3. Wanita & Shopping

1573 Kata
Tony menekan kunci mobil untuk memudahkan wanitanya masuk. Sejak ke luar dari butik Alicia tak membuka sepatah kata pun. Wanita itu terlihat bad mood yang justru membuat Tony senang. Gegas Tony masuk ke dalam mobil menyusul Alicia yang sudah nyaman di tempat duduknya. Setelah meletakkan empat paper bag belanjaan Alicia Tony segera menyalahkan mesin mobil dan meninggalkan butik. "Kita ke mana lagi?" tanya Tony membuka obrolan. "Hari ini aku ingin shopping sepuasnya. Jadi antarkan aku ke mall aja," balas Alicia dengan ekspresi datar. Tony tersenyum lantas kembali berkata-kata, "Kamu kenapa? Apa ada masalah?" "Nggak ada. Tapi aku nggak suka klo kamu dekat-dekat dengan temanku," peringat Alicia dengan serius yang malah mengundang tawa Tony berderai. "Ayolah Baby, aku dan Mayang cuma ngobrol," aku Tony disisa tawanya. Pria itu mengulurkan tangan demi mencubit dagu lancip Alicia karena gemas. "Atau kamu cemburu?" goda Tony. "Hello Tony sayang, nggak ada kata cemburu dalam kamus ku. So jangan kepedean!" balas Alicia dengan kesal. "Terserah. Tapi tetep aku anggap kamu cemburu. Thanks you Baby," balas Tony dengan perasaan puas karena berhasil menggoda wanitanya. Alicia tak menggubris ucapan Tony, wanita itu lebih memilih memutar musik yang ada di dalam mobil untuk menghibur hatinya yang mendadak kacau. Tak lama mobil berhenti di salah satu mall terbesar dan terlengkap yang ada di Jakarta. Terletak di Sudirman Central Business District (SCBD), Pacific Place Jakarta merupakan salah satu mall yang menyasar kalangan menengah ke atas. Pusat belanja dari Dua Mutiara Group ini merupakan bagian dari konsep mixed use yang terdiri atas One Pacific Place Office, The Ritz-Carlton Hotel, dan The Ritz-Carlton Residence. Di mall ini sejumlah tenant besar yang menyewa antara lain Louis Vuitton, Hard Rock Cafe, TOD’S, Cavalli, dan Galeries Lafayette. Di sinilah salah satu surganya para wanita pecinta shopping barang branded seperti Alicia. Tony tak heran dengan hobi Alicia yang suka menghamburkan uang dan berfoya-foya mengingat wanita itu sendiri terlahir dalam keluarga kaya raya dan bergelimang harta. Jika dihitung secara materi pengeluaran Tony juga tak bisa dibilang sedikit. Sekali berkencan dengan seorang wanita Tony tak cukup uang 10 juta. Belum lagi jika menemani wanitanya berbelanja sebelum mereka berkencan. Sebelum memutuskan tinggal bersama Alicia tentu saja Tony sudah mengantongi informasi lengkap mengenai keluarga Alicia. Tony tidak akan sembarangan mengencani wanita. Apalagi kebersamaan dirinya bersama wanita itu tidak terikat waktu. Mereka bebas melakukan apa pun hingga mungkin mereka merasakan jenuh dan bosan lalu pada akhirnya memutuskan untuk berpisah suatu hari nanti. Tony sejenak mengedarkan pandangan ke seluruh sudut mall yang memang bertepatan dengan hari weekend. Jadi tak heran jika siang ini mall ini lumayan ramai pengunjung. Tak ingin menganggu kesenangan Alicia pria itu lebih menikmati suasana dengan memperhatikan sekitar. Tak sedikit pula Alicia melihat para remaja atau gadis yang berpapasan dengannya melayangkan tatapan ke arah pria di sampingnya. Siapa lagi jika bukan Tony, pria berkaos biru terang dengan tato terpampang sebagian di kedua lengannya. Belum lagi otot-otot itu dengan jelas menantang para wanita untuk memegangnya. "Gue yang model eh kok malah dia yang jadi pusat perhatian," gerutu Alicia seraya melangkah dari eskalator yang mengantarnya ke lantai tujuan. Kaki jenjang Alicia melangkah menuju tenants tas dan sepatu branded berada. "Kenapa aku ditinggal terus sih Sayang!" protes Tony yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Alicia. Dengan posesif Tony merangkul pinggang Alicia. "Jangan gini!" kesal Alicia seraya menyingkirkan tangan Tony dari tubuhnya. "Kenapa? Kamu takut ketahuan orang atau wartawan?" bisik Tony di telinga Alicia. Wanita itu mendengus lalu mengambil jarak dari tubuh Tony yang menempel padanya. Tak ingin berdebat Alicia langsung memasuki tenants sepatu. Tony tergelak menyusul langkah Alicia. "Tenanglah tidak akan ada yang mengenali dirimu," bisik Tony lagi dengan mengulas senyuman. Netra Alicia memejam seraya menghela napas panjang. Benar kata Tony, tak semua orang mengenal dirinya. Apalagi saat ini ia juga memakai masker untuk menutupi wajahnya. Tony tersenyum lalu menggenggam tangan Alicia menuju tempat sepatu berada. Alicia mulai memilih stiletto dari deretan rak kaca di hadapannya sedangkan Tony lebih memilih duduk di sofa tunggu sembari membaca majalah fashion yang tersedia di sana. Sedikitnya Alicia membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk menjatuhkan pilihan pada dua stiletto berbeda warna dan model yang sesuai dengan dress yang tadi dibelinya di butik. Setelah mendapatkan keinginannya Alicia segera mengajak Tony pergi. Namun saat baru saja Alicia ke luar dari tenants ia bertemu dengan rekan sesama model yang hendak berbelanja juga. "Hai Alicia," sapa wanita itu sembari mengalihkan pandangan ke arah Tony. "Hai juga, btw gue buru-buru. Sampai ketemu besok ya," balas Alicia dengan cepat lalu menarik tangan Tony untuk segera pergi dari tempat itu. Tony hanya tersenyum memperhatikan bagaimana bola mata cantik itu menyiratkan kekesalan di balik masker yang dikenakannya. Tak peduli di tempat umum Tony merapatkan tubuhnya. Memeluk pinggang ramping Alicia lalu sedikit menyingkirkan rambut panjang Alicia yang tergerai indah lantas berbisik, "kan tadi sudah aku bilang. Lebih baik kita menghabiskan waktu di kamar daripada di luar." Seketika Alicia mengangkat wajah demi menatap ke arah Tony yang saat ini tersenyum menggoda. Kini Alicia bertambah kesal, wanita itu memilih diam hingga mereka sampai di area parkiran. Dengan kasar Alicia melempar dua paper bag berisi stiletto itu ke kursi penumpang. Masih dengan santai Tony memasang seatbelt di tubuh Alicia. "Kamu ini selalu uring-uringan klo kita sedang di luar," gerutu Tony dengan heran. Pasalnya ini bukan yang pertama Alicia marah tanpa alasan yang jelas saat mereka ke luar bersama. "Kamu sih, suka bener tebar pesona di hadapan cewek-cewek," kesal Alicia yang seketika membuat Tony tertawa. Cup... Tony mengecup bibir Alicia dalam lalu kembali tersenyum, "Aku suka klo kamu cemburu," bisik Tony yang langsung mendapatkan dorongan kuat di dad@nya dari Alicia. "Gila, mana mungkin aku cemburu. Aku hanya tidak suka mata kamu jelalatan saat bersamaku." Ucapan Alicia justru semakin membuat tawa Tony berderai. Tony menatap Alicia sejenak lalu menginjak gas mobil meninggal area mall dengan senyuman lebar sedangkan Alicia memilih menatap ke luar kaca dengan perasaan yang ia sendiri bingung untuk mendeskripsikannya. Masih terus mempertahankan diamnya Alicia menyusuri lorong unit apartemen yang sejak tiga bulan lalu ditinggalinya bersama Tony. Tak ingin mengganggu perasaan Alicia yang kacau Tony pun memilih diam seraya terus mengikuti langkah Alicia dengan kedua tangan menenteng belanjaan wanita itu hingga sampai di depan pintu unit apartemen miliknya. Alicia terus melangkah menuju kamar. Tak ingin menambah waktu dengan rasa panas di tubuhnya Alicia mulai menanggalkan pakaian yang dikenakannya satu persatu. Kini hanya dengan underwear yang melekat di tubuhnya Alicia masuk ke dalam kamar mandi. Berdiri di bawah pancuran shower demi menjernihkan pikirannya. Tony dengan sikap tenangnya meletakkan semua belanjaan Alicia di atas meja rumah santai. Lalu menuju dapur untuk meletakkan makanan yang tadi sempat dibelinya saat perjalanan pulang barulah ia menyusul Alicia ke kamar. Dan seperti biasa, Tony yang melihat perbuatan Alicia akan memunguti pakaian wanita itu yang tercecer di lantai lalu memasukkan ke dalam box pakaian kotor. Sebenarnya bukan hanya hobi Alicia yang membuat kamar berantakan. Tapi mereka berdua memang hobi mengacaukan kamar dengan aktivitas panas mereka sehari-hari. Setelah beres Tony pun melepaskan pakaian dari tubuhnya dan menyisakan bokser saja. Jika biasanya ia akan menyusul Alicia ke kamar mandi dan bercinta di sana, kali ini Tony justru menjatuhkan diri di atas ranjang. Tak lama Alicia ke luar dari kamar mandi hanya berbalut bathrob. Sekilas Alicia menatap tato yang hampir memenuhi sebagian tubuh bagian atas Tony. Entah sejak akan Alicia suka sekali bermain-main di sana. Menyentuh lantas menyusuri dad@ keras itu dengan ujung jemarinya. Dulu Alicia sangat membenci pria bertato. Tapi sekarang tubuh bertato itulah yang selalu memberikan kenyamanan padanya. Menyalurkan kehangatan di setiap malam-malamnya. Kenyamanan dan kehangatan yang belum pernah Alicia rasakan bahkan saat berada di tengah-tengah keluarganya. Keluarga? Sepertinya kata itu tidak cocok untuk Alicia. Selama ini ia seolah hidup sendiri tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Orang tua Alicia hidup dengan obsesi mereka masing-masing tanpa sedikit pun memperhatikan Alicia. Dan Tony adalah satu-satunya orang yang peduli padanya setelah Asih, pengasuh dirinya sejak ia kecil. "Ada apa?" tanya Tony saat melihat Alicia yang justru melamun di depan pintu. "Nothing," balas Alicia dengan bahu berkedik. Tony mengubah posisinya dari terlentang menjadi miring. Pria itu menyangga kepala dengan tangannya demi mengikuti arah langkah Alicia yang menuju meja rias. "Tapi aku melihatnya tidak seperti itu?" ucap Tony lagi. Alicia meraih sisir lalu mulai menyisir rambut panjangnya secara perlahan. "Itu hanya perasaan kamu aja," balas Alicia sambil meraih hair dryer lalu mengarahkan ke rambut basah miliknya. Setelah rambutnya mengering Alicia bangkit dari tempat duduknya menuju walk in closed untuk mengambil pakaian ganti. Dengan santainya Alicia menarik tali bathrob di pinggangnya lalu menjatuhkan begitu saja. Tony menahan napas sejenak untuk mengusir pikiran mesumnya. Ia pria normal. Melihat wanita cantik dan seksi tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya tentu saja mengundang hasrat lelaki Tony bangkit. "Aku lapar," ucap Alicia setelah mengenakan dress_nya. Mata tajam Tony tak sedikit pun beranjak dari pemandangan indah di hadapannya. "Aku juga sangat lapar," balas Tony dengan tatapan penuh makna. Memandang tubuh Alicia tanpa underwear di balik dress tipis itu. "Ayolah, setiap hari kita sudah melakukannya. Bahkan sudah tak terhitung lagi," ucap Alicia dengan tergelak. Tentu saja Alicia paham dengan maksud perkataan Tony. Apalagi mata elang itu tak henti membidik tubuhnya yang hanya terbungkus dress tipis berwarna putih yang saat ini dikenakannya. "Kamu yang mengundang dengan berpakaian seperti itu. Apalagi aku bisa dengan jelas melihat isinya," balas Tony yang saat ini sudah dalam posisi duduk di tepi ranjang. "Sudahlah!" Alicia tersenyum geli lalu ke luar dari kamar begitu saja. Lagi, Tony menghela napas berat mencoba meredam hasratnya yang sudah terbangun sejak tadi lalu menyusul Alicia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN