Ruang kerja yang berkonsep industrial itu tiba-tiba saja terasa sempit dan menghimpit, saat laki-laki itu mengeluarkan semua uneg-uneg dan kegundahan hatinya di depan semua orang. Mungkin baru sekarang, dia bisa speak up dengan bebas seperti ini, setelah sekian lama bungkam dan hanya terdiam. “Kenapa Mas Juna jadi marah-marah seperti ini?” tanya Nadine heran saat Juna terus saja nyerocos, marah-marah tidak karuan. “Aku bukannya sengaja datang terlambat, tapi tadi ‘kan kudu basa-basi dulu sama Ibu sama anak-anak, apalagi aku juga lagi nyuapin si kembar.” “Iya, Mas Juna. Waktu aku ke rumah, Nadine lagi nyuapin anak-anak, nggak mungkin dong langsung ujug-ujug cabut dari sana.” Trisha ikut menimpali ucapan sahabatnya, “jadi kami ‘kan ngobrol-ngobrol dulu baru bisa pamit dan ke sini.” Ghe

