Chapter 19

1033 Kata
Yara tidak pernah menduga, apalagi berani sekedar membayangkan bahwa, bicara dengan Sam akan jadi semudah ini. Sejak siang tadi selama istirahat makan siang, mereka berdua cukup banyak bertukar pesan. Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya bagi Yara berbalas pesan dengan Sam begini. Mengingat ia terua mengabaikan laki-laki itu belakangan. Yara mengalihkan pandangan ke luar balkon dan menghela napas. Siang tadi Yara menolak ajakan makan siang Sam, bukannya tanpa alasan. Yara sedang sangat sibuk saat ini, terlebih dia juga baru saja memakan roti isi pesanannya. Jadi dia menolak dengan baik, dia juga tidak menduga Sam malah akan mengajaknya makan malam. Dan bukannya Yara akan sibuk sampai malam juga. Akhirnya menjelang sore, Yara memutuskan untuk pulang dan mengambil pakaian yang cukup pantas. Mengingat selama ini Sam selalu terlihat rapi sedangkan dirinya selalu terlihat berbanding terbalik dengannya. Yah, Yara tidak terlalu membenci hal semacam itu sekarang. Nyatanya memakai gaun pendek tetap membuatnya bisa bergerak secara leluasa, bahkan mendapat bonus angin segar juga. Yara tertawa kecil karena pemikirannya sendiri. Yah, meski begitu ia tetap tidak mau memilih gaun yang terlalu feminim. Untungnya, ia masih memiliki sebuah gaun hitam yang polos. Membuatnya terlihat lebih dewasa dan, ekhem, Yara berdeham sendiri, terlihat sedikit menawan juga. Yara terpikir untuk menata rambutnya seperti yang pernah Kira lakukan padanya. Tetapi kemudian menggeleng keras. Ia memiliki beberapa alasan untuk tidak melakukannya, pertama ia tidak akan bisa. Kedua, kalau pun ia bisa meniru sedikit gaya rambut yang Kira ajarkan, ia tidak akan mempertahankan keanggunana itu dalam waktu lama. Beberapa waktu lalu saat Kira menata rambutnya dengan rumit dan bahkan menambahkan hiasan bunga-bunga asli, Yara tetap tidak bisa menahan semua itu begitu lama. Ia merasa canggung dan terus menerus lupa untuk tidak menyibakkan rambut atau menariknya. Untungnya Zen bekerja dengan cepat dan pemotretan itu dalam waktu tak lebih dari setengah jam. Yara jadi teringat lagi pada hasil foto yang kini ia simpan di dalam ponsel. Mengingat bagaimana ia terlihat dalam foto itu, rasanya memang menakjubkan. Seperti bukan dirinya saja. Yara memang dibebaskan memilih foto mana yang akan ia unggah. Dan Kira mau pun Zen tetap memberikan masukan dan pendapat. Tadinya Yara sempat berpikir untuk memilih satu foto saja, yaitu saat ia dipotret dari samping sehingga seluruh wajahnya tidak terlihat. Sayangnya hal itu tidak luput dari perhatian Zen. Dan ia dengan tegas memberitahukan Yara, jika ia ingin mengunggah foto itu maka harus menyertakan foto lain yang tetap menunjukkan wajahnya sepenuhnya. Yara langsung teringat pada satu foto di mana ia duduk memangku lukisan dengan kedua tangan terlipat di atas dan ia jadikan sebagai sandaran dagu. Jika teringat proses pengambilan foto itu Yara benar-benar berharap kepercayaan dirinya saat itu bisa muncul lagi sekarang. Mungkin karena saat itu ia sedang merasa begitu santai dan ringan karena telah bercanda sepanjang hari bersama Zen dan Kira. Yara mendesah lelah. Andai ia bisa mempertahankan kepercayaan diri semacam itu selamanya. Setelah puas mematut dirinya di depan cermin. Akhirnya Yara beranjak. Ia memutuskan untuk mengikat rambutnya bergaya ekor kuda saja dan tidak menggantinya lagi. Yara memeriksa jam dinding dan mulai was-was. Sebelumnya ia sudah memberitahukan Sam alamat studionya ini. Sehingga nanti laki-laki itu akan datang menjemput. Tetapi Yara juga mengatakan agar Sam menunggu di depan gedung saja. Sekarang sudah hampir waktunya dan Yara merasa makin gelisah. Sedetik kemudian ia baru ingat ia belum memakai sepatu berhaknya yang juga berwarna hitam. Ia berjalan berputar-putar dengan panik sebelum akhirnya menemukan benda itu di bawah rak. Nah, sekarang semuanya sudah siap kan? Yara melirik dompet hitam di meja sekali lagi. Memastikan benda itu tetap dalam pandangan selama ia menunggu. Tiba-tiba ponselnya berdering dan Yara nyaris terlonjak kaget karenanya. Yara meraih benda itu dan segera menempelkannya di sebelah telinga. Suara Sam terdengar cukup jelas. "Aku sudah sampai di sini," ia memberitahu. "Ya, aku akan segera turun," Yara langsung memutus hubungan tanpa menunggu jawaban. Sekali lagi memeriksa wajahnya di cermin dan bergegas. Tak lupa memasukkan ponselnya ke dalam dompet hitam itu dan membawanya keluar. Yara berjalan santai menyeberangi jalan ke tempat Sam berada. Rasanya tak sulit untuk menemukan di mana laki-laki itu berada. Karena pemilik mobil termahal yang ada di sana pasti lah Samuel Sato. Dan benar saja, Sam keluar dari mobilnya begitu melihat Yara berjalan mendekat. Untuk sesaat ia terlihat kaget dan kagum. Tapi cepat-cepat menguasai diri begitu Yara sudah berada dalam jangkauan pendengarannya. Sam mengembangkan seulas senyum yang pastinya bisa membuat gadis mana pun menjerit kagum. "Kau terlihat cantik," entah sadar atau tidak Sam mengucapkannya. Yara tersenyum tipis dan tak peduli. Ia memperhatikan penampilan Sam, memang selalu rapih. Padahal di masa lalu tidak sekali pun Yara melihat penampilan Sam yang seperti ini. Tanpa sadar Sam meralat ucapannya sendiri. "Tapi kau memang terlihat selalu cantik." Yara mendenguskan tawa samar dan mengucapkan 'omong kosong' di dalam pikirannya. Sam pun membukakan pintu untuk Yara dan keduanya masuk. Dalam perjalanan, Sam banyak menceritakan mengenai pekerjaannya yang sama sekali tidak Yara mengerti. Yara paham Sam hanya mencoba agar suasana tidak berubah canggung. Padahal Yara sama sekali tidak mempermasalahkannya dan malah ingin sekali menggoda Sam sampai berkeringat dingin lagi. Ah, tapi sepertinya Sam juga mencoba untuk menghindari hal itu dan membuat dirinya terus berceloteh tanpa jeda. Kemudian sampai lah pembicaraan itu pada Yara. Alis Yara terangkat saat Sam membalikkan pusat pembicaraan. "Tak ada yang spesial dari pekerjaanku," Yara berujar dengan nada biasa-biasa saja. "Hanya melukis biasa saja, dan terkadang aku juga membuat benda-benda tak berguna saat waktu luang," ia mengatakannya setengah bercanda. Tetapi Sam menanggapinya dengan serius. "Aku juga suka lukisan." Yara mengira Sam hanya berlagak saja dan tidak memedulikannya lagi. Setelah hening sejenak Sam memulai lagi, namun kali ini nada suaranya berubah. Ia bertanya pada Yara dengan hati-hati. "Apa kau pernah berpikir untuk mencari kakakmu?" Alis Yara kembali terangkat tinggi mendengar pertanyaan itu. Karena tentunya ia tidak akan menceritakan apa pun mengenai Bisha padanya. "Karena," Sam melanjutkan. "Aku juga sering berpikir begitu. Aku terus kepikiran pada kakakku." Sekilas Yara melihat kilatan sedih di mata kelabu Sam. Yara pun terdiam dengan perasaan aneh. "Ah, maaf aku tidak bermaksud membebanimu," Sam segera berujar lagi dengan nada meminta maaf yang tulus. Yara menunjukkan senyuman lebarnya meski Sam tidak benar-benar bisa menatapnya karena sedang menyetir. "Tidak apa-apa, sebelumnya aku juga berpikir begitu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN