4. Sebuah Komitmen

1077 Kata
Tony memperhatikan Alicia yang saat ini tengah mencuci piring dan gelas bekas makanan mereka. Dari belakang Tony bisa melihat dengan jelas setiap lekuk tubuh seksi Alicia. Dari sekian banyak wanita yang pernah menemaninya hanya Alicia satu-satunya wanita yang masih virgin. Wanita yang telah ia rusak kehormatannya. Lalu sekarang apa yang sedang Tony lakukan pada wanita itu selain semakin menjerumuskan wanita itu ke dalam lumpur nista. Entah dimulai sejak kapan Tony selalu dihantui rasa bersalah. Tony sendiri tidak mampu memprediksi hubungan mereka kedepannya seperti apa. Berakhir dalam ikatan suci pernikahan ataukah memilih hidup dengan jalan masing-masing. Tony tidak pernah tahu kemana hubungan mereka akan bermuara. Jenuh, rasa itu belakangan terakhir ini mengusik pikirannya. Seks yang dulu seolah menjadi makanan sehari-harinya kini tak lagi menggairahkan. Melihat Nevan sahabatnya yang kini telah berubah drastis setelah jatuh cinta kepada sekretarisnya membuat Tony memahami satu hal. Hidup harus memiliki sebuah tujuan. Tony tak mengerti rasa yang ia miliki untuk Alicia itu sebuah cinta atau hanya sebatas keinginan memenuhi luapan libidonya saja. Terus Tony memperhatikan Alicia yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Wanita itu berjalan mendekati Tony sembari membawa mangkuk berisi buah yang sudah terpotong-potong berbentuk dadu di dalamnya. "Makanan penutup," ujar Alicia seraya mencondongkan tubuhnya, menumpu tubuhnya dengan tangannya di atas meja seraya mengulurkan sepotong buah ke arah bibir Tony. "Tentu, aku menginginkan hidangan penutupku," balas Tony sambil membuka bibirnya menerima suapan dari tangan Alicia dengan tatapan menghunus ke dalam netra Alicia. Mengunyahnya perlahan lantas menelan rasa manis dan asam yang ditawarkan buah di dalam mulutnya. Tony menyeringai. Lalu menarik tangan Alicia. Menuntun wanita itu untuk duduk di atas pangkuannya. Tony memeluk tubuh Alicia demi menghirup wangi aroma rose dari sabun mandi yang masih membekas di tubuh Alicia. Tangan Tony mulai bergerilya di lapisan tubuh Alicia yang terhalang kain tipis. Tepat, sepasang dad@ itu berada di depan wajah Tony yang begitu jelas menantang untuk dilumat. Alicia tersenyum penuh arti saat kedua tangan Tony meremas dad@nya. Tak tinggal diam Alicia menyingkirkan kedua tangan Tony dari tubuhnya demi meloloskan satu-satunya penghalang di tubuhnya. Alicia menjatuhkan begitu saja dress berwarna putih itu lalu mengalungkan kedua tangan ke belakang kepala Tony. Jemari Alicia menyusut di antar helai rambut ikal milik Tony dengan sensual. Undangan itu tentu saja langsung mendapatkan sambutan hangat Tony. Kedua tangan Tony menyusup di antara lengan Alicia lalu menekan punggung wanita itu demi meraup sesuatu yang sedari tadi menantangnya. Tony mulai mengulumnya lembut dengan sesekali menariknya yang seketika membuat Alicia mendesah. Alicia pasrah saat Tony mulai mempermainkan tubuhnya dengan menggila. Menikmati setiap sapuan bibir Tony yang menyusuri kulit mulusnya. "Apa kamu menikmatinya Baby?" tanya Tony dengan sejenak menghentikan aksi sensualnya demi melihat wajah frustasi Alicia. "Ayolah Tony Sayang, buat aku melayang seperti biasanya," balas Alicia dengan mendesah. Wanita itu menatap ke dalam netra Tony yang telah berkabut gairah seperti dirinya. "Tentu. Akan aku buat kamu menjerit, menyebut namaku berulang Baby," balas Tony lalu kembali melancarkan aksinya. Tony bangkit dengan posisi kedua kaki Alicia melingkar di pinggangnya. Lalu mendudukkan tubuh Alicia di atas meja makan. Alicia tergelak saat mengerti keinginan Tony. Dari setiap sudut apartemen hanya tempat inilah yang belum pernah mereka jadikan medan percintaan. "Dengan senang hati my bad boy." Alicia tergelak seraya menikmati permainan Tony yang memabukkan. Desah dan geram tertahan menjadi melodi indah yang mewarnai kegiatan panas tersebut. Puas mempermainkan Alicia kini Tony mengangkat tubuh wanita itu. Membawanya pindah ke sofa. Tentu saja Tony tidak sampai hati melukai punggung mulus wanitanya dengan bercinta di atas meja makan. Kegiatan melenakan itu berlanjut hingga tak terhitung jumlahnya Alicia menyebut nama Tony dengan kepasrahan penuh damba. Perlahan cengkeraman kuat kedua tangan Alicia di punggung Tony mengendur bersamaan dengan aktivitas panas itu yang mulai berangsur menemukan akhir. Masih dalam posisi berpelukan mereka bersama-sama meredam napas yang masih memburu. Menenangkan debaran jantung mereka yang bekerja secara liar. Seliar aktivitas panas mereka yang baru saja terlewat beberapa menit lalu. Alicia bisa merasakan puluhan atau mungkin ratusan peluh meleleh dari tubuh pria yang saat ini masih menindih tubuhnya. Tony melepaskan diri dari Alicia lalu memungut bokser dan mengenakannya. Selama itu pula netra Tony tak melepaskan bidikannya dari wanita yang saat ini dalam penampilan berantakan karena ulahnya. Tony tersenyum lalu sedikit menunduk demi mendaratkan kecupan di bibir Alicia yang sedikit terlihat membengkak. Lalu berujar, "thank's Baby." Dengan gontai Tony melangkah menuju ruang makan. Memungut pakaian Alicia yang teronggok di bawah meja makan. Lalu menuju kulkas, mengambil minuman dingin untuk mereka berdua. Kembali Tony tergelak melihat Alicia yang tampak tenang dalam kondisi tubuh tanpa sehelai benang pun di tubuhnya yang saat ini tengah mengurai senyuman. Tampak peluh di tubuh mulusnya berkilau diterpa cahaya mentari dari balik jendela kaca besar yang berada di sudut ruangan tempat mereka berada saat ini. "Pakailah jika tidak ingin aku kembali mencumbu mu tanpa ampun!" ucap Tony seraya menyerahkan pakaian dari tangannya kepada Alicia. Alicia tergelak sembari bangkit dari posisi tidurnya lalu mengenakan pakaian itu dengan santai. "Justru aku menyukai saat bagaimana dirimu mencumbu dan mempermainkan tubuhku," bisik Alicia seraya memeluk Tony yang saat ini berada di sisinya. Alicia memejam seraya menghidu aroma khas tubuh maskulin Tony yang sangat disukainya. Tony menyerahkan satu botol minuman dingin yang tadi diambilnya dari kulkas kepada Alicia. Sepasang mata tajam itu terus menatap Alicia seraya meneguk minuman di tangannya. Hanya dalam beberapa kali teguk isi dalam botol itu sudah berpindah ke dalam tubuh Tony. "Apa kamu tidak menginginkan hal lebih Alicia?" tanya Tony dengan serius. Kembali Tony menawarkan sesuatu yang sangat dibenci Alicia. "Tidak. Bagiku ini semua sudah cukup Tony sayang. Kamu tidak menyukai komitmen dan aku tidak menginginkan pernikahan. So kita impas," balas Alicia seraya menyusuri garis wajah Tony dengan ujung jarinya. Perbincangan yang selalu ingin Alicia hindari akhir-akhir ini. Sejak seminggu yang lalu Tony sedikit berbeda. Pria itu mulai gencar menawarkan padanya sebuah komitmen yang pada dasarnya tidak pernah Alicia inginkan dalam hidupnya. "Kalau kamu sudah bosan pergilah! Aku bisa mencari pria lain untuk memuaskan ku," sambung Alicia yang langsung mendapatkan cengkeraman kuat di tangannya. "Jangan macam-macam Alicia! Apa yang menjadi milikku tidak akan pernah kubiarkan tersentuh oleh siapapun," ancam Tony dengan menatap tajam ke dalam mata Alicia. "Aku bisa melakukan apapun yang tidak akan pernah kamu sangka." Kali ini ancaman Tony bukan main-main. Tony menghentakkan tangan Alicia dengan kasar lalu bangkit dari tempat duduknya dengan rasa amarah bercokol di hatinya. "Whatever!" ucap Alicia yang tentu saja masih bisa terdengar oleh Tony. Wanita itu meraih bungkus rokok lalu mengeluarkannya. Memantik api lalu menghisapnya seraya berujar, "Hidup itu indah." _________________&&&________________ Beri aku komentar untuk pasangan satu ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN