa. "Aku tahu." "Eh?" Yara tidak mengulangi ucapannya meski sepertinya Sam tidak mendengar. "Kau sudah makan? Pesan lah sesuatu, kita hanya mengobrol dari tadi." Sam pun memanggil pelayan. "Kau ingin pesan apa?" Yara menggeleng. "Aku sudah makan." "Rasanya aneh karena setiap kali bertemu kau menolak untuk makan apa pun. Ini seperti hanya aku yang menikmati pertemuan kita." Memperhatikan raut wajah Sam, akhirnya Yara memutuskan untuk memesan sesuatu juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN