Ruangan itu terasa berputar-putar seperti gasing, sakit di kepala juga semakin nyeri dan berdenyut. Felicia berteriak kesakitan sambil memegangi bagian kepalanya yang terasa sakit. Wilma dan Dilara merasa cemas dan khawatir dengan kondisi perempuan itu. “Felly, Sayang. Lebih baik kita ke kamar, ya. Kamu harus minum obat, Sayang,” bujuk Wilma cemas sambil membelai rambut sang putri, “kepala kamu sakit, ‘kan? Makanya jangan teriak-teriak dan marah-marah kayak tadi, kayak gini ‘kan jadinya,” lanjutnya sambil memegang pegangan kursi roda Felicia dan bergegas mendorong kursi roda itu menuju ke kamar, sementara Felicia tidak merespons ucapan sang mama, perempuan itu terlalu sibuk menahan nyeri di kepala. “Hati-hati, Bu Ibrahim. Biar saya bantu ya,” sela Dilara sambil mengekor di belakang Wilm

