Chapter 16

1178 Kata
"b******k!" Pekik Yara saat dengan susah payah berusaha masuk ke studionya karena memeluk laundry dengan kedua tangan, dan hal pertama yang dia lihat adalah bayangan hitam yang duduk di meja dekat konter. Zen nyengir lebar sambil menurunkan hoodie yang menutupi kepalanya. Satu tangan memegang apel dan menjulurkan tangannya yang bebas untuk membantu Yara. "Kenapa kau tiba-tiba di sini? Membuatku jantungan saja," Yara menggerutu setelah memberikan bawaannya pada Zen. Ia melangkah ke arah lain dan mendapati sosok lain di balkon. Membuatnya lagi-lagi terkejut setengah mati karena sosok bergaun putih itu nampak transparan dibalik tirai putih yang tipis. "Oh, ayolah, apa yang kalian lakukan sebenarnya?" Yara mendesah seolah putus asa. Kemudian meletakkan ransel yang dibawanya dan mengambil sebuah apel dari dalam parsel di meja. Kira sepertinya baru menyadari kehadiran Yara, gadis itu berbalik dan nyengir lebar sambil melangkah masuk. "Ah.. rasanya menyenangkan sekali jika punya balkon sendiri," ia mengeluh dengan senang. Yara menggumamkan sesuatu sebagai jawaban, mulutnya penuh dengan potongan apel. Ia terdiam begitu memperhatikan gaun putih polos yang Kira kenakan. Sejurus kemudian keningnya mengernyit heran. "Kenapa kau memakai pemakaian berkabung seperti itu?" Kira menghela napas seolah-olah lelah. "Ini bukan gaun berkabung. Sebenarnya aku baru saja mendapatkan sebuah inspirasi untuk melakukan photoshot dengan konsep ini, dengan latar belakang lukisanmu." "Eh, ngomong-ngomong soal lukisan, kenapa kau masih belum juga mengunggah apa pun?" Tanya Zen mendadak dengan nada menuntut. Yara melemparkan cengiran kecil padanya. "Dengar, aku punya sesuatu yang menarik untuk dikatakan," ia memberi isyarat pada Kira juga agar mendekat. Sebelah alis Zen terangkat tinggi, seakan mengatakan dengan tegas bahwa bukan sesuatu yang lain yang ingin ia dengar. Karenanya Yara berujar lagi. "Ini ada hubungannya dengan itu. Jadi hari ini aku bertemu dengan kakakku." Kira dan Zen membeku. Saling melirik sebelum akhirnya mengernyit antara heran dan terkejut. Yara mendecak tak sabar. Barangkali kedua temannya ini bingung karena raut wajahnya justru terlihat begitu senang dan bersemangat. Normalnya, karena akibat kaburnya Bisha membuat ia terjebak dalam situasi ini, seharusnya ia marah padanya kan? Yara melanjutkan. "Aku serius. Aku tidak sengaja bertemu dengannya di restoran steak favoritku. Dan kalian tahu alasan kenapa ia tidak langsung pergi jauh? Itu karena dia mencemaskanku," Yara memandang Kira dan Zen bergantian untuk melihat reaksi mereka. Zen, "Sejujurnya memang terasa agak aneh jika kau bertemu dengan dia di sekitar sini. Normalnya jika benar-benar ingin kabur seharusnya pergi jauh sekalian kan?" Kira melotot padanya. Anehnya, Yara mengembangkan senyum kecil. "Aku tahu." "Lalu bagaimana?" Kira bertanya hati-hati. Yara mengedikkan bahu dengan ringan. "Satu hal yang pasti, aku menyadari betapa egoisnya diriku selama ini." Baik Zen mau pun Kira sama-sama menunjukkan ekspresi tak mengerti di wajah mereka. Mengingat bagian ini membuat Yara agak sedih. "Kita semua tahu pasti seperti apa kakakku selama ini, dia pintar dan sempurna dalam semua hal. Selalu menjadi kebanggaan, dipuji banyak orang dan selalu mendapatkan perhatian dari siapa pun atas dasar kekaguman. Tapi pernah kah setidaknya sekali saja, kita mempertanyakan apakah dia benar-benar bahagia dengan kehidupan semacam itu? Dengan seluruh sorotan yang dia terima, bukan kah itu sama saja dengan menaruh banyak beban di pundaknya sendiri? Harus memenuhi ekspetasi setiap orang dan mengesampingkan keinginan sendiri. Jika itu aku, aku tak akan bisa. Kalian tahu sendiri aku selalu berusaha kabur dari tekanan apa pun dan mencari kebebasan untuk diriku sendiri. Tapi tidak pernah sekali pun aku memikirkan hal yang sama untuk kakakku. Dia adalah sosok yang aku kagumi, dan aku berpikir betapa menyenangkannya menjadi dia. Tanpa sadar, sebenarnya aku juga menaruh beban tambahan di pundaknya agar terus menjadi sosok kakak yang sempurna seperti dalam bayangan semua orang. Dia tidak pernah sekali pun mengeluh atau sesuatu semacam itu. Dan aku baru menyadari hari ini, bukan kah itu sangat aneh? Untuk menjadi kuat dan mengesampingkan perasaanmu sendiri, itu bukan sesuatu yang mudah." Sesaat Kira dan Zen terdiam, seolah takjub pada apa yang Yara katakan. Mendadak Zen menepuk-nepuk puncak kepala Yara. "Kau sudah dewasa, aku sangat bangga padamu," katanya berlagak seperti seorang ayah yang bicara pada anaknya. Yara mendengus dan menepis tangannya jauh-jauh, meski ia akui ia merasa agak tersipu. Kira menunjukkan reaksi yang kurang lebih sama. Ia jadi seperti ibu muda yang baru saja mengantar sang anak ke sekolah pada hari pertama. Bangga, terharu dan sedikit kesedihan melintasi wajahnya. Yara berharap bisa melupakan semua yang ia lihat saat itu. Benar-benar menggelikan. "Aku sangat bersimpati mendengarnya," kata Kira dengan tulus. "Aku juga tidak menyadari beban berat yang kakakmu bawa selama ini. Aku benar-benar merasa buruk sekarang." "Tak apa, kakakku sudah baik-baik saja. Bahkan nanti malam aku akan bertemu dengannya lagi." "Syukurlah.." Yara mengangguk senang. "Tapi tahukah kalian, hal lain yang membuatku sangat bersemangat kali ini? Kalian tak akan mempercayainya!" Alis Zen terangkat lagi. "Ada yang lain?" Yara mengangguk keras-keras. "Bukan kah kita dulu tahu bagaimana rumor yang mengatakan betapa brengseknya Samuel Sato? Bahkan orang t***l pun pasti akan percaya jika dia sudah main dengan banyak perempuan kan?" Yara tertawa sebelum benar-benar bisa menuntaskan perkataannya. Saking herannya Kira sampai memiringkan kepala ke satu sisi. Setelah berhasil meredakan tawanya, Yara melanjutkan. "Ternyata dia tak lebih dari seorang pengecut. Aku serius," imbuhnya begitu melihat reaksi Zen dan Kira. "Kira, kau lebih tahu mengenai hal ini dariku. Sangat mudah untuk membuktikan seseorang bahkan pernah bergandengan tangan atau belum." Seketika raut pemahaman muncul di wajah Kira. Tapi apa yang terucap dari bibirnya malah sebaliknya. "Tak mungkin, kau benar-benar mengujinya?" Zen masih tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi tidak ada kesempatan untuk menyela. Yara tertawa lagi. "Kau harus lihat sendiri bagaimana reaksinya, dia gemetaran sampai berkeringat dingin." Kira membelalak, namun di saat yang sama ujung-ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman lebar. "Sampai seperti itu?" Kemudian ia ikut tertawa membayangkan hal itu juga. Sambil memegangi perut dan memukul-mukul Zen yang paling dekat dalam jangkauannya, Yara terus tertawa-tawa. Zen meringis sakit dan menjauhkan tangan Yara dari tubuhnya. "Tunggu.. tunggu.." katanya susah payah di tengah tawa yang mendadak meledak. "Terlepas dari hal itu, apakah ini berarti kau sudah menerima Sam?" Sontak Yara dan Kira berhenti tertawa. Membuat Zen bertanya-tanya apakah dirinya salah bicara lagi karena biasanya selalu begitu? "Bisa dibilang begitu," adalah jawaban Yara yang membuat Kira melongo. "Lagi pula hal buruk apa yang bisa kudapatkan dari menerima Sam? Selama aku tetap memiliki kebebasanku dan tambahan uang, itu sudah baik-baik saja." Kira nampak memikirkan sesuatu tapi tidak mengatakan apa-apa. Yara melanjutkan. "Aku juga tidak mau melibatkan kakakku dalam hal ini lagi, dia sudah memiliki rencana untuk hidupnya. Sekarang sudah saatnya untuk dia bisa bebas juga." Zen mengembangkan senyum takjub. "Kau benar-benar sudah dewasa," ia menepuk-nepuk puncak kepala Yara lagi. Yara segera menepisnya dan kembali tertawa. "Tapi tetap saja, kau sudah janji dan janji harus ditepati. Setelah kau mengurus urusanmu dengan kakakmu, cepat lah berhenti dari hiatus dan unggah foto-fotoku." Meski tidak ingat kapan ia pernah membuat janji, Yara bergeming dan menelan semua tawa yang sudah diujung lidah kembali ke dalam perut. Ah, benar juga, ia harus segera mengerjakan tugasnya sendiri. Mendadak Yara merasa betapa sibuk dirinya, tapi di saat yang sama ia juga merasa senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN