Chapter 18

1052 Kata
Yara sudah mengunggah lukisan kedua terbarunya setelah ia kembali dari mengantar Bisha pagi ini. Sebelumnya, belum pernah ia melihat sang kakak dengan raut wajah seperti itu. Seperti penuh harap, namun juga ada sedikit kecemasaan dan lebih banyak keantusiasan yang sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata. Hal itu membuat Bisha terlihat menggemaskan. Yara sendiri tidak ingat kapan pernah melihat Bisha yang terlihat kekanak-kanakan seperti itu. Setelah pulang dari stasiun. Tentu saja Yara langsung kembali ke studionya. Mulai bekerja seolah-olah ia sedang gila. Jelasnya, ia sedang merasa bersemangat. Sambutan hangat yang ia dapatkan dari pengikutnya memiliki pengaruh yang besar untuk suasana hatinya. Ditambah sekarang ia tidak perlu mencemaskan Bisha lagi, singkatnya semua hal yang tadinya berantakan dan mengkhawatirkan, sekarang sudah tertata rapi dengan sendirinya dan sedikit keyakinan seperti, semua akan baik-baik saja, sungguh membuat hati terasa hangat. Saking semangatnya Yara sampai lupa jika dirinya belum sarapan. Karena semalaman ia cemas dan takut jika besok tidak bangun tepat waktu, ia malah berakhir tidak bisa tidur sampai lewat tengah malam. Dengan begitu, ia bangun mepet sekali dengan jam yang sudah dijanjikan. Karenanya alih-alih mengisi perutnya yang kosong ia langsung bersiap-siap dan pergi. Saat sampai di studio, ia malah benar-benar sudah melupakan perihal sarapan dan sibuk pada pekerjaan. Yara melirik jam dinding di seberang ruangan. Sudah pukul sebelas, rasa lapar di perutnya sudah tidak tertahankan. Karenanya ia berhenti sebentar dan melepas apron yang kini penuh dengan noda cat. Sebelumnya ia juga meletakkan palet dan kuas di meja tinggi di sebelah easel dengan hati-hati. Lalu berjalan cepat menyeberangi ruangan dan bersandar pada meja di dekat konter. Ia meraih ponselnya yang tergeletak untuk memesan makanan. Di saat-saat sibuk begini, memang sulit atau lebihnya terlalu malas, bagi Yara untuk sekedar keluar mencari makan. Apalagi untuk memasak. Kegiatan itu hanya akan mengacaukan harinya saja. Bukannya ia tidak bisa memasak atau rasa masakannya buruk. Hanya saja menata ulang semua peralatan masak dan membersihkan semua hal setelahnya adalah hal yang berat bagi Yara. Apalagi dia adalah tipe orang yang tidak suka pada masakannya sendiri. Tak peduli meski orang lain mengatakan bahwa masakannya enak, ia tetap akan kesulitan untuk memakannya sendiri. Selesai memesan, Yara memejamkan mata sebentar dan menggerakkan kepalanya perlahan ke kanan dan ke kiri. Rasanya agak pegal. Baru saja Yara akan beranjak untuk lanjut melukis, ponselnya berdering nyaring. Ia menunduk menatap benda dalam genggamannya. Sebelah alisnya terangkat saat mendapati nama Zen mundul di layar. "Ya?" Katanya setelah menempelkan ponsel di telinga. Zen terdengar kesal. "Kenapa kau masih belum juga mengunggah fotomu sendiri?" Yara langsung nyengir. "Aduh, Zen, kau kan tahu aku selalu membuat jarak di setiap unggahanku. Bahkan ini pertama kalinya bagiku mengunggah dua foto dengan jarak hanya sehari," Yara mengatakannya seolah semua hal itu adalah perkara yang besar dan amat penting. Walau sebenarnya ia hanya setengah mengada-ada. Alasan sebenarnya Yara memberikan jarak di setiap unggahannya hanya karena ia ingin membatasi pesanan yang masuk. Dengan kata lain, ya ia memang malas. Zen terdiam sejenak. "Kalau begitu sekalian saja menjadi tiga unggahan berjarak sehari." Yara memberengut meski tahu Zen tidak dapat melihatnya. "Ini tidak seperti aku berusaha menghindari loh, aku sungguh-sungguh mengambil keputusan ini," ia mendesah dan memindahkan ponsel ke telinga yang lain. "Beberapa waktu lalu aku juga sempat melihat seniman lain yang menunjukkan wajahnya, dia cantik sih, membuat semua orang terkejut. Dan dari apa yang kulihat pengikutnya juga bertambah dengan drastis. Tentu saja aku tidak mengharapkan hal yang sama. Aku tahu semua hal tidak akan berjalan semulus itu bagi setiap orang. Bahkan meski tahu hal itu sekali pun, aku tetap tidak mengubah keputusanku loh. Aku akan tetap akan mengunggah fotoku sendiri," Yara mengucapkan kalimat terakhirnya seolah juga mengatakan 'kau puas sekarang?'. "Iya.. iya.. aku mengerti. Yang penting jangan menyia-nyiakan bakatku. Aku akan sangat terluka jika kau mengabaikan usahaku," Zen mengatakannya dengan nada dramatis. Membuat Yara mendenguskan tawa kecil. "Oh, ya ngomong-ngomong kau sudah dengar?" Zen mendadak merubah arah pembicaraan dengan bersemangat. "Belum, apa itu?" "Sewaktu Kira mengunggah foto-foto di resort, orang yang mengontraknya tertarik padaku." Yara hampir tersedak mendengarnya. "Bukan kah dia laki-laki berumur tiga puluhan?" Ia bertanya dengan kekagetan besar dalam suaranya. Mendengar itu Zen terdengar akan tersedak juga. "Bukan itu, dasar bodoh!" Ia memekik kesal. "Maksudnya tertarik pada skillku. Dia bahkan juga menghubungiku lewat Kira. Dan beberapa hari lagi kami akan bertemu. Ah, sial. Kau benar-benar membuatku jijik, bisakah aku membatalkan apa yang kudengar? Pagi-pagi pikiranku sudah ternodai karenamu." Tawa Yara meledak. "Pagi? Matamu buta? Ini sudah siang hari, dasar bodoh. Kau baru bangun kan? Apa-apaan sikap bodohmu itu. Seharusnya kau mulai serius pada pekerjaanmu tahu. Karena sejak dulu memang banyak orang yang tertarik pada bakatmu." Zen menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Yara tertawa lagi kemudian berujar. "Kau benar-benar harus memperbaiki kemampuan bicaramu. Jangan lagi membuat orang lain salah paham dengan ucapanmu." Zen menggumamkan sesuatu seperti 'iya, baiklah'dengan berat. "Ngomong-ngomong di mana Kira?" "Mana aku tahu, aku bukan ibunya." Yara memberengut lagi. "Ya, sudah kalau begitu, tumben sekali dia tidak menceritakan hal semacam ini padaku. Sudah dulu ya. Semoga nanti kencanmu lancar dengan paman pemilik resort itu," ia meledak tertawa di akhir kalimat. Zen langsung meledak marah dan Yara segera memutus hubungan. Ia masih tertawa saat meletakkan ponselnya kembali ke meja. Kemudian teringat kemarin Kira melakukan photoshot di sini, dengan gaun putih berkabung itu. Kalau diingat-ingat Yara belum melihat hasil fotonya dan Kira juga belum mengunggahnya. Yah, hanya satu alasan yang menjelaskan menghilangnya Kira, kalau tidak sibuk dengan pertemuan paling ia pergi ke suatu tempat untuk membuat review atau semacam itu. Yara baru saja akan melangkah saat terdengar bel pintu berbunyi. Ia pun berbalik untuk menerima pesanannya. Senyumannya mengembang saat membuka kertas pembungkus roti isi daging yang nampak begitu menggoda. Saat sedang menikmati sarapan sekaligus makan siangnya itu, ponselnya kembali berdering ringan. Tadinya Yara mengira itu Zen, tapi ternyata Sam. Rasanya agak sulit dipercaya meski sebenarnya Sam selalu mengiriminya pesan setiap hari. Yara membaca pesan baru itu dalam diam. Sedikit memperhatikan pesan-pesan lain di atasnya yang tidak pernah memiliki balasan. Sudut bibirnya berkedut dengan senyum tertahan. Menolak merasakan kemenangan yang setengah licik hanya karena Sam tidak menyerah selama beberapa hari itu. Dan sekarang, karena hubungannya dengan Sam sudah membaik, atau setidaknya ia usahakan begitu, maka Yara pun mengetikkan balasan singkat. Sekarang, bicara dengan Sam tidak terasa begitu sulit lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN